bagi orang lain, cinta pertama seorang anak perempuan adalah seorang ayah tapi tidak Resty, karena baginya ayah adalah neraka baginya
inilah kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5
keesokan harinya, matahari masuk lewat celah gorden yang tidak pernah ditutup rapat. Jam di dinding sudah menunjukkan angka 6, tapi Resty sudah bangun dari jam 5. Kebiasaan sejak Ibunya tiada, jika telat bangun awi akan marah dan mengedor pintu.
Umur Resty baru 8 tahun Tubuhnya kecil, rambutnya dikucir dua seadanya karena tidak ada yang mengajarin cara mengikat rambut dengan rapi. Sejak Ibunya pergi untuk selamanya, rumah jadi sepi. Foto Ibunya yang ada ruang tamu sudah mulai berdebu, tapi Resty tidak berani menyentuh karena takut Ayahnya melihat dan bilang dia “cengeng”.
Pagi itu sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Resty masak air, bikin teh tawar buat Awi, menyapu lantai walau tangannya masih kecil buat megang gagang sapu, Dia lakuin semua itu tanpa disuruh, saat ayahnya bangun dan rumah belum beres, yang keluar dari mulut Ayahnya bukan “terima kasih”, tapi bentakan.
Jam 6.30, pintu kamar dibuka dengan kasar.
“Mana tehnya?! Sudah jam berapa ini?” suara Awi nyaring sampai bikin dada Resty nyut-nyutan.Resty lari kecil ke dapur, hampir nyenggol kursi. tangannya gemetar pas nuangin teh ke cangkir. tumpah dikit.
“BOD*H! Megang cangkir aja tidak becus!” awi rebut cangkir itu, lalu pergi ke teras sambil ngedumel. Resty diam, tidak nangis. Air mata sudah habis sejak minggu pertama ibunya dipanggil yang maha kuasa untuk selamanya. Resty cuma nunduk sambil ngelap tumpahan teh pakai kain lap yang lebih besar dari telapak tangannya.
Di sekolah, tidak ada yang pernah bertanya apakah kesepian atau butuh teman setelah kepergian ibunya Resty. jawabannya...tidak!. ia bukan tidak mau cerita tapi karena memang tidak ada tempat cerita, waktu masih ada Aminah didunia ini, aminah akan selalu menyambut Resty saat pulang sekolah dan bertanya,"tuah bagaimana pelajaran sekolah, apakah ada yang mengganggumu",
dengan senyum ceria, Resty cerita," tidak ada ibu, hari ini aku belajar dengan rajin supaya bisa jadi orang sukses dan bisa bahagia ibu",
tapi semua itu hanya tinggal kenangan. Aminah sudah pergi untuk selamanya menghadap sang ilahi. tempat yang seharusnya untuk pulang dan bercerita dari lelahnya belajar malah menjadi tempat neraka dunia bagi Resty pulang,
Sebelum berangkat sekolah Resty melihat sebentar ke kamar Ibunya dan pintunya masih dikunci awi, Katanya biar tidak berantakan. Padahal Resty hanya ingin mencium baju Aminah yang masih digantung di situ karena ingin dipeluk sekali lagi.
Jam 7 resty pamit. Ia tidak ada jawaban dari teras. Cuma asap rokok Awi yang mengepul, sama suara radio butut yang nyetel berita.
Langkah kaki kecil Resty pelan-pelan keluar pagar. Di tangannya ada tas lusuh, isinya buku sama kotak bekal. Bekalnya hanya diisi nasi goreng dengan taburan garam Tampa ada campuran telur dan kecap. pagi itu untuk pertama kalinya, Resty nanya ke dirinya sendiri.“Kalau aku tidak pulang... !Ayah bakal nyariin tidak ya?”
Dijalan Resty melewati ibu-ibu yang menyuapi anaknya,"ayo sayang! Satu suap lagi". Resty menelan ludah, pagi tadi dia tidak sarapan. hanya bawa bekal untuk dimakan pas jam istirahat
Sampai di gerbang sekolah Resty berhenti. ia menengok kearah rumah, walaupun sudah jauh dan tidak terlihat lagi,"bakal dicariin tidak ya?"
Disekolah dan dirumah tidak bedanya, dirumah dingin. jika disekolah panas-panas karena takut. Wali kelas Resty galak, suaranya tinggi dan yang paling ditakutin Resty bukan ulangan yang harus bayar, tapi les juga bayar, tapi bedanya jika les tidak bayar atau tidak datang pada sore harinya akan mendapatkan hukuman. Resty pernah mendapatkan hukuman karena tidak bayar dan dikurung didalam toilet yang penuh dengan kotoran dan bau Pesing. Bukanya menangis, Resty hanya diam dan jongkok dipojokan,"kenapa dunia terlalu kejam".
Les itu wajib, Katanya buat membantu nilai, Tapi harus bayar setiap ikut les dan itu bisa sampai 3 kali dalam seminggu. Masalahnya, di rumah tidak pernah ada uang lebih, Minta ke Ayah? Yang ada malah kena bentak, “Sekolah aja udah gratis, masih minta-minta!”
Padahal lesnya bayar, Resty sudah pernah jelasin dan itupun percuma Awi tidak pernah mau dengar. Jadi setiap awal minggu, perut Resty sudah bukan hanya mual karena lapar, tapi juga Nunggu Bu Guru nagih uang les di depan kelas.“Yang belum bayar les maju ke depan!”
Resty jalan pelan, nunduk, tangannya dingin.
“Kenapa belum bayar, Orang tuamu tidak peduli sama pendidikan?”
Resty cuma diam, Mau jawab apa? Bilang Ayahnya tidak peduli? yang ada nanti sampai rumah lebih parah. Hukumannya Kadang disuruh berdiri di depan kelas satu jam sambil jinjit, disuruh hapus papan tulis sampai sore padahal temen-temen udah pulang. Yang paling malu kalau dicubit di depan semua orang sambil dibilang, “Biar kapok, biar orang tuamu malu.”tapi Resty hanya diam menerima semua hukuman yang dia terima.