Aku terbangun di tubuh anak perempuan yang beusia 5 tahun, merupakan anak kandung Lucas Alexandro yang mengalami hidup yang teragis sebagai anak yang tidak di inginkan. Sang ayah memilih anak angkat untuk di jadikan putri dan aku malah di bunuh dengan tangan ayah ku sendiri karena hasutan sang pembantu anak angkatnya.
Bagaimana kelanjutan cerita ku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke Rumah Utama
Lucas menolehkan pandangannya pada danau yang cukup dalam di sebelah kiri mereka. Para bodyguard yang melihat gerakan mata Lucas langsung menyadari apa yang diperintahkan pria itu saat ini.
Ya, Lucas ingin menceburkan anak Linda ke dalam danau itu dan membiarkannya mati secara perlahan, seolah itu hanyalah sebuah insiden kecelakaan. Dia begitu yakin tidak akan ada yang berani mengusut masalah ini, karena Lucas adalah salah satu orang yang paling berkuasa di negaranya.
Para bodyguard menyeret tubuh Bagas dengan kasar. Meskipun pemuda itu terus memberontak dan berkali-kali meminta dilepaskan.
"Ampun Tuan! Jangan Tuan! Saya tidak akan mengulanginya lagi!" teriak Bagas ketakutan.
"Aku tidak butuh penyesalanmu. Hanya satu yang aku tahu: bekerja dengan benar dan mengikuti apa yang aku perintahkan," ketus Lucas dengan kening yang berkerut tajam. Tatapannya sinis, bagaikan elang yang sedang mengincar mangsa.
"Tuan, jangan Tuan! Jangan buang anak saya ke dalam danau itu! Bagas adalah anak saya satu-satunya dan harapan bagi saya!" teriak Linda sambil menggelengkan kepala putus asa melihat anaknya makin dekat ke bibir danau.
"Sudah ku jawab! Aku tidak menerima penyesalan! Buang dia secepatnya, telingaku rasanya akan pecah mendengar cicitan tikus-tikus ini," geram Lucas sambil memalingkan wajahnya dengan kasar.
Tidak berselang lama, dengan cepat Bagas dilempar ke dalam air yang cukup dingin itu. Bagas tampak mengapai-gapai, berusaha naik ke permukaan karena kepanikan yang menjalar di seluruh tubuhnya.
Namun, para bodyguard tak membiarkannya keluar. Menggunakan tongkat kayu, mereka terus mendorong tubuh Bagas semakin dalam hingga dia kehabisan napas. Air mulai memenuhi paru-parunya, dan perlahan tubuhnya menghilang ditelan kegelapan air itu.
Shopia terdiam, matanya terbelalak. Dia belum pernah menyaksikan pembunuhan terjadi tepat di depan matanya sendiri. Seolah nyawa seseorang hanyalah barang pajangan yang bisa dibuang dan dihancurkan kapan saja.
Lucas menoleh pada Shopia yang terlihat sedikit gemetar.
"Apa kau takut? Bocah lemah," ucapnya dingin.
Shopia tak bergeming sama sekali dan hanya menatap datar. 'Iyalah bego! Mana ada orang normal yang melihat pembunuhan lalu tertawa,' gumamnya dalam hati, sembari menatap wajah Lucas dengan kerutan di keningnya.
Selepas itu, para bodyguard menarik tangan Linda yang masih memberontak minta dilepaskan, meski mereka sama sekali tak bergeming.
"Lepaskan aku! Lepaskan! Kau hanya anak yang tidak diinginkan! Tidak mungkin kau bisa menghancurkan aku!" teriak Linda marah sambil menunjuk Shopia dengan kasar.
Shopia spontan menarik kain celana Lucas dengan erat dan bersembunyi di balik kakinya untuk menghalau rasa cemasnya, hingga tubuh Linda yang diseret itu akhirnya menghilang di balik tembok, meski suaranya masih terdengar lantang memaki.
Shopia keluar dari balik tubuh Lucas, menatap kosong ke arah kepergian mereka. Lucas pun menatap dingin pada gadis kecil yang tampak tertegun itu, lalu memalingkan wajah dengan decak kan kasar.
"Bawa dia ke rumah utama," ujar Lucas. Dia menghempaskan tangannya dengan cengkraman kuat, lalu pergi meninggalkan Shopia bersama Bima.
Bima lalu berjongkok di hadapan Shopia dan memegang bahu gadis kecil itu dengan lembut. Dia menatap lekat-lekat wajah itu dengan mata yang berbinar.
"Nona, ayo ikut dengan saya," ajaknya lembut.
