NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.

Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 - Tatapan Merendahkan

Suasana aula semakin ramai seiring bertambahnya tamu yang datang, suara percakapan saling bertaut tanpa saling menutupi, dan denting gelas sesekali terdengar dari berbagai sudut ruangan. Lampu kristal di langit-langit memantulkan cahaya yang bergerak mengikuti langkah orang-orang, sementara musik lembut menjaga ritme malam tetap teratur tanpa menjadi pusat perhatian.

Di tengah semua itu, Alyssa masih berdiri di dekat meja minuman dengan sikap yang sama seperti sebelumnya, tidak terlihat tergesa dan tidak pula berusaha menyesuaikan diri dengan suasana yang lebih ramai. Gaun putih tulangnya tetap sederhana di antara warna-warna gelap dan gemerlap di sekitarnya, membuat keberadaannya kontras dengan cara yang sulit diabaikan oleh mata yang terbiasa mencari sesuatu yang berbeda.

Beberapa tamu yang baru datang mulai memperhatikan, sebagian karena mendengar bisikan sebelumnya, sebagian lagi karena rasa ingin tahu yang muncul begitu melihat seseorang yang tidak mengikuti pola umum di tempat itu. Tatapan mereka tidak selalu terang-terangan, namun cukup lama untuk menunjukkan bahwa Alyssa telah menjadi bagian dari pembicaraan yang terus bergerak di antara kelompok-kelompok kecil.

Di sisi lain ruangan, sekelompok wanita sosialita berdiri lebih rapat dari sebelumnya, suara mereka tetap pelan namun jelas memiliki arah yang sama saat membicarakan sesuatu yang menarik perhatian bersama. Salah satu dari mereka sedikit mendekat ke yang lain, menutup sebagian mulutnya seolah menjaga rahasia yang sebenarnya sudah diketahui semua orang di lingkaran itu.

“Itu dia?”

“Iya.”

“Aku dengar dia masuk menggantikan posisi kakaknya.”

Salah satu wanita menghela napas pelan, lalu mengangkat alis dengan ekspresi yang setengah heran dan setengah meremehkan.

“Seharusnya mereka bisa memilih lebih baik.”

Yang lain tersenyum tipis, matanya masih tertuju pada Alyssa dari kejauhan.

“Pilihan itu tidak selalu tentang siapa yang terbaik.”

“Tapi setidaknya… sepadan.”

Percakapan itu berlanjut dengan nada yang tidak berubah, semakin lama semakin jelas arah penilaiannya meskipun tetap dibungkus dengan cara yang terlihat sopan. Beberapa orang di sekitar mereka mulai ikut mendengar, lalu tanpa sadar ikut menoleh ke arah yang sama.

Alyssa berdiri tanpa bergerak dari tempatnya, jarinya tetap menggenggam gelas dengan ringan, dan bahunya tidak menunjukkan ketegangan meskipun suara-suara itu semakin mudah ditangkap. Ia tidak perlu mendengar setiap kata secara utuh untuk memahami maksudnya, karena nada dan arah pembicaraan sudah cukup jelas untuk menjelaskan semuanya.

Ia tidak menoleh ke arah suara itu, tidak pula berusaha mencari siapa yang berbicara, seolah semua itu hanyalah bagian dari kebisingan yang tidak memiliki tempat dalam perhatiannya. Sikap itu tidak dibuat-buat, melainkan muncul dengan sendirinya, dan justru itu yang membuat beberapa orang mulai merasa tidak nyaman.

---

Cassandra masih berdiri di tempatnya, namun kini perhatiannya lebih terfokus daripada sebelumnya, tidak lagi sekadar mengamati dari jauh melainkan mencoba memahami sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspektasinya. Ia memperhatikan bagaimana Alyssa tidak menunjukkan tanda-tanda terpengaruh, padahal situasi yang terjadi jelas tidak menguntungkan baginya.

“Aneh,” katanya pelan tanpa mengalihkan pandangan.

