Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 19 : KEBANGKITAN SANG SINGA TUA DAN PEMBERSIHAN DINASTI
Pagi di lantai VVIP Rumah Sakit Medika Utama terasa begitu dingin, bukan hanya karena pengaturan AC yang disetel maksimal untuk menjaga kesterilan ruangan, tetapi karena ketegangan yang menggantung di udara. Bau karbol dan obat-obatan yang menyengat seolah-olah menjadi saksi bisu atas drama kehidupan yang sedang berlangsung di balik pintu kayu jati kamar nomor 101.
Di dalam ruangan itu, Papa Arkatama—sang singa tua yang beberapa hari lalu tampak begitu ringkih dan tak berdaya—kini duduk bersandar pada tumpukan bantal sutra. Meskipun selang oksigen masih terpasang tipis di bawah hidungnya, matanya tidak lagi sayu. Ada binar otoritas yang kembali menyala, sepasang mata yang telah melewati puluhan krisis ekonomi dan pengkhianatan bisnis.
Anya Clarissa duduk di samping ranjang, jemarinya yang lentik sedang mengupas sebuah apel merah dengan sangat hati-hati, memastikan kulitnya terkelupas dalam satu helai panjang tanpa putus. Sementara itu, Devan berdiri mematung di dekat jendela besar yang menghadap ke jalanan Gatot Subroto yang macet. Ia terus menatap layar tabletnya, namun pikirannya jelas tidak berada pada grafik saham yang sedang fluktuatif.
"Anya," suara Papa Arkatama terdengar parau, memecah kesunyian yang mencekam.
Anya segera meletakkan pisau buahnya dan menggenggam tangan pria tua itu. Tangan yang tadinya dingin kini mulai terasa hangat. "Iya, Papa? Ada yang sakit? Mau Anya panggilkan suster?"
Papa menggeleng perlahan, sebuah senyum tipis yang sarat akan makna menghiasi bibirnya. "Papa sudah melihat semuanya. Kemarin... saat Papa terbangun sejenak dan melihat televisi, Papa melihat istrimu berdiri di depan ratusan wartawan. Dia melindungi namamu, Devan. Dia melindungi keluarga ini dengan cara yang bahkan Papa sendiri mungkin tidak sanggup lakukan."
Devan berbalik, menatap ayahnya dengan rasa bersalah yang masih membekas. "Pa, aku benar-benar minta maaf soal—"
"Sudahlah," potong Papa dengan lambaian tangan. "Kontrak itu adalah kesalahan besar yang lahir dari ketakutan. Tapi melihat bagaimana Anya bertarung untukmu kemarin... Papa tahu, takdir punya cara yang unik untuk memperbaiki kesalahan manusia. Sekarang, simpan permintaan maafmu. Kita punya tamu yang harus segera kita beri 'pelajaran'."
Tepat saat Papa Arkatama menyelesaikan kalimatnya, pintu kamar didorong dengan kasar. Bunyi debuman pintu yang menghantam dinding seolah menjadi genderang perang. Om Bram, adik bungsu Papa Arkatama, melangkah masuk dengan gaya angkuh, diikuti oleh Rico yang tampak penuh kemenangan, dan dua orang pria bertubuh tegap dengan tas koper kulit hitam—pengacara sewaan mereka.
"Wah, Kak Arka sudah bangun? Sungguh keajaiban medis!" seru Om Bram dengan suara yang terlalu keras untuk ukuran ruang perawatan ICU. "Tapi sayang, Kak. Bangunmu kali ini hanya untuk menyaksikan keruntuhan anak kesayanganmu ini."
Rico maju ke depan, mengeluarkan sebuah alat perekam digital dan meletakkannya di atas meja makan pasien. "Om Arka, dengarkan ini baik-baik. Suara Hendra, orang yang paling tahu busuknya rencana istrimu ini."
Suara rekaman itu berputar, berisi fitnah keji Hendra yang mengklaim bahwa Anya-lah yang merancang skenario hutang agar bisa menjerat Devan dalam pernikahan kontrak dan memeras harta keluarga Arkatama. Anya hanya bisa berdiri dengan tubuh gemetar karena marah, namun ia tetap diam, menunggu instruksi dari Papa.
"Sudah dengar, Kak? Menantumu ini adalah ular berbisa! Devan sudah melanggar aturan keluarga dengan membawa penipu masuk ke rumah kita. Demi menyelamatkan saham Arkatama, Devan harus dicopot dari jabatannya sekarang juga!" teriak Om Bram sambil menyodorkan setumpuk dokumen pemecatan.
Papa Arkatama menarik napas panjang. Ia perlahan melepaskan selang oksigennya, gerakannya sangat tenang namun memancarkan aura yang membuat Rico dan Om Bram mendadak terdiam.
"Bram..." suara Papa Arkatama rendah, namun bergema dengan otoritas yang mematikan. "Kamu pikir aku membangun perusahaan ini selama empat puluh tahun dengan mata tertutup?"
Papa menekan sebuah tombol di samping ranjangnya. Tidak sampai sepuluh detik, pintu kamar kembali terbuka dan empat orang pria bertubuh raksasa dengan seragam hitam masuk. Mereka adalah tim keamanan elit Arkatama yang dipimpin oleh Kapten Dirga, mantan anggota pasukan khusus.
"Apa-apaan ini, Kak?!" Om Bram mulai panik.
