Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Rahasia yang Mulai Terbuka
Malam setelah pesta perjamuan bisnis yang menegangkan itu berlalu, namun sisa-sisa ketegangan masih terasa pekat di dalam mobil yang membawa Adrian dan Renata pulang menuju penthouse mewah milik sang CEO. Di dalam ruang kemudi yang sunyi, Adrian melepas dasi kupu-kupunya dengan kasar, lalu melirik wanita di sebelahnya.
Renata duduk menyadarkan kepalanya di kaca jendela mobil, menatap lampu-lampu jalanan ibu kota yang melesat cepat. Wajahnya tampak lelah, namun ada sebersit kepuasan yang tertangkap oleh radar Adrian.
"Kamu sengaja memancing Arsen di balkon tadi?" tanya Adrian tiba-tiba, suaranya memecah keheningan dengan nada mengintimidasi.
Renata menoleh perlahan. Ia melepaskan sepasang anting berlian yang menjuntai di telinganya, lalu menaruhnya di dalam tas jinjing dengan gerakan tenang. "Saya tidak memancingnya, Tuan Adrian. Sepupu anda yang mendatangi saya lebih dulu. Dia tipe pria yang mengira semua wanita bisa dia taklukkan hanya dengan senyuman dan uang."
Adrian menyipitkan mata, menatap tajam ke arah mata jernih Renata yang kini tak lagi tertutup kacamata. "Jauhi Arsen. Dia jauh lebih berbahaya dari yang kamu bayangkan. Pria itu tidak akan segan-segan menghancurkan apa pun atau siapa pun yang menghalangi jalannya. Dan sekarang, setelah melihatmu bertingkah cerdas di depan Tuan Tanaka, dia akan mengawasimu sebagai ancaman bagi posisinya."
"Saya tahu," jawab Renata lirih, hampir berupa bisikan. 'Justru karena dia berbahaya, aku harus berada di dekatnya,' batin Renata dalam hati.
Keesokan paginya, Renata memulai kehidupan barunya sebagai Nyonya Adrian Dirgantara di dalam penthouse. Sesuai kesepakatan, ia tidak perlu lagi bekerja di perpustakaan kota. Adrian telah mengirimkan surat pengunduran diri palsu atas namanya dan melunasi seluruh biaya sewa rumah susun lamanya.
Saat Adrian pergi ke kantor, Renata memanfaatkan waktu luangnya untuk mulai bergerak. Penthouse milik Adrian memiliki ruang kerja pribadi yang dijaga dengan kunci digital, namun bukan itu target Renata saat ini. Targetnya adalah berkas lama milik keluarga Dirgantara yang disimpan di ruang arsip kediaman utama, tempat yang baru bisa ia masuki jika ada acara keluarga besar lagi.
Sambil menyusun rencana, Renata memutuskan untuk mengunjungi The Butterfly (Kupu-Kupu Bar) di sore hari, sebelum kelab malam itu beroperasi secara resmi. Ia perlu berbicara dengan mami Sandra.
Dengan mengenakan pakaian biasa dan kacamata tebalnya kembali menjadi Renata si pustakawati ia masuk melalui pintu belakang bar. Suasana bar di sore hari sangat sunyi dan remang-remang, hanya ada beberapa pekerja yang sedang membersihkan meja dan menata botol minuman.
"Renata? Kenapa kamu ke sini?" Mami Sandra terkejut saat melihat Renata masuk ke dalam ruang kerjanya. "Kudengar dari berita di internet... kamu sekarang sudah menjadi tunangan CEO Dirgantara Group? Apakah itu benar?"
Renata menutup pintu ruang kerja Mami Sandra dengan rapat, lalu duduk di kursi di depan meja wanita paruh baya itu. "Itu benar, Mami tapi ini semua bagian dari rencanaku. Pernikahan itu hanya kontrak di atas kertas."
Mami Sandra memegangi kepalanya, ekspresinya dipenuhi rasa ngeri yang mendalam. "Kamu sudah gila, Renata! Kamu tahu siapa keluarga Dirgantara? Mereka raksasa yang bisa menginjak kita sampai hancur tanpa ada yang berani membela! Kakakmu... Maya... dia tewas karena bermain-main dengan salah satu dari mereka!"
