Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6: Di Ambang Kematian
Chapter 6: Di Ambang Kematian
Gravitasi adalah musuh keduaku setelah mayat hidup. Rasa mual menghantam perutku saat tubuhku meluncur bebas di udara sebelum akhirnya menghantam lantai semen yang keras dengan bunyi Dugh! yang memekakkan telinga. Pandanganku sempat mengabur selama beberapa detik, dan rasa sakit yang tajam menjalar dari punggung hingga ke tulang ekorku.
“Zidan… awas!”
Suara Kurumi menyentak kesadaranku. Aku segera berguling ke samping tepat saat sebuah tangan busuk mencoba mencengkeram kepalaku. Bau kematian memenuhi hidungku. Kami jatuh tepat di tengah kafetaria yang kini sudah menjadi sarang bagi puluhan zombi yang kelaparan.
“Kurumi, berdiri! Jangan sampai mereka mengepung kita!” teriakku sambil mengayunkan pipa besiku sekuat tenaga ke arah zombi terdekat. Bunyi retakan tengkorak yang hancur memberikan sedikit ruang bagiku untuk bangkit.
Kurumi merangkak bangun, wajahnya penuh debu dan ada luka lecet di pipinya, tapi matanya masih memancarkan api perlawanan. Dia segera mengayunkan sekopnya secara horizontal, menebas leher dua zombi sekaligus hingga mereka jatuh tersungkur.
“Kita terkepung, Zidan! Pintu keluar terlalu jauh!” Kurumi berteriak di tengah suara erangan yang memekakkan telinga.
Aku memutar otak dengan cepat. Menuju pintu keluar utama adalah bunuh diri. Lorong itu dipenuhi oleh ratusan mayat hidup. Mataku menyapu ruangan dan tertuju pada sebuah stan makanan cepat saji yang memiliki penutup besi rolling door yang setengah terbuka.
“Ke sana! Masuk ke dalam stan itu!” aku menarik lengan Kurumi, memaksanya berlari menembus kerumunan.
Setiap langkah terasa seperti perjuangan antara hidup dan mati. Aku tidak ragu untuk menendang, memukul, atau bahkan menggunakan zombi yang sudah lemah sebagai perisai manusia demi membuka jalan bagi kami. Aku tidak peduli jika itu terlihat kejam. Di mataku, mereka bukan lagi manusia; mereka hanyalah rintangan yang harus disingkirkan.
“Zidan, ada wanita itu! Dia masih terjepit di bawah meja!” Kurumi menunjuk ke arah seorang penyintas yang sedang meronta ketakutan karena kakinya terjepit reruntuhan ventilasi yang kami jatuhkan tadi.
“Biarkan saja! Dia cuma akan memperlambat kita!” jawabku tanpa menoleh sedikit pun.
“Tapi Zidan, kita bisa menyelamatkannya!”
Aku berhenti sejenak, menatap Kurumi dengan tatapan yang sangat tajam hingga dia terdiam. “Dengar, Kurumi. Kamu mau selamat atau mau mati konyol sebagai pahlawan yang gagal? Pilih sekarang, karena aku tidak akan berhenti hanya untuk satu orang yang peluang hidupnya sudah nol!”
Kurumi menggigit bibirnya, matanya terlihat berkaca-kaca karena marah dan sedih. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia mengikutiku masuk ke dalam stan makanan tepat sebelum puluhan tangan mulai menggapai-gapai pintu masuk.
Aku segera menarik rolling door itu ke bawah dan menguncinya dari dalam dengan sisa tenaga yang kupunya. Brak!
Suara gedoran di luar sana terdengar seperti hujan lebat yang menghantam atap seng. Mereka tahu kami ada di dalam. Mereka bisa mencium bau darah dan kehidupan dari balik celah besi ini.
“Kamu benar-benar dingin, Zidan. Kamu membiarkan wanita itu dimakan hidup-hidup di depan mata kita sendiri,” bisik Kurumi. Dia duduk bersandar di bawah konter dapur, membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya. Tubuhnya gemetar hebat.
Aku mengatur napas yang tersengal, lalu duduk di seberangnya sambil memeriksa tas obat-obatan yang berhasil kuselamatkan tadi. “Dunia ini sudah tidak mengenal belas kasihan, Kurumi. Menyelamatkannya berarti menarik perhatian lebih banyak zombi ke arah kita. Secara matematis, mengorbankan satu orang untuk menyelamatkan dua orang adalah keputusan yang paling logis.”
“Logika… logika… yang kamu pikirkan cuma itu!” Kurumi mendongak, matanya merah karena menahan tangis. “Apa kamu nggak pernah merasa takut? Apa kamu nggak pernah merasa bersalah?”
Aku menatapnya datar. “Takut tidak akan memberimu makanan. Rasa bersalah tidak akan membunuh zombi. Jika kamu ingin tetap hidup bersamaku, kamu harus belajar mematikan perasaanmu itu. Hanya orang-orang yang berhati dingin yang akan bertahan sampai akhir.”
