NovelToon NovelToon
In Umbra Penitentiae

In Umbra Penitentiae

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:810
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Kehadiran seorang anak kecil berusia tujuh tahun seharusnya membawa kebahagiaan. Namun tidak bagi keluarga itu. Kedatangannya sebagai anak yang tak pernah diharapkan perlahan menghancurkan keharmonisan yang selama ini terlihat sempurna. Sejak kecil ia tumbuh di tengah tatapan benci, kasih sayang yang setengah hati, dan kehidupan yang seolah tak pernah berpihak padanya.

Semakin dewasa, ia mencoba mencari tempat untuk pulang—melalui mimpi, cita-cita, dan cinta yang diyakininya mampu memperbaiki semuanya. Tetapi hidup kembali mempermainkannya. Harapan yang ia bangun perlahan runtuh, meninggalkan penyesalan, luka, dan kenyataan bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk mendapatkan akhir bahagia.

Di balik semua itu, ia hanya ingin satu hal sederhana: diterima sebagai manusia, bukan kesalahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 Prioritas

Dua hari kemudian, Ela berdiri di depan gedung tinggi milik Raespati Group dengan sebuah amplop putih di tangannya.

Gedung itu terlihat megah dan dingin, sama seperti orang yang bekerja di dalamnya.

Ela melangkah masuk tanpa banyak bicara. Beberapa karyawan yang mengenalnya langsung menunduk hormat, walaupun sebagian lain masih suka berbisik pelan saat melihat dirinya lewat.

Sesampainya di lantai paling atas, Ela berjalan menuju meja sekretaris pribadi Damir.

“Oh, hai Ela.” Mba Dewi tersenyum ramah dari balik mejanya. “Mau ketemu Tuan?”

Ela hanya mengangguk dengan wajah datarnya.

“Sebentar ya, Tuan lagi ada tamu.”

Ela duduk diam di sofa ruang tunggu sambil memandang keluar jendela besar gedung itu. Tangannya menggenggam amplop undangan lomba ice skating sekolahnya erat-erat.

Tak lama kemudian, pintu ruangan Damir terbuka.

Keluar seorang pria tinggi dengan aura yang membuat suasana sekitar langsung terasa menekan. Mahatma Akash Sadipta.

Di belakangnya ada beberapa asistennya berjalan cepat sambil membawa berkas. Disusul Om Raka, asisten sekaligus orang kepercayaan Damir sejak lama.

Ela refleks menundukkan kepalanya saat Mahatma melewatinya.

Pria itu hanya melirik sekilas tanpa berkata apa pun sebelum pergi meninggalkan area tersebut.

Om Raka yang melihat Ela langsung menghampiri.

“Non Ela? Dari tadi nunggu?”

Ela mengangguk kecil.

“Masuk aja, Tuan lagi senggang.”

Ela berdiri lalu berjalan masuk ke ruangan besar milik ayahnya.

Damir yang mendengar pintu terbuka langsung mengangkat pandangannya sebentar sebelum kembali membaca berkas di tangannya.

“Ada apa, Ela?” tanyanya datar.

Ela berjalan mendekat lalu menyodorkan amplop putih tersebut ke meja kerja Damir.

“Surat undangan lomba.”

Damir mengambil amplop itu lalu membacanya perlahan.

Ela menatap ayahnya tanpa ekspresi.

“Bisa ayah datang hari Sabtu?” tanyanya dingin.

Damir terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas kecil.

“Nggak bisa, Ela.”

Tatapan Ela langsung berubah kosong.

“Kamu tahu sendiri hari itu ulang tahun adikmu.”

Ela mengepalkan tangannya pelan di balik seragam sekolahnya.

“Tapi ayah bisa datang setelah aku tampil.” Suaranya masih tenang meski mulai terdengar menahan sesuatu. “Memangnya acara ulang tahun Ajeng dari pagi?”

Damir menutup surat itu perlahan.

“Kamu tahu Ajeng rewel kalau nggak lihat ayah dari pagi.”

Ela tertawa kecil hambar.

“Begini aja,” lanjut Damir. “Om Raka yang datang ke lomba kamu, nanti setelah selesai kamu langsung nyusul ke vila.”

Hening beberapa detik.

Lalu untuk pertama kalinya, mata dingin Ela terlihat benar-benar kecewa.

“Hah…” gadis itu terkekeh pelan sambil menggeleng. “Ayah selalu aja begini.”

Tanpa menunggu jawaban lagi, Ela langsung berbalik dan keluar dari ruangan.

“Non Ela!” panggil Om Raka cepat.

Namun Ela tetap pergi tanpa menoleh sedikit pun.

Pintu ruangan tertutup cukup keras.

Dan untuk beberapa saat, suasana di ruangan besar itu berubah sunyi.

Damir hanya diam sambil memandang surat undangan di tangannya cukup lama. Tatapannya sulit diartikan.

Tak lama kemudian Om Raka masuk kembali ke ruangan.

“Tuan…” panggilnya hati-hati.

Damir tidak menjawab.

“Bukannya lebih baik Tuan datang sebentar buat Non Ela?” ujar Raka pelan. “Saya cuma takut suatu hari nanti Tuan menyesal.”

Damir tersenyum tipis tanpa emosi.

“Kamu tahu sendiri siapa prioritas saya, Raka.”

Om Raka terdiam.

Karena memang sejak awal, semua orang tahu jawabannya.

Prioritas Damir selalu keluarga utamanya.

Lavanya.

Damar.

Dan Dhiajeng.

Bukan Dariela.

Raka akhirnya hanya menunduk kecil sebelum keluar meninggalkan ruangan sang tuan.

Sementara Damir kembali menatap surat undangan itu lama sekali… tanpa sadar.

1
Agus Tina
bagus ceritanya ...
wulaniii: makasih kak like dan komen yah 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!