NovelToon NovelToon
Setelah Diceraikan Aku Menemukan Rumahku

Setelah Diceraikan Aku Menemukan Rumahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pengkhianatan
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dhatu Lukita

Enam tahun menunggu suami pulang dari Korea, Nandin percaya semua pengorbanannya akan terbayar. Ia membesarkan dua anak kembar seorang diri, bekerja siang malam demi menyambung hidup, sementara suaminya tak pernah mengirim nafkah sedikit pun.
Namun kepulangan suaminya justru membawa surat perceraian.
Pengkhianatan itu menghancurkan hidup Nandin hingga ia kehilangan kewarasannya dan harus menjalani rehabilitasi di sebuah pondok di Jawa Timur. Terpisah dari kedua putri yang sangat dicintainya, Nandin berjuang bangkit dari luka yang nyaris merenggut hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangan yang Terlalu Dikenal

Ada hal-hal yang bisa dilupakan oleh manusia.

Wajah.

Suara.

Alamat.

Nomor telepon.

Tapi ada juga hal yang akan selalu tinggal di ingatan.

Kebiasaan kecil.

Cara tertawa.

Bentuk jari.

Atau tangan seseorang yang pernah kita genggam bertahun-tahun.

Dan Nandin baru menyadari itu ketika sebuah foto muncul di layar ponselnya.

Foto yang membuat jantungnya berhenti berdetak sesaat.

Pagi itu sebenarnya dimulai seperti hari-hari biasa.

Shella bangun lebih dulu.

Seperti biasa.

Anak itu memang selalu lebih rajin daripada saudara kembarnya.

Saat Nandin membuka mata, Shella sudah duduk di sampingnya sambil memainkan rambut ibunya.

"Mama..."

"Iya sayang."

"Pajiii."

Nandin langsung tertawa kecil.

"Pagi juga."

Di sisi lain kasur, Sherly masih tidur dengan posisi yang entah bagaimana bisa berputar seratus delapan puluh derajat.

Selimutnya sudah jatuh ke lantai.

Bonekanya terjepit di bawah tubuh kecilnya.

Melihat itu, Nandin menggeleng sambil tersenyum.

Dua anak ini memang menjadi alasan ia masih bisa tertawa di tengah hidup yang terasa semakin rumit.

Setelah sarapan dan menyiapkan pesanan katering, Nandin membuka ponselnya.

Kebiasaan baru yang sebenarnya tidak ia sukai.

Dulu ia hampir tidak pernah memegang media sosial.

Sekarang?

Setiap ada waktu luang, tangannya otomatis membuka Instagram.

Membuka Facebook.

Membuka WhatsApp.

Mencari informasi.

Mencari petunjuk.

Mencari jawaban.

Tentang Wisnu.

Dan pagi itu...

Jawaban itu seolah mulai muncul.

Sedikit demi sedikit.

Notifikasi Instagram muncul.

Seline Amanda mengunggah foto baru.

Jantung Nandin langsung berdebar.

Entah kenapa.

Setiap kali nama perempuan itu muncul, ada perasaan tidak nyaman yang selalu datang bersamanya.

Tangannya bergerak sendiri.

Membuka unggahan itu.

Lalu membeku.

Foto itu sederhana.

Sangat sederhana.

Hanya foto dua gelas kopi hangat di sebuah kafe.

Salju terlihat di balik jendela.

Suasana tampak romantis.

Namun bukan itu yang membuat Nandin tidak bisa bernapas.

Melainkan foto kedua dalam unggahan tersebut.

Sepasang tangan.

Hanya itu.

Tidak ada wajah.

Tidak ada identitas.

Tidak ada petunjuk yang jelas.

Hanya dua tangan yang saling menggenggam di atas meja.

Namun saat melihatnya...

Tubuh Nandin langsung dingin.

Karena tangan laki-laki itu...

Terlalu familiar.

Ia memperbesar gambar.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Matanya menelusuri setiap detail.

Bentuk jari.

Warna kulit.

Bekas luka kecil di punggung tangan.

Jam tangan hitam yang dipakai.

Dan semakin lama melihatnya...

Semakin sesak dadanya.

"Tidak..."

bisiknya.

"Tidak mungkin..."

Namun justru kata-kata itu yang membuat air matanya mulai menggenang.

Karena jauh di dalam hati...

Ia tahu.

Ia mengenali tangan itu.

Wisnu memiliki bekas luka kecil di dekat ibu jari tangan kanan.

