NovelToon NovelToon
Teratai Di Atas Abu

Teratai Di Atas Abu

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Teratai Di Atas Abu

Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.

Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.

Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.

Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Teratai Di Atas Abu

Bab 31 — Gadis Bertopeng Merah

Matahari condong ke barat, menyisakan cahaya kemerahan yang membias di dinding gedung-gedung tinggi Kota Langit Utara. Setelah urusan penginapan selesai, Lian Hua berjalan sendirian menyusuri lorong-lorong pasar tua di bagian selatan kota, tempat barang-barang kuno dan benda pusaka diperdagangkan. Ia ingin membiasakan diri dengan suasana sekitar, sekaligus mencari petunjuk apa pun yang berkaitan dengan simbol mata hitam atau jejak Menara Darah Hitam.

Di antara deretan pedagang dan pengunjung, matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah kedai kecil yang agak tersembunyi. Di balik meja kayu tua itu, duduk seorang gadis muda yang mengenakan gaun sutra merah menyala, rambut hitam panjangnya terurai indah ke bahu. Wajahnya tertutup topeng beludru merah yang hanya memperlihatkan sepasang mata yang jernih, tajam, namun menyimpan ribuan rahasia. Di dadanya, tak ada lambang sekte mana pun, namun hawa yang memancar darinya halus, dingin, dan sangat dalam, seolah air danau yang tenang namun tak berdasar.

Saat Lian Hua melangkah mendekat, gadis itu mengangkat kepalanya perlahan. Matanya menatap tepat ke arah dada Lian Hua, ke tempat liontin giok tersembunyi di balik jubah. Senyum tipis tersungging di balik topengnya.

"Kau akhirnya muncul juga," ucapnya pelan, suaranya lembut namun jelas, bergetar halus menembus keramaian sekitar. "Aku sudah menunggu cukup lama, Pewaris Teratai Suci."

Lian Hua terhenti mendadak, tangannya langsung menggenggam gagang pedang kayu di punggung. Matanya menyipit tajam, seluruh sarafnya menegang penuh kewaspadaan. Tak ada siapa pun di luar Sekte Gunung Awan Putih yang tahu jati dirinya. Bahkan di sekte sendiri, rahasia itu hanya diketahui lima tetua tertinggi. Namun gadis di hadapannya ini... mengucapkan gelar itu begitu saja, begitu mudah, seolah menyebut nama orang yang dikenalnya sejak lama.

"Siapa kau?" tanya Lian Hua dingin, suaranya rendah dan penuh ancaman. "Bagaimana kau tahu hal itu?"

Gadis itu tertawa kecil, suara renyah namun mengandung kesedihan yang samar. Ia menunjuk kursi di hadapannya, memberi isyarat agar Lian Hua duduk.

"Tenanglah. Aku bukan musuhmu. Kalau aku berniat jahat, aku takkan memanggilmu dengan sebutan itu di tempat terbuka seperti ini. Namaku Su Yan. Hanya itu yang boleh kau ketahui untuk saat ini."

Lian Hua ragu sejenak, namun rasa penasaran dan kebutuhan akan jawaban membuatnya akhirnya duduk. Ia tetap waspada, tenaga dalam berputar pelan di dalam tubuh, siap meledak kapan saja jika ada gerakan mencurigakan.

"Kau belum menjawab pertanyaanku," ucap Lian Hua tegas.

Su Yan menatapnya lekat-lekat, matanya menyelami jauh ke dalam manik mata pemuda itu.

"Klan Teratai Suci... aliran yang memegang keseimbangan alam, yang menjadi musuh alami segala kegelapan, yang musnah dibasmi habis-habisan ratusan tahun silam. Sejarahmu, lukamu, dan warisan yang kau bawa... semuanya tertulis jelas dalam catatan leluhurku. Keluargaku dan klanmu dulu memiliki ikatan persahabatan yang erat. Saat klanmu runtuh, keluargaku berjanji akan menunggu, hingga kelak ada pewaris yang muncul kembali ke permukaan."

Ia berhenti sejenak, matanya melirik sekilas ke arah dada Lian Hua, lalu menatap jalanan ramai di luar kedai.

"Aku sudah mengamatimu sejak kau masuk ke kota ini. Aku merasakan getaran pusaka di dadamu, merasakan hawa suci yang memancar dari tubuhmu. Di seluruh kota ini, hanya kaulah yang memilikinya."

"Jika kau memang kawan, lalu apa tujuanmu menemuiku?" tanya Lian Hua, belum sepenuhnya percaya namun rasa curiganya mulai berkurang sedikit.

Su Yan mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya menjadi lebih rendah dan serius, tak lagi ada nada bercanda di dalamnya.

"Aku datang untuk memberimu peringatan. Bahaya yang kau hadapi bukan hanya datang dari luar saja. Menara Darah Hitam memang musuh utamamu, kekuatan mereka sudah menyebar ke mana-mana, bahkan sekarang sudah mengembangkan kekuatan baru yang jauh lebih mengerikan—simbol mata hitam yang kau temukan itu adalah buktinya. Tapi ada satu hal yang jauh lebih berbahaya lagi bagimu saat ini..."

Ia berhenti, menatap mata Lian Hua tepat di maniknya sendiri, lalu mengucapkan kalimat yang membuat darah Lian Hua seolah berhenti mengalir.

