NovelToon NovelToon
Balas Dendam Nyonya Cha

Balas Dendam Nyonya Cha

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mayraa Ibnurafa

Han Ji-an rela dicap "mandul" dan dihina mertua demi menutupi aib suaminya, Kang Min-woo, yang tidak subur. Namun, ketulusannya dikhianati. Min-woo berselingkuh dengan sahabat sekaligus dokter kandungan Ji-an, memalsukan rekam medisnya, lalu mendepaknya tanpa sepeser uang pun.

​Di titik hancur, Ji-an dinikahi Cha Jin-wook, CEO nomor satu di Korea. Tiga tahun berlalu, Ji-an membuktikan kebohongannya dengan melahirkan dua anak. Kini, ia kembali ke Seoul sebagai Nyonya Besar Cha Group yang elegan, siap menghancurkan karier, rumah tangga, dan harga diri orang-orang yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Sentuhan di Balik Selimut Sutra

​Malam merayap semakin pekat di atas langit Hannam-dong. Angin musim semi yang berembus dari Sungai Han membawa hawa sejuk yang membuat tirai-tirai tipis di dalam penthouse mewah itu melambai lembut. Setelah anak-anak terlelap di kamar mereka masing-masing, keheningan yang intim segera menyelimuti seluruh ruangan utama, menyisakan pendar lampu dinding bernuansa kekuningan yang temaram dan hangat.

​Cha Jin-wook melangkah masuk ke dalam kamar tidur utama setelah menyelesaikan panggilan konferensi darurat dengan tim hukumnya di Jenewa. Langkah kakinya yang berat namun senyap terhenti di ambang pintu. Jas formal dan dasinya sudah ia tanggalkan sejak tadi, menyisakan kemeja sutra hitam dengan tiga kancing teratas yang terbuka, mengekspos dada bidangnya yang tegap dan kokoh.

​Di atas ranjang king-size bernuansa putih gading, Han Ji-an sedang bersandar pada tumpukan bantal lembut. Ia mengenakan gaun tidur panjang berbahan satin premium berwarna merah marun yang kontras dengan kulit putih bersihnya. Sebuah jubah rajut putih tersampir longgar di bahunya, menampilkan garis lehernya yang anggun. Ji-an mendongak, menyunggingkan senyuman manis yang seketika meruntuhkan seluruh sisa ketegangan korporasi yang seharian ini menghimpit pundak sang Presdir.

​"Urusan dengan Swiss sudah selesai, sayang?" suara Ji-an terdengar lembut, mengalun merdu memenuhi keheningan kamar.

​Jin-wook tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat dengan tatapan mata elang yang pekat—sebuah pandangan penuh gairah kepemilikan mutlak dan pemujaan murni yang hanya ia miliki untuk wanita di hadapannya ini. Ia merangkak naik ke atas ranjang dengan gerakan yang sangat berwibawa namun penuh kehati-hati, memosisikan tubuh tegapnya tepat di samping Ji-an.

​"Semuanya terkendali, Ji-an. Jangan memikirkan hal-hal di luar kamar ini lagi," bisik Jin-wook dengan suara beratnya yang serak dan dalam, mengirimkan desir halus yang langsung menggelitik kesadaran Ji-an.

​Tangan besar Jin-wook yang hangat perlahan merayap naik, menyusup ke balik rambut hitam panjang Ji-an yang harum aroma esensial lavender. Ia membingkai wajah cantik istrinya, mengusap tulang pipi Ji-an dengan ibu jarinya yang kapalan dengan gerakan yang luar biasa lembut, seolah-olah wanita ini adalah porselen paling berharga di dunia yang bisa retak oleh sentuhan kasar sedikit saja.

​Ji-an menatap lekat ke dalam sepasang mata suaminya, menemukan ketenangan yang luar biasa di sana. Ia mengulurkan kedua tangan lentiknya, merapikan kerah kemeja hitam Jin-wook yang sedikit berantakan, sebelum perlahan menempelkan telapak tangan hangatnya di dada bidang sang suami, merasakan detak jantung Jin-wook yang berdegup dengan ritme yang kuat dan protektif.

​"Kau selalu bekerja terlalu keras untuk kami," bisik Ji-an dengan binar mata yang sarat akan rasa cinta yang mendalam.

