Di balik senyumnya yang tenang, Arumi menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Pernikahannya dengan Ardi hanya tinggal formalitas. Demi puteri kecilnya, Kayla, Arumi bertahan.
Segalanya berubah ketika ia bertemu seorang psikiater muda, Dimas, yang baru saja bekerja di klinik psikiatri Dokter Arisa langganannya.
Dimas yang tenang dan hangat selalu membuat Arumi merasa didengar. Di ruang konsultasi yang seharusnya penuh batas, justru tumbuh perasaan yang tak diundang.
Tanpa Arumi sadari Kayla, puteri kecilnya yang cerdas, melihat semuanya. Ia tahu ibunya tidak bahagia. Ia juga tahu, ada cahaya berbeda di mata ibunya setiap kali pulang dari pertemuan dengan Mas Dokter —panggilan akrab Kayla pada Dimas.
Apakah perasaan Arumi pada Dimas yang tumbuh di ruang konsultasi hanya sebatas pelarian? Ataukah rumah yang selama ini Arumi rindukan?
Simak kisah selengkapnya dalam Mengejar Cinta Mas Dokter untuk Mama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyuman Pelipur Lara
Satu minggu berlalu tanpa ada perubahan yang berarti dalam rumah tangga Arumi dan Ardi. Masih sama —komunikasi seperlunya, tak ada perhatian, berperan seperti biasa.
Pagi itu, seperti biasa, setelah mengantarkan Kayla ke sekolah, Arumi bergegas menuju klinik Dokter Arisa. Dimas meminta Arumi untuk kembali datang minggu berikutnya.
Arumi merasakan perasaan aneh sejak pertemuannya dengan Dimas —yang secara kebetulan— di mini market dekat rumahnya. Seperti pagi ini, Arumi bahkan bersenandung sejak pagi. Entah karena apa. Tiba-tiba saja dia merasa bahagia mengingat hari ini adalah hari konsultasi rutin ke klinik Dokter Arisa.
Senyum ramah Lia selalu menyapa Arumi saat memasuki klinik.
"Silakan duduk dulu, Bu," kata Lia setelah selesai mendaftarkan Arumi ke dalam sistem rekam medis klinik.
"Hari ini, Dokter Arisa ada, Mbak?" tanya Arumi ragu-ragu. Lia tersenyum.
"Ada, Bu. Bu Arumi mau lanjut konsultasi sama Dokter Dimas atau Dokter Arisa?" tanya Lia pada Arumi menawarkan. Arumi menaikkan kedua alisnya mendengar tawaran itu.
"Emang bisa ganti dokter gitu, Mbak?" tanya Arumi.
"Bisa, Bu. Kami mengutamakan kenyamanan pasien saat berkonsultasi agar mendapatkan penanganan yang tepat," jelas Lia, ramah.
Arumi sedikit bingung. Ada perasaan ingin kembali bertemu Dimas, tapi ada juga perasaan tak enak jika harus meminta ganti dokter dari Dokter Arisa ke Dokter Dimas.
"Pagi, Dok," sapa Lia pada Dimas yang baru saja memasuki klinik. Arumi menoleh.
"Pagi, Lia. Pagi, Bu Arumi," balas Dimas ramah.
"Pagi, Dok,"
"Mba- eh, Dokter Arisa udah dateng?" tanya Dimas pada Lia.
"Belum, Dok," jawab Lia.
"Kalo gitu, Bu Arumi sama saya aja, gimana, Bu?" tanya Dimas menawarkan.
"Eh?"
"Ah, maaf. Maksud saya, daripada Ibu nunggu Dokter Arisa, kalo sama saya bisa langsung mulai," kata Dimas.
"Oh. I-iya, Dok," kata Arumi.
"Mari, silakan," ajak Dimas sambil berjalan menuju ruang konsultasi.
"Silakan, Bu," kata Dimas sambil menaruh tas dan membuka jaket lalu menggantungnya dan memakai jas dokter terapis yang tersedia di ruangan.
Arumi duduk di kursi konseling menunggu dan mengamati Dimas. Jarak usia mereka mungkin tak begitu jauh. Tapi, Arumi merasakan aura kedewasaan Dimas melebihi dirinya maupun Ardi.
"Bagaimana kabar Ibu hari ini?" tanya Dimas lembut ketika dia sudah duduk di kursi kerjanya.
"Eh? Baik, Dok," kata Arumi sedikit terkejut. Dimas tersenyum.
"Syukurlah. Kayla?" tanya Dimas. Arumi tersenyum.
"Dia selalu sehat, alhamdulillah," kata Arumi.
"Lalu, bagaimana dengan kabar suami Ibu?" tanya Dimas perlahan. Wajah Arumi yang semula terlihat cerah seketika berubah mendung.
"Dia... baik... alhamdulillah..." jawab Arumi perlahan.
"Apakah Ibu belum mencoba bicara dari hati ke hati dengan suami perihal ketakutan Ibu?" tanya Dimas. Arumi menggeleng pelan.
"Kemarahan suami saya setahun yang lalu, cukup berdampak pada diri saya," kata Arumi setelah cukup lama terdiam.
"Itu pertama kalinya dia begitu marah selama pernikahan kami," lanjut Arumi sambil memeluk dirinya sendiri, ngeri mengingat bagaimana kemarahan Ardi satu tahun yang lalu.
