NovelToon NovelToon
GODDESS AGAINST FATE

GODDESS AGAINST FATE

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: XING YI

​Tiga puluh ribu tahun peperangan berakhir dengan kehancuran Alam Dewa. Lin XingYu, sang Dewa Primordial terakhir, harus mengorbankan 99% basis kultivasinya demi memukul mundur sembilan Iblis Agung. Di ambang kematian, ia melintasi dimensi untuk mencari penerus dan menemukan Ling Xinyue—seorang gadis bumi berusia 16 tahun yang tengah menghitung detik terakhir hidupnya akibat kanker otak.

​Kini, dengan jiwa manusia yang rapuh dalam raga dewi tercantik di jagat raya, Xinyue harus memulai perjalanan mustahil sejauh 50.000 mil menuju Pulau Warisan. Bersama Lian Yue, sang Merak Bulan Es, ia harus belajar menguasai kekuatan yang sanggup mengguncang semesta sebelum para Iblis Agung bangkit kembali. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup dari penyakit, ini tentang menaklukkan takdir para dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon XING YI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5:Meninggalkan Kota Awan

​Kembali ke Kota Awan saat fajar menyingsing, Chen Lin tidak menuju ke gerai perdagangan resmi yang megah.

Tempat itu terlalu banyak diawasi oleh mata-mata sekte. Sebaliknya, ia menuju ke Pasar Gelap Sisi Barat, sebuah area di mana pertanyaan jarang diajukan dan transaksi dilakukan dengan cepat.

​Suasana pasar ini penuh dengan asap dupa dan gumaman rendah para praktisi yang menutupi wajah mereka dengan jubah.

Chen Lin berhenti di depan sebuah kios yang dipenuhi dengan tengkorak monster dan botol-botol ramuan berwarna keruh.

Pemiliknya adalah seorang pria tua bungkuk dengan satu mata yang tertutup selaput putih.

​"Taring Serigala Kristal. Lima pasang. Satu inti pemimpin," Chen Lin meletakkan bungkusan kainnya di atas meja kayu yang berminyak.

Suaranya tetap rendah, berat, dan tenang, mempertahankan karakter pemuda desa yang waspada.

​Pria tua itu menyentuh taring tersebut, lalu menarik tangannya dengan cepat saat merasakan sisa hawa dingin yang masih membekas. Ia menatap Chen Lin dengan mata sehatnya yang menyipit.

​"Pemurnian yang bersih. Tidak ada kerusakan fisik, semua energinya terkunci di dalam," gumam si penjaga kios.

"Siapa pun yang membunuh ini... dia memiliki kendali elemen es yang sangat halus."

​"Berapa?" potong Chen Lin singkat, tidak ingin memperpanjang percakapan.

"Dua puluh keping perak untuk semuanya. Dan sepuluh keping lagi untuk inti pemimpinnya," si tua itu menawarkan harga yang sebenarnya agak rendah, namun Chen Lin tahu itu adalah harga keamanan agar identitasnya tidak diusik.

​"Tiga puluh lima perak, dan tambahkan satu peta detail wilayah pegunungan di utara," tawar Chen Lin dengan nada yang tidak menerima penolakan.

​Si tua itu terdiam sejenak, merasakan tekanan Spiritual yang samar namun mengancam dari pemuda di depannya. Akhirnya, ia mengangguk dan mengeluarkan sekantung kecil koin serta gulungan perkamen kusam.

​"Kau punya bakat, Nak. Jangan biarkan dirimu mati terlalu cepat di pegunungan itu," bisik si tua saat Chen Lin mengambil uangnya.

​Chen Lin tidak menjawab. Ia menyimpan koin-koin itu ke dalam kantong di balik bajunya.

Dengan tiga puluh lima keping perak, ia kini memiliki cukup uang sakul untuk menyewa penginapan yang layak dan membeli bahan-bahan dasar untuk memperkuat fisiknya sebelum memulai tahap Marrow Purification.

