NovelToon NovelToon
Emergency Love

Emergency Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Cinta Seiring Waktu / Cintamanis
Popularitas:118.9k
Nilai: 5
Nama Author: dtyas

Dituduh Cinta karena kesalahan. Rama membuktikan kalau cintanya bukan kesalahan, murni rasa dari mata turun ke hati. Usaha mendapatkan cintanya seolah didukung oleh jagat raya meski berawal dari kesalahpahaman.

“Nggak masalah nikah karena digrebek, yang penting sah.”

“Siapa kamu, berani mencintai seorang Bimantara.”

“Di dunia ini, Rama jodohnya Gita.”

Kisah cinta Rama Purwangga dan Gita Putri Bimantara, jadilah saksi seberapa darurat cinta mereka.

Spin off Bosku Perawan Tua dan Diam-diam Cinta

=== Mohon dengan sangat agar tidak baca dengan melompat bab dan ikuti sampai akhir ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Pria Tampan Itu

Bab 4

“Operasi, pah?” tanya Gita masih memeluk lengan Arya yang mengangguk membuat tubuh gadis itu mendadak lemas sampai harus duduk lagi.

“Pah, yang ini belum ditandatangani,” ujar Gilang menyodorkan dokumen. Arya pun beranjak dan kembali disibukkan dengan persiapan operasi bersama Gilang.

Mada menghubungi Dewa dan Moza yang sama histerisnya dengan Gita. “Lo nggak usah ke sini, nanti kita kabari. Ini anak satu juga dari tadi nangis aja,” tutur Mada, yang dimaksud tentu saja Gita.

“Kabari kami terus ya, besok pagi kami ke sana,” ujar Dewa di ujung sana dengan backsound suara tangis Moza.

“Iya bang.”

“Kak, Mama,” rengek Gita menarik ujung jaket yang dipakai Mada.

Edric yang baru tiba langsung menarik Gita dan menenangkannya. “Kamu pulang ya, om antar. Di sini dingin, mau diantar ke mana? Rumah Om, Gilang atau ….”

“Nggak mau, aku mau di sini,” rengek Gita.

“Oke, tapi jangan nangis. Obatmu dibawa?” tanya Edric.

Gita menggeleng, ia terburu-buru dan melupakan tasnya di kediaman Gilang. Hanya berganti baju dan membawa ponsel yang sejak tadi di saku celananya.  

Gilang mendekat. “Bentar lagi dipindah ke ruang operasi, kita tunggu di sana. Papa lagi bicara sama mama.”

Rama sudah bersiap dengan baju OK lengkap penutup kepala dan masker yang steril. Begitupun dokter Faisal yang bertanggung jawab atas operasi itu.

Pasien sudah masuk ruang operasi, semua tim sudah bersiap termasuk dokter dan juga Rama sebagai perawat anestesi. Tindakan itu berlangsung hampir 4 jam, dimulai dari pukul 11 malam tadi. Rama menghela lega dan mengucap syukur atas lancarnya tindakan.

“Ram, pindahkan ke ICU.”

“Oke.”

Rama melepas baju OK dan penutup kepala, menyisakan scrub nurse. Sarung tangan dan masker pun sudah dimasukan ke tempatnya. Ia mendorong bed dimana pasien masih dalam keadaan tidak sadar bersama dokter anestesi. 

Dokter Faisal sepertinya sudah menjelaskan pada keluarga pasien kalau operasi berjalan lancar. Saat Rama membuka pintu lebih lebar agar bed bisa keluar, beberapa orang menghampiri dan pandangan Rama tertuju pada seorang gadis yang pernah muncul dan mengganggu pikirannya.

*Neng Cinta, sabar ya*, batin Rama.

“Misi ya,” ucap Rama mengeluarkan pasien bersama dokter Ryan. “Mau kita pindahkan ke ICU.”

Tidak lama ….

“Gita, hei, sayang.”

“Gita, inhaler lo di mana?”

Laju bed belum jauh. Gadis itu mendadak semaput sambil memegang dad4nya, dengan nafas yang berat.

“Ram, bantu dia,” titah dokter Ryan lalu memanggil petugas lain dari ruang OK untuk mendorong bed ke ICU.

\*\*\*

Sudah lebih dari tiga jam operasi berjalan, tapi belum ada kejelasan. Menunggu memang menyebalkan. Waktu berjalan seolah sangat lama. Gelas berisi teh hangat yang diberikan Gilang sudah kosong. Kadang Mada merangkulnya, Om Edric atau Gilang.

Papa pun sempat menghibur Gita kalau semua akan baik-baik saja meski wajahnya tidak bisa menyembunyikan betapa dia khawatir. Cinta papa Arya pada mama Sarah memang sebesar dan sehangat itu. Ingin sekali ia memiliki rasa cinta yang sama pada seorang pria, entah kapan.

