Lyodra, bunga desa Wonosobo menanam tanaman herbal langka khas dataran tinggi. Namun, warga desa yang mayoritas petani tembakau tidak menyukainya. Karena tanaman tersebut memiliki manfaat yang membuat orang berpikir negatif. Afrodisiak pada akarnya. Padahal di dunia tehnologi modern, tanaman herbal ini dapat dimanfaatkan sebagai obat anti kanker dan anti bakteri yang berdaya jual tinggi.
Kemarahan warga makin menjadi-jadi setelah mendapati Lyodra bersama pria asing di lumbung desa. Warga menuduh mereka berbuat mesum.
Kesalah pahaman membuat kepala desa terpaksa meminta pria asing itu untuk menikahi Lyodra. Agar tidak mencoreng nama baik Lyodra. Namun, sebuah rahasia malah terkuak.
Rahasia apakah itu? Apakah rahasia itu akan mempengaruhi kisah cinta Lyodra ke depannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss DK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melindungi Bunga Desa
Rombongan emak-emak penggosip dan bapak-bapak tukang nyolot berhenti di depan puskesmas saat berpapasan dengan pria asing dan Lyodra. Mereka berjalan berduaan dengan mesra.
Tentu saja membuat Pak Sewot makin sewot. Hingga giginya gemeletuk menahan emosi.
Sementara itu, Bu Rempong kaget melihat pria asing itu sudah berganti pakaian. Wajah dan lengannya diperban. Berjalan dengan bantuan kruk karena kakinya bengkak besar.
Lyodra juga sudah berpakaian rapi. Rambutnya yang panjang dan basah, sudah setengah kering, tergerai indah, membuat semua orang kembali mengagumi kecantikannya.
"Warga desa, kalian harus berani mengungkap kebenaran dan menegakkan keadilan. Jangan karena melihat pria asing itu terluka parah, nyali kalian jadi ciut dan mengasihani pria asing yang sudah mencemari desa kita." Bu Rempong tidak mau perjuangannya menjatuhkan Lyodra gagal.
Bu Rempong mengerahkan seluruh tenaganya untuk membuat Lyodra dibenci satu desa, terutama Pak Sewot. Agar Pak Sewot mau berpaling dari Lyodra dan melihat dirinya. Tetangga yang sudah mencintainya sejak lama.
Emang kurang apa sih, Bu Rempong? Hidupnya selalu rempong. Mengurusi urusan orang dari yang penting sampai tidak penting agar mata Pak Sewot tertuju padanya. Tapi kenapa Pak Sewot malah memandangnya sebelah mata? Dasar Pak Sewot sudah dibutakan kecantikan Lyodra.
'Lihat saja, Lyodra setelah digunduli dan ditelanjangi keliling desa, apa Pak Sewot masih suka sama Lyodra? Pasti Pak Sewot langsung ilfil,' batin Bu Rempong.
"Ayo, Bapak-Bapak, jangan diam saja melihat kemesraan mereka berdua. Ayo kita telanjangi mereka lalu kita gunduli kepalanya. Ayo, ayo!" Bu Rempong terus mengobarkan semangat main hakim sendiri.
Edward yang mendengar ucapan Bu Rempong langsung menarik Lyodra ke belakang tubuh kekarnya. Melindungi Lyodra jangan sampai jadi bulan-bulanan warga desa.
Edward juga mengangkat kruk besinya untuk menghalau bapak-bapak yang terhasut ucapan Bu Rempong.
Edward mulai mengancam, "Saya tidak main-main ya. Kalau berani mendekat, akan saya pukul sampai babak belur. Jangan salahkan saya jika kepala kalian bocor terhantam tongkat besi. Saya hanya melindungi diri saya sendiri dan Lyodra."
Beberapa bapak-bapak yang merangsek Edward, satu persatu mundur setelah dipukul tongkat besi. Lengan dan kaki mereka lebam mendapat hantaman benda tumpul.
Pak Sewot yang mata gelap tidak terima, dia mundur teratur untuk mengambil peralatan taninya. Sebuah celurit yang sudah berkarat lalu maju lagi menerjang ke arah Edward.
"Pembunuhan! Pembunuhan! Tolong! Tolong! Pak Sewot ingin membunuh kami!" Lyodra berteriak sekeras-kerasnya hingga menarik Dokter Hans dan perawat puskesmas untuk ikut bertindak. Melerai pertikaian yang sudah sepanas api.
Dokter Hans langsung berjalan cepat ke samping Pak Sewot lalu menancapkan jarum suntik bius ke lengan Pak Sewot yang terangkat untuk menebas kepala Edward.
Cusss!
Begitu cairan bius masuk ke pembuluh darah Pak Sewot, tubuhnya perlahan melemah dan jatuh tersungkur di tanah.
Brak! Pak Sewot tumbang.
Perawat segera memberikan suntikan bius yang baru pada Dokter Hans. Kini mereka berempat berkelompok menjadi satu untuk melawan warga desa yang beringas.