Ibu Daren melirik sekilas, lalu kembali melihat ke arah yang sama, mencoba menangkap apa yang dimaksud oleh Cassandra tanpa perlu dijelaskan lebih lanjut.

“Kamu terlalu memikirkan hal kecil.”

Cassandra menggeleng pelan, matanya sedikit menyipit seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak terlihat di permukaan.

“Bukan itu. Dia seperti tidak peduli sama sekali.”

Ibu Daren tersenyum tipis, namun tidak langsung memberi jawaban, karena ia juga melihat hal yang sama meskipun tidak mengakuinya dengan terbuka.

“Biarkan saja. Orang seperti dia tidak akan bertahan lama di tempat seperti ini.”

Cassandra menarik napas ringan, lalu mengangguk kecil, seolah menerima jawaban itu meskipun pikirannya belum sepenuhnya sejalan.

“Kalau begitu, aku ingin melihat sampai sejauh mana dia bisa tetap seperti itu.”

Ia melangkah maju tanpa terburu-buru, namun cukup jelas untuk menarik perhatian beberapa orang yang sudah mengikuti arah pembicaraan sejak tadi. Gerakannya terukur, seolah setiap langkah sudah diperhitungkan untuk menciptakan momen yang tepat.

---

Alyssa menyadari kehadiran itu sebelum benar-benar berhenti di depannya, bukan karena suara langkahnya, melainkan karena perubahan kecil dalam suasana di sekitarnya. Ia menoleh dengan gerakan yang tidak tergesa, cukup untuk melihat Cassandra berdiri di hadapannya dengan senyum yang sama seperti sebelumnya.

“Sepertinya kamu semakin menarik perhatian,” kata Cassandra, nadanya ringan namun memiliki lapisan lain yang tidak disembunyikan.

Alyssa menatapnya tanpa perubahan ekspresi yang berarti, tidak menunjukkan rasa penasaran ataupun keberatan terhadap apa yang dikatakan.

“Kalau begitu, itu bukan sesuatu yang bisa saya atur.”

Jawaban itu keluar tanpa tekanan, seolah ia hanya menyampaikan sesuatu yang sederhana tanpa maksud tambahan.

Cassandra memiringkan kepala sedikit, memperhatikan lebih dekat, mencoba menemukan celah yang bisa dimasuki dalam percakapan itu.

“Aku rasa sebagian perhatian itu tidak terlalu menyenangkan.”

Alyssa mengangkat gelasnya, menyesap sedikit sebelum menjawab dengan nada yang tetap sama.

“Tidak semua hal harus menyenangkan.”

Beberapa orang di sekitar mulai diam, memperhatikan percakapan itu dengan lebih serius daripada sebelumnya, karena arah pembicaraan mulai terasa berbeda dari sekadar sindiran biasa.

Cassandra tersenyum lagi, namun kali ini lebih tipis.

“Kamu tidak mencoba menghindarinya.”

Alyssa menggeleng pelan.

“Tidak ada yang perlu dihindari.”

Cassandra melangkah sedikit ke samping, menciptakan posisi yang membuat mereka lebih terlihat oleh orang-orang di sekitar, seolah sengaja memperjelas kontras yang sejak awal sudah menjadi pusat perhatian.

“Kalau begitu, bagaimana menurutmu tempat ini?”

Pertanyaan itu terdengar ringan, namun jelas memiliki maksud yang lebih dalam dari sekadar basa-basi.

Alyssa melihat sekeliling sekilas, lalu kembali pada Cassandra.

“Seperti yang seharusnya.”

Jawaban itu singkat, namun cukup untuk menghentikan arah pertanyaan yang ingin dibangun.

Cassandra terdiam beberapa detik, mencoba menyesuaikan kembali pendekatannya, karena respons yang ia dapatkan tidak membuka ruang untuk permainan yang lebih jauh.

“Kamu tidak berusaha menjadi bagian dari ini.”

Alyssa menatapnya.

“Saya sudah berada di sini.”

Kalimat itu sederhana, namun memiliki arti yang tidak bisa diputarbalikkan.

