Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakan sang pemberontak
Suasana di ruang tamu utama kini lebih dari sekadar tegang; udara terasa seolah bisa meledak kapan saja. Abi berdiri dengan napas memburu, wajahnya yang biasa tenang kini memerah padam. Ia merasa harga dirinya sebagai pemilik pondok pesantren sedang diuji di depan sahabat lamanya.
"Shaheer, jaga bicaramu!" Jenderal Ali memperingatkan putranya dengan suara rendah yang penuh penekanan. "Kita datang ke sini untuk Adiba. Jangan membuat kegaduhan karena dorongan sesaat."
Namun, sebelum Shaheer sempat menjawab, Adeeva melangkah masuk sepenuhnya ke tengah ruangan. Ia tidak peduli lagi dengan tatapan santri yang mengintip dari kejauhan atau teguran Abi. Matanya menyala, menatap tajam ke arah Shaheer yang masih berdiri tegak dengan wibawa militer yang tak goyah.
"Aku tidak mau!" suara Adeeva lantang, memutus perdebatan para orang tua.
Abi menoleh ke arah putri bungsunya. "Adeeva, masuk ke kamarmu! Jangan makin mempermalukan Abi!"
"Mempermalukan apa lagi, Bi? Bukannya di mata Abi aku ini memang sudah memalukan?" Adeeva menoleh pada Shaheer. "Dan Anda, Kapten... Anda pikir ini lucu? Anda pikir aku ini barang yang bisa ditukar-tukar karena Anda merasa 'tertantang' untuk membimbingku?"
Shaheer menatap Adeeva tanpa berkedip. "Ini bukan soal tantangan, Adeeva. Ini soal siapa yang saya lihat saat fitting baju kemarin."
"Itu karena aku terpaksa! Aku membantu Kak Adiba supaya dia bisa mengurus visanya ke Mesir tanpa ketahuan Abi. Aku bukan Adiba yang bisa Anda atur-atur. Aku suka hidup bebas, aku suka ke klub bersama Alesha, aku suka memakai baju yang menurut Anda 'kurang bahan'. Hidup Anda itu kaku, penuh aturan, dan perintah. Kita ini seperti air dan minyak, tidak akan pernah bisa menyatu!"
Adeeva kemudian beralih menatap Adiba yang masih terisak di pojok ruangan. "Dan satu hal lagi, Kapten. Dia kakakku. Aku tidak serendah itu untuk mencuri pria yang sudah disiapkan untuk saudara kembarku sendiri. Ambillah Adiba. Dia sempurna untuk pria membosankan seperti Anda."
Shaheer tetap tenang, meski kata-kata Adeeva cukup pedas. "Adiba tidak mencintai saya, dan saya pun tidak bisa memaksakan perasaan pada wanita yang bahkan tidak ingin berada di sini karena pikirannya sudah ada di Mesir. Pernikahan bukan sekadar menjalankan peran sebagai 'anak penurut', Adeeva."
"Cukup!" Abi memukul meja kecil di sampingnya. "Shaheer, jika kamu memang tidak ingin melanjutkan dengan Adiba, maka pertemuan ini selesai. Tapi untuk menikahi Adeeva? Sampai mati pun Abi tidak akan mengizinkan. Abi tidak ingin menyerahkanmu pada wanita yang bahkan tidak tahu cara menghargai dirinya sendiri!"
Kata-kata Abi barusan seperti sembilu yang menyayat hati Adeeva. Ia tahu ayahnya keras, tapi mendengar dirinya disebut 'tidak tahu cara menghargai diri sendiri' di depan orang asing membuat pertahanannya runtuh.
Adeeva tertawa getir, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh juga. "Lihat, Kapten? Bahkan Ayahku sendiri menganggapku sampah. Jadi, berhentilah bertingkah seperti pahlawan yang mau menyelamatkanku."
Adeeva berbalik dan berlari keluar menuju pintu belakang pondok. Ia tidak peduli dengan teriakan Umi yang memanggil namanya. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin.
Di ruang tamu, Jenderal Ali berdiri dan menghela napas panjang. "Arjunka, maafkan kelancangan putraku. Sepertinya kita semua butuh waktu untuk berpikir. Shaheer, kita pulang sekarang."
Shaheer tidak membantah. Namun, sebelum ia melangkah keluar, ia menatap Adiba yang masih menunduk. "Adiba, pergilah ke Mesir. Kejar mimpimu. Jangan biarkan pernikahan yang dipaksakan ini membunuh masa depanmu. Saya yang akan bicara pada Abi-mu pelan-pelan."
Setelah keluarga Jenderal Ali pergi, rumah utama itu terasa sunyi dan dingin. Abi terduduk lemas di kursinya, sementara Adiba mendekat dan bersimpuh di kaki ayahnya.
"Maafkan Adiba, Bi... Adiba yang meminta Adeeva menggantikan Adiba di butik. Ini semua salah Adiba," tangis Adiba pecah.
Abi nya hanya diam, menatap kosong ke arah pintu. Sementara itu, di luar gerbang pesantren, Adeeva sedang duduk di pinggir jalanan yang gelap, mencoba menghubungi Alesha. Namun, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depannya.
Kaca jendela turun, memperlihatkan wajah Revian Alfie yang tampak kacau. "Sudah puas akting jadi anak pesantrennya, Deeva? Masuk ke mobil. Kita harus bicara."
Adeeva menatap Revian, lalu menoleh ke arah pesantren yang kini terasa seperti penjara baginya. Di saat yang sama, ia melihat mobil dinas Shaheer melintas perlahan di jalan raya, seolah-olah sedang mencari keberadaannya.
Adeeva berada di persimpangan. Antara mantan kekasih yang posesif, keluarga yang membuangnya, atau seorang Kapten yang ingin menariknya ke dunia yang penuh aturan.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...