NovelToon NovelToon
GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Balas Dendam
Popularitas:891
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

GAJAH MADA – Perjalanan Sang Penakluk Dunia
Darah jelata, didikan sang penguasa, takdir sang penakluk samudra.
Selamat dari pembantaian faksi hitam Mahapati berkat mukjizat perisai emas gaib, bayi kasta rendah bernama Mada diasuh secara rahasia oleh Rama Sidacerma—nama samaran Patih Nambi, Mahapatih Pertama Majapahit yang memalsukan kematiannya.
Di bawah didikan brutal sang mantan perdana menteri, Mada tumbuh menjadi kesatria berotot baja. Ia terlahir dengan takdir tertinggi: sepasang mata sakral Niti Sastra yang mampu memprediksi masa depan, dan Khodam Senopati Zirah Emas —entitas raksasa pelindung serupa dewa perang.
Demi menuntaskan dendam dan membersihkan Majapahit dari pengkhianat, ia merantau ke Trowulan sebagai Gajah Mada. Merangkak dari prajurit kasta terbawah, ia bangkit memimpin Pasukan Bhayangkara hingga mengumandangkan Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara.
Namun, di puncak kejayaannya, sebuah konspirasi mistis luar logika telah menantinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Rahasia di Balik Api Perapian

Langkah kaki Mada terasa berat namun mantap saat ia menapakkan kakinya kembali di pelataran gubuk utara. Langit Hutan Tarik di atas sana sudah berubah menjadi jingga keperakan, pertanda sang surya hampir menyelesaikan tugasnya hari itu. Seluruh tubuh bocah sepuluh tahun itu dipenuhi noda tanah, robekan semak berduri, dan bercak darah kering milik Kidang Kencono. Di tangan kirinya, sepasang tanduk hitam sekeras logam berkilat redup di bawah temaram senja.

Rama Sidacerma sedang duduk di atas sebuah log kayu di depan gubuk, perlahan meniup api perapian kecil yang baru dinyalakannya. Pria tua itu tidak menoleh saat mendengar gesekan langkah kaki Mada, namun sepasang telinga tuanya menangkap ketiadaan riak hawa murni yang bocor dari tubuh sang anak angkat.

Mada berjalan mendekat, lalu meletakkan tanduk Kidang Kencono di atas tanah, tepat di samping kaki Rama. Ia kemudian berdiri tegap dengan tangan bersedekap, menunggu penilaian dari sang guru tanpa sepatah kata pun terucap dari bibirnya yang mengatup rapat.

Rama menghentikan aktivitasnya. Ia memungut tanduk logam tersebut, meraba ujung-ujungnya yang tajam dengan ibu jarinya, lalu menatap noda darah kering yang melekat di sana. Untuk beberapa saat, keheningan yang mencekam menyelimuti mereka, hanya diinterupsi oleh suara retakan kayu bakar yang termakan api.

"Kamu menggunakan mata sakralmu untuk memprediksi arah serudukannya, lalu mengunci energinya di saat-saat terakhir," ucap Rama, suaranya pelan namun sarat akan ketegasan. Mata tuanya beralih menatap wajah tegas Mada. "Dan kamu tidak menggunakan kekuatan Khodam-mu secara berlebihan hingga memicu ledakan energi yang bisa mengundang perhatian dunia luar. Benar?"

Mada mengangguk sekali. "Benar, Rama. Jika Mada tidak menggunakan Niti Sastra untuk membaca aliran hawa murninya, tanduk rusa ini sudah menembus dada Mada sebelum pisau ini sempat terayun."

Rama meletakkan tanduk itu kembali ke tanah, lalu melemparkan beberapa ranting kering ke dalam api perapian. Nyala api mendadak membesar, memantulkan pendaran cahaya kemerahan di wajah tua sang mantan senopati yang mendadak tampak begitu muram dan dipenuhi gumpalan beban masa lalu.

"Duduklah, Mada," perintah Rama, nadanya melunak, sesuatu yang sangat jarang terjadi dalam lima tahun terakhir.

Mada melipat kakinya, duduk bersila di seberang perapian, berhadapan langsung dengan ayah angkatnya. Asap tipis dari kayu jati yang terbakar merayap di antara mereka, menciptakan sekat ghaib yang seolah mengisolasi gubuk itu dari seluruh belantara Hutan Tarik.

"Hari ini kamu telah membuktikan bahwa raga dan batinmu sudah siap untuk melangkah ke tingkatan yang lebih tinggi," Rama memulai, matanya menatap lurus ke dalam kobaran api. "Kamu bukan lagi bocah ingusan yang hanya tahu cara memukul batu kali. Kamu adalah pemburu yang tahu kapan harus menyembunyikan taring, dan kapan harus menghujamkan duri maut."

