NovelToon NovelToon
PARTNER SIALAN!

PARTNER SIALAN!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Enemy to Lovers / Komedi
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.

Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Paradoks Jitter

Siang ini, Lab Komputer 3 resmi jadi arena gladiator. Bedanya, senjatanya bukan pedang, tapi headphone dan mikrofon.

Clarissa sudah duduk manis di kursi operator, tangannya lincah banget mainin fader di layar monitor, sementara Dedik berdiri di sampingnya sambil bawa buku catatan kecil.

"Rey, masuk ke booth. Kita ambil bagian refrain yang semalam. Clarissa bilang frekuensi lo di nada tinggi agak 'goyang'," kata Dedik sambil ngetuk kaca pembatas Lab.

Gua masuk ke ruangan kaca kecil itu dengan perasaan campur aduk. Gua pake headphone dan berdiri di depan mic. Dari balik kaca, gua bisa liat Clarissa lagi bisik-bisik ke Dedik sambil ketawa kecil.

Entah apa yang lucu, tapi liat mereka seakrab itu bikin gua pengen nyanyi lagu metal daripada lagu romance.

"Oke, Rey. Mulai dari baris 'I’ve fallen for you', ya. Three, two, one... go!" instruksi Dedik.

Gua narik napas, nyoba fokus ke melodi piano yang mulai kedengeran di kuping gua.

"I’ve fallen for you, heart and soul..."

"Stop, stop," potong Clarissa lewat intercom. Suaranya kedengeran sangat 'profesional' tapi bagi kuping gua itu sangat menyebalkan.

"Reyna, di situ ada jitter sekitar 5 Hertz. Kamu terlalu banyak pake perasaan, jadinya nadanya nggak linear. Coba nyanyi lebih... bersih. Datar aja, ikutin metronom."

Gua nengok ke arah Dedik. "Ded? Datar gimana? Ini kan lagu cinta, bukan baca laporan keuangan!"

Dedik benerin kacamatanya, kelihatan bimbang. "Logikanya, Cla bener soal presisi frekuensi buat data, Rey. Tapi... coba lo dengerin instruksi dia dulu. Dia lebih paham soal optimasi digital."

Gua narik napas dalem-dalem. Oke, sabar. Gua coba lagi. Kali ini gua nyanyi sedatar mungkin, kayak robot yang lagi bacain teks proklamasi.

"I’ve... fallen... for... you..."

"Nah! Itu lebih stabil!" seru Clarissa sambil ngeliatin grafik di layar yang sekarang lurus banget. "Liat kan, Ded? Kalau datanya lurus begini, mesin pengolah frekuensi kita nggak bakal bingung."

Tapi gua liat Dedik malah ngerutin dahi. Dia ngeliatin monitor, terus ngeliatin gua di dalem ruangan kaca. Dia ngetik-ngetik sesuatu di laptopnya sendiri.

"Tunggu, Cla," potong Dedik. "Coba liat grafik resonansi bambunya. Kok malah turun?"

"Ah, itu paling cuma delay sensor," jawab Clarissa enteng. "Yang penting suara vokalisnya udah 'bersih'."

"Enggak," Dedik berdiri, dia ngeraih mic intercom.

"Rey, nyanyi sekali lagi. Kali ini, jangan dengerin Clarissa. Jangan dengerin metronom. Nyanyi kayak pas kita di puncak bukit kemarin. Bayangin gua lagi ada di depan lo, cuma berdua."

Gua kaget. Gua liat Clarissa mukanya langsung berubah jadi agak asem.

Gua merem. Gua buang semua istilah jitter, hertz, atau linear dari otak gua. Gua bayangin wangi sandalwood Dedik dan gimana tangan dia ngecup dahi gua kemarin.

"I’ve fallen for you, heart and soul! You’re the part that makes me whole!"

Gua nyanyi sampe kerongkongan gua berasa anget. Begitu selesai, gua buka mata. Di monitor luar, gua liat grafik warnanya berubah jadi ungu terang dan meledak-ledak.

