NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Samudera

Pendekar Pedang Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?

"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."

Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 : WARISAN YANG BERAT

Satu bulan sebelum badai, alun-alun utama Long Yuan tidak pernah dipenuhi sebanyak itu.

Kaisar Wei Wu Shuang berdiri di atas panggung batu yang sudah ada di sana sejak kekaisaran ini berdiri, jubah merah yang biasanya kini diganti dengan jubah seremonial hitam berlapis emas yang terasa seperti peringatan berjalan. Rambut hitamnya disanggul rapi ke atas, mahkota tipis di kepalanya terlihat seperti senjata yang dipasang di tempat yang strategis.

Adapun suaranya tidak membutuhkan qi untuk sampai ke ujung kerumunan.

“Long Yuan tidak pernah berdiri diam di hadapan sesuatu yang belum ditemukan,” katanya. “Dan hari ini, kita tidak akan berdiam diri lagi.”

Kerumunan itu malah membisu. Meski begitu, Kaisar Wei Wu Shuang membiarkan keheningan itu bekerja dulu sebelum melanjutkan.

“Pulau Xuanyuan bukan sekadar legenda. Titik keseimbangan sejati Shenzhou ada di sana, tersembunyi di balik kabut yang tidak bisa ditembus dengan kekuatan semata. Putraku, Wei Haifeng, akan memimpin armada delapan kapal untuk menemukannya atas nama kekaisaran ini.” Matanya menyapu kerumunan dari kiri ke kanan dengan cara memandang yang tidak mengundang sanggahan. “Kekaisaran akan menyediakan kapal, perbekalan lengkap, senjata, dan bayaran tiga kali lipat bagi siapa pun yang bergabung dan kembali hidup-hidup. Sekarang, siapa yang siap berdiri untuk Long Yuan?”

Kata “tiga kali lipat” adalah kata yang paling keras terdengar di antara semua kalimatnya.

Bisikan-bisikan di kerumunan itu seperti air yang mulai mendidih, pelan di awalnya, kemudian semakin ramai dari banyak arah sekaligus.

Adapun tiga pria yang berdiri berdampingan di sudut kiri kerumunan itu langsung saling bertukar pandang dengan ekspresi yang sama persis, yaitu ekspresi orang yang baru saja mendengar sesuatu yang sangat menarik.

“Tiga kali lipat?” kata Zhao Feng, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada dua orang di sebelahnya. “Tiga kali lipat bayaran standar ekspedisi.”

“Itu jelas cukup untuk membeli seluruh blok bangunan di distrik selatan,” timpal Sun Li dengan cepat.

Sementara Ma Chao sudah menghitung sesuatu dalam kepalanya dengan serius. “Kalau kita ikut dua misi lagi setelah ini, kita bisa pensiun sebelum empat puluh.”

Tidak jauh dari mereka, Bai Mei berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada, senyumannya terkendali dan matanya sibuk mengamati segala sesuatu yang perlu diamati. Bergabung dengan misi ini bukan keputusan yang dia buat karena lapar petualangan. Ada perhitungan di balik keputusan itu yang hanya dia sendiri yang tahu.

Sementara itu, di bagian lain kerumunan, beberapa orang berbisik dengan nada yang jauh lebih skeptis.

“Xuanyuan itu dongeng,” kata seorang pria tua dengan topi anyaman. “Kakek buyutku juga pernah dengar soal pulau itu. Tidak ada yang pernah kembali dengan bukti apa pun.”

“Tapi bayaran dari Sang Kaisar tidak pernah dongeng,” jawab orang di sampingnya.

Intinya kerumunan itu bergerak mengikuti kepentingan masing-masing, seperti aliran sungai yang menemukan jalannya sendiri di antara bebatuan.

Kemudian Haifeng mendapatkan gilirannya untuk naik ke panggung.

Respons kerumunan terhadapnya berbeda sekali seperti siang dan malam. Tidak ada tepuk tangan langsung ataupun sorakan yang spontan. Hanya jeda yang cukup panjang untuk terasa tidak nyaman bagi siapa pun yang berdiri di atas panggung itu dan punya cukup kesadaran untuk menyadarinya.