Rama menarik napas dalam-dalam, embusan napasnya terasa berat, seolah ia sedang menggali kembali tumpukan puing sejarah yang sengaja dikuburnya dalam-dalam. "Karena usiamu kini telah genap sepuluh tahun, dan insting bertarungmu telah matang, sudah saatnya kamu mengetahui mengapa kamu harus melewati semua siksaan kawah candradimuka ini. Sudah saatnya kamu tahu siapa dirimu, dan siapa musuh yang sedang menunggumu di balik tembok bata merah kota raja Trowulan."

Mada tetap diam, namun sepasang mata hitamnya menatap tajam tanpa berkedip. Sejak kecil ia tahu ada misteri besar yang menyelimuti asal-usulnya, namun kerasnya didikan Rama membuatnya belajar untuk tidak pernah bertanya sebelum sang guru mengizinkan.

"Nama asli tempat ini... tempat di mana gubuk ini berdiri, adalah bumi Tarik," kata Rama, suaranya bergetar rendah. "Dua puluh tahun yang lalu, tanah yang kamu pijak ini adalah hutan lebat penuh mara bahaya. Di sinilah Prabu Raden Wijaya, bersama para kesatria setianya—termasuk aku—membuka lahan, membabat pohon molo, dan mendirikan fondasi Kerajaan Majapahit setelah meruntuhkan Kediri dan mengusir pasukan besar Mongol Tartar."

Rama menjeda kalimatnya, meraba parut luka bakar besar yang melintang di lengan kanannya. "Kami mengira perang telah usai saat panji Majapahit berkibar. Kami mengira darah yang tumpah sudah cukup untuk menebus sebuah kedamaian. Namun kami keliru, Mada. Musuh yang paling mematikan bukanlah pasukan asing yang membawa ribuan panah dan kapal perang di lautan, melainkan lidah bercabang milik seorang manusia yang bergerak di dalam kegelapan birokrasi istana."

"Siapa dia, Rama?" tanya Mada, nada suaranya terdengar dingin, beresonansi dengan hawa murni di dalam dadanya yang mendadak bergejolak.

"Mahapati," desis Rama. Nama itu keluar dari mulutnya bagaikan kutukan yang menyumbat tenggorokan. "Sesosok manusia licik yang tidak pernah memegang senjata di garis depan, namun memiliki kemampuan mengerikan dalam pilar keempat, Jampi manipulasi psikologis. Dialah yang menanamkan benih paranoia di benak mendiang Prabu Raden Wijaya, menghasut istana untuk mencurigai para pahlawan pendiri kerajaan sebagai pemberontak."

Rama menatap Mada dengan tatapan yang sangat dalam, penuh dengan rasa bersalah yang teramat sangat. "Akibat bisikan beracunnya, satu per satu kesatria terbaik Majapahit diburu dan dibantai oleh pasukan kerajaan mereka sendiri. Dan sepuluh tahun yang lalu... konspirasi berdarah faksi hitam Mahapati meraba hingga ke pinggiran hutan ini, menghancurkan sebuah gubuk pandai besi kasta rendah yang dituduh menyembunyikan persenjataan ilegal untuk makar. Di sanalah ayah dan ibu kandungmu gugur, Mada. Mereka dibantai bukan karena mereka bersalah, melainkan karena mereka adalah alat politik yang dikorbankan untuk memuluskan jalan Mahapati menuju takhta Mahapatih."

Mada mencengkeram lututnya sendiri begitu keras hingga buku-buku jarinya memutih. Penjelasan Rama bagaikan hantaman godam yang membuka paksa ingatan ghaib masa balitanya. Di dalam benaknya, lamat-lamat terdengar kembali suara jeritan wanita, aroma hangus kayu yang terbakar, dan kilatan mata merah dari jampi gagak hitam yang mengintai dari kegelapan malam.

"Lalu... siapa Rama yang sebenarnya?" suara Mada bergetar tipis, menahan badai emosi yang bergemuruh di dalam dadanya.

Rama tersenyum getir. Ia menegakkan punggungnya yang ringkih, dan di detik itu juga, atmosfer di sekitar perapian mendadak berubah drastis. Sebuah tekanan batin yang sangat luar biasa dahsyat memancar dari tubuh tua itu, membuat api perapian mendadak tunduk, mengecil hingga hampir padam. Pendaran hawa murni berwarna ungu pekat—pilar Tenaga Dalam tingkat tiga: Surya Mandala—menyelubungi tubuh Rama, memancarkan wibawa agung seorang panglima tertinggi yang sanggup menggetarkan barisan musuh.

