NovelToon NovelToon
Bayang Yang Runtuh

Bayang Yang Runtuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Shanti_San

Kiara, putri tunggal keluarga terkaya, memilih menikah dengan pria biasa karena cinta yang ia pikir sangat kuat dan abadi. Selama sepuluh tahun pernikahan, Kiara hidup dengan rasa bersalah yang besar—ia tidak pernah bisa mengandung dan melahirkan anak, selalu menyalahkan dirinya sendiri, dan terus meminum obat yang dikatakan suaminya sebagai vitamin penyehat tubuh.

Semua kepercayaan dan kebahagiaannya runtuh dalam sekejap mata. Kiara mengetahui kenyataan pahit, suaminya telah berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Lebih menyakitkan lagi, obat yang ia minum setiap hari ternyata adalah pil penunda kehamilan. Sepuluh tahun ia pikir dia kurang subur, padahal dialah yang menjadi korban, dan suaminya sendirilah penyebab ia tidak pernah bisa memiliki keturunan. Puncak kehancuran tiba saat Kiara tahu sahabatnya kini sedang mengandung anak hasil perselingkuhan mereka.

Kiara pun memilih pura-pura tidak tahu, untuk membalaskan rasa sakitnya karena telah di tipu oleh mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shanti_San, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 - Pertemuan dengan masalalu

Pagi itu, sinar matahari menyelinap masuk ke dalam kamar, namun tidak mampu menghangatkan hati Kiara yang masih terasa beku dan penuh luka. Seperti biasa, ia bangun pagi dengan senyum yang dipaksakan, menyapa Ferdi yang terlihat sangat segar dan bersemangat, seolah-olah ia tidak memiliki beban dosa seberat apa pun. Ferdi kembali berperan sebagai suami teladan, mencium kening istrinya, berpamitan akan pergi ke kantor lebih awal, dan berjanji pulang tidak terlalu larut malam. Kiara membalas semua itu dengan sikap manja dan pengertian, namun di dalam hatinya, setiap kata yang keluar dari mulut Ferdi kini terdengar seperti nada sumbang yang menjijikkan.

Begitu mobil Ferdi menghilang di gerbang depan, Kiara segera bersiap-siap. Ia sudah memutuskan, hari ini ia tidak akan diam saja di rumah besar yang kini terasa seperti kandang emas beracun itu. Ia akan pergi ke kediaman orang tuanya, tempat satu-satunya di dunia ini di mana ia merasa benar-benar aman, tempat di mana ia bisa bernapas lega tanpa harus berpura-pura menjadi wanita bodoh dan polos. Di sana, di dekat Ayah dan Ibu, ia merasa kembali menjadi anak kecil yang terlindungi, meski beban berat yang dipikulnya saat ini jauh lebih besar daripada apa pun yang pernah ia alami seumur hidupnya.

Perjalanan menuju rumah orang tuanya tidak memakan waktu lama, namun pikiran Kiara mengembara jauh. Ia teringat kembali kejadian semalam, saat ia membuang susu dan obat pemberian Ferdi ke dalam kloset. Rasa lega bercampur dengan rasa sakit yang mendalam masih menyisakan bekas yang perih di hatinya. Ia teringat wajah Ferdi yang begitu tenang saat memberikan racun itu, teringat percakapan Ferdi dan Emily tentang rencana masa depan mereka, dan teringat betapa mudahnya mereka merencanakan kehancurannya seolah ia hanyalah benda mati yang tidak punya perasaan.

Mobil Kiara memasuki gerbang besar kediaman keluarga Wijaya, sebuah rumah megah bergaya klasik yang luas dan asri, berdiri kokoh sebagai simbol kekuasaan dan kehormatan keluarga itu selama puluhan tahun. Begitu turun dari mobil, Kiara disambut hangat oleh para pelayan yang sudah mengenalnya sejak kecil. Dengan langkah ringan namun hati yang berat, Kiara berjalan masuk menuju ruang tamu utama yang luas.

Belum sempat ia duduk, suara percakapan yang akrab terdengar dari arah ruang tengah. Suara berat dan berwibawa milik Ayahnya, Pak Edward, bercampur dengan suara lembut Ibunya, Bu Silvia. Namun ada satu suara lain, suara laki-laki yang dalam, tenang, dan sangat familiar di telinga Kiara, suara yang sudah lama tidak ia dengar namun tersimpan rapi dalam ingatannya.

Kiara mempercepat langkahnya, berbelok ke arah ruang tengah, dan seketika langkah kakinya terhenti di ambang pintu. Matanya membelalak tak percaya, dan seulas senyum tulus, senyum pertama yang benar-benar datang dari hati dalam beberapa hari terakhir mekar indah di wajahnya.

Di sana, duduk di salah satu sofa besar berhadapan dengan kedua orang tuanya, ada seorang pria berpostur tegap, tampan, dengan penampilan rapi dan berwibawa. Rambutnya disisir rapi, sorot matanya tajam namun hangat, dan senyumnya yang ramah sedang menghiasi wajahnya saat berbicara dengan ayah dan ibunya. Pria itu adalah Baskara. Sahabat kecilnya, teman bermainnya semasa kanak-kanak, dan kini menjadi salah satu rekan bisnis terpercaya sekaligus mitra terbesar perusahaan keluarga Wijaya.

"Baskara?" panggil Kiara pelan, suaranya bergetar karena kaget dan bahagia.