​Saat ia melangkah keluar dari pasar gelap, matahari pagi mulai menyinari atap-atap kota. Chen Lin menarik capingnya lebih rendah.

Di tengah hiruk-pikuk manusia yang mulai memulai hari, tidak ada yang menyadari bahwa pemuda dengan tas penuh koin itu adalah seorang calon penguasa yang sedang menenun takdirnya, satu keping perak demi satu keping perak.

​"Perjalanan yang membosankan telah berakhir," Lin XingYu berkata pelan.

"Sekarang, persiapkan dirimu. Marrow Purification akan terasa seperti tulangmu dihancurkan dan disusun kembali oleh ribuan palu es. Pastikan kau tidak berteriak saat itu dimulai."

​Chen Lin hanya tersenyum tipis, langkahnya mantap menuju penginapan terdekat. Rasa sakit hanyalah teman lama yang sudah ia kenal sejak di Bumi.

Dan di dunia ini, rasa sakit adalah harga dari sebuah keabadian.

Tiga hari berlalu di Kota Awan, namun bagi Chen Lin, setiap detiknya adalah pertempuran sunyi melawan keterbatasan raga fana.

Ia menyewa sebuah kamar penginapan kecil yang terletak di sudut paling sunyi, sebuah tempat yang lebih mirip gudang kayu daripada tempat istirahat.

Di sana, ia menutup setiap celah jendela dengan kain hitam, menciptakan ruang kedap cahaya yang hanya diterangi oleh pendar biru dari Energi Spiritual miliknya.

​Rutinitas Chen Lin dimulai jauh sebelum matahari terbit. Ia duduk bersila di tengah ruangan, membiarkan tubuhnya menjadi pusat pusaran energi yang tenang namun mematikan.

Dengan koin perak yang ia dapatkan dari pasar gelap, ia membeli beberapa botol Cairan Akar Tanah, ramuan pahit yang berfungsi untuk menstabilkan aliran darah saat tekanan energi meningkat.

​Sepanjang hari pertama, Chen Lin tidak makan atau minum. Ia fokus menggunakan Teknik Pembeku Spiritual untuk memperlambat detak jantungnya hingga ke titik terendah yang bisa ditoleransi manusia.

Dalam kondisi 'mati suri' ini, ia memaksa sisa-sisa esensi dewa dari kalung giok untuk meresap lebih dalam ke dalam pembuluh darahnya.

"Jangan biarkan darahmu mengalir terlalu bebas," Lin XingYu memperingatkan dari alam kesadarannya.

"Tekan dia.Buat darahmu sepadat merkuri. Hanya dengan tekanan ekstrem, kotoran fana yang tersembunyi di sudut terkecil nadimu bisa dipaksa keluar."

​Keringat dingin bercampur cairan keruh berwarna abu-abu mulai merembes dari pori-porinya sisa-sisa racun duniawi yang masih tertinggal.

Di akhir hari pertama, Chen Lin merasa tubuhnya sangat ringan, namun fondasi Blood Purification tingkat 6 miliknya masih terasa seperti bendungan yang penuh sesak.

Pada hari kedua, Chen Lin mulai mencampurkan latihan fisik ke dalam meditasi energinya. Di ruang sempit itu, ia memanifestasikan Teknik Bayangan Tubuh Pedang.

Bayangan spiritualnya muncul, bergerak dengan kecepatan kilat, melakukan gerakan-gerakan bela diri tingkat tinggi yang diinstruksikan oleh Lin XingYu.

​Setiap kali bayangan itu bergerak, Chen Lin yang asli harus menyuplai energi secara konstan tanpa memutus fokus pemurnian darahnya.

Ini adalah latihan mental yang menyiksa.

Otaknya terasa seperti terbakar, sementara tubuhnya tetap sedingin es.

​Lian Yue duduk di sudut kamar, matanya yang tajam memantau setiap fluktuasi energi.