​Jin-wook perlahan mendekatkan wajahnya, memangkas jarak yang tersisa di antara mereka hingga napas hangatnya yang beraroma mint menerpa permukaan bibir Ji-an. "Menjagamu dan anak kita bukan pekerjaan, Ji-an. Itu adalah alasan mengapa aku masih bernapas hingga hari ini."

​Sedetik kemudian, Jin-wook meraup bibir merah muda Ji-an dalam sebuah ciuman yang sangat intim, dalam, namun dipenuhi kelembutan yang menuntut kesetiaan mutlak. Ciuman itu berlangsung lambat dan sarat akan gairah tersembunyi yang terkontrol dengan sopan. Ji-an mendesah lembut, membiarkan jemari tangannya menyusup ke dalam rambut hitam legam Jin-wook, membalas tautan bibir suaminya dengan kepasrahan penuh yang manis khas adegan romantis drakor kelas atas.

​Tangan Jin-wook yang bebas perlahan turun dari pipi Ji-an, merayap lembut ke lehernya, lalu menyelinap di balik selimut sutra putih yang menutupi setengah tubuh istrinya. Telapak tangan besarnya yang hangat mendarat tepat di atas perut Ji-an yang masih rata namun terasa hangat. Jin-wook mengusapnya dengan pola melingkar yang sangat protektif, menyalurkan energi kekuatan seorang ayah langsung kepada janin yang sedang tumbuh di sana.

​Ketika tautan bibir mereka akhirnya terlepas, Jin-wook tidak menjauhkan wajahnya. Ia menempelkan dahinya pada dahi Ji-an, menghirup napas yang sama dengan istrinya sembari menyunggingkan senyuman miring yang sangat seksi dan menawan.

​"Detak jantungmu berdegup sangat kencang, Nyonya Cha," goda Jin-wook parau, matanya berkilat penuh canda yang intim.

​Pipi Ji-an seketika merona merah muda yang sangat menggemaskan. Ia memukul pelan dada bidang Jin-wook dengan kepalan tangan kecilnya. "Itu karena suamiku terlalu pandai membuatku kehilangan napas."

​Jin-wook terkekeh rendah, suara tawa seksinya yang dalam menggema hangat di dalam kamar. Ia menarik tubuh ramping Ji-an ke dalam dekapannya yang luar biasa erat, memosisikan kepala Ji-an agar bersandar dengan nyaman di atas lengan kokohnya yang menjadi bantal terbaik wanita itu. Selimut sutra ditarik naik oleh Jin-wook, membungkus kedua tubuh mereka dalam kepompong kehangatan yang tak tertembus oleh dinginnya malam.

​"Tidurlah, sayang. Aku akan tetap di sini, memelukmu seperti ini sampai pagi menjemput," bisik Jin-wook sembari mengekecup puncak kepala Ji-an lama dengan penuh pemujaan.

​Keheningan malam semakin larut, namun kehangatan di antara keduanya justru kian mendalam. Ji-an yang semula memejamkan mata, perlahan membukanya kembali. Ia merasakan jemari besar Jin-wook masih setia mengusap lengannya dengan ritme konstan yang menenangkan, seolah suaminya itu adalah jangkar yang menahannya agar tidak terseret oleh kecemasan apa pun.

​"sayang," panggil Ji-an lirih, menggeser sedikit posisinya agar bisa menatap pahatan rahang tegas suaminya dari bawah.

​"Hmm? Kenapa belum tidur? Ada yang terasa tidak nyaman di perutmu?" Suara Jin-wook langsung berubah siaga. Sepasang mata elangnya menunduk cepat, memindai ekspresi wajah Ji-an dengan gumpalan kekhawatiran yang begitu kentara. Sikap protektifnya yang instan ini selalu berhasil membuat hati Ji-an meleleh.

​"Tidak, semuanya sangat baik di dalam sini," jawab Ji-an lembut, menuntun tangan Jin-wook kembali ke atas perutnya. "Hanya saja... aku memikirkan tentang ancaman dari Eropa itu. Lineage Bio... apakah mereka sekuat itu hingga membuatmu harus melakukan panggilan darurat larut malam dengan tim hukum internasional?"