Pria itu segera menoleh ke arah pintu. Begitu melihat sosok wanita yang berdiri di sana, mata Baskara melebar, seketika sorot matanya berubah menjadi lebih terang dan berbinar. Wajahnya yang tadinya tenang dan serius kini dipenuhi kegembiraan yang nyata. Ia segera bangkit berdiri tegak, kedua nya berpelukan sebagai seorang teman lama.

"Kiara, ya Tuhan, benar-benar kamu," jawab Baskara dengan nada suara yang terdengar takjub dan bahagia. Ia berjalan beberapa langkah mendekat, berhenti di jarak yang sopan namun cukup dekat agar ia bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas. "Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Kamu semakin cantik saja."

Bu Silvia tersenyum lebar melihat kedatangan putri tunggalnya itu, sementara Pak Edward tertawa kecil melihat reaksi kedua anak muda di depannya.

"Lihat, siapa yang baru saja pulang dari luar negeri kemarin malam," ucap Pak Edward sambil menunjuk ke arah Baskara dengan bangga. "Baskara baru saja tiba dari Eropa, Kiara. Dia akan menetap di sini untuk sementara waktu, mengurus proyek besar kerja sama kita. Aku sudah menunggunya pulang bertahun-tahun lamanya."

Kiara mengedipkan matanya beberapa kali, memastikan apa yang dilihatnya bukanlah khayalan semata. Ia maju selangkah lagi, menatap Baskara dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pria yang dulu ia kenal sebagai anak laki-laki ceria dan pemberani yang selalu melindunginya saat bermain di halaman rumah, kini telah berubah menjadi pria dewasa yang gagah, berkarisma, dan memancarkan aura kejantanan serta kecerdasan yang luar biasa.

"Kamu..., kamu berubah banyak, Kara." ucap Kiara sambil tertawa kecil, rasa bahagia itu perlahan mengusir sedikit beban berat di dadanya. Ia memanggil nama panggilan masa kecilnya untuk pria itu, nama yang sudah lama tidak ia ucapkan. "Sudah berapa tahun? Lima tahun? Enam tahun? Sejak kamu pergi kuliah dan bekerja di luar negeri, kita benar-benar kehilangan kontak tatap muka ya."

"Enam tahun lebih sedikit," jawab Baskara lembut, matanya menatap manik mata Kiara dalam-dalam, menyimpan ribuan rasa yang tak sempat ia ucapkan.

"Bagi rasaku, rasanya seperti enam abad lamanya. Jauh di sana, di tengah kesibukan dan hiruk-pikuk kota besar, ada satu hal yang selalu membuatku ingin pulang secepatnya. Dan hal itu yang sedang berdiri di depanku sekarang."

Ucapan Baskara terdengar wajar, namun ada nada tersembunyi yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang peka. Kiara tersenyum malu-malu, tidak menangkap makna lebih dalam kalimat itu, namun merasa sangat nyaman.

Mereka berdua kembali duduk di ruang tengah, Kiara duduk di sebelah ibunya, berhadapan langsung dengan Baskara. Percakapan pun mengalir hangat. Pak Edward tampak sangat senang dan bangga menceritakan kehebatan Baskara. Bagi Pak Edward, Baskara bukan sekadar rekan bisnis atau anak teman lamanya. Baskara adalah sosok yang sangat ia hormati dan ia anggap seperti anak sendiri. Pria itu cerdas, jujur, berwawasan luas, dan yang paling penting: ia memiliki integritas yang tinggi, sesuatu yang sangat dijunjung tinggi oleh keluarga Wijaya.

"Baskara ini luar biasa, Kiara," ujar Pak Edward dengan nada kagum. "Di usianya yang masih muda, dia sudah berhasil membawa perusahaannya menembus pasar internasional. Kejujuran dan kecerdasannya membuatku sangat percaya menyerahkan proyek terbesar perusahaan kita kepadanya. Aku berharap kehadirannya di sini akan membawa angin segar bagi kemajuan perusahaan kita ke depannya."

Bu Silvia pun ikut menimpali sambil tersenyum ramah. "Iya benar. Ibu saja sampai kaget, Baskara makin dewasa dan sopan sekali. Masih ingat tidak, Kiara? Dulu kalau kalian bermain kejar-kejaran di taman belakang, Baskara yang selalu memarahi anak-anak lain kalau ada yang berani mendorong atau membuatmu menangis. Dia selalu menjadi pelindungmu, meski dia sendiri sering kali berakhir dengan luka-luka demi membela kamu."

Mendengar itu, Kiara tertawa renyah, kenangan indah masa kecil kembali berputar di kepalanya. "Ingat sekali, Bu. Dulu Baskara itu pemberani sekali. Tidak takut pada siapa pun. Dan kalau dia sudah marah, semua anak laki-laki di lingkungan kita pasti lari ketakutan."

Baskara ikut tersenyum mendengar cerita masa lalu itu, namun matanya tak pernah lepas dari wajah Kiara. Sesekali, saat Kiara sedang asyik bercerita atau mendengarkan orang tuanya, Baskara akan mencuri-curi pandang menatap wajah wanita itu dengan tatapan yang penuh makna, tatapan yang penuh kasih sayang, rindu, dan kepedulian yang mendalam.

1
Yeni Astriani
yuuukk lanjut Author
Yeni Astriani
good job Kiara kamu kuat, kamu punya banyak bukti perceraian pasti bakalan terjadi.
ferdi mengancam karna tahu dia bakalan hidup miskin lagi
Yeni Astriani
lanjut Author
Asyura
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!