"Layani aku, Pria tampan... aku terpengaruh obat." Shanum berjalan mendekat dengan langkah limbung, memojokkan seorang pria yang bahkan tidak berani menatap matanya.
"Siapa kamu, Nona?! Keluar dari sini, aku bukan pelayanmu!" Rasyid mundur hingga punggungnya membentur tembok. Ia adalah seorang Kyai muda yang baru saja kembali dari Mesir, namun malam ini, kesuciannya terancam oleh wanita asing yang aroma alkoholnya menusuk indra penciuman.
Satu malam yang salah membawa Shanum ke dalam pelukan lelaki yang paling tidak mungkin ia sentuh. Niat hati melarikan diri dari kejaran pria hidung belang di penginapan itu, Shanum justru terjebak di kamar Rasyid—permata keluarga pesantren yang kehormatannya tak bercela.
Pintu yang tak terkunci menjadi saksi bisu saat keluarga besar dan guru spiritual Rasyid memergoki mereka dalam posisi yang mematikan reputasi. Tak ada pilihan lain selain pernikahan siri. Rasyid terpaksa memeluk 'noda' dan Shanum terpaksa menelan hinaan di pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marlyn_2309 Lyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penghibur dalam Sangkar Pesantren
Lantunan selawat dari pengeras suara masjid seolah menjadi lonceng kematian bagi kebebasan Shanum.
Hari pertamanya di pondok pesantren bukan hanya soal perpindahan tempat tidur, melainkan upaya sistematis untuk membunuh identitasnya.
Ia dipaksa bangun saat langit masih pekat, mengenakan kain-kain panjang yang memberatkan langkah, dan duduk bersimpuh di aula kayu yang wangi gaharu hingga kakinya mati rasa.
Rasyid tidak bicara banyak. Pria itu hanya lewat dengan wibawa yang membekukan udara di sekitarnya.
Setiap kali mata mereka bersinggungan, Rasyid hanya memberikan tatapan instruksi, bukan tatapan pada seorang manusia, apalagi seorang istri.
Malam harinya, sesak itu mencapai puncaknya. Shanum merasa jika ia tidak melakukan sesuatu, ia akan gila.
Rasyid mendorong pintu kamar kayu yang berderit pelan. Ia baru saja menyelesaikan urusan administrasi pesantren.
Namun, langkahnya langsung terpaku di ambang pintu. Ruangan yang seharusnya berbau suci itu kini tercemar aroma parfum yang tajam dan menggoda.
Di sana, di bawah remang lampu kuning, Shanum berdiri menghadap cermin. Ia mengenakan gaun tidur satin berwarna merah darah yang sangat kontras dengan dinding kayu kamar mereka.
Tali tipisnya tampak rapuh di bahu Shanum yang putih, memperlihatkan lengkungan punggung yang seharusnya terlarang bagi siapa pun di lingkungan ini.
Rasyid memejamkan mata sejenak, urat di pelipisnya berdenyut. “Shanum, apa yang kamu lakukan?”
Shanum berbalik perlahan, jemarinya memainkan ujung rambutnya yang sengaja digerai liar. “Kenapa? Kamu bilang ini kamar kita. Aku hanya ingin merasa seperti diriku sendiri, bukan seperti robot pengajianmu itu.”
Rasyid melangkah maju, suaranya rendah dan sarat akan ancaman. “Ganti. Sekarang. Jangan buat aku melakukan hal yang kasar padamu.”
“Kasar?” Shanum tertawa, sebuah tawa hambar yang menantang. Ia melangkah mendekat, mengabaikan jarak yang dianggap suci oleh Rasyid.
Ia sengaja mengembuskan napas di depan dada pria itu. “Kamu sudah kasar sejak memaksaku menikah, Rasyid. Apa bedanya?”
Rasyid mencengkeram lengan Shanum. Tidak cukup kuat untuk menyakiti, tapi cukup tegas untuk mengunci. Mata pria itu yang biasanya teduh kini berkilat seperti badai.
“Kamu pikir dengan berpakaian seperti wanita murahan begini aku akan luluh? Kamu itu noda, Shanum. Setiap inci kulit yang kamu pamerkan ini hanya mengingatkanku pada betapa kotornya malam di hotel itu!”
Wajah Shanum menegang. “Kotor?”
“Iya, kotor!” Rasyid membentak, suaranya bergema di ruangan yang sempit itu. “Di Mesir, aku belajar menjaga kehormatan. Lalu aku pulang hanya untuk dipaksa menyentuh wanita yang bahkan tidak tahu cara menghargai tubuhnya sendiri. Kamu itu bukan istri, kamu itu ujian yang menjijikkan!”
Kata “menjijikkan” itu menghantam Shanum lebih keras daripada tamparan fisik mana pun.
Shanum hendak membalas, bibirnya sudah terbuka untuk melontarkan makian, namun tiba-tiba dunianya berputar. Suara bentakan Rasyid berubah menjadi suara-suara distorsi yang pekak di telinganya. Cahaya lampu terasa seperti pisau yang menusuk matanya.