"Dunia luar mengenalku sebagai Patih Nambi, Mahapatih pertama yang memimpin jalannya roda pemerintahan Majapahit di masa awal berdirinya," ucap Rama dengan suara yang menggema berat, berwibawa namun dipenuhi luka batin yang teramat dalam. "Aku memalsukan kematianku, melarikan diri ke dalam jantung Hutan Tarik ini setelah seluruh keluargaku di dibantai habis akibat fitnah keji Mahapati. Aku hidup sebagai hantu di hutan ini, menunggu waktu di mana jagat raya mengirimkan seorang anak takdir yang memiliki kunci kekuatan untuk meruntuhkan kelicikan faksi hitam tersebut. Dan anak itu... adalah kamu, Mada."

Rama menarik kembali energi Surya Mandala-nya, membuat api perapian kembali menyala normal. Udara dingin malam hari kembali merayap masuk ke dalam pelataran gubuk.

"Dendam kita berdua bertumpu pada jantung yang sama, Mada," lanjut Rama, matanya kembali menatap lekat pada pupil mata hitam anak angkatnya. "Tetapi ketahuilah, Majapahit saat ini dipimpin oleh Prabu Jayanegara, seorang raja muda yang bimbang dan sepenuhnya berada di bawah kendali pengaruh jampi (Aji Gendam) milik Mahapati. Jika kamu pergi ke Trowulan sekarang dengan membawa nama asli dan menantang mereka secara terang-terangan, kamu hanya akan berakhir menjadi tumpukan tulang tak bernama di dalam penjara bawah tanah."

Mada menarik napas dalam-dalam, memaksa jantungnya untuk kembali berdetak teratur. Ketenangan dingin yang ditanamkan lewat latihan selama lima tahun membantunya menguasai badai amarah di dalam jiwanya. "Lalu, apa yang harus Mada lakukan, Rama?"

Rama berdiri dari log kayunya, melangkah mendekati pintu gubuk lalu menatap kegelapan belantara Hutan Tarik yang kian pekat.

"Mulai besok pagi, di usiamu yang kesepuluh ini, latihanmu tidak lagi hanya tentang menahan air terjun atau memotong tanduk rusa. Aku akan menurunkan seluruh taktik militer Gelar Supit Urang, hukum tata negara, dan pengetahuan tentang seluk-beluk birokrasi Majapahit kepadamu. Kamu harus belajar menjadi seorang pemikir, bukan sekadar mesin pembunuh," ucap Rama tanpa berbalik badan.

"Kita akan menunggu selama empat tahun ke depan. Kita akan mematangkan seluruh sisa pilar kekuatanmu di dalam hutan ini sampai ragamu mencapai usia remaja yang ideal. Dan ketika saatnya tiba... ketika usiamu menginjak lima belas tahun, kamu akan melangkah keluar dari Hutan Tarik ini. Kamu akan menyusup masuk ke dalam jantung militer Trowulan dari kasta yang paling bawah—menjadi seorang prajurit pembawa tombak yang tidak mencurigakan."

Rama membalikkan tubuhnya, menatap Mada dengan kilatan mata penuh keyakinan mistis. "Kamu akan merangkak naik di antara kasta militer yang korup itu menggunakan keringat dan darahmu sendiri,

mengumpulkan orang-orang tertindas untuk membentuk kekuatanmu sendiri, hingga akhirnya kamu berdiri tepat di hadapan Mahapati untuk mencabut nyawanya dan membersihkan tanah Majapahit dari noda kelicikan."

Mada berdiri dari duduknya, menghadap langsung ke arah sang guru. Di bawah temaram cahaya perapian malam itu, garis takdirnya telah terkunci rapat. Angin hutan berembus kencang, menggoyangkan dedaunan jati purba di sekeliling gubuk, seolah seluruh alam liar Hutan Tarik sedang menjadi saksi atas lahirnya sebuah sumpah tak kasat mata di dalam dada seorang bocah berusia sepuluh tahun.

1
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
nina hariah
cerita nya seru dan menarik
nina hariah
semangat terus updatenya author
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
EunHwa
kak mampir donk kak ke kara saya🙏
nina hariah
next author
nina hariah: semangat terus updatenya
total 1 replies
nina hariah
semangat terus updatenya 👍
Argo Sujendro: sudah diupdate, tinggal menunggu disetujui, semoga menikmati ya kak
total 1 replies
nina hariah
next author
Argo Sujendro: oke gasss
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!