Kurumi terdiam. Suasana di dalam stan yang sempit itu menjadi sangat mencekam. Hanya suara napas kami yang terdengar, bersahutan dengan erangan lapar dari luar rolling door. Bau minyak goreng lama dan sisa makanan yang membusuk memenuhi ruangan ini, menambah rasa mual di perutku.
Aku mengeluarkan sebuah botol air mineral dari tas dan menyodorkannya padanya. “Minumlah. Kita butuh tenaga untuk rencana selanjutnya.”
Kurumi menatap botol itu dengan ragu, lalu mengambilnya tanpa sepatah kata pun. Dia meminumnya dengan rakus, menunjukkan betapa dehidrasinya dia setelah semua aksi tadi. Setelah selesai, dia mengusap mulutnya dengan punggung tangan dan menatapku dengan tatapan yang sedikit berbeda—bukan lagi kemarahan murni, tapi ada semacam pengakuan akan kebenaran pahit yang baru saja kukatakan.
“Lalu… apa rencana kita sekarang? Kita terjebak di sini,” tanya Kurumi pelan. Suaranya sudah sedikit lebih tenang.
Aku mengeluarkan sebuah peta mall yang sempat kuambil dari meja informasi tadi pagi. “Kafetaria ini terhubung dengan lorong pembuangan sampah di bagian belakang. Lorong itu biasanya langsung mengarah ke area parkir basement atau pintu keluar darurat di belakang mall. Kita akan menunggu sampai malam tiba.”
“Malam? Kenapa harus malam? Bukannya mereka lebih aktif saat gelap?”
“Zombi mengandalkan pendengaran dan penciuman, tapi penglihatan mereka sangat buruk. Di malam hari, dengan cahaya yang minim, kita bisa bergerak lebih tersembunyi jika kita tahu jalannya. Dan yang paling penting, suhu udara yang lebih dingin membuat mereka bergerak sedikit lebih lambat.” Aku menjelaskan semuanya dengan nada tanpa emosi, seperti seorang profesor yang sedang memberikan kuliah tentang cara bertahan hidup.
Kurumi mengangguk pelan. Dia mulai memeriksa luka lecet di pipinya menggunakan cermin kecil yang ada di stan tersebut. “Zidan… luka di telapak tanganmu… itu karena memegang besi panas tadi, kan?”
Aku melihat telapak tanganku yang kini melepuh dan berwarna kemerahan. Rasa perihnya baru terasa sekarang, saat adrenalin dalam tubuhku mulai menurun. “Ini bukan masalah besar. Aku punya salep antibiotik di tas.”
Tanpa diduga, Kurumi mendekat. Dia mengambil tasku dan mencari salep serta perban. Dengan gerakan yang kasar namun hati-hati, dia mulai mengoleskan salep ke tanganku.
“Jangan ge-er ya! Aku cuma nggak mau partnerku ini tangannya infeksi lalu nggak bisa memukul zombi lagi. Kalau kamu tidak bisa bertarung, aku yang akan repot,” katanya dengan nada tsundere yang khas, mencoba menyembunyikan rasa pedulinya.
Aku membiarkannya melakukannya. Aku bisa merasakan jemarinya yang lembut menyentuh kulitku yang melepuh. Ada sedikit sengatan perih, tapi rasa hangat yang mengikutinya entah bagaimana terasa menenangkan. Dalam kegelapan stan makanan ini, dengan ribuan kematian yang mengintai di luar, momen kecil ini terasa seperti satu-satunya hal yang nyata.
“Terima kasih, Kurumi,” bisikku pelan.
Dia tersentak sedikit, tangannya berhenti bergerak sesaat sebelum akhirnya dia melanjutkan membalut tanganku dengan perban. “Iya… jangan dibiasakan ceroboh seperti tadi. Dasar cowok kulkas.”
Kami menghabiskan beberapa jam berikutnya dalam diam, menghemat energi sambil menunggu kegelapan malam menyelimuti mall yang terkutuk ini. Aku tahu, perjalanan keluar dari sini tidak akan mudah. Tapi dengan Kurumi di sisiku—meski dia terkadang terlalu emosional—aku mulai merasa bahwa mungkin saja, aku benar-benar bisa menjaga kewarasan ini sampai akhir.
Setidaknya, selama aku tidak membiarkan logika dinginku membunuh satu-satunya hal yang membuatku merasa tetap hidup.
[To Be Continued...]
Catatan Penulis:
Tensi antara Zidan dan Kurumi mulai berubah! Di tengah kepungan maut, mereka mulai saling mengandalkan meskipun dengan cara yang berbeda. Akankah pelarian malam hari mereka berhasil? Ataukah kegelapan akan menjadi kuburan mereka? Jangan lupa Like, Favorit, dan Komentar kalian ya! Masukan kalian sangat berarti bagi kelangsungan cerita ini!