"Padahal, hal itu bisa dibicarakan baik-baik, tak perlu semarah itu," tutup Arumi. Dimas bersandar di sandaran kursi kerjanya.
"Sepertinya, Ibu dengan tidak sadar membangun jarak karena ketakutan Ibu," jelas Dimas. Arumi menoleh ke arah Dimas, menatapnya dengan tatapan bingung.
"Ibu tanpa sadar memperkecil melakukan kesalahan dengan membangun jarak antara Ibu dan suami," lanjut Dimas. Arumi tertunduk, menatap cincin pernikahan di jari manis tangan kirinya.
"Dan itu adalah cara Ibu melindungi diri Ibu agar kejadian setahun yang lalu tidak terulang lagi," tutup Dimas. Arumi masih tenggelam dalam pikirannya, mencerna setiap perkataan Dimas yang memang terasa benar.
Arumi mencoba menahan diri karena tanpa dia sadari, bayangan kemarahan Ardi satu tahun yang lalu ternyata meninggalkan luka yang besar dalam hatinya.
"Bu Arumi," panggil Dimas sambil beranjak dari kursinya. Arumi menoleh, menatap Dimas yang sedang berjalan ke arahnya.
"Bu Arumi, silakan duduk yang rileks," kata Dimas sambil duduk di kursi dekat kursi konseling. Arumi mengikuti instruksi Dimas dengan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi konseling.
"Tarik nafas perlahan lewat hidung. Ya, begitu. Hembuskan perlahan lewat mulut. Ya, sekali lagi, Bu. Lebih dalam. Keluarkan perlahan. Bagus," tuntun Dimas yang akan memulai sesi hipnoterapi.
"Usahakan seluruh tubuh Ibu rileks, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Yak, begitu, lepaskan semua ketegangan yang Ibu rasakan," kata Dimas. Dimas dapat melihat tubuh Arumi mulai sedikit melemas.
"Baik. Sekarang, coba Ibu tutup mata," kata Dimas. Arumi menutup mata perlahan.
"Bayangkan, Ibu berada di tempat yang membuat Ibu merasa aman. Bisa tempat favorit Ibu, taman, atau pantai," kata Dimas sambil mengamati Arumi.
"Di tempat itu... Ibu bebas menjadi diri sendiri. Tidak ada tuntutan, tidak ada kewajiban. Hanya Ibu seorang diri," Dimas melanjutkan sesi hipnoterapinya.
Hening sesaat. Dimas mengamati reaksi Arumi.
"Apa yang Bu Arumi rasakan disana?" tanya Dimas setelah nafas Arumi terlihat teratur.
"Tenang, Dok," jawab Arumi. Dimas tersenyum.
"Bagus. Pertahankan perasaan itu, Ibu. Biarkan perasaan itu mengalir, memenuhi seluruh tubuh Ibu," kata Dimas.
Kembali hening. Dimas memberi ruang Arumi untuk merasakan ketenangan yang mungkin selama ini telah hilang darinya.
"Sekarang, dari tempat aman Ibu itu, coba lihat diri Ibu di kehidupan nyata," kata Dimas masih melanjutkan sesi hipnoterapinya.
"Bagaimana Ibu di kehidupan nyata?" tanya Dimas. Bulir airmata Arumi perlahan mengalir dari sudut matanya yang masih terpejam.
"Kesepian... Sendirian..." jawab Arumi, sedikit terisak.
"Bu Arumi, Ibu tidak sendiri lagi sekarang," kata Dimas dengan lembut. Arumi masih terlihat terisak.
"Sekarang, coba bayangkan Ibu dapat memeluk diri Ibu sendiri, beri apa yang selama ini tidak Ibu dapatkan," kata Dimas. Arumi terlihat menggerakkan kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri.
"Coba katakan, 'Aku harus berani'," kata Dimas.
Hening sesaat. Dimas memberi waktu pada Arumi sampai dia siap.
"Aku... harus... berani," kata Arumi pelan.
"Coba katakan sekali lagi, Bu,"
"Aku harus... berani,"
"Baik, sekali lagi,"
"Aku harus berani,"
Dimas tersenyum.
"Sekarang, coba Ibu katakan, 'Aku berhak bahagia'," kata Dimas.
"Aku... berhak... bahagia,"
"Sekali lagi, Bu,"
"Aku berhak bahagia,"
"Bagus," kata Dimas sambil tersenyum.
"Perasaan itu, perlahan, akan Ibu bawa kembali ke kehidupan Ibu, sedikit demi sedikit," kata Dimas. Suaranya begitu lembut dan menenangkan.
Hening sesaat.
"Baik. Sekarang, tarik nafas lagi dalam-dalam. Yak. Dan saat Ibu sudah siap, buka mata Ibu perlahan," kata Dimas.
Arumi membuka mata perlahan. Masih ada sisa airmata di sudut matanya. Dia menatap Dimas yang tersenyum ke arahnya. Untuk pertama kalinya —setelah sekian lama— dia merasa... benar-benar tenang. Senyum hangat dan lembut Dimas entah mengapa begitu mendamaikan hatinya saat itu.
'Dokter... Apa senyuman itu... hanya untuk ku saja? Atau... semua pasien mendapatkannya juga?'
***