"Nona?" tanya Shopia bingung, seolah tidak tahu apa-apa tentang jati dirinya, lalu ia melihat kepergian Lucas menuju rumah utama.
"Iya benar, Anda adalah Nona," ujar Bima tersenyum simpul agar Shopia tidak merasa takut, meski wajahnya tetap terlihat sangar.
"Berarti dia ayahku... Tapi dia akan memiliki putri lain," gumam Shopia dengan bisikan pelan, matanya masih tak lepas dari punggung Lucas.
"Tidak Nona, Anda tetaplah Nona kami. Ya, meskipun Tuan belum mengakui Anda secara resmi," jawab Bima dengan perasaan miris, lalu ia memalingkan wajahnya.
"Kalau Tuan tidak mengakui Shopia, itu artinya Shopia tidak punya siapa-siapa," sahutnya dengan polos, layaknya seorang anak kecil yang rindu akan kasih sayang.
Bima merasa semakin pilu, namun dia tak bisa berbuat apa-apa karena dia hanyalah bawahan Lucas.
"Tidak perlu dipikirkan Nona, mari saya antarkan ke kediaman Tuan," ucap Bima sambil mengandeng tangan Shopia.
Bima kemudian melangkah menuju rumah utama sambil menggenggam tangan kecil itu erat-erat. Di sana, Shopia melihat rumah utama yang begitu megah dengan cat putih yang mengkilap, sangat berbeda dengan tempat tinggalnya sebelumnya yang gelap, kotor, dan tak terawat.
"Ayo Nona, silakan masuk," ajak Bima.
Namun, Shopia tampak tertahan. Di depannya berdiri seseorang dengan sikap tegap sempurna, kedua tangan disilang di belakang punggung. Perempuan itu memiliki rahang yang tegas dengan bekas luka sayat yang terlihat jelas di wajahnya.
Bima sedikit membungkuk, lalu menoleh pada Shopia, "Shopia, ini Lisa. Dia salah satu bodyguard Tuan Lucas."
Shopia lalu menatap ke arah Bima.
"Kakak Bima akan menunggu di sini. Anda harus masuk bersama Lisa," ujar Bima tersenyum simpul.
Shopia tidak menunjukkan ekspresi takut atau pun senyum, malah ia mengandeng tangan Lisa dengan erat tanpa perlu dipaksa. Hal itu membuat kedua orang dewasa itu bertanya-tanya, karena selama ini kehadiran mereka sangat ditakuti. Bahkan anak kecil biasanya akan menangis atau lari ketakutan hanya dengan melihat bayangan mereka.
Tidak berselang lama, mereka akhirnya sampai di ruang makan. Di sana terlihat Lucas duduk dengan santai sembari membaca majalah bisnis yang selalu dikirim setiap hari. Dia seolah tidak peduli pada gadis kecil yang sedang bersusah payah mencoba menaiki kursi makan yang tinggi itu.
Lisa kemudian meninggalkan mereka menuju dapur, meninggalkan suasana yang canggung di antara ayah dan anak itu. Beberapa saat kemudian, Lisa kembali membawa semangkuk sup ayam yang sederhana. Namun, mata Shopia langsung berbinar penuh suka cita saat makanan itu disajikan di depannya.
"Silakan Nona," ujar Lisa menyodorkan mangkuk tersebut.
'Tidak perlu bilang silakan, walaupun tidak disuruh pun aku akan memakannya,' gumam Shopia dalam hati sambil buru-buru mengelap bibirnya, takut-takut ada air liur yang menetes tanpa sengaja.
Selepas itu, dengan cepat Shopia mengambil sendok dan menyendok sup itu ke dalam mulutnya dengan lahap tanpa jeda. Melihat hal itu, Lucas menghentikan aktivitas membacanya dan mulai memperhatikan Shopia dengan lebih teliti. Ia meletakkan majalah itu di atas meja.
"Hey, apa kau tidak pernah diberi makan?!" tanyanya dengan nada penuh penekanan.
"Tuan, cobalah ini, sangat enak sekali," ujar Shopia tersenyum bahagia sembari menawarkan sendok berisi sup ke arah Lucas.
Lucas terdiam, seolah menimbang-nimbang apakah benar apa yang dikatakan bocah itu tentang makanan sederhana buatan pelayan rumahnya.
Lucas kemudian menoleh pada Lisa, "Lisa, bawakan aku juga. Aku ingin mencoba, apakah benar seenak itu menurut anak ini," titah Lucas. Matanya menatap Shopia tajam bak elang, seolah berkata bahwa jika makanannya tidak enak, maka nasib Shopia akan berakhir buruk.