Luka lama saat ia terjatuh dari motor ketika masih pacaran.

Nandin yang mengobatinya waktu itu.

Nandin yang memasangkan perban.

Nandin yang melihat luka itu hampir setiap hari selama bertahun-tahun.

Dan sekarang...

Bekas luka yang sama muncul di foto itu.

Bruk.

Nandin duduk perlahan di kursi dapur.

Kakinya mendadak lemas.

"Mama?"

Suara Shella terdengar dari ruang tamu.

Namun Nandin tidak menjawab.

Pandangannya masih terpaku pada layar.

Masih berusaha mencari alasan.

Mencari kemungkinan lain.

Mencari apa pun yang bisa membuktikan dirinya salah.

Karena kalau itu benar tangan Wisnu...

Berarti semua kabar itu bukan lagi sekadar gosip.

Air matanya jatuh.

Satu tetes.

Lalu satu lagi.

Bukan karena foto itu memperlihatkan perselingkuhan secara jelas.

Tidak.

Justru karena foto itu begitu sederhana.

Begitu biasa.

Seolah dua orang yang sedang menikmati hidup bersama.

Sementara dirinya...

Masih berjuang membayar listrik.

Masih berjuang membesarkan anak-anak mereka.

Masih berjuang mempertahankan rumah tangga yang mungkin sebenarnya sudah lama mati.

Ponselnya berbunyi.

Pesan dari Rina.

"Mbak."

Nandin langsung membuka.

"Aku dapat sedikit info lagi."

Jantungnya kembali berdebar.

"Apa?"

Balasan itu datang tidak lama.

"Nama Wisnu memang sering disebut."

Deg.

"Tapi aku belum punya bukti."

lanjut Rina.

"Yang aku tahu, beberapa orang bilang dia dekat dengan perempuan Indonesia di sini."

Napas Nandin terasa berat.

Sangat berat.

"Dekat bagaimana?"

ketiknya.

Lama.

Sangat lama.

Baru kemudian balasan datang.

"Seperti pasangan."

Dunia kembali terasa sunyi.

Nandin memejamkan mata.

Tangannya gemetar.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai...

Ia benar-benar merasa takut.

Takut bukan karena kehilangan Wisnu.

Melainkan karena menyadari kemungkinan bahwa dirinya sudah kehilangan Wisnu sejak lama.

Dan baru mengetahuinya sekarang.

Siang itu Nandin tidak bisa fokus bekerja.

Ayam yang digoreng hampir gosong.

Nasi hampir lupa dimatikan.

Untung Bu Rini datang.

"Din!"

teriak wanita itu dari depan rumah.

"Nasinya meluap!"

"Astaga!"

Nandin langsung berlari ke dapur.

Setelah semuanya aman, Bu Rini mengernyit.

"Kamu kenapa?"

"Nggak apa-apa."

"Jangan bohong."

Nandin tersenyum hambar.

Karena ternyata orang-orang yang peduli memang selalu tahu saat kita sedang tidak baik-baik saja.

Namun kali ini ia tidak menceritakan apa pun.

Belum.

Karena dirinya sendiri masih belum siap menerima kenyataan itu.

Malamnya.

Setelah Shella dan Sherly tidur.

Nandin kembali membuka akun Seline.

Unggahan itu sudah mendapat banyak komentar.

Teman-temannya terlihat menggoda.

"Ciyeee..."

"Sudah nggak jomblo nih."

"Semoga lancar sampai halal."

"Bahagia terus ya."

Semua komentar itu seperti pisau kecil yang menusuk perlahan.

Karena jika lelaki dalam foto itu benar Wisnu...

Maka berarti ada orang-orang yang mengira mereka pasangan.

Ada orang-orang yang mendukung hubungan itu.

Ada orang-orang yang mungkin bahkan tidak tahu bahwa Wisnu sudah memiliki istri dan dua anak di Indonesia.

Tiba-tiba sebuah pesan masuk.

Dari akun Seline.

Nandin langsung membeku.

Jantungnya berdetak begitu keras sampai telinganya ikut berdenging.

Perlahan ia membuka pesan itu.

"Halo Mbak Nandin."

Napasnya tercekat.

Karena ini pertama kalinya Seline menghubunginya secara langsung sejak permintaan pertemanan diterima.

Tangan Nandin gemetar saat mengetik balasan.

"Halo."

Tiga titik muncul.

Tanda perempuan itu sedang mengetik.

Lalu menghilang.

Muncul lagi.

