Zhevanya Maharani Karasya (Vanya) selalu menjadi anak yang dapat dibanggakan oleh kedua orangtua nya, siapa sangka sifat nya yang ceria periang dan selalu berfikir positif itu ternyata menyembunyikan rasa sakit yang sangat menyiksa. Vanya yang selalu ingin menyerah oleh penyakit nya itu tak pernah menduga masa remaja nya akan terasa sangat berwarna.
Pertemuan nya dengan Nana, Farida, dan Irgi benar benar membuat masa remaja nya begitu berwarna, indah dan membuat banyak kenangan yang tak terlupakan, sampai pada akhirnya Semua terasa begitu sia sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CieMey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah asa
Sabtu pagi yang cerah. Dengan sangat berat hati Vanya harus bangun setelah mendengar suara alarm yang sangat kencang. Vanya berjalan menuju kamar mandi dengan malas.
"Vanya buruan siap siap... Nana udah nunggu kamu di bawah"
Suara Ratih menyadarkan Vanya dari lamunannya. Tanpa sadar Vanya tersenyum mendengar nama Nana, ia bergegas menggunakan Seragamnya. Seketika perasaan malas hilang dan berganti menjadi semangat yang menggebu gebu.
Salah satu alasan Vanya setuju mengikuti kompetisi ini adalah Nana, ia ingin terus berada di dekat Nana.
Vanya mencoba mengontrol perasaannya. Ia berjalan menuju ruang tamu tanpa memperhatikan senyuman nya, sejujurnya saat ini Vanya ingin tersenyum lebar dan menyapa Nana dan menunjukkan perasaan gembira nya. Tapi ia terlalu gengsi, apalagi di depan Nana. Vanya tidak mau Nana tau tentang perasaan nya.
"lama banget Lo pake baju doang"
"bawel"
Nana tersenyum mendengar jawaban Vanya. Nana selalu saja mengejek Vanya. Entah kenapa Vanya terlihat sangat lucu ketika ia marah.
"Yaudah sana makan dulu," kata Ratih menyiapkan sarapan untuk putri kecilnya dan Nana.
Vanya berjalan menuju meja makan. Nana mengambil tempat duduk tepat di sebelah Vanya.
Ratih menyodorkan piring yang sudah di penuhi nasi dan lauk kesukaan Vanya.
"Tan nanti pulang kompetisi aku pinjem Vanya nya ya ,"
"Boleh... tapi jangan pulang malem malem ya,"
jawab Ratih tersenyum penuh arti.
"apaan sih Lo pinjem Pinjem... emang gue barang"
sejujurnya Vanya sangat senang mendengar ucapan Nana tadi. itu berarti ia punya waktu lebih lama lagi dengan Nana.
"Santai aja mbak gausah emosi gitu"
Vanya memilih untuk diam tidak menggubris perkataan Nana. ia takut wajah nya akan berubah menjadi merah. Karena saat ini Vanya benar benar tidak bisa mengontrol perasaannya lagi, jantungnya berdegup kencang.
"Nana sumpah Lo bisa diem ga sih... jantung gue mau copot ini rasanya" seru vanya dalam hati.
"Na emang nanti mau kemana sih?"
"Ada deh" kata nana sedikit berteriak menyesuaikan suaranya dengan suara kendaraan lain.
"Pegangan yang bener kenapa sih... nanti jatuh lecet gue yang di marahin," kata Nana sambil menarik tangan Vanya.
Vanya hanya diam menuruti perintah Nana. Vanya tak bisa lagi menahan senyumnya. Jantung nya hampir saja copot karena ulah Nana.
...☘️☘️☘️...
Tanpa Vanya sadari Nana melihat senyuman manis nya.
"Van.."
"Hmm..."
"Lo gamau cariin gue pacar atau Lo nya gitu yang jadi pacar gue"
Permintaan Nana berhasil membuat Vanya membulatkan mata dengan sempurna.
Bagaimana bisa ia mencari kan pacar untuk cowok yang selalu berhasil memporak porandakan hati nya ini. Vanya tidak akan Sudi melihat Nana dengan wanita lain. Tapi Vanya juga tidak ingin berpacaran dengan Nana. Ia masih ragu dengan perasaannya.
"Nanti ya gue pikirin dulu"
Nana hanya mengangguk mendengar jawaban Vanya.