Jika aura Chen Lin mulai menjadi tidak stabil, merpati es itu akan melepaskan sedikit uap dingin untuk membantu menenangkan gejolak spiritual di ruangan tersebut.

​Malam itu, Chen Lin mencapai titik jenuh. Darahnya tidak lagi berwarna merah biasa, ada kilatan perak yang mengalir di dalamnya, tanda bahwa ia telah menyentuh batas akhir dari tingkat 6.

​Hari ketiga adalah puncaknya. Chen Lin meminum seluruh botol ramuan sisa dan menutup matanya rapat-rapat.

Ia bisa merasakan hambatan di dalam tubuhnya sebuah dinding tak kasat mata yang memisahkan tingkat 6 dan 7.

Di dunia luar, praktisi biasa mungkin butuh waktu satu hingga tiga tahun untuk meruntuhkan dinding ini, tapi Chen Lin tidak punya waktu sebanyak itu.

​"Ledakkan sekarang!" perintah Lin XingYu dengan suara yang menggelegar di dalam pikiran Chen Lin.

​Chen Lin menarik seluruh Energi Spiritual yang tersisa di udara kamar itu, lalu mengarahkannya langsung ke jantungnya.

Rasa sakitnya luar biasa, seolah-olah ada naga es yang mencoba mencabik-cabik dadanya dari dalam. Pembuluh darah di keningnya menonjol, dan kulitnya menjadi separah pualam yang retak.

BUM!

​Sebuah denyutan kuat menyebar dari pusat tubuhnya, menghancurkan meja kayu di dekatnya menjadi serpihan kecil.

Aura dingin yang luar biasa tajam meledak keluar, membekukan seluruh permukaan lantai kamar penginapan tersebut.

​Chen Lin tersungkur, napasnya memburu, mengeluarkan uap putih yang tebal.

Namun, di bawah rasa lelahnya, ia merasakan kekuatan baru yang mengalir deras. Darahnya kini bergerak dengan ritme yang lebih lambat namun membawa kekuatan yang jauh lebih masif.

Setiap tetes darahnya kini mengandung esensi yang sanggup membekukan luka secara instan.

​Blood Purification Tingkat 7.

​Ia telah melampaui fase menengah dari ranah pertama. Kini, ia bukan lagi praktisi tingkat rendah biasa.

Di tingkat 7, ia telah memperoleh kemampuan untuk sedikit memanipulasi suhu udara di sekitarnya tanpa perlu merapal mantra penuh.

​Chen Lin berdiri perlahan, membersihkan kotoran yang keluar dari tubuhnya dengan satu getaran energi.

Wajah pemuda desa nya kini tampak sedikit lebih tajam, meski tetap tersembunyi di balik penyamaran.

"Tingkat 7 dalam tiga hari... tidak buruk untuk seseorang yang memulai dari nol di daratan ini," Lin XingYu berkomentar, nada suaranya menunjukkan sedikit kepuasan.

"Tapi ingat, semakin tinggi kau mendaki, semakin kuat musuh yang akan mencium keberadaanmu. Sekarang, pergilah. Kamar ini sudah terlalu 'dingin' untuk tidak memancing kecurigaan."

​Chen Lin melirik lantai yang membeku dan meja yang hancur. Ia meletakkan beberapa keping perak tambahan di atas tumpukan kayu rusak sebagai ganti rugi, lalu menarik capingnya rendah-rendah.

​Langkah pertamanya sebagai praktisi tingkat 7 dimulai saat ia membuka pintu kamar.

Kota Awan di luar sana masih sama sibuknya, namun bagi Chen Lin, dunia kini terasa sedikit lebih lambat, sedikit lebih mudah untuk dikendalikan.

Perburuannya untuk mencapai Marrow Purification kini memiliki pondasi yang jauh lebih kokoh.

​Matahari pagi di Kota Awan tampak seperti kepingan emas yang memudar, tertutup oleh kabut tipis yang menyelimuti atap-atap bangunan kayu.