​Jin-wook terdiam sejenak. Ia menghela napas pendek, lalu mengecup kening Ji-an dengan kelembutan yang kontras dengan kekerasan hatinya di dunia bisnis. "Mereka memiliki uang dan relasi lama, Ji-an. Tapi mereka tidak memiliki apa yang aku miliki di sini."

​Ia menatap mata Ji-an dengan intensitas yang begitu pekat, seolah sedang mengunci seluruh jiwa istrinya ke dalam takdirnya. "Kakekku mendirikan Cha Group dengan fondasi besi, dan aku telah mengubah fondasi itu menjadi baja yang tak tertembus. Masa lalu hanyalah tumpukan abu yang sesekali ditiup angin. Tugasku adalah memastikan abu itu tidak mengotori lantai rumah kita."

​Ji-an tersenyum kecil, merasakan ketegangan yang perlahan mengendur dari otot-otot bahu Jin-wook. "Aku tahu kau bisa mengatasi segalanya. Tapi berjanjilah padaku satu hal, Presdir Cha."

​"Apa?"

​"Jangan pernah menghadapi mereka sendirian jika itu membahayakan nyawamu. Ingatlah bahwa kau bukan lagi hanya seorang penguasa korporasi. Kau adalah seorang ayah dari tiga anak, dan kau adalah seluruh dunia untukku," bisik Ji-an dengan nada yang begitu tulus, menyiratkan kedalaman cinta yang telah matang melalui berbagai badai kehidupan.

​Mendengar penuturan itu, tatapan mata Jin-wook menggelap oleh emosi yang membuncah. Kata-kata Ji-an adalah kelemahan terbesar sekaligus kekuatan tertingginya. Tanpa berucap lagi, ia mencondongkan tubuh tegapnya, meraup kembali bibir manis Ji-an dengan ciuman yang kali ini terasa jauh lebih menuntut, posesif, namun sarat akan rasa terima kasih yang tak terhingga.

​Ciuman itu berpindah perlahan ke sudut bibir Ji-an, lalu turun menyusuri leher jenjangnya yang putih bersih. Sentuhan bibir Jin-wook yang hangat dan sedikit mendesak mengirimkan sensasi menggelitik yang membuat Ji-an meremas pelan bahu kekar suaminya. Jin-wook sengaja meninggalkan kecupan lama di area peka tersebut, seolah sedang memberikan tanda kepemilikan mutlak yang tak boleh diganggu gugat oleh siapa pun di dunia ini.

​"Aku berjanji, Nyonya Cha," bisik Jin-wook parau di sela napasnya yang memburu pelan, kembali menatap wajah Ji-an yang kini tampak begitu cantik dengan binar gairah yang tertahan dengan sangat sopan. "Seluruh hidup dan matiku sudah terikat padamu sejak hari pertama kau menerima cincin dariku. Aku tidak akan membiarkan diriku terluka sedikit pun, karena tugasku adalah menua bersamamu."

​Ji-an menyembunyikan wajahnya yang merona merah padam di dada bidang Jin-wook, menghirup dalam-dalam aroma tubuh maskulin yang menjadi candu baginya. Tangan besarnya merengkuh punggung Ji-an, menarik selimut sutra gading mereka lebih tinggi hingga membungkus rapat kebersamaan mereka yang begitu intim dan suci.

​Keesokan paginya, suasana megah di ruang makan penthouse Hannam-dong tampak dipenuhi oleh aktivitas yang hangat. Sinar matahari pagi menembus kaca-kaca besar, memantulkan pendar kemilau di atas lantai marmer.

​Cha Hyun-woo sedang sibuk memasukkan beberapa buku pelajaran ke dalam tas sekolahnya, sementara Seo-ah duduk manis di kursi tingginya, mencoba menyuapkan potongan buah stroberi ke dalam mulutnya sendiri dengan tangan mungilnya yang belepotan.

​"Ibu! Hari ini ayah berjanji akan mengantarku dan Seo-ah sampai ke gerbang sekolah!" seru Hyun-woo penuh semangat begitu melihat Ji-an berjalan turun dari tangga melingkar.

