NovelToon NovelToon
SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:273
Nilai: 5
Nama Author: hai el

Arsa Kalandra — pria 30 tahun yang bekerja sebagai story archaeologist: ia dibayar keluarga untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang telah meninggal, menyusun kepingan memori menjadi sebuah warisan. Ia hidup di dalam cerita orang lain sementara hidupnya sendiri membeku sejak enam tahun lalu.
Wren Amara — perempuan 27 tahun, pengisi suara buku audio yang diam-diam memiliki kanal anonim bernama "Suara Asing" — tempat ia membacakan surat-surat cinta usang yang ia temukan di toko barang antik. Jutaan orang mendengarkan suaranya, tapi tak ada yang tahu wajahnya. Ia jatuh cinta pada penulis surat-surat itu, seseorang yang menulis untuk "Langit" — nama yang tak pernah bisa ia temukan.
Yang tidak mereka tahu: surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah terkirim dari adik Arsa yang sudah tiada.
Dan ketika Arsa ditugaskan merekonstruksi kisah hidup seseorang yang ternyata terhubung dengan adiknya — mereka bertemu.
Dua orang yang sama-sama hidup di antara suara-suara masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hai el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LANGIT YANG PERTAMA

Namanya Kirana.

Dua puluh delapan tahun. Tinggal di Yogyakarta. Bekerja sebagai guru SD kelas empat. Suaranya di telepon tenang dengan cara seseorang yang sudah memikirkan percakapan ini berulang kali sebelum ini terjadi.

"Saya dan Raka bertemu di kelas bahasa Inggris privat," katanya. "Kami sama-sama ikut kursus di tempat yang sama, berbeda tingkat tapi kadang ada sesi gabungan." Suara yang sudah menyiapkan ceritanya dengan hati-hati tapi tidak dingin. "Itu tahun pertama Raka kuliah. Saya sudah semester tiga."

"Berapa lama kalian berteman?" tanya Wren — karena Arsa ada di sebelahnya mendengarkan lewat speaker, tapi mereka sepakat Wren yang bicara karena Kirana sudah mengenal suara Wren dari podcast.

"Satu tahun lebih sedikit. Sebelum ia pindah ke komunitas fotografi dan kami mulai jarang ketemu." Jeda kecil. "Raka adalah orang yang aneh dalam artian terbaik. Ia tidak banyak bicara tapi ketika ia bicara, apa yang ia katakan selalu terasa seperti sesuatu yang sudah ia pikirkan lama." Nada yang hangat masuk ke suaranya. "Ia memberi saya nama Langit karena ia bilang saya sering terlihat seperti sedang memikirkan hal yang sangat jauh tapi tetap hadir. Seperti langit yang ada di mana-mana tapi tidak pernah bisa dipegang."

Arsa menutup mata sebentar di sebelah Wren.

"Dan surat yang ia kirimkan," kata Wren hati-hati. "Kapan itu?"

"Sekitar tiga bulan sebelum ia meninggal. Surat fisik — dikirim ke alamat kos saya waktu itu. Tidak ada penjelasan sebelumnya, tidak ada peringatan, hanya surat." Suara Kirana berubah menjadi sesuatu yang lebih lembut. "Ia menulis bahwa ia sedang belajar cara mengatakan hal penting langsung. Dan surat itu adalah latihan pertamanya."

Latihan pertamanya.

Arsa membuka matanya dan menatap Wren. Wren menatap balik. Dalam tatapan itu ada pengakuan tentang sesuatu yang baru saja menjadi lebih lengkap — gambaran tentang Raka yang selama ini seperti puzzle dengan beberapa kepingan tersisa, dan satu kepingan baru saja ditempatkan.

"Isi suratnya," kata Wren. "Kalau Kirana bersedia berbagi."

"Raka bilang boleh." Suara Kirana dengan nada yang mengatakan bahwa itu sudah ia putuskan jauh sebelum telepon ini. "Ia menulis tentang satu tahun berteman dengan saya. Tentang hal-hal kecil yang ia perhatikan — cara saya menjelaskan sesuatu yang sulit dengan cara yang membuat semuanya terasa tidak menakutkan, cara saya tidak pernah memotong orang di tengah kalimat. Ia bilang bahwa berteman dengan saya adalah tempat ia pertama kali belajar bahwa hadir itu bisa dipelajari, bukan hanya bakat." Jeda. "Dan di bagian akhir ia bilang — saya masih ingat kalimat ini persis karena saya baca berkali-kali — 'Terima kasih sudah jadi tanda bahwa hal yang baik bisa datang tanpa harus dipaksa atau dikontrol. Kamu adalah bukti bahwa aku bisa menjadi seseorang yang lebih baik dari yang aku kira.'"

Wren diam.

Arsa diam.

"Saya menangis baca itu," kata Kirana dengan nada yang tidak malu mengakuinya. "Lalu saya tulis balasan dan kirim ke alamat kos-nya. Tidak dibalas." Suaranya tidak getir — lebih seperti seseorang yang sudah berdamai dengan sesuatu yang tidak bisa diubah. "Baru sebulan kemudian saya dengar dari teman bersama bahwa ia sudah tidak ada."

Hening yang panjang.

"Kirana," kata Wren akhirnya. "Terima kasih sudah menghubungi kami. Dan terima kasih sudah menjaga surat itu."

"Terima kasih sudah menjaga kata-kata Raka," balas Kirana. "Waktu saya dengar podcast itu pertama kali — jauh sebelum tahu itu Raka — saya langsung merasa ada yang familiar. Cara ia menyusun kalimat. Tapi saya pikir itu hanya perasaan saja." Suara senyum tipis. "Ternyata bukan."

"Ternyata bukan," ulang Wren.

"Raka itu — ia sangat ingin jadi seseorang yang bisa bergerak lebih dulu. Yang tidak menunggu terlalu lama. Saya rasa surat ke saya adalah bagian dari latihan itu." Suara Kirana pelan tapi bukan sedih. "Saya harap ia tahu bahwa latihannya berhasil. Surat itu sampai. Dan artinya baik untuk saya lebih lama dari yang ia mungkin bayangkan."

---

Setelah telepon berakhir, Arsa dan Wren duduk diam di studio kecil itu.

Cukup lama.

Arsa yang bicara pertama: "Raka berhasil."

"Raka berhasil," ulang Wren.

"Ia berlatih kepada Kirana. Dan mungkin setelah itu ia berencana bergerak juga kepada Dito." Suaranya tidak retak tapi ada ketebalan di dalamnya. "Hanya tidak sempat."

"Tapi ia berhasil sekali." Wren menatapnya. "Dan berhasil sekali bukan kegagalan. Itu awal."

Arsa menatap langit-langit studio. Foam panel abu-abu yang sudah sangat ia kenal. "Raka menulis di surat terakhirnya — ini surat terakhir yang aku tulis tanpa mengirim. Setelah ini, aku akan bilang langsung. Ia sudah memulai itu. Surat ke Kirana sudah terkirim."

"Ya."

"Ia sudah bergerak." Arsa menunduk. "Hanya tidak ada waktu untuk selangkah lagi."

Wren menggerakkan tangannya ke tangan Arsa yang ada di meja. Tidak menggenggam erat — hanya meletakkan, ada.

"Selangkah lagi sudah cukup untuk membuat Kirana merasa dikenal selama empat tahun setelah ia pergi," kata Wren. "Itu bukan kecil, Arsa."

Ia menatap tangan Wren di atas tangannya.

"Tidak," katanya. "Sama sekali tidak kecil."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!