Bagi penghuni kota ini, fajar adalah awal dari hiruk-pikuk pencarian kepingan perak, namun bagi Chen Lin, ini adalah saat untuk membuang debu kota dari jubahnya.

Dengan Blood Purification Tingkat 7 yang kini mengalir tenang namun perkasa di dalam nadinya, aura Chen Lin terasa lebih selaras dengan alam, seolah-olah ia adalah bagian dari angin dingin yang berembus dari pegunungan utara.

Ia meninggalkan penginapan tanpa menoleh ke belakang. Di bahunya, Lian Yue bertengger dengan tenang, menyembunyikan kilatan matanya yang tajam di balik sayap yang menyusut.

Tujuan mereka adalah Kota Qīngchú, sebuah kota metropolis praktisi yang terletak tiga hari perjalanan ke arah utara.

Kota itu dikenal sebagai pusat perdagangan obat-obatan spiritual tingkat tinggi tempat di mana bahan-bahan untuk Marrow Purification bisa ditemukan, jika seseorang memiliki cukup uang dan keberanian.

​Di pinggiran kota, Chen Lin menyewa sebuah kereta kuda pribadi. Bukan karena ia ingin pamer, melainkan karena ia butuh kesunyian untuk terus mengasah Energi Spiritual nya selama perjalanan.

Kereta itu ditarik oleh dua ekor kuda Lari Angin yang memiliki stamina luar biasa. Saat roda kayu mulai berputar meninggalkan gerbang kota, Chen Lin menyandarkan punggungnya pada dinding kereta yang kasar, membiarkan guncangan jalanan menjadi ritme bagi meditasinya.

​Perjalanan hari pertama dan kedua berlangsung dalam keheningan yang puitis.

Kereta itu membelah hutan pinus yang rimbun, di mana sinar matahari menembus celah dedaunan seperti pedang cahaya yang menghujam bumi.

Chen Lin menghabiskan waktunya dengan melatih aliran Energi Spiritual di setiap inci jalur Spiritual nya.

Di bawah bimbingan Lin XingYu yang sesekali terbangun dari kalung giok, ia belajar untuk tidak hanya mengalirkan energi, tetapi juga 'menenun' nya.

"Darahmu adalah tinta, dan nadimu adalah kertasnya," Lin XingYu berbisik, suaranya terdengar seperti denting harpa perak di dalam pikiran Chen Lin.

"Seorang kultivator hebat tidak hanya menghancurkan, ia menciptakan harmoni di tengah kekacauan. Jika kau bisa membuat Energi Spiritualmu mengalir sepelan embun namun seberat gunung, maka kau telah memahami esensi dari kekuatan sejati."

​Chen Lin menutup matanya, mencoba mengikuti instruksi tersebut. Ia memaksakan Energi Spiritual esnya untuk berputar di sekitar jantungnya dengan kecepatan yang sangat lambat, hingga suhu di dalam kereta turun drastis dan kristal es mulai terbentuk di jendela kayu.

Ia merasa seolah-olah jiwanya sedang menari di atas tepi jurang yang membeku berbahaya, namun indah.

​Namun, kedamaian itu hanyalah selingan singkat dalam dunia yang penuh dengan niat membunuh.

​Pada sore hari ketiga, saat kereta memasuki lembah sempit yang diapit oleh tebing batu yang curam, kuda-kuda tiba-tiba meringkik ketakutan.

Kereta berhenti dengan benturan yang keras. Bau amis darah dan aroma Spiritual yang tidak murni tercium tajam di udara.

​"Tikus-tikus tanah mulai bermunculan," Lin XingYu berkomentar datar, seolah keberadaan mereka hanyalah gangguan kecil bagi pandangannya.

​Chen Lin membuka matanya. Pupil peraknya berkilat di balik bayangan caping bambu. Ia turun dari kereta dengan gerakan yang tenang, hampir malas.

Di hadapannya, tujuh orang pria dengan pakaian hitam yang compang-camping telah menutup jalan.

