Bukankah menikah adalah sebuah ladang ibadah ? Lalu kenapa ibadah yang seharusnya mendapatkan pahala justru bak di neraka ? Semua berawal dari kesalah pahaman yang tidak berdasar hingga berubah menjadi sebuah tragedi yang hampir menenggelamkan rumah tangga yang bahkan pondasinya saja masih sangat rapuh.
Mampukah mereka bertahan ataukah malah karam di hantam ombak besar?
Kisah kembar Azzam dan Azima , di mana seharusnya cinta itu sudah berlabuh di dermaga tapi harus terlunta dan terapung di tengah lautan luas menunggu datangnya pertolongan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30 : Ayyazh yang usil
Indonesia.
" Jika tidak menjadi bagian dari keluarga Brawijaya, Asya tidak akan pernah mendapatkan kasih sayang yang melimpah seperti yang Abi dan umi berikan ."
Kalimat itu terus terngiang di telinga A. Abi Zayn rupanya perlu untuk memberitahukan A tentang kelembutan hati Annasya.
Tatapannya kini terfokus ke meja makan . Ia baru saja keluar dari ruangan abi Zayn dan mendapati Annasya tengah duduk menjaga sepiring nasi goreng yang di minta A sekitar sejam lalu.
Seulas senyum terurai dari bibir A, lalu menghampiri Annasya .
Annasya tidak serta merta menyuruh A duduk dan menikmati makanannya. Ia justru memindai wajah dan seluruh tubuh A.
Melihat tatapan penasaran itu, A tidak mampu menahan gelak. " Tenang saja, Abi tidak memukul ku." Ujar A merentangkan tangan dan berputar ke kiri dan ke kanan, meyakinkan Annasya bawah dia baik baik saja.
Annasya menghela nafas lega. " Alhamdulillah. " Ucapnya di sertai senyuman manis.
" Jadi, boleh aku duduk. Aku sudah sangat lapar. " Ijin A pada Annasya.
" Oh_ iya, silahkan. "
Mereka duduk berhadapan, A menikmati sepiring nasi goreng itu dengan perasaan bahagia.
" Ini enak sekali. " Puji nya.
" Terima kasih."
" Kamu tidak makan?"
" Tadi sudah. "
" Aku habiskan, ya ? "
Annasya mengangguk sembari tersenyum .
" Mmm_ apa yang Abi katakan ? "
A menyimpan sendoknya. Nampaknya, Annasya memang memiliki adab dan sopan santun di atas rata rata. Ia bertanya tepat setelah A menghabiskan nasi goreng nya. Suasana hati A bisa saja berubah dan hilang selera makan jika pertanyaan itu lebih dulu Annasya lontarkan.
" Dia menyuruhku menjaga mu ."
" Itu saja ? "
A mengangguk di sertai senyuman manis.
Usai makan , keduanya kembali ke kamar.
A duduk bersandar kan headboard ranjang , macbook yang selalu di katakai Azima jelek , duduk manis di pangkuan nya. Sementara itu , Annasya baru saja keluar dari kamar mandi.
Melihat Annasya menghampiri, A menyimpan macbook nya. Harapan A, Annasya akan naik ke tempat tidur dan berbaring di sebelahnya. Sayang, harapan itu tinggal harapan. Annasya menarik sebuah bantal . " Istirahatlah, kamu pasti sangat lelah. Aku akan tidur di sofa."
Annasya berjalan ke arah sofa, di belakang, A mengangkat tangannya ,sebuah kalimat sudah berada di ujung lidah ingin menahan Annasya untuk tetap tidur di ranjang bersamanya. Tapi, kalimat itu sulit sekali keluar dari mulutnya.
Akhirnya, lampu padam dan mereka tidur terpisah. Annasya sudah terlelap. Sedangkan A , meski sangat lelah , ia tidak bisa memicingkan mata walau sedetik. Selain punggung Annasya di temaram cahaya yang menjadi pemandangan netranya, ada juga bunyi jam berdetak yang menandai waktu demi waktu berlalu tanpa ada yang bisa dia lakukan untuk mencoba dekat dengan sang istri.
Ia membuka macbook , melanjutkan pencariannya di sebuah aplikasi ternama. ' cara melakukan pendekatan dengan wanita. '
Ya, dia melanjutkan setelah tadi sempat terhenti karena Annasya datang menghampiri. Jadi sebenarnya, dia tidak sedang benar benar bekerja , tapi menjadikan pekerjaan sebagai kamuflase belaka.
*
*
Dubai .
Setelah kehilangan permennya , Azima kembali ke kamar, ia harus membersihkan tubuh dan beristirahat. Besok adalah hari yang panjang untuk memulai aktifitas .
Azima bersenandung kecil, ia berjalan santai ke arah walk in closet, berencana menyiapkan pakaian yang akan dia pakai sebelum tidur.
Walk in closet itu memiliki pintu yang di geser ke samping, dan begitu Azima membukanya , " Akh......."
Azima berteriak kencang. Bagaimana tidak, di dalam sana, ada Ayyazh yang bertelanjang dada, memperlihatkan tubuh kotak kotak sedikit berbulu di bagian dada.