Beberapa orang saling melirik, karena jawaban itu tidak memberi ruang untuk merendahkan ataupun meninggikan, melainkan menempatkan Alyssa pada posisi yang tidak mudah digeser.

---

Di sisi lain ruangan, Daren masih memperhatikan tanpa mengalihkan perhatian ke hal lain, meskipun beberapa orang mencoba mengajaknya berbicara. Ia hanya merespons seperlunya, karena fokusnya tetap tertuju pada Alyssa dan bagaimana situasi itu berkembang.

Ia melihat bagaimana Cassandra mencoba mengarahkan percakapan, dan bagaimana Alyssa tidak mengikuti arah tersebut, bukan dengan cara menolak secara terang-terangan, melainkan dengan tidak memberi celah sejak awal.

Perubahan itu terasa jelas baginya, karena ia pernah melihat sisi lain dari Alyssa yang lebih diam tanpa arah, lebih seperti seseorang yang menahan diri daripada memilih untuk tidak terlibat.

Sekarang, sikap itu berbeda, tidak keras dan tidak pula defensif, namun memiliki batas yang tidak mudah ditembus.

Daren mengernyit sedikit, mencoba memahami apa yang berubah, namun tidak menemukan jawaban yang langsung bisa ia pegang.

---

Cassandra akhirnya menarik napas ringan, menyadari bahwa percakapan itu tidak akan berkembang seperti yang ia rencanakan. Ia masih tersenyum, menjaga kesan yang sama di hadapan orang-orang yang memperhatikan, meskipun jelas bahwa ia tidak mendapatkan hasil yang diinginkan.

“Kamu menarik,” katanya, nada suaranya tetap terjaga.

Alyssa tidak memberikan respons tambahan, hanya menatap sekilas sebelum kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain, seolah percakapan itu memang sudah selesai.

Cassandra berbalik tanpa terburu-buru, kembali ke arah Ibu Daren, meninggalkan suasana yang perlahan kembali normal meskipun bisikan belum sepenuhnya hilang.

“Istri pengganti.”

“Tidak sebanding.”

“Namun dia tidak terlihat terpengaruh.”

Kali ini, nada yang muncul tidak hanya berisi penilaian, tetapi juga sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan dengan kata-kata sederhana.

Alyssa meletakkan gelasnya di meja dengan gerakan yang tenang, lalu berdiri tanpa mengubah sikapnya sedikit pun, seolah semua yang terjadi hanyalah bagian kecil dari malam yang akan berlalu seperti biasa.

Daren masih memperhatikannya dari kejauhan, dan di tengah semua yang terjadi, satu hal menjadi semakin jelas dalam pikirannya, meskipun ia belum mengakuinya secara langsung.

Alyssa tidak mencoba melawan siapa pun, dan ia juga tidak berusaha membuktikan apa pun kepada siapa pun, namun justru karena itu, tidak ada satu pun yang benar-benar bisa menjatuhkannya dengan cara yang sederhana.

1
sutiasih kasih
km sll merendhkn Alyssa tentang mnempatkn diri....
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
sutiasih kasih
ketika km sadar n haluanmu brubah....
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
sutiasih kasih
daren.... smpe kpan km pura"... & lelet dlm mngambil sikap...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
sutiasih kasih
org lain boleh bebas berkeliaran bhkn bebas mngatur layaknya menantu...
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
sutiasih kasih
mnunggu saat allysa mundur & prgi dri daren...
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
sutiasih kasih
msa iya rmh horang kaya raya... g ada cctv di setiap sudut rumah....
🤔🤔
@RearthaZ
kak aku sudah baca dan like, semua chapternya, boleh tolong bantuannya juga ya kak untuk like dan baca cerita baru ku (aku baru pemula hehehe) boleh 'CEK PROFIL KU' ya kak... nama judul ceritanya "MENIKAHI DUKE MISTERIUS"
@RearthaZ
lanjutin kak
@RearthaZ
aku mampir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!