Haifeng jelas, punya cukup kesadaran itu.

Kendati demikian, dia tidak berhenti. Suaranya lebih tenang dari suara ibunya, tidak lantang alih-alih berwibawa dalam cara yang sama, tapi dia berbicara dengan cara orang yang sudah memikirkan setiap kalimatnya jauh sebelum berdiri di sini. Dia memperlihatkan kompas Dao-nya kepada kerumunan, menjelaskan cara kerjanya dengan singkat, menyebutkan prinsip-prinsip navigasi yang menjadi dasarnya, dan menyatakan bahwa membaca arus dan bintang adalah kemampuan yang lebih bisa diandalkan di tengah laut terbuka daripada kekuatan bertarung setinggi apa pun.

Lalu dari kerumunan, bisikan-bisikan mulai mengalir ke permukaan.

“Tingkat nol!” Suara laki-laki, tidak terlalu direndahkan.

“Itukan, si Pewaris sampah,” imbuh seorang wanita, lebih pelan meski terdengar sampai ke panggung karena angin berhembus ke arah yang tidak menguntungkan.

“Dia tidak mungkin bisa melakukan apa yang ayahnya saja tidak sempat selesaikan.”

Haifeng mendengar semuanya. Siapa pun yang pernah berdiri di atas panggung terbuka di hadapan kerumunan yang separuhnya tidak mau ada di sana tahu bahwa bisikan terkadang terdengar lebih keras dari tepuk tangan.

Tapi Haifeng tidak berhenti berbicara.

Kalimat terakhirnya tidak keras. Tidak dramatis. Hanya pernyataan yang diucapkan dengan nada seseorang yang sudah memutuskan dan tidak sedang meminta persetujuan.

“Aku tidak berdiri di sini untuk membuktikan diriku kepada siapa pun,” katanya. “Aku berdiri di sini untuk menyelesaikan apa yang Wei Changsong, Pendekar Pedang Samudera, pahlawan Long Yuan, sempat mimpikan sebelum kita kehilangan beliau.”

Satu detik saja sebelum sorakan itu meledak dari kerumunan seperti angin yang sudah lama ditahan.

Haifeng tahu, dan dia menerima kenyataan itu dengan matang, bahwa sorakan itu bukan untuknya. Wajah-wajah di kerumunan yang paling keras bersorak adalah wajah-wajah yang tadi memandangnya dengan ragu. Mereka bersorak untuk Ayahnya. Mereka bersorak untuk Long Yuan. Mereka bersorak untuk bayaran berlipat yang menunggu di akhir perjalanan. Sedangkan Haifeng adalah kapal yang membawa semua itu, bukan tujuannya.

Tapi kapal tetap berlayar meskipun tidak ada yang merayakannya.

Pagi ini berbeda dari pagi sebelum badai itu.

Pantai tempat mereka terdampar masih basah dari ombak semalam. Pasirnya abu tua, bukan putih, dan batu-batu di tepi airnya berlumut dengan warna yang tidak ramah, sama seperti ratusan kepiting yang seolah ikut terdampar. Haifeng duduk di atas batu besar dekat tepi air dengan Pedang Samudera melintang di atas kedua lututnya, sementara kompas Dao tertutup di telapak tangan kirinya.

Matanya ke laut, namun pikirannya ada di tempat lain.

Wajah-wajah di kerumunan Long Yuan itu masih sangat jelas. Bisikan-bisikannya. Cara mereka bersorak setelah dia menyebut nama ayahnya, bukan namanya sendiri. Lebih dari seminggu berlayar dan satu malam hampir mati, dan rasa itu masih duduk di dadanya seperti batu yang tidak cukup besar untuk dikeluarkan tapi cukup berat untuk terasa.

Adapun Panglima Qinghan berdiri di sampingnya sejak beberapa menit lalu tanpa bersuara. Wanita itu memandang ke arah yang sama dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca dari sudut mana pun.

Kemudian dia bertanya, tanpa menoleh, dengan nada datar tapi memiliki berat di dalamnya.

“Apakah Ayah akan bangga melihat pewarisnya terpuruk hanya karena ucapan orang?”

