NovelToon NovelToon
Penyesalan Suami: Mengejar Mantan Terindah

Penyesalan Suami: Mengejar Mantan Terindah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Berbaikan
Popularitas:69.2k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.

Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.

Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.

Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Sore harinya, setelah pekerjaan selesai, Arkana kembali berkumpul bersama kedua anaknya. Ia membawa beberapa bahan percobaan sederhana yang sudah disiapkan sejak pagi.

"Hari ini kita bikin gunung meletus!"

Anaya langsung melonjak dari sofa. "Yeaaay!"

Sedangkan Abinaya berusaha terlihat tenang. Namun, diam-diam ia menarik kursinya lebih dekat ke meja percobaan.

"Apa ini akan berhasil?" tanya Anaya.

"Aku tidak yakin," lanjut Abinaya.

Beberapa menit kemudian, campuran soda kue dan cairan pewarna mulai bereaksi. Busa merah menyembur keluar dari miniatur gunung.

"Berhasil!"

Anaya melompat-lompat kegirangan. Abinaya ikut tertawa.

"Tuh, kan, pasti berhasil," celetuk Anaya senang.

Arkana mengangkat alis. "Padahal tadi yang paling pesimis siapa?"

"Bukan aku," ucap Anaya.

"Lalu, siapa yang bilang tadi?"

Anaya langsung menunjuk saudara kembarnya. "Itu Abi."

"Pengkhianat," balas Abinaya ketus, tetapi Anaya malah tertawa semakin keras.

Melihat kedua anak itu tertawa bersama membuat Arkana merasa seluruh lelahnya menghilang begitu saja.

***

Hari Minggu akhirnya tiba. Biasanya jika Kanaya sedang sibuk, Shaka atau Pak Adjie yang akan mengajak Abinaya dan Anaya jalan-jalan. Namun, kali ini Arkana sudah lebih dulu menyiapkan kejutan.

Mereka pergi ke Observatorium Bosscha.

Begitu melihat bangunan itu dari kejauhan, kedua anak langsung bersorak.

"Boscha!"

"Ayah, serius kita ke sini?"

"Iya." Arkana mengangguk sambil tersenyum.

Sepanjang hari mereka menjelajahi area observatorium, mendengarkan penjelasan tentang planet, bintang, dan galaksi. Anaya tidak berhenti bertanya, sedangkan Abinaya terlihat sangat antusias mendengarkan setiap penjelasan.

Menjelang sore, mereka duduk di area terbuka sambil menikmati udara pegunungan yang sejuk. Anaya menyandarkan kepalanya ke bahu Arkana.

"Ayah," panggil gadis kecil itu dengan lembut.

"Hm, ya. Ada apa?"

"Nanti kita ke sini lagi, ya? Karena Aya sangat suka."

Arkana tersenyum. "Boleh."

"Janji?" Anaya mengulurkan jari kelingkingnya.

"Janji." Arkana langsung menyambutnya.

Namun beberapa detik kemudian Anaya menambahkan syarat. "Tapi lain kali harus ajak Bunda."

Hati Arkana terasa hangat sekaligus perih.

Karena sampai hari ini, perempuan yang paling ingin ia bahagiakan masih berdiri begitu jauh darinya.

"Iya, kalau Bunda mau ikut," balas Arkana tersenyum tipis.

Anaya tersenyum puas. "Bunda enggak boleh nolak."

Arkana tertawa garing. "Itu susah."

"Kenapa?" tanya Anaya dengan wajah polosnya.

"Soalnya Bunda kamu keras kepala," jawab Arkana.

"Enggak, kok." Abinaya menggeleng cepat. "Bunda cuma pura-pura galak."

"Iya. Bunda itu akan ngomel, karena sayang sama kita." Anaya tertawa.

"Bunda akan galak kalau kita enggak mau belajar dan mengaji," kata Abinaya tertawa.

Ini pertama kalinya Arkana mendengar tawa kedua anaknya bersamaan saat mereka berada di sisinya. Suara sederhana yang membuat perjalanan panjang, penyesalan bertahun-tahun, dan semua perjuangannya, terasa sedikit lebih ringan.

Perjalanannya untuk mendapatkan hati kedua anaknya mulai menunjukkan hasil. Namun, perjalanan untuk mendapatkan kembali hati Kanaya tampaknya masih sangat panjang.