Mereka memegang senjata yang memancarkan pendar energi spiritual yang tidak stabil pertanda bahwa mereka adalah praktisi liar yang mencapai kekuatan melalui cara-cara kasar.

​Pemimpin mereka adalah seorang pria bertubuh raksasa dengan kapak besar di bahunya. Auranya menunjukkan bahwa ia berada di Blood Purification Tingkat 6, sementara anak buahnya bervariasi antara tingkat 4 dan 5.

​"Serahkan semua barang berhargamu, Nak, termasuk burung cantik di bahumu itu," si raksasa tertawa, suaranya bergema di dinding lembah.

"Jika kau patuh, mungkin aku akan membiarkanmu hidup untuk menjadi pelayan di markas kami."

Chen Lin tidak menjawab. Ia hanya menatap debu yang beterbangan di bawah kakinya.

Suasana lembah ini terasa ternoda oleh kehadiran mereka. Di matanya, mereka bukanlah ancaman, melainkan hambatan yang tidak estetis dalam perjalanannya menuju keabadian.

​"Burung ini tidak menyukai tangan yang kotor,"

Suara Chen Lin terdengar jernih, membawa getaran dingin yang membuat udara di sekelilingnya membeku secara instan.

​Tanpa peringatan, dua bandit tingkat 4 melesat maju, pedang mereka membara dengan energi spiritual api tingkat rendah.

Mereka mengira jumlah dan elemen mereka bisa menekan pemuda di depan mereka.

​Namun, Chen Lin tidak bergerak. Ia hanya menghentakkan kaki kanannya ke tanah.

"Teknik Pembeku Spiritual".

Gelombang dingin yang tak terlihat merambat melalui tanah lebih cepat dari kedipan mata.

Kedua bandit itu tiba-tiba berhenti di tengah jalan, kaki mereka terpaku pada tanah yang membeku secara instan.

Sebelum mereka sempat berteriak, hawa dingin itu merambat ke atas, membekukan aliran darah mereka.

Pedang api mereka meredup dan hancur menjadi serpihan kecil karena kontraksi suhu yang ekstrem.

​"Sial! Dia bukan praktisi biasa! Habisi dia!" teriak Pemimpin mereka sambil mengayunkan kapaknya.

Empat bandit lainnya menyerang secara bersamaan dari berbagai arah. Di saat itulah, Chen Lin melepaskan Teknik Bayangan Tujuh Pedang.

​Tubuhnya seolah-olah membelah menjadi dua. Bayangan spiritualnya, yang memancarkan cahaya perak redup, melesat ke arah kiri, sementara Chen Lin yang asli bergerak ke arah kanan.

Gerakan mereka begitu sinkron, layaknya pantulan di atas cermin air yang tenang.

​Bayangan Chen Lin menebas dengan telapak tangan yang dilapisi es, menghancurkan senjata lawan hanya dengan satu sentuhan.

Sementara itu, Chen Lin yang asli bergerak di antara para bandit seperti daun yang tertiup angin tak tersentuh, tak terduga.

Ia tidak menggunakan kekuatan kasar, Ia hanya menyentuh titik-titik meridian lawan dengan ujung jarinya yang dingin.

Setiap sentuhan membawa esensi es yang sanggup menghentikan detak jantung.

Dalam waktu kurang dari sepuluh tarikan napas, empat bandit tingkat 5 itu telah tersungkur, tubuh mereka kaku dengan lapisan embun beku yang menyelimuti seluruh kulit mereka.

​Kini, hanya tersisa sang pemimpin raksasa. Wajahnya yang tadi penuh kesombongan kini berubah menjadi pucat pasi.

Ia menyadari bahwa tingkat 6 miliknya tidak ada artinya di depan pemuda yang tampaknya berada di tingkat yang sama atau sedikit lebih tinggi ini.

Kepadatan Energi Spiritual Chen Lin berada pada level yang berbeda seperti membandingkan air sungai dengan bongkahan es abadi.