Pertanyaan itu bukan pertanyaan yang butuh jawaban segera, dan Qinghan tampaknya tahu itu.

Beberapa detik pun berlalu, sampai kakaknya melanjutkan dengan nada yang tidak berubah, tapi isinya berubah.

“Kalau ada yang menyakitimu, fisik atau tidak, hajar saja. Ibu tidak pernah mengajarkan kita untuk diam ketika ada yang berani merendahkan kita. Kau seharusnya ingat itu.”

Haifeng mendongak ke kakaknya. Ada sesuatu yang lucu sekaligus tidak lucu dari cara Qinghan menyampaikan kepeduliannya, selalu dikemas dalam kalimat yang terdengar seperti perintah taktis.

Matanya kembali ke Pedang Samudera di lututnya. Senyuman tipis pun muncul.

Tapi Qinghan belum selesai.

“Kau punya pusaka terkuat di seluruh Shenzhou,” katanya. “Tidak ada pendekar di daratan ini yang bisa menandingimu jika kau benar-benar menggunakannya. Kau justru lebih kuat dari aku, Haifeng. Jauh lebih kuat.”

“Aku takut,” kata Haifeng. Kalimat itu keluar lebih mudah dari yang dia bayangkan, mungkin karena suara laut cukup keras untuk membuatnya terasa lebih privasi. “Aku takut berakhir seperti Ayah. Terlalu mengandalkan pedang ini sampai tidak tahu kapan harus berhenti.”

Qinghan akhirnya ikut berjongkok di sampingnya. Tangannya menyentuh bilah Pedang Samudera dengan satu jari, menyusuri ukirannya perlahan.

“Apakah Samudera sudah memanggilmu?”

Haifeng cukup lama membisu sampai angin laut mengisi jeda itu.

“Lewat mimpi,” jawabnya lirih. “Tapi selalu pergi sebelum aku bisa menyentuhnya.”

Qinghan pun menarik tangannya dari bilah pedang itu. “Samudera pergi karena kau belum memakainya. Warisan Ayah bukan untuk disimpan di punggungmu seperti hiasan. Pakailah, Haifeng. Demi hidupmu, bukan demi siapa pun.”

Haifeng membuka mulutnya, siap mengucapkan kata “takut” itu lagi, namun Qinghan mendahuluinya.

“Jangan takut,” katanya. Singkat, tapi kali ini nada dinginnya tidak ada. Yang ada hanyalah keyakinan yang sederhana dan tidak bisa diperdebatkan. “Ada Kakak di sini. Tidak ada pendekar yang bisa menyentuhmu selama aku masih berdiri.”

Haifeng akhirnya bangkit dari batu itu.

Pedang Samudera kembali ke punggungnya. Kompas Dao masuk ke dalam sakunya. Sementara cakrawala di timur sudah merah muda dan oranye, kala matahari naik perlahan dari balik garis laut dengan cara yang tidak peduli pada semua yang sudah terjadi semalam.

“Kakak, matahari sudah naik,” kata Haifeng. Senyumannya kali ini lebih penuh dari sebelumnya. “Saatnya kita lihat pulau ini dan cari yang lain.”

Qinghan ikut berdiri, baju besi peraknya berkilat ditimpa cahaya pagi pertama sebelum mereka berjalan ke arah hutan di tepi pantai untuk menemui dua rekannya, meninggalkan jejak kaki di pasir abu-abu yang basah, menuju apa pun yang pulau asing ini siapkan untuk mereka.

1
Ilham Akbar
Mantap thor, apalagi kalo cerita ini sampai finish💪👍
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Ilham Akbar
Mampus lu,, dasar betina rakus🤭
DanaBrekker: /Smirk/
total 1 replies
GFR31
top 👍
DanaBrekker: terima kasih. sangat disarankan juga buat ikutin kisah Ji Zhen di novelku yang berjudul Lahirnya Kultivator Naga Keabadian 🙏
total 1 replies
DanaBrekker
Selamat datang di karya baru author semoga kalian suka.. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini. Bisa terus kasih dukungan demi kelanjutan karya-karya author, dan kalau tidak suka jangan dipaksa 🤭🙏🤣
DanaBrekker: semoga cocok 🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!