Bima Saputra, seorang sarjana pariwisata yang hidupnya terjerat lilitan utang keluarga, kini terjebak menjadi juragan warung sayur di Kabupaten Jatiroso. Realita yang pahit, ibu sakit, dan pernikahan diam-diam dengan wanita impiannya, Dinda, membuatnya merasa terhimpit. Namun, nasibnya berubah drastis saat ponselnya kesetrum, membuka gerbang menuju ladang virtual game Harvest Moon! Kini, ia bisa menanam buah dan sayur berkualitas dewa yang tumbuh sekejap mata, memindahkannya ke dunia nyata, dan menjualnya untuk meraup omzet gila-gilaan. Dari semangka manis hingga stroberi spesial, Bima menemukan jalan ninjanya menuju kekayaan. Bisakah ia melunasi utang ratusan juta, membahagiakan ibunya, dan meresmikan pernikahannya dengan Dinda secara terang-terangan, tanpa ada yang mencurigai rahasia ladang gaibnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita yang Terlalu Percaya Diri!
Tak butuh waktu lama. Motor listrik itu tiba di pintu masuk Vila Dima.
"Lho, ini kan Vila Tirta Kencana? Kok ganti nama?" Rendi kebingungan. Dulu dia pernah ke sini bareng Bima. Waktu itu mereka belum lulus kuliah, nyempetin kumpul-kumpul pas liburan semester buat buang duit healing di sini.
Begitu motor listrik Bima berhenti di depan lobi, Yaya—yang sudah dandan maksimal, pakai make-up, dan outfit super modis—langsung menyambutnya, "Bos!"
"Bim, boleh juga nih cewek... eh, tunggu, Bos?!" Rendi yang insting buayanya langsung fokus ke cewek cantik mendadak ngeh. "Bim, kowe bosnya vila ini?! Vila Dima (Dinda-Bima)... pantesan namanya gitu!"
"Ayo Ren, masuk. Kita cek spot shooting-nya. Oh ya, ini Yaya, hari ini dia yang bakal jadi model kita," ajak Bima santai sambil menuntun sahabatnya masuk ke area taman bunga bugenvil.
"Jancuk!" Rendi langsung melongo syok melihat hamparan lautan bunga di depannya. "Bim, iki kowe yang bikin?!"
"Iya! Baru aja kelar," Bima mengangguk.
"Bim, kowe pancen edan!" seru Rendi masih takjub tak percaya.
Dia tahu betul seburuk apa kondisi ekonomi keluarga sahabatnya ini. Tiba-tiba Bima bikin proyek maha karya segila ini, jelas aja otaknya sampai hang. Bikin lautan bunga segede ini butuh modal berapa miliar coba?!
Tapi, Rendi memilih tutup mulut. Kepo urusan dapur orang malah bikin pertemanan jadi canggung. Toh tiap orang punya rezekinya masing-masing. Siapa tahu sahabatnya menang lotre miliaran, dapet jackpot arisan, atau dapet suntikan dana dari investor rahasia.
Bima tertawa, "Makanya Ren, aku pengen nyewa jasa studiomu buat bikin video cinematic sama foto-foto promosi taman ini."
"Waduh..." Rendi langsung lemas mendengar permintaannya. "Iki mah asu, mana sanggup aku ngerjain sendirian dengan area segede gaban ini!"
Bima tentu saja sudah menduga itu. Ia tertawa, "Makanya aku mau bikin order resmi ke studiomu. Jangan lupa kasih harga diskon sedulur ya!"
"Jangankan diskon, tak kasih pelayanan VVIP! Pokoknya rating bintang lima wajib Sampeyan kasih!" Rendi tak banyak omong dan langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi timnya di studio.
Skala proyek ini emang nggak bisa digarap solo. Dia juga sadar Bima sengaja bagi-bagi rezeki ke studionya, jadi sebagai partner bisnis sekaligus saudara, dia wajib ngasih output yang spektakuler.
Di saat yang sama, Bima melihat Yaya yang sedari tadi mengekor di belakang sedang senyum-senyum sendiri menatap layar ponselnya. Bima pun penasaran, "Lagi senyum-senyum ngeliatin apaan kamu?"
Mendengar suara bosnya, Yaya tersadar dan spontan bertanya polos, "Bos, misal aku daftarin hak paten merek 'Bakso Urat Jatiroso', apa nanti aku bisa makan gratis sepuasnya di semua warung bakso urat di kabupaten ini? Kan mereka semua hitungannya mlanggar hak paten merekku."
Bima cengo mendengarnya. "Hah?! Otakmu itu mikir apaan sih? Nggak takut digebukin massa warung se-kabupaten apa?!"