​"T-Tunggu... siapa kau sebenarnya? Kau bukan pemuda desa!" si raksasa mundur selangkah, kapaknya gemetar.

​Chen Lin melangkah maju, setiap pijakannya meninggalkan jejak es di atas tanah lembah yang gersang.

"Aku adalah pengembara yang sedang mencari ketenangan. Dan kau... kau baru saja merusaknya."

Ia mengayunkan kapaknya ke arah kepala Chen Lin dengan kecepatan penuh.

​Chen Lin hanya mengangkat satu tangan. Ia menangkap mata kapak itu dengan telapak tangannya yang telanjang.

​CRACK!

​Bunyi es yang membeku terdengar sangat nyaring di lembah yang sunyi itu. Kapak baja yang tebal itu seketika tertutup lapisan es biru tua dan retak menjadi ribuan kepingan kecil yang jatuh ke tanah seperti hujan kristal.

Si raksasa tertegun, menatap tangannya yang kini juga mulai membeku.

​"Jalan kultivasi adalah jalan menuju keheningan," bisik Chen Lin tepat di depan wajah pria itu.

"Biarkan duniamu menjadi tenang selamanya."

Dengan satu dorongan lembut pada dada pria itu, seluruh raga si raksasa membeku secara total. Ia tidak lagi bernapas, tidak lagi bergerak menjadi sebuah monumen ketakutan yang akan berdiri di lembah ini sampai matahari menghancurkannya.

Chen Lin menarik kembali seluruh energinya. Bayangan spiritualnya menghilang, menyatu kembali ke dalam tubuhnya.

Suhu di lembah itu perlahan naik, namun sisa-sisa kristal es masih berkilauan di bawah cahaya sore, memberikan pemandangan yang aneh dan puitis di tengah tumpukan mayat yang membeku.

​Ia tidak mengambil barang apa pun dari para bandit itu. Baginya, barang-barang milik mereka hanyalah sampah yang akan mengotori tangannya.

Ia kembali ke kereta kuda, di mana sang kusir masih gemetar ketakutan di bawah kursi kemudi.

​"Lanjutkan perjalanan," perintah Chen Lin tenang.

Kereta kuda itu kembali bergerak, meninggalkan lembah sunyi yang kini memiliki tujuh patung es baru sebagai penghuninya.

Lian Yue kembali berkicau pelan, membersihkan bulunya yang seputih salju seolah-olah pertempuran tadi hanyalah hiburan sore yang membosankan.

​Matahari mulai tenggelam di cakrawala, mewarnai langit dengan warna ungu dan merah, sangat mirip dengan warna Energi Spiritual yang mengalir di dalam tubuh Chen Lin.

Di kejauhan, lampu-lampu dari Kota Qīngchú mulai terlihat, berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke bumi.

Chen Lin menatap ke luar jendela, pikirannya sudah melampaui kota yang akan ia tuju. Ia merasakan bahwa ambang Blood Purification Tingkat 8 sudah sangat dekat.

Dan di kota besar itu, ia tidak hanya akan mencari obat, tapi juga mulai membangun reputasi yang meski tersembunyi di balik nama Chen Lin akan mulai mengguncang fondasi Alam Bawah.

​"Dunia ini mulai memperhatikanmu, Chen Lin," suara Lin XingYu terdengar penuh makna.

"Pastikan kau memberikan pertunjukan yang tidak akan pernah mereka lupakan."

​Chen Lin tersenyum tipis, matanya mencerminkan cahaya bintang yang mulai muncul di langit malam.

Perjalanan menuju takhta dewa baru saja dimulai, dan darah yang membeku di lembah tadi hanyalah tinta pertama yang menuliskan namanya dalam sejarah keabadian.

"Kota Qīngchú, Aku datang!. "

1
Milk Lk
udh nabung 2 minggu lebih gas momentum walau cuman 20 chapter, semangat terus thor up nya
Milk Lk
Wah bagus sih ini, gas next chpter tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!