​Ji-an, yang pagi ini mengenakan gaun terusan rajut berwarna vanila yang longgar dan anggun, tersenyum cerah. Namun, langkahnya seketika tertahan ketika melihat Cha Jin-wook sudah berdiri di ujung tangga bawah, siap menyambutnya dengan tangan terbuka. Pria itu sudah berpakaian rapi dengan setelan jas abu-abu gelap buatan penjahit terbaik Savile Row, memancarkan aura ketampanan yang sangat maskulin dan berwibawa.

​"Kenapa jalan terlalu cepat, hmm?" tegur Jin-wook lembut, langsung melingkarkan tangannya di pinggang Ji-an begitu wanita itu memijakkan kaki di anak tangga terakhir.

​"sayang, ini hanya tangga rumah kita sendiri, bukan tebing curam," gurau Ji-an dengan kekehan pelan, namun ia tetap membiarkan suaminya menuntun langkahnya menuju meja makan dengan proteksi penuh.

​"Bagi saya, setiap jengkal lantai yang kau pijak saat ini harus dipastikan seaman jalur sutra," balas Jin-wook mutlak tanpa ada nada bercanda di wajah tampannya.

​Setelah memastikan Ji-an duduk dengan nyaman di kursinya, Jin-wook mengecup puncak kepala istrinya sekilas sebelum beralih menatap Sekretaris Kim yang baru saja masuk membawa beberapa berkas rahasia. Atmosfer hangat di meja makan itu seketika bergeser sedikit ketika kilat profesionalisme kembali mengunci sepasang mata elang sang Presdir.

​"Bagaimana dengan laporan dari Jeju?" tanya Jin-wook dengan suara rendah yang tidak terdengar oleh anak-anak.

​Sekretaris Kim membungkuk hormat, menyerahkan sebuah gawai tablet berlayar enkripsi khusus. "Sesuai dugaan Anda, Presdir. Seseorang dari perbatasan utara telah mendarat menggunakan paspor diplomatik palsu malam tadi. Mereka saat ini bergerak menuju sebuah vila tua di kawasan terisolasi dekat lereng Hallasan. Tim pemukul kita sudah berada di perimeter luar, menunggu perintah mutlak dari Anda."

​Jin-wook menerima tablet tersebut, membaca baris demi baris data manifes penerbangan rahasia yang berhasil dicegat oleh jaringan intelijen pribadinya. Sebuah senyuman miring yang sangat dingin terukir di bibirnya—senyuman yang menandakan bahwa pemangsa puncak telah menemukan buruannya.

​"Biarkan mereka menetap di sana untuk satu malam lagi. Aku ingin melihat seberapa jauh akar eropa ini mencoba merayap di tanah Korea sebelum aku memotongnya sekaligus," desis Jin-wook dingin.

​Ji-an yang memperhatikan interaksi tersebut dari seberang meja, meletakkan cangkir teh kamomilnya perlahan. Ia tidak bertanya, karena ia tahu suaminya sedang membangun benteng tak terlihat untuk melindungi masa depan keluarga mereka. Kepercayaan mutlak di antara mereka adalah senjata paling mematikan yang tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh konspirasi global mana pun.

​Jin-wook kembali menatap Ji-an, dan dalam sekejap, aura membunuhnya menguap digantikan oleh binar kelembutan yang begitu manis. Ia mengulurkan tangannya di atas meja, menggenggam jemari lentik Ji-an dan mengusapnya pelan. "Makanlah yang banyak, Ji-an. Siang ini aku akan meminta koki menyiapkan sup daging sapi premium untukmu."

​Perburuan rahasia di Pulau Jeju telah dimulai dengan strategi senyap yang mengerikan! Jin-wook siap mengerahkan seluruh kekuatan komando pusat untuk menghabisi utusan khusus Lineage Bio.

1
Mutia Kim🍑
Seneng banget deh Ji-An dapat pengganti yg jauh lebih baik🥰
Mutia Kim🍑
Memang lebih baik kamu pergi saja dari keluarga toxic itu Ji-an😌
Mayraa_Tapaa: makasih ka udah mampir
total 1 replies
Mayraa_Tapaa
Mampir ya readers readers yg baik dan keren-keren, udah up banyak episode loh jadi enak bacanya...setiap hari juga bakal up min 4 episode sehari ya....
kutunggu kehadiran kaliam🤗✨️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!