"Gila..." gumam Dedik. "Resonansinya naik 300% tepat pas lo nyanyi dengan 'jitter' itu, Rey."

Dedik nengok ke Clarissa yang masih bengong. "Cla, logikanya salah. Bambu kuning ini bukan ngerespons frekuensi yang lurus. Dia ngerespons emosi manusia."

"'Jitter' yang lo bilang gangguan itu, justru itu 'kunci' yang ngebuka resonansinya."

Gua keluar dari booth dengan perasaan menang telak. Gua jalan nyamperin meja mereka, terus dengan sengaja gua naruh tangan gua di bahu Dedik.

"Gimana, Sis Clarissa? Masih mau dibikin datar suaranya?" tanya gua sambil senyum manis, senyum paling "Sagitarius" yang gua punya.

Clarissa cuma bisa gigit bibir, dia ngerapiin blazernya yang sebenernya udah rapi. "Menarik. Ternyata riset kamu emang se-irasional itu ya, Ded."

"Tapi inget, buat jurnal internasional, kita tetep butuh standar yang bisa dijelaskan secara matematis."

"Gua bakal bikin rumus barunya, Cla," jawab Dedik mantap. "Gua bakal kasih nama 'Konstanta Reyna'."

Gua langsung tersipu malu. Konstanta Reyna? Cowok kaku ini beneran pinter banget bikin jantung gua overclocking.

Tapi kemenangan gua nggak bertahan lama. Pas kita mau keluar Lab buat makan siang, Clarissa tiba-tiba narik ujung kemeja Dedik.

"Eh, Ded. Tadi mama telepon. Dia nanyain kamu. Katanya, 'Kok si tukang kayu itu udah nggak pernah main ke rumah lagi?'," Clarissa ketawa kecil sambil ngelirik gua.

"Kayaknya mama kangen sama masakan yang sering kamu bawa dulu."

Langkah gua berenti. Tukang kayu? Main ke rumah?

Dedik kelihatan kikuk banget. "Oh... iya. Salam buat Tante, Cla. Gua lagi sibuk riset."

"Main dong ke rumah hari Sabtu ini. Mama bikin makan malam spesial. Kamu tau kan, Mama nggak bakal berhenti nanya kalau permintaannya nggak diturutin?"

Clarissa ngedipin mata ke Dedik, terus jalan ngelewatin kita sambil ngibasin rambutnya yang wangi mahal itu.

Gua berdiri kaku. Masa lalu Dedik bukan cuma soal koding, tapi sampe ke urusan "Masakan Mama".

"Ded," panggil gua pelan.

"Ya?"

"Lo... dulu sering ke rumahnya?"

Dedik benerin kacamatanya, matanya ngeliat ke arah lain. "Kita itu partner olimpiade selama dua tahun, wajar kalau sesekali kita belajar di rumah salah satu pihak, Rey. Itu cuma urusan efisiensi waktu."

"Efisiensi waktu sampe Mamanya kangen?" cecar gua.

"Rey... itu udah lama banget. Jangan dimasukin perasaan sekarang," Dedik nyoba ngeraih tangan gua, tapi gua langsung masukin tangan gua ke kantong jaket.

"Gua laper. Gua mau makan bakso sendirian," kata gua, terus jalan duluan ninggalin Dedik yang masih bingung di depan pintu Lab.

Hari ini gua emang menang di urusan suara, tapi kayaknya Clarissa baru aja ngeluarin kartu as yang bikin gua ngerasa kayak orang asing lagi.

***

Hari Sabtu sudah dekat. Apakah Dedik akan menuruti permintaan "Mama Clarissa" demi menjaga hubungan profesional untuk urusan paten? Dan apa yang akan dilakukan Reyna?

Apakah dia akan membuntuti Dedik atau justru membuat "rencana tandingan" yang nggak kalah seru? Satu hal yang pasti: Persaingan memperebutkan Dedik baru saja dimulai!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!