Sudah lebih dari satu bulan Arkana tinggal di rumah Kanaya. Banyak hal berubah selama waktu itu. Setiap pagi ia mengantar Abinaya dan Anaya ke sekolah, lalu menjemput mereka ketika jam pelajaran usai. Malam hari, ia membantu keduanya belajar, membacakan cerita sebelum tidur, atau sekadar menemani mereka bermain di ruang keluarga. Hal-hal sederhana yang dulu hanya bisa ia bayangkan kini perlahan menjadi bagian dari kesehariannya.

Anaya sudah sangat lengket dengan Arkana. Ke mana pun pergi, gadis kecil itu selalu mencari ayahnya. Jika bangun tidur dan tidak melihat Arkana, ia akan berkeliling rumah lebih dulu sebelum melakukan hal lain.

Berbeda dengan Abinaya. Anak laki-laki itu memang tidak lagi menolak keberadaan Arkana. Ia sudah mau menjawab ketika diajak berbicara dan sesekali mengikuti ajakan bermain. Namun, masih ada jarak yang terasa jelas di antara mereka. Jika harus memilih, Abinaya tetap lebih nyaman bersama Shaka. Arkana menyadari hal itu, tetapi ia tidak pernah memaksa. Ia memilih bersabar dan menunggu sampai hati putranya benar-benar siap menerima dirinya.

Hari Sabtu menjadi hari yang paling ditunggu oleh Arkana, Abinaya, dan Anaya. Sejak pagi, Anaya sudah mondar-mandir membawa tas kecil berisi pakaian ganti.

"Ayah, ayo cepat!" teriak gadis kecil itu dari ruang tamu.

"Ayah lagi pakai sepatu," jawab Arkana dari teras.

"Cepetan!"

"Aya, Ayah cuma punya dua tangan."

Anaya langsung tertawa mendengar jawaban itu.

Sementara itu, Abinaya sudah berdiri di dekat mobil sambil mengenakan topi kesayangannya. Hari itu mereka berencana menghabiskan waktu di wahana air terbesar di kota tersebut.

Yang membuat kedua anak itu semakin bersemangat adalah karena Kanaya ikut bersama mereka. Biasanya akhir pekan Kanaya masih harus mengurus pekerjaan katering. Namun, kali ini jadwalnya tidak terlalu padat sehingga sebagian pekerjaan bisa diserahkan kepada timnya.

"Bunda ikut, kan?" tanya Anaya untuk kesekian kalinya.

Kanaya tersenyum sambil mengunci pintu rumah. "Iya."

"Horeee!"

Anaya langsung melompat kegirangan. Bahkan Abinaya yang biasanya lebih tenang pun terlihat tidak bisa menyembunyikan senyumnya.

Begitu tiba di lokasi wisata, tawa keduanya hampir tidak pernah berhenti terdengar. Mereka mencoba berbagai wahana, mulai dari seluncuran air, kolam ombak, ember tumpah raksasa, hingga sungai arus yang mengelilingi area wisata.

"Ayah! Lagi!" seru Anaya sambil menarik tangan Arkana menuju seluncuran.

"Kita sudah lima kali naik itu," kata Arkana.

"Sepuluh kali, dong!" ucap Anaya enteng.

"Ayah bisa pusing." Arkana memasang wajah memelas.

"Enggak boleh pusing," balas Anaya menggelengkan kepala.

Arkana hanya bisa tertawa pasrah sebelum kembali mengikuti putrinya.

Di sisi lain, Abinaya asyik bermain air bersama Kanaya. Sesekali anak laki-laki itu menyiramkan air ke arah bundanya, lalu berlari sambil tertawa ketika Kanaya mengejarnya. Melihat pemandangan itu, Arkana sempat terdiam. Matanya mengikuti setiap tawa dan senyum yang menghiasi wajah mereka.

Dulu, ia sering membayangkan momen seperti ini. Duduk bersama, bermain bersama, dan melihat anak-anaknya tumbuh dengan bahagia. Saat itu semua hanya ada di dalam angan-angannya. Kini semuanya benar-benar berada di depan mata.

Menjelang sore mereka akhirnya meninggalkan wahana air. Namun sebelum pulang, Kanaya mengusulkan untuk makan malam di luar.

"Aku capek masak," katanya sambil menyandarkan punggung ke kursi mobil.

"Aku setuju!" seru Anaya sambil mengangkat tangan.

"Aku juga," sahut Arkana cepat.

Kanaya langsung menoleh ke arah mereka berdua.

"Kompak sekali."