“Shanum?” Rasyid masih dalam emosi tinggi, tidak menyadari perubahan itu. “Jangan diam saja! Mana keberanianmu tadi? Ayo, tantang aku lagi!”
Shanum tidak menjawab. Tangannya mulai gemetar hebat. Ia mencengkeram kepalanya sendiri, kuku-kukunya hampir menancap di kulit kepala. Keringat dingin merembes dari pori-porinya, membasahi kain satin merahnya.
“Pergi... tolong, berhenti bersuara...” gumam Shanum lirih.
Rasyid mendengus kasar. “Jangan berakting di depanku. Kamu tidak akan menang dengan cara ini.”
“AKU BILANG BERHENTI!” Shanum menjerit histeris. Ia ambruk ke lantai, meringkuk dengan posisi janin. Ia mulai menangis sesenggukan, suara yang keluar dari tenggorokannya adalah suara ketakutan yang murni, seperti anak kecil yang sedang dipukuli di sudut ruangan gelap. “Maaf... tolong jangan pukul lagi...”
Amarah Rasyid runtuh seketika. Ia tertegun melihat pemandangan di bawahnya. Shanum yang tadi tampak begitu perkasa dan menantang, kini hancur berkeping-keping.
Ada sesuatu yang bangkit di dada Rasyid—bukan syahwat, bukan amarah, melainkan rasa bersalah yang menghujam jantungnya.
Rasyid berlutut di lantai yang dingin. “Shanum?”
“Jangan... jangan sentuh...” Shanum meracau, matanya kosong namun air matanya terus mengalir deras.
Rasyid mengabaikan egonya. Ia menarik tubuh gemetar itu ke dalam pelukannya. Awalnya Shanum meronta, memukul dada Rasyid dengan lemah, namun Rasyid justru mempererat dekapannya.
Ia menenggelamkan wajah Shanum di dadanya, membiarkan tangisan wanita itu membasahi jubah putihnya.
“Sstt... tenang. Kamu aman. Aku di sini,” bisik Rasyid. Suaranya kini selembut sutra, jauh berbeda dari bentakan beberapa menit lalu. “Maafkan aku. Maafkan ucapanku tadi.”
Shanum terus terisak hingga tubuhnya lemas. Perlahan, perlawanannya hilang, digantikan oleh pegangan erat jemarinya pada baju koko Rasyid, seolah pria itu adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra yang ganas. Rasyid mengangkat tubuh Shanum dengan hati-hati, memindahkannya ke atas ranjang.
Pria itu tidak pergi. Ia duduk di sisi ranjang, mendekap Shanum yang masih terisak kecil dalam tidurnya karena kelelahan.
Rasyid mengusap kening istrinya yang basah, matanya menatap wajah sayu itu dengan penuh tanya. Siapa yang menyakitimu hingga kamu sehancur ini, Shanum?
Setelah memastikan Shanum benar-benar terlelap, Rasyid bangkit. Rasyid berdiri di kegelapan selasar, membelakangi pintu kamarnya yang tertutup rapat.
Tangannya masih terasa hangat, sisa dari dekapan erat yang menenangkan badai trauma Shanum tadi. Ia menatap telapak tangannya sendiri dengan tatapan kosong, seolah masih bisa merasakan getaran hebat dari tubuh istrinya yang hancur.
Langkah kaki yang tenang namun mantap mendekat. Zaki berdiri di sana, menundukkan kepala dengan hormat.
“Ada yang bisa saya bantu, Kyai?” suara Zaki rendah, menjaga kesunyian malam di pesantren.
Rasyid tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara malam yang dingin menusuk paru-parunya.
“Zaki... aku butuh matamu di luar sana. Cari tahu apa yang sebenarnya terjadi di hotel itu. Jangan hanya fokus padaku, tapi telusuri jejak wanita itu.”
Zaki sedikit mendongak, ada kilat heran di matanya. “Maksud Kyai... mencari bukti untuk membersihkan nama Kyai dari tuduhan zina itu?”
Rasyid menggeleng perlahan. Ia menoleh ke arah pintu kamar, teringat bagaimana Shanum meringkuk ketakutan seolah dunia sedang runtuh menimpanya.
“Bukan. Cari tahu siapa yang sudah menjebak Shanum malam itu. Cari tahu siapa yang memberinya obat dan siapa yang mengejarnya hingga dia terpaksa lari mencari perlindungan ke kamarku.”
Rasyid menjeda, suaranya memberat karena rasa bersalah yang mulai menggerogoti egonya.
“Aku ingin tahu siapa yang sudah menghancurkan harga diri seorang wanita hingga dia sehancur itu, Zaki. Seseorang telah melemparkannya ke dalam neraka, dan secara tidak sengaja, pintu neraka itu adalah kamarku. Aku harus tahu siapa yang memulainya... sebelum aku benar-benar menghakimi orang yang salah.”
Zaki tertegun sejenak, lalu mengangguk takzim. “Baik, Kyai. Saya akan mulai mencari informasi malam ini juga.”