Ghazali Atharrazka adalah perwujudan dari presisi dan kedinginan yang sempurna. Sebagai Kapten termuda dengan rekam jejak tanpa celah, hidupnya diatur oleh jam dinding dan hukum militer yang kaku. Baginya, kesalahan adalah aib dan kecerobohan adalah gangguan yang harus dimusnahkan. Dia adalah pria dengan tatapan sedingin es yang mampu membungkam satu batalion hanya dengan satu kata.
Lalu hadir seorang bernama Keyra Azzahra
Seorang mahasiswi tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi dari kata chaos, Sebuah insiden memaksa mereka tinggal di bawah atap yang sama di lingkungan barak. Di antara derap sepatu laras dan aroma mesiu, mampukah si mahasiswi perusuh mencairkan hati sang Kapten yang membeku? Ataukah markas ini akan meledak karena ulah Keyra yang selalu di luar kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEMANDANGAN PAGI YANG BERBAHAYA
Fajar menyingsing di balik kabut tebal yang masih menyelimuti markas setelah badai semalam. Suara kicau burung hutan bersahutan dengan deru mesin yang masih bekerja keras. Di dalam paviliun, suasana masih sangat tenang, sampai sebuah alarm nyaring dari ponsel Keyra memecah keheningan.
---
Keyra mengerang, meraba-raba nakas dengan mata setengah tertutup. "Ziva... matikan alarmnya," gumamnya parau. Namun, saat tangannya menyentuh permukaan kayu yang asing dan sangat rapi, ia tersentak bangun.
"Oh, iya. Aku di rumah Kapten Kulkas," batinnya sambil mengucek mata.
Rasa haus yang mencekat tenggorokan membuatnya beranjak dari tempat tidur. Dengan rambut yang sedikit berantakan dan masih mengenakan piyama kuning bermotif bebek, Keyra berjinjit keluar kamar menuju dapur. Ia berusaha tidak menimbulkan suara agar tidak membangunkan sang pemilik rumah yang ia duga masih terlelap.
Namun, saat melewati pintu kaca yang menuju ke teras belakang paviliun, langkah Keyra terhenti total. Matanya membelalak, dan botol minum yang ia pegang hampir saja terlepas.
Di sana, di bawah cahaya matahari pagi yang masih kebiruan, Ghazali sedang melakukan pull-up di palang besi tua. Ia tidak mengenakan atasan. Keringat membasahi punggungnya yang lebar, mengalir di antara lekuk otot-otot yang terbentuk sempurna karena latihan bertahun-tahun. Setiap kali ia mengangkat tubuhnya, otot-otot di lengannya menegang, menciptakan pemandangan yang sangat maskulin dan mengintimidasi.
Keyra menelan ludah. Sebagai mahasiswi kedokteran, ia sudah sering melihat atlas anatomi tubuh manusia. Tapi melihat "spesimen" hidup di depannya ini, rasanya jauh berbeda.
"Satu... dua... tiga..." suara napas Ghazali terdengar berat dan beraturan.
Keyra terpaku, otaknya seolah berhenti berfungsi selama beberapa detik. Ia memperhatikan bagaimana otot pria itu bekerja dengan sinkron.
"Sudah puas kuliah anatomisnya, Nona?"
Suara berat Ghazali tiba-tiba memecah lamunan Keyra. Ghazali melompat turun dari palang besi, mendarat dengan ringan di atas rumput yang masih basah. Ia berbalik, menyeka keringat di wajahnya dengan handuk kecil yang tersampir di bahunya.
Keyra terlonjak, wajahnya langsung memerah padam sampai ke telinga. "I-itu... saya cuma... mau ambil minum! Saya tidak sengaja lihat!"
Ghazali berjalan mendekati pintu kaca, membuat Keyra refleks mundur beberapa langkah. "Lain kali, gunakan matamu untuk melihat jalan, bukan untuk mengaudit otot orang lain."
"Siapa juga yang mengaudit! Saya cuma memastikan... em, postur tubuh Kapten sudah simetris secara medis!" bantah Keyra dengan nada bar-barnya yang mulai kembali, meski jantungnya masih berdegup kencang.
Ghazali masuk ke dalam paviliun, aroma keringat dan sabun maskulinnya langsung memenuhi ruangan yang sempit itu. Ia menatap piyama bebek Keyra dari atas ke bawah dengan tatapan datar.
"Ganti pakaianmu. Sepuluh menit lagi kita ke ruang makan pusat untuk sarapan. Tidak ada keterlambatan, atau kamu akan saya hukum lari keliling lapangan bersama para prajurit baru," ucap Ghazali dingin, meski ada kilatan tipis di matanya yang seolah geli melihat tingkah kikuk Keyra.
"Siap, Kapten Kaku!" seru Keyra sambil berlari kecil kembali ke kamarnya, hampir saja menabrak pintu.
Ghazali menatap kepergian Keyra, lalu tanpa sadar sudut bibirnya terangkat sedikit sangat tipis hingga hampir tak terlihat. Kehadiran gadis ceroboh ini ternyata jauh lebih menarik daripada rutinitas militernya yang membosankan.
Tiba-tiba, suara deru mobil terdengar di depan paviliun. Sebuah mobil mewah yang sangat asing di markas militer itu berhenti tepat di depan pintu.
"Ghazali! Kamu di dalam?"
Suara wanita yang tinggi dan melengking itu membuat ekspresi Ghazali kembali mengeras. Sosok yang seharusnya tidak muncul di sini, apalagi di pagi buta setelah badai, kini berdiri di depan pintunya.
Keyra yang baru saja hendak mengganti baju, mengintip dari balik pintu kamar. "Siapa lagi itu?" gumamnya penasaran.
keyra...
Bastian...
yudha....
kamu dimana....