"Berhati-hatilah... terhadap sekte tempatmu berlindung sekarang: Sekte Gunung Awan Putih."

Lian Hua mengerutkan kening, amarah dan kebingungan bercampur jadi satu. Ia langsung menegakkan badan. "Apa maksudmu? Mereka menerimaku saat aku tak punya apa-apa. Mereka melindungiku, mengangkatku, dan menyembunyikan identitasku demi kebaikanku sendiri. Tetua Bai, Tetua Agung... mereka semua orang yang terhormat dan baik."

Su Yan menggeleng pelan, senyum pahit tersungging di bibirnya.

"Kau masih terlalu muda, Lian Hua. Kau hanya melihat apa yang mereka perlihatkan padamu. Kau tahu mengapa mereka begitu baik padamu? Mengapa mereka begitu berani melindungimu meski tahu kau membawa bahaya besar? Mengapa mereka begitu bersemangat mengirimmu ke turnamen besar ini?"

Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap ke dalam benak pemuda itu.

"Karena mereka tahu siapa dirimu. Mereka tahu kekuatan apa yang kau miliki. Dan bagi sekte besar, kekuatan sebesar itu bukan sekadar harapan, tapi juga alat yang sangat berharga. Kau pikir mereka menyembunyikanmu hanya demi melindungimu? Tidak... mereka menyembunyikanmu agar kaulah yang menjadi tameng mereka saat bahaya datang, agar kaulah yang menjadi senjata utama mereka melawan musuh, agar nama mereka menjadi terkenal karena memiliki murid sehebat dirimu."

"Itu tak mungkin..." bantah Lian Hua pelan, namun hatinya mulai bergetar ragu. Kenangan akan kebaikan Tetua Bai, kehangatan sekte itu, bertabrakan dengan kata-kata gadis ini.

"Dengar aku," desis Su Yan tegas, matanya bersinar tajam di balik topeng merah. "Manusia itu berubah seiring waktu dan kepentingan. Dulu klanmu dipercaya dan dihormati, tapi saat bencana datang, berapa banyak sekte yang dulu mengaku sahabat justru berbalik membantu musuh demi keuntungan sendiri? Sejarah berulang, Lian Hua. Jangan letakkan seluruh nyawamu dan kepercayaanmu di tangan mereka sepenuhnya. Karena suatu saat nanti, saat kepentingan mereka bertentangan dengan nyawamu... mereka takkan ragu berkorban demi sekte mereka sendiri."

Ia mundur kembali ke posisi semula, hawa dingin dan misterius kembali menyelimuti dirinya.

"Aku sudah menyampaikan apa yang harus kusampaikan. Percaya atau tidak, itu hakmu. Tapi ingatlah satu hal: di dunia persilatan ini, satu-satunya orang yang bisa kau percaya sepenuhnya... hanyalah dirimu sendiri."

Su Yan melambaikan tangan, memberi isyarat pertemuan telah selesai.

"Pergilah. Peserta dari empat sekte besar akan berkumpul besok. Di sana nanti, kau akan melihat banyak wajah baru, banyak kekuatan baru, dan banyak bahaya yang menunggu. Dan ingatlah kata-kataku ini saat kau berdiri di persimpangan jalan nanti."

Lian Hua berdiri diam, menatap gadis itu lama sekali. Ribuan pertanyaan memenuhi kepalanya, namun ia sadar takkan mendapat jawaban lebih banyak saat ini. Ia membungkuk sedikit tanda hormat, lalu berbalik perlahan meninggalkan kedai itu.

Saat sosok pemuda itu hilang di balik kerumunan, senyum Su Yan memudar, diganti dengan sorot mata yang penuh kekhawatiran dan kesedihan mendalam. Ia menatap ke langit senja yang mulai gelap.

"Semoga saja aku salah, anak muda. Semoga saja Sekte Gunung Awan Putih benar-benar berbeda. Tapi sejarah telah mengajarkanku... bahwa harapan sering kali berakhir dengan kekecewaan yang mematikan."

Di jalanan yang ramai itu, hati Lian Hua kini tak lagi tenang. Kata-kata Su Yan masih bergaung jelas di telinganya, menancap tajam di benaknya.

"Berhati-hatilah terhadap sekte tempatmu berlindung..."

Peringatan itu kini menjadi beban baru yang berat di pundaknya. Di luar ada Menara Darah Hitam yang ingin memusnahkannya. Dan kini... di dalam, di tempat yang ia kira aman dan penuh kebaikan, ia mulai menyadari bahwa mungkin saja ada mata-mata yang mengawasi, ada rencana tersembunyi, dan ada bahaya lain yang jauh lebih dekat dari yang pernah dibayangkannya.

Perjalanannya di Kota Langit Utara baru saja dimulai, namun ia tahu betul... mulai detik ini, ia harus waspada ke segala arah, termasuk ke arah yang selama ini dianggapnya sebagai rumah dan pelindung.

1
Devilgirl
Thor, kebanyakan bahasa modern ya..suara cempreng bisa diganti Suara yang melengking tajam karena vibesnya wuxia lho
Devilgirl: udah bagus,cuma kata yang modern ganti ke versi kuno biar lebih bagus gitu
total 2 replies
Devilgirl
Thor ,kalau bikin genre wuxia kata kompleks bangunan gak sesuai...bisa diganti tempat sekte Qing Yun berada...kompleks bangunan terlihat modern ,kak
wiwi: terimakasih🤭
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!