Ayyazh yang mendengar teriakan itu pun turut terkejut. Refleks , ia mendatangi dan menutup mulut Azima menggunakan satu tangan besar nya. Karena gerakan Ayyazh cukup kuat, Azima hampir terjatuh ke belakang.
Sekarang, tidak ada jarak di antara mereka, tubuh Ayyazh menempel sempurna di tubuh Azima. Otomatis, Azima mencari pegangan untuk menjaga keseimbangan, dan lengan Ayyaz lah yang menjadi sasaran.
Pun Ayyazh demikian, demi menjaga bobot tubuhnya yang berat agar tidak menimpa Azima, Ayyazh mendorong tubuh Azima hingga mentok di dinding .
Mata bulat Azima menatap sempurna wajah Ayyazh.
" Kau mengagetkanku." Ucap Ayyazh melepas kan tangan nya dari mulut Azima.
Azima membeku sesaat. " Kau_ apa yang kamu lakukan di sini ? "
" Aku ? Menurut mu ? "
" Hei, Ini kamar ku . "
" Kamar mu ? Siapa yang bilang ? " Ayyazh tersenyum samar, mata elang nya tidak bisa lepas dari bibir Azima yang menggoda .
" Aku. Aku baru saja mengatakannya! " Tantang Azima. Ia berusaha sekuat tenaga menahan mata amber nya agar terus menatap wajah tampan ciptaan Tuhan itu. Padahal sebenarnya, ia sudah tidak sanggup. Jantung nya menunjukkan reaksi berlebihan dengan berdetak tidak karuan.
Ayyazh menjitak lembut kening Azima. " Apa kau lupa siapa aku ? Mana mungkin pasangan suami istri tidur di kamar terpisah ? "
Azima masih bisa memegangi keningnya di saat posisi intim itu mempersempit ruang geraknya.
" Lalu selama sebulan ini, kamu di mana ? "
" Oo,,jadi kamu merindukan ku ? " Ayyazh menggigit bibir bawahnya. Menahan hasrat kelelakian yang hampir saja jebol menghanyutkan Azima.
" Eh_ bukan begitu maksud ku."
" Bukan begitu bagaimana. Sepertinya kau memang menunggu ku."
" Tidak. Mana mungkin. Selama ini, hanya pakaian ku yang ada di sini, tidak ada satupun punya mu. Jadi , ya aku pikir, kamar ini khusus untuk ku." Azima terus membela diri.
Ayyazh terkekeh pelan . " Sini. " Ia menarik tangan Azima menuju sebuah kaca besar , ternyata kaca besar itu adalah sebuah pintu dan di belakang pintu itu, Azima menyaksikan sebuah toko pakaian pria yang berada di dalam kamar.
" Apa_apa ini? Kenapa aku tidak tau kalau kaca itu adalah sebuah pintu ? "
" Apa perlu aku pindahkan ke dalam lemari mu ? "
" Tidak, tidak perlu. "
" Ya sudah, ayo tidur. "
( Maksudnya ayo? Dia tidak mungkin mengajakku tidur berdua , kan ?)
" Aku tidak mau! " Azima melipat kedua tangan, menutupi dua bukit kembar yang sangat dia jaga kelestarian nya.
Melihat reaksi Azima, Ayyazh tertawa terbahak-bahak.
" Kenapa kau menutup nya ?"
Azima tidak menjawab, karena dia juga sebenarnya bingung dengan respon kilat yang dia tunjukkan di depan Ayyazh.
( Ini semua gara gara kalimat ambigu mu itu. Main panggil saja. ) Gerutu Azima dalam hati.
" Oh, aku tau. Pasti karena aku mengajak mu tidur , kan ?" Ayyazh kembali menjitak lembut kening Azima. " Jangan terlalu berlebihan, apanya juga yang mau di lihat, rata begitu. Aku tidak nafsu, kau sukarela membuka nya pun, belum tentu aku mau. " Katanya penuh hinaan kemudian berlalu meninggalkan Azima.
Azima mengusap dadanya naik turun. Ucapan istighfar tidak henti henti ia gaungkan.
" Astaghfirullah, sabar, sabar. " Gumam nya.
Netra amber itu menatap pintu walk in closet, tajam seperti seorang pembunuh yang menemukan mangsa dan siap mencabik cabiknya . " Dia pikir dirinya itu tampan, apa? Awas saja kalau dia sampai berani menyentuhku ! Tidak ! Aku harus melapor ke polisi. Ini sudah body shaming, dia sudah berani menghina bentuk tubuh ku . Hei, apa dia buta? Ini besar tau. Susah payah aku merawatnya selama ini." Tambah nya sembari memegang kedua bukit kembarnya.
Amarahnya semakin menjadi jadi kala mengingat sikap nyeleneh Ayyazh padanya.
" Aku heran, kenapa dia suka sekali memukul kepala ku !" Geram nya. " Ough !! " Azima kesal sekali, ia sampai meninju udara berkali kali.
...****************...
persis kaya umi grand ma sami aby grand pa ya kalean ni