Menghilang lagi.

Seolah orang di balik layar sana juga sedang gugup.

Akhirnya sebuah pesan muncul.

"Maaf."

Hanya satu kata.

Namun cukup membuat jantung Nandin semakin tidak tenang.

"Maaf untuk apa?"

balasnya.

Kali ini balasan datang lebih cepat.

"Saya tahu Mbak pasti banyak pertanyaan."

Air mata Nandin mulai menggenang lagi.

Karena perempuan itu tidak menyangkal apa pun.

Tidak membantah.

Tidak mengatakan bahwa semua ini salah paham.

Dan itu justru yang paling menakutkan.

"Mbak kenal tangan itu?"

ketik Nandin akhirnya.

Pertanyaan yang selama ini ia tahan.

Pertanyaan yang selama ini ia takutkan jawabannya.

Lama.

Sangat lama.

Sampai akhirnya balasan muncul.

"Saya juga menggenggam tangan ini mbak."

Hanya beberapa kata.

Namun rasanya seperti petir yang menyambar tepat di atas kepalanya.

Malam itu Nandin tidak langsung membalas.

Ia hanya menatap layar.

Lalu menoleh ke arah kamar.

Tempat Shella dan Sherly sedang tidur pulas.

Dua anak yang selama ini tumbuh tanpa ayah.

Dua anak yang selalu menunggu telepon yang tidak pernah datang.

Dua anak yang bahkan mungkin tidak akan mengenali suara ayah mereka jika bertemu sekarang.

Air mata kembali mengalir.

Namun kali ini berbeda.

Bukan tangisan perempuan yang lemah.

Bukan tangisan istri yang takut ditinggalkan.

Melainkan tangisan seseorang yang perlahan mulai menerima kenyataan.

Bahwa kebenaran yang selama ini ia cari...

Mungkin jauh lebih menyakitkan daripada yang pernah ia bayangkan.

Dan malam itu.

Di sebuah kontrakan kecil yang sunyi.

Nandin mulai bersiap menghadapi jawaban yang mungkin akan menghancurkan seluruh hidupnya.

Karena untuk pertama kalinya...

Seseorang akhirnya mengaku.

Dia mengenal Wisnu.

Dan itu berarti...

Semua ini bukan lagi sekadar gosip.

1
Penulis🇰🇷🇲🇨Chani
Aku mampir utk baca kak 😊 sekarang sdh baca episode pertama. Semangat kak♡
Penulis🇰🇷🇲🇨Chani
Wah nyebelin banget ya ibu mertuanya
Dhatu Lukita
semangat buat akuu😂
Penulis🇰🇷🇲🇨Chani: Semangat, fighting💪
total 1 replies
falea sezi
males MC di buat oon gini thor🤣 buat dia kuat gk menye bales dendam bego😒
Dhatu Lukita: hehehhe ya maap🙏
total 1 replies
falea sezi
😒 jalang.. emank pelakor nih buat nadin waras dan minta cerai dr laki kardus lah
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
tazayaa
bagus kak, mampir dikarya ku juga😍
tazayaa
halo kak, mampir di cerita ku yuu😍
Dhatu Lukita: haloo,,
oke baik. mari kita berkawan💗
total 1 replies
falea sezi
laki kardus g tau diri
Dhatu Lukita
pantengin terus ya kak 🤭💗
anakmafia
up tiap hari 10 episod bisa gasih thor hehehe
waya520
halooo aku mampir nih 🤭
Dhatu Lukita: haloo kaka🤭😍
total 1 replies
Arwondo Arni
cerai aja lebih bahagia semoga ketemu pria yg lbh segalanya dari bpknya si kembar yg berengsek.
Dhatu Lukita: heheheh pantengin terus ya kak🤭😍
total 1 replies
Wawan
Mawar dan iklan buat si kembar... ✍️💪
Dhatu Lukita: ahhh terimakasih banyak 🤭😍
total 1 replies
Lintang_Tara✨
saling dukung ygy❤️
Musea
udah mampir nih, semangat terus ya dari sesama authorr
Dhatu Lukita: siaaapppp💪💪💪
total 1 replies
anakmafia
nih ku kasih dukungan biar semangat wkwkwk.
Dhatu Lukita: ho.ohh tengkyu kak😍🥰🥰
total 1 replies
anakmafia
nih ku kasih dukungan biar semangat wkwkwk.
D. Nightshade
semangat terus thor,💗
Wawan
Salam kenal buat Nandin ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!