Tak ada lagi yang mengeluarkan suara sampai mereka sampai di tempat tujuan. Setelah Nana memarkirkan motornya, Vanya dan Nana langsung bergabung dengan Farida dan Irgi yang sudah menunggu mereka didepan gerbang.
"Lama banget lo" Kata Irgi sedikit emosi karna ia harus menunggu bersama Farida. Irgi merasa sangat risih berada di dekat Farida, apalagi ia telah memiliki pacar.
"Maaf" jawab Nana tanpa ekspresi.
Aura Nana berubah menjadi dingin. Senyuman yang dari tadi ia tunjukkan ke Vanya lenyap. Suasana seperti ini selalu terjadi ketika mereka berempat berkumpul.
Bel berbunyi. seluruh peserta kompetisi berkumpul di tengah lapangan untuk mendengarkan sambutan dari perwakilan guru.
Setelah perwakilan guru selesai menyampaikan sambutan nya, seluruh peserta di persilahkan masuk keruangan masing masing.
Vanya dan Nana mendapatkan ruangan yang sama. Vanya duduk tepat di belakang Nana.
"Na nanti kalo lo selesai duluan tungguin gue ya" Vanya berbicara sangat pelan, sampai Nana tidak bisa mendengar suaranya.
Nana menoleh dan terkejut melihat wajah Vanya yang hanya berjarak 5 cm dari wajahnya. Nana dan Vanya langsung menjauh kan wajah mereka.
Mereka hanya bisa terdiam, mencoba mengontrol detak jantung yang berdegup kencang.
"Selamat pagi anak anak"
Guru pengawas masuk sambil membawa amplop berisi kertas soal dan jawaban.
Sontak Nana membenarkan posisi duduknya.
"Sebelum kita mulai kompetisi ini, berdoa menurut kepercayaan masing masing... berdoa mulai"
Seluruh peserta kompetisi menunduk dan berdoa.
"Aamiin"
Pengawas berkeliling membagikan kertas soal dan jawaban sambil menjelaskan tata tertib yang harus di patuhi selama kompetisi ini berlangsung dan hukuman yang akan di terima jika ada peserta yang melanggar tata tertib tersebut.
Setelah seluruh peserta mendapatkan kertas soal, pengawas mempersilahkan peserta untuk memulai mengerjakan soal.
Nana dan Vanya mengerjakan soal dengan tenang. Nana menyelesaikan soal soal tersebut dalam 30 menit. Sedangkan Vanya, ia sedikit kesulitan di soal soal terakhir.
Vanya sedang berjuang mengingat rumus yang di ajarkan oleh Nana pada saat mereka berada di rumah Irgi. Sampai seseorang mengangkat tangan nya dan menyerahkan kertas jawabannya kepada pengawas.
Vanya yang penasaran mengangkat kepalanya dan terkejut, ternyata yang baru saja selesai mengerjakan soal itu adalah Nana.
Bukan hanya Vanya yang terkejut tetapi seluruh peserta kompetisi di ruangan itu pun terkejut. Menurut mereka soal kompetisi kali ini sedikit sulit tapi Nana berhasil mengerjakan nya dalam waktu yang terbilang singkat.
Vanya yang melihat Nana keluar ruangan mulai panik. Tidak ada peserta lain yang Vanya kenal di ruangan ini.
Sangking paniknya Vanya tidak bisa lagi berpikir. Saat ini tersisa dua soal lagi, tapi otaknya sudah buntu.
"Ayo Vanya pikir...dua soal lagi dikit lagi " kata Vanya menyemangati diri sendiri.
diluar Nana sedang menunggu Vanya di dekat motor nya.
"Na" teriak Irgi yang baru saja keluar dari ruangan.
Nana yang merasa dipanggil menoleh mencari sumber suara itu.
"Lo udah selesai dari tadi Na?" tanya Irgi sambil menepuk pundak Nana.
"Iya"
Tak berselang lama Farida datang. Hanya Vanya yang belum selesai. Nana tidak mengerti mengapa Vanya bisa selama ini, padahal soal soal kali ini sudah mereka pelajari semua. Seharusnya Vanya bisa dengan mudah menjawab nya.
Nana sedikit khawatir dengan Vanya. Ia ingin sekali kembali keruangan hanya untuk memastikan keberadaan Vanya. Tapi peserta yang sudah selesai mengerjakan soal di larang mendekati ruang ujian.