Mendengar nama kakaknya disebut, dada Renata berdenyut nyeri. "Justru karena itu Mami aku berhasil mendekati mereka. Aku berada di satu rumah dengan Adrian dan aku sering bertemu dengan Arsen. Aku ke sini karena butuh bantuanmu."
Renata memajukan tubuhnya, menatap Mami Sandra dengan tatapan memohon sekaligus penuh tekad. "Sebelum Maya meninggal, dia bekerja di bar ini sebagai hostess VIP. Tolong beritahu aku, Mami... malam terakhir sebelum Maya pulang dalam keadaan hancur, siapa yang memesannya di ruang VIP? Apakah pria itu bernama Arsen Dirgantara?"
Mami Sandra terdiam wajahnya seketika memucat dan tubuhnya bergetar hebat. Ia mengalihkan pandangannya, seolah takut bahkan hanya untuk mengingat kejadian setahun lalu itu.
"Mami, tolong aku..." desak Renata, menggenggam tangan Mami Sandra yang dingin. "Polisi menutup kasus ini. Hanya Mami satu-satunya harapanku untuk mendapatkan bukti dasar."
"Aku... aku tidak tahu pastinya, Renata," suara Mami Sandra bergetar, terbata-bata. "Malam itu... seluruh CCTV di lantai VIP mendadak mati karena perintah dari orang dalam atas nama manajemen tingkat tinggi. Tapi... aku melihat dengan mata kepalaku sendiri sebelum Maya masuk ke kamar itu, asisten pribadi Arsen Dirgantara berdiri berjaga di depan pintu dan saat Maya keluar... dia menangis histeris dengan pakaian yang robek-robek. Di dalam kamar itu ada manset emas berlambang elang yang tertinggal."
Mendengar konfirmasi langsung dari Mami Sandra, air mata Renata menetes. Dugaan dan instingnya selama ini tidak salah. Arsen Dirgantara adalah iblis yang telah merenggut nyawa kakaknya.
Namun, sebelum Renata sempat berbicara lebih jauh, ponselnya di atas meja tiba-tiba bergetar hebat. Di layar tertera nama: Adrian Dirgantara.
Renata segera menghapus air matanya, menstabilkan suaranya lalu mengangkat telepon tersebut. "Halo, Tuan Adrian?"
"Di mana kamu?" suara berat Adrian terdengar dingin dan menuntut di seberang telepon. "Baskara pergi ke penthouse untuk mengantarkan beberapa dokumen dan dia bilang kamu tidak ada di rumah. Ingat posisimu, Renata kamu tidak boleh pergi ke mana pun tanpa izin dariku."
Renata menatap Mami Sandra sekilas lalu menjawab dengan nada suara sepolos mungkin. "Maaf, Tuan Adrian. Saya... saya sedang berada di makam kakak saya di pemakaman umum. Hari ini adalah hari peringatan kematiannya yang kesatu tahun. Saya lupa mengabari Anda karena terburu-buru."
Hening sejenak di seberang telepon. Aura dingin Adrian tampaknya sedikit mereda mendengar alasan tersebut. "Pulang sekarang, Baskara akan menjemputmu di gerbang pemakaman dalam waktu tiga puluh menit"
"Baik Tuan." Renata menutup teleponnya. Ia menarik napas dalam-dalam menatap Mami Sandra untuk terakhir kalinya. "Terima kasih, Mami rahasia ini... akan kupastikan berujung pada keadilan untuk Kak Maya."
Renata segera keluar dari bar melalui pintu belakang berlari menuju area pemakaman yang letaknya tidak jauh dari sana agar kebohongannya kepada Adrian tidak terbongkar. Namun, ia tidak menyadari bahwa di seberang jalan Kupu-Kupu Bar, sebuah mobil sedan hitam dengan kaca gelap telah mengawasi pergerakannya sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di tempat itu.
Dari dalam mobil, Arsen Dirgantara menurunkan kaca mobilnya sedikit menyunggingkan senyum licik yang mematikan. "Jadi... pustakawati polos itu adalah si Kupu-Kupu malam bertopeng? Menarik sekali. Permainan ini menjadi jauh lebih menyenangkan, sepupuku."