Anaya dan Arkana saling berpandangan lalu tertawa bersamaan.

Akhirnya mereka berhenti di sebuah restoran keluarga yang cukup ramai. Setelah bermain air seharian, Abinaya dan Anaya makan dengan sangat lahap. Namun seperti biasa, perhatian keduanya lebih banyak tertuju pada menu penutup.

"Boleh satu lagi?" pinta Anaya sambil menunjuk es krim di buku menu.

"Enggak," jawab Kanaya tegas.

"Bunda..."

"Enggak."

"Satu aja."

"Enggak."

Anaya langsung menoleh ke arah Arkana. "Ayah ...."

Arkana buru-buru mengangkat kedua tangannya. "Jangan bawa-bawa Ayah."

Anaya mengerucutkan bibir kesal.

Di seberangnya, Abinaya diam-diam tertawa melihat ekspresi saudara kembarnya. Namun, beberapa menit kemudian, anak laki-laki itu justru ikut meminta tambahan es krim.

Kanaya sampai menggeleng-geleng kepala. "Jadi sebenarnya kalian berdua sama saja."

Abinaya langsung pura-pura fokus minum agar tidak ditertawakan oleh kembarannya.

Suasana meja makan terasa hangat dan penuh canda. Mereka menikmati makan malam sambil saling bercerita tentang wahana yang paling disukai hari itu. Namun, ketika mereka sedang asyik menikmati hidangan, tiba-tiba seseorang menghampiri meja mereka.

1
Sugiharti Rusli
perlahan tapi pasti semoga apa yang kamu impikan bersama keluarga kecil kalian yang utuh bisa segera terwujud yah Ar,,,
Sugiharti Rusli
tapi melihat ketulusan Arkana menjaganya bersama sang bunda semalaman, akhirnya pertahanannya runtuh juga,,,
Sugiharti Rusli
mungkin selama ini sejatinya Abi juga merindukan sosok yang ingin dia panggil ayah, tapi masih menahan dirinya,,,
Sugiharti Rusli
ternyata benar yah ikatan emosional itu sangat penting disamping kedekatan fisik
Sugiharti Rusli
ah ikutan melow bacanya sih😪😪😪
Sugiharti Rusli
apalagi di saat sekarang putra mereka sakit dan ternyata ga suka minum obat jadi proses pemulihannya jadi ga mudah,,,
Sugiharti Rusli
intinya si Arkana memang sabar saja nunggu proses Kanaya mau menerima diri nya lagi seutuhnya yah,,,
Sugiharti Rusli
etapi si Kanaya saat Arka panggil sayang dia reflek langsung menyahut donk😝😝😝
Sugiharti Rusli
Aya kamu peka dan jujur sekali sih bilang kalo ayahnya cemburu😅😅😅
Sugiharti Rusli
wah ternyata ada salah satu klien katering Kanaya yang menyapa mereka rupanya,,,
Sugiharti Rusli
Arkana juga bisa menjaga batasannya dan dia ga mau terlihat mendominasi yah,,,
Sugiharti Rusli
dan yang paling terpenting Kanaya tidak membatasi anak" saat akan menghabiskan bersama kedua buah hatinya dan dia tidak merasa insecure perhatian mereka jadi berat sebelah,,,
ken darsihk
Alhamdulillah Abi sudah membaik dan bisa menerima Arkana sebagai ayah nya 😍😍
Sugiharti Rusli
tapi membangun kedekatan itu bukan hanya secara fisik, tapi juga emosional dan itu ga bisa dipupuk dalam waktu singkat
Sugiharti Rusli
biar kembar, mereka punya kehendak masing" sih dan Arkana ga mau memaksakan putranya juga langsung jadi dekat,,,
Sugiharti Rusli
kalo diperhatiakn Anaya memang tipikal yang ekspresif yah, jadi paling tidak Arkana lebih mudah jadi dekat sama sang putri
Sugiharti Rusli
bahagia itu memang sederhana sih asal bersama orang" yang kita sayangi,,,
Sugiharti Rusli
apalagi Kanaya berhasil mendidik mereka menjadi anak baik dan santun, meski masih anak",,,
Sugiharti Rusli
tapi di luar itu kehadiran si kembar, khusus nya Anaya yang sangat hangat dan menerima dengan tangan terbuka, itu yang jadi penyemangat kamu,,,
RosMa🌹🌹🌹
Alhamdulillah Abi sudah sembuh..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!