"Aku sudah tahu kamu melakukan penggelapan dana di cabang Singapura sejak lima tahun lalu, Bram. Aku hanya diam karena aku pikir kamu akan berubah," Papa Arkatama menatap adiknya dengan tatapan menghina. "Dan Rico... kamu pikir aku tidak tahu kamu yang membayar Hendra untuk mencuri dokumen itu dari studio Anya? Kapten Dirga sudah memegang rekaman CCTV dan bukti transfernya."
Wajah Rico berubah pucat pasi dalam seketika. "Itu... itu fitnah!"
"Bawa mereka keluar," perintah Papa Arkatama tanpa ampun. "Serahkan mereka ke pihak kepolisian. Dan pastikan mereka tidak pernah lagi memiliki akses ke aset keluarga Arkatama. Mulai detik ini, kalian bukan lagi bagian dari keluarga ini!"
Terjadi aksi tarik-menarik yang dramatis. Rico mencoba memberontak, ia mengayunkan tangannya untuk memukul salah satu penjaga, namun dengan satu gerakan teknis yang sangat cepat, Kapten Dirga memelintir tangan Rico ke belakang hingga terdengar bunyi 'krek' yang membuat Rico menjerit kesakitan. Om Bram yang mencoba lari juga segera diringkus. Mereka diseret keluar lorong VVIP di depan mata para perawat dan pengunjung yang terbelalak.
Setelah suasana kembali tenang, pintu kamar terbuka lagi. Kali ini, Mama Arkatama masuk dengan langkah riang, membawa sebuah tas belanja besar bermerek perlengkapan bayi yang sangat terkenal. Wajahnya yang kemarin sembap kini cerah ceria seolah tidak ada masalah apa pun.
"Nah! Sekarang pengganggu sudah dibuang ke tempat sampah, saatnya kita bicara hal yang benar-benar penting!" seru Mama Arkatama dengan semangat yang menular.
Anya dan Devan saling pandang, mereka tahu "bahaya" yang lebih besar baru saja datang.
"Papa sudah konsultasi dengan dokter spesialis," ucap Papa Arkatama sambil menyandarkan kepalanya dengan senyum misterius yang membuat Devan merinding. "Katanya, pemulihan Papa akan 200% lebih cepat jika Papa punya... tujuan hidup baru."
"Tujuan apa, Pa? Mau ekspansi ke pasar Eropa?" tanya Devan mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Bukan! Cucu!" seru Mama Arkatama sambil mengeluarkan baju bayi kecil berwarna biru laut dengan motif jangkar. "Mama sudah tidak sabar, Anya! Lihat ini, bajunya lucu sekali kan? Mama beli sepuluh pasang tadi pagi!"
Wajah Anya memerah sempurna, ia menunduk dalam-dalam sambil memainkan jari-jarinya. "Tapi Ma... kami kan baru saja... maksud saya, situasinya masih belum stabil."
"Justru karena tidak stabil, kalian harus segera punya anak agar saham perusahaan terkunci atas nama kalian!" sahut Papa Arkatama dengan logika bisnisnya yang tak terbantahkan. "Papa beri penawaran: Papa akan hapus semua catatan kontrak konyol itu dari memori Papa, asalkan dalam waktu dekat kalian memberi kabar bahagia. Kalau tidak, Papa akan sumbangkan koleksi jam tangan mewah Devan ke museum!"
"Pa! Itu pemerasan!" Devan protes, meski ia sebenarnya menahan tawa.
Mama Arkatama mengeluarkan sebotol cairan kental berwarna emas gelap. "Ini madu khusus dari pedalaman hutan Kalimantan, kiriman dari relasi Papa. Katanya, satu sendok setiap malam bisa membuat stamina pria sehebat singa dan wanita sesubur tanah sawah. Devan, Anya, ayo minum sekarang!"
"Ma, ini di rumah sakit! Malu dilihat suster!" bisik Devan sambil mencoba menyembunyikan botol itu di balik vas bunga.
"Mama lihat ya! Jangan coba-coba dibuang!" Mama Arkatama terus mengejar Devan mengelilingi ranjang Papa, sementara Papa Arkatama tertawa terbahak-bahak sampai batuk-batuk kecil.
Anya akhirnya terpaksa meminum satu sendok madu itu yang rasanya sangat aneh—manis, pedas, sekaligus pahit. "Ugh... Ma, ini rasanya seperti ramuan penyihir."
"Itu namanya jamu cinta, Sayang!" balas Mama Arkatama puas.
Di tengah tawa dan kekonyolan itu, Devan perlahan mendekati Anya. Di bawah meja, ia menggenggam tangan istrinya dengan sangat erat. Ia menatap Anya dengan tatapan yang sangat dalam, sebuah janji tanpa kata bahwa pernikahan ini bukan lagi soal hutang atau kontrak.
"Siap untuk proyek baru, Nyonya Arkatama?" bisik Devan di telinga Anya, membuat bulu kuduk Anya meremang. "Kali ini bukan mendesain taman, tapi mendesain masa depan kita."
Anya menyandarkan kepalanya di bahu Devan, tersenyum dengan air mata haru yang menggenang. "Mari kita kerjakan bersama, Tuan CEO."
Malam itu, di dalam kamar yang hangat oleh kasih sayang keluarga, mereka menyadari bahwa badai terbesar telah berlalu. Namun, mereka juga tahu bahwa tantangan menjadi orang tua dan mengelola imperium Arkatama baru saja dimulai. Di luar, bintang-bintang Jakarta tampak bersinar lebih terang, seolah-olah semesta akhirnya merestui dua jiwa yang dipertemukan oleh tekanan, namun dipersatukan oleh cinta sejati.