Yaya mengecilkan lehernya takut-takut, "Kan cuma bercanda, Bos! Tadi aku habis scroll TikTok, ada kasus orang daftarin hak paten nama 'Soto Lamongan', terus dia ngajuin gugatan ke ratusan warung soto kecil se-Indonesia yang pakai nama itu. Masing-masing warung dituntut ganti rugi Rp 199.600.000!"
"Hah?!" Bima terbelalak tak percaya.
Kalau gugatan gila itu menang, oknum rakus itu dapet duit berapa miliar coba?! Sekejap mata langsung tajir melintir, bahkan cuannya lebih instan dari sistem farming gaibnya yang tanpa modal ini!
Bener kata pepatah: Orang brengsek itu nggak menakutkan, yang menakutkan itu orang brengsek tapi melek hukum.
Bima sampai ikutan gatal pengen mendaftarkan merek 'Rawon Jatiroso', 'Tahu Tek', sama 'Sate Klopo' ke Dirjen HKI! Tapi ya itu cuma halu doang, berani gitu beneran bisa-bisa dia dirujak netizen dan diamuk pedagang se-kabupaten sampai babak belur.
Lagipula, pemerintah pasti bakal turun tangan membereskan celah hukum beginian, kalau nggak, orang-orang bakal latah niru dan bikin bisnis UMKM negara kacau balau.
Setelah Rendi menelepon, tiga orang rekan kerjanya dari studio langsung meluncur ke lokasi.
Begitu tiba di vila, ketiganya sama-sama melongo syok melihat hamparan lautan bunga bugenvil tersebut. Awalnya mereka ngira Rendi cuma dimintain tolong urusan sepele sama temennya. Siapa sangka temen Rendi ini malah ngasih proyek kelas kakap yang modalnya aja keliatan ngeri! Kok bisa mereka nggak punya circle temen sultan model begini coba?
Namun, setelah mereka mulai mengambil footage rekaman taman bugenvil itu, Rendi dan timnya semakin dibuat takjub luar biasa. Kalau dari layar drone saat aerial shoot, lautan bunga ini memancarkan keindahan yang memukau. Tapi begitu lensa kamera DSLR mereka menembus ke bagian dalam, semakin ke tengah... visualnya semakin di luar nalar.
Puncaknya saat mereka berada di zona altar tiga pohon pusaka pusat taman. Berkat pose luwes dari Yaya yang jadi model, hasil jepretan kamera dan rekaman video yang tertangkap monitor benar-benar memancarkan nuansa puitis yang estetik. Komposisi visualnya begitu magis bak sebuah mahakarya seni tingkat tinggi.
"Gila Ren, skill jepretanmu makin dewa aja! Ini mah hasil grading-nya udah setara kualitas fotografer internasional," puji salah satu rekannya dengan mata tak berkedip menatap layar kamera.
"Bukan skill-ku, tapi venue-nya yang emang kelewat sempurna," balas Rendi tersenyum puas.
Seumur-umur megang kamera, baru kali ini dia berhasil menghasilkan footage mentahan promosi se- perfect ini. Apalagi saat memfokuskan lensa pada tiga pohon bugenvil raksasa di tengah itu. Hasil jepretannya beneran bikin merinding!
Tentu saja, Rendi tidak sadar kalau mahakarya visual ini murni efek dari buff gaib produksi game. Tiga pohon monster itu dibekali atribut magis: Fotogenik (Instagramable) +3!
"Bim, malem ini timku bakal lembur full ngerjain editing sama color grading-nya. Besok pagi videonya jamin langsung mateng dan siap tayang!" janji Rendi saat mereka berkemas pulang.
Setibanya di studio, Rendi menepuk tangan menyemangati timnya. "Bros, malem ini kita gass lembur ya! Bikin ini jadi masterpiece, jangan sampai aku malu di depan sahabatku sendiri."
Rekan-rekannya tertawa dan mengangguk setuju. Tim Rendi bukannya bodoh. Saat mengambil gambar tadi, insting bisnis kreatif mereka sudah menjerit kalau taman bugenvil itu bakal viral meledak. Kalau video promosi garapan mereka yang jadi pemicu viralnya, credit nama studio mereka otomatis bakal ikut meroket nembus langit. Jelas mereka harus memolesnya sesempurna mungkin!
Menjelang malam.
Rina kembali datang ke studio bersama sepupunya, Mbak Nana. Rina berdiri di belakang kursi tunangannya dan matanya langsung terbelalak takjub melihat video yang sedang di-edit Rendi. "Mas, ini shooting di mana? Astaga, magis banget tempatnya!"
Mbak Nana yang biasanya judes pun ikut kepo mendongak ke layar, "Emang di wilayah Kabupaten Jatiroso kita ada tempat secantik ini?"
Ngeliat mentahan videonya aja udah bikin merinding, apalagi kalau ngerasain aslinya?