"Siapa lagi yang mau disuntik bius? Dosis masih cukup untuk merobohkan kalian bersembilan," ancam Dokter Hans sambil mengacung-acungkan suntikan bius ke arah para warga desa.
"Kurang ajar kamu, Dokter Hans! Kenapa kamu membela Lyodra yang sudah mencemari desa kami? Apa Dokter juga sudah dibutakan oleh kecantikan Lyodra? Lyodra sudah tidak suci lagi, Dok. Dia sudah bikin anak dengan pria asing ini di lumbung desa. Buat apa Dokter terus mengejar-ngejar Lyodra? Lebih baik Dokter cari saja gadis kota yang lebih sederajat dengan Dokter daripada Lyodra si bejat ini," balas Bu Rempong dengan kata-kata yang menusuk hati Lyodra.
Dokter Hans tersentak kaget lalu memandang Lyodra dengan wajah sedih dan kecewa. Ternyata apa yang dikatakan perawat seratus persen benar. Lyodra udah jatuh hati dengan pasien tampannya. Sampai rela dihangatkan oleh pria tampan ini.
"Bu Rempong jangan sembarangan ya! Saya tidak pernah bikin anak dengan Edward. Kami baru saja kenal sejam yang lalu. Bagaimana kami bisa bikin anak sesingkat itu? Tolong ya! Jangan menuduh kami sehina itu," Lyodra membantah dengan keras.
"Halah! Teruskan membela dirimu, Lyodra! Tapi saya tahu benda yang kamu panen hari ini, bisa langsung membuat kalian langsung punya keinginan untuk bikin anak tanpa harus saling mengenal lebih dalam. Afrodisiak begitu diminum langsung greng. Betul kan, Bapak-bapak, Ibu-ibu?" Bu Rempong terus membuat suasana makin kacau.
"Betul, betul, betul!"
"Karena terus bersentuhan dengan benda terlarang itu, kamu jadi nyosor kan begitu lihat pria tampan di sebelahmu? Dan pria tampan itu, mana tahan kamu goda, Lyodra? Body seperti gitar Spanyol dengan pakaian dalam warna hitam, tentu saja pria tampan itu langsung klepek-klepek." Bu Rempong mengompori warga desa.
Wajah Dokter Hans memanas. Dia tak percaya kalau Lyodra dan pasien tampan itu makan tanaman herbal langka yang baru saja dipanen Lyodra hingga berbuat mesum di lumbung desa.
Ya ampun! Di lumbung desa. Tempat umum. Beralas tanah. Saat hujan badai. Oh My God! Apa tidak bisa pilih tempat yang lebih berkelas gitu, biar tidak dipergoki warga desa?
Mata Lyodra panas. Air mata mulai mengenang. Edward yang melihatnya langsung menutup kedua belah daun telinga Lyodra. Agar Lyodra tidak mendengar ucapan Bu Rempong yang makin ngelantur.
"Tuh kan, lihat itu, Dokter. Mereka begitu mesra. Ngapain Dokter masih mengharap cinta Lyodra? Wanita bejat buang saja ke laut, Dok!" Mbok Gosip ikut-ikutan memanasi hati Dokter Hans.
Perlahan Dokter Hans menurunkan suntikan bius dan melemparnya ke dalam mangkuk silver tempat suntikan bius lainnya.
Perawat sampai bingung dengan perubahan sikap Dokter Hans. Kok lebih percaya ucapan Bu Rempong daripada ucapan Lyodra, pujaan hatinya? Pantas saja, Lyodra lebih memilih pasien tampan daripada Dokter Hans.
Dokter Hans kurang gentleman deh!
"Dok, jangan gitu, Dok. Kasihan Dik Lyodra kalau dipermalukan seperti ini, Dok," ucap perawat berusaha menyadarkan Dokter Hans.
Tapi Dokter Hans sepertinya sudah linglung karena ditelikung pasiennya sendiri.
"Ancaman sudah hilang, ayo serbu lagi, Pak!" seru Bu Rempong senang melihat Dokter Hans terhasut.
Edward langsung menarik Lyodra ke dalam pelukannya yang hangat. Melindunginya dari warga desa yang ingin menangkap Lyodra.
Kembali mengangkat kruk besinya lagi. Dan memukuli bapak-bapak yang gelap mata. Kali ini, Edward memukul sekeras tenaga agar bapak-bapak itu segera tumbang, pingsan dan tidak mengeroyoknya lagi.
Prit! Prit! Prit!
Suara peluit yang keras membuat semua orang berhenti bergerak.
Petugas keamanan desa datang langsung melerai pertikaian.
Pak Wicak, Pak Sepri, Bu Ades maju ke depan emak-emak tukang gosip.
"Kalian semua kami tangkap dan akan kami serahkan ke pihak berwajib karena sudah main hakim sendiri dan membahayakan nyawa orang lain!"