Ditanya oleh calon istrinya, Rendi menjawab dengan nada super bangga, "Rin, asal kowe tahu ya, si Bima itu aslinya silent killer! Dia diem-diem baru aja ngakuisisi vila gede. Lautan bunga bugenvil ini murni proyek garapan dia! Bibit bunganya aja kelihatan mahal banget. Bikin area seluas 2 Hektar gini minimal butuh modal miliaran rupiah. Gila tuh anak!"
Nada bicara Rendi penuh dengan decak kagum sekaligus kebanggaan atas pencapaian sahabat plek-nya itu. Rina yang mendengarnya sampai menutup mulut tak percaya. Dia tahu betul betapa ngenesnya ekonomi keluarga pemuda itu sebelumnya.
Di sisi lain, kuping Mbak Nana mendadak panas. Hatinya langsung dag-dig-dug. Wait, apa?! Cowok kere motor listrik itu ternyata sultan rahasia yang punya vila miliaran?!
Mampus, insting cewek matrenya beneran kecolongan telak!
Rina tak mau mengganggu tunangannya yang sedang fokus lembur. Ia menarik tangan sepupunya menjauh untuk duduk di sofa ruang tunggu.
Mbak Nana yang mendadak cacingan langsung berbisik mendesak sambil narik-narik lengan baju Rina, "Rin! Bagi kontak WA-nya si Bima dong cepet!"
Rina memutar bola matanya sambil tersenyum sinis. "Lho, Mbak. Kemarin kan pas mintak bilangnya cuma bercanda?"
Mbak Nana membalas tanpa urat malu, "Ya kan kemaren aku nggak tahu spek aset aslinya sedewa ini! Namanya juga cewek, wajar dong cari calon imam yang tajir dan mapan?"
Rina mendesah pasrah memijat keningnya. Ia akhirnya mengirimkan kontak WA Bima ke room chat sepupunya itu. Mbak Nana dengan beringas dan senyum semringah langsung mengeklik Add Contact dan mengirim pesan permintaan pertemanan.
Di tempat lain, ponsel Bima berdenting memunculkan notifikasi permintaan pertemanan WA. Di sana tertera pesan: "Halo Bima, aku sepupunya Rina. Boleh kenalan dan jadi temen nggak?"
Bima mengernyitkan dahi. Ngapain coba sepupunya Rina tiba-tiba ganjen nge-add nomornya?
Bima iseng mengecek foto profil dan Story WA wanita itu. Walaupun filter editan pencerah wajahnya ketebalan banget sampai nyaris blur, Bima masih bisa mengenali siluet make-up wanita yang berdiri di sebelah Rina tempo hari. Yah, wajah asli sama foto aslinya ibarat beda orang, butuh operasi plastik buat nyamain visualnya.
Tapi, Bima langsung paham gelagat busuk ini. Orang yang pas dua kali ketemu aja sok buang muka, ngapain coba tiba-tiba caper minta kenalan?
Semenjak Dinda masuk ke hidupnya dan resmi jadi istrinya, Bima punya prinsip pantang menyimpan kontak wanita lain tanpa alasan darurat. Ini murni bentuk loyalitas dan respeknya pada sang istri.
Tangannya sudah gatal ingin memencet tombol Block, tapi mengingat wanita ini masih punya hubungan darah dengan Rina (calon istri sahabatnya), ia memilih membalas dengan sangat halus sekaligus mematikan:
"Sori Mbak, istriku ngelarang keras aku nyimpen kontak cewek."
Di seberang sana, Mbak Nana melongo membaca balasan ketus itu. Mental matrenya langsung hancur lebur berkeping-keping. "Rin! Kok kamu asu banget nggak bilang-bilang kalau si Bima itu udah punya bojo?!"
"Hah?!" Giliran Rina yang melongo bingung. Bima udah nikah? Kalau Bima beneran nikah, si Rendi pasti orang pertama yang tahu dan koar-koar sejagat raya dong! Aslinya kan si Bima sejauh yang dia tahu masih single.
Tapi detik berikutnya Rina langsung nyengir paham. Wah, akal-akalannya Bima aja ini mah, nolak halus cewek matre ulet keket.
Rina menggelengkan kepala geli dan sengaja tutup mulut, tak sudi membeberkan fakta aslinya pada sang sepupu.
Sepupunya ini emang penganut aliran 'Cewek Haluh'. Kakinya nggak pernah napak di bumi. Cuma modal selfie pake filter TikTok mencerahkan kulit, terus dipuji 'Mbak cantik' sama cowok-cowok haus belaian di kolom komentar, eh ngerasa dirinya sekelas artis yang pantas dapet pangeran berkuda putih.
Udah jelas-jelas statusnya perawan tua, masih aja halu pengen digandeng brondong ganteng miliarder. Lha masalahnya, brondong miliarder mana yang matanya siwer mau nampung cewek model begini?