Sempat membuka ponsel dan membaca keseruan di grup Bela cs. Tidak menyesal, sudah paling tepat ia berada di sini mendampingi Papa Arya. 

“Operasinya lancar, kita tunggu pasien diobservasi dan sadar ya. Tidak lama lagi akan dibawa ke ICU. Untuk sementara belum bisa ditemui.” Penjelasan dokter itu membuat semua yang ada merasa lega.

Papa mengusap wajahnya dan menghela lega. Hampir pagi, rasanya semakin dingin meski ia mengenakan cardigan dan kepalanya mulai pening.

“Please jangan kumat sekarang,” ucapnya dalam batin sambil mengatur nafasnya.

Pintu pun terbuka, seorang pria berdiri di sana menatap ke arahnya sambil membuka pintu semakin lebar.

“Cowok itu ….”

“Misi ya.” Pria itu muncul lagi menarik bed di mana Mama terbaring tidak sadar. “Mau kita pindahkan ke ICU.”

Papa langsung mensejajarkan langkah dengan bed, pandangannya tidak lepas dari wajah Mama. Gilang. Om Edric merangkulnya berjalan mengekor bersama Mada.

Melihat ada beberapa alat terpasang pada tubuh sang mama, mendadak oksigen di sekitarnya seolah menipis dan paru-paru terasa merapat dan lengket. Sulit untuk memomp4 udara.

Ngiik...

Suara itu akhirnya muncul dari pernafasannya —suara gesekan udara yang memaksa masuk ke nafas yang semakin menyempit.

“Gita,” panggil om Edric. Rupanya mendengar suara derit nafas dan wajah yang memucat serta pandangan mulai mengabur.

“Gita, inhaler lo di mana?” Suara Mada yang mulai panik.

Ia mencengkeram lengan Om Edric dan mulai kehilangan tenaga. Kedua lututnya melemas lalu merosot ke lantai yang terasa semakin dingin.

“Gita, sayang.” Suara papa yang ikutan panik dan juga Gilang.

“Kita bawa ke UGD. Mbak bisa dengar saya?”

*Ngikk*….

Merasakan tubuhnya agak melayang masih dengan setengah sadar, rupanya ia dipindahkan ke kursi roda.

“Biar aku temani Gita, Papa ikut Mama saja.”

“Kak ….”

“Sabar ya, kita ke UGD.” Suara itu asing, bukan suara Kak Gilang atau Kak Mada. Suara pria lain, mungkinkah si pria tampan itu.

Terdengar roda berputar dan langkah tergesa, sejauh apa UGD itu. Rasanya tidak kuat, pandangannya semakin melemah.

“Dok, pasien!” 

1
Shee_👚
duh ko aku yang deg deg an liat gita begitu, semangat ram kamu harus lebih bisa mengendalikan diri untuk ngasih kekuatan sama gita.

yuk semangat semua pasti baik-baik aja💪💪🥰
Felycia R. Fernandez
Harus tenang Rama...
Demi Gita dan anak anak...
Bumil perlu dukungan penuh paksu...
vote untuk Rama ya sebagai dukungan aku💪
Shee_👚
astaga rama bisa-bisa lagi puyeng curhat begitu, bilang aja minta cuti🤭🤭
Shee_👚
betul harus di tindak lanjuti, jangan sampai orang tidak bersalah kena batu nya
Shee_👚
emang rama doank yang begitu, ketemu bos pake celana training🤣🤣🤣🤣
Shee_👚
dah g kuat marah-marah papah arya, jadi nya mode kalem🤭
Shee_👚
kasih paham rama, jangan terulang lagi kaya dulu. dia yang salah malah nyalahin orang. kalau g di ingetin juga tadi nyawa orang Melaya😡😡
Shee_👚
pak iwan aja kesel ya, ngajak orang suruh sarapan malah mikirin bayi yang belum lahir🤣🤣
Felycia R. Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Shee_👚
cie pak iwan dah mulai beraksi, siap siap ram Nerima lamaran anak perawan🤣🤣
Shee_👚
dah lah cocok ini pak iwan sama rama jadi bapak sama anak🤭
juwita
hooh bener km Rama org" selama ini salah blg bubur ayam pdhl bubur nasi. harusnya bubur nasi pake ayam🤣🤣🤣
Arin
Semangat Rama...... siap gak siap memang harus dihadapi. Semoga operasi Gita berjalan lancar. Dan si kembar bisa lahir dengan selamat, ibunya juga.
Nugroho
yang sabar yha bang Rama...,
😍😍😍😍😍😍
Lia Kiftia Usman
bono salah lawan saat ini...

sehat dan selamat yaa gita dan anak2 nya..
hiro_yoshi74
mujur bngt lo ram dari arlan . ida vs induknya . eh nyambung lagi ke bono ...... semangat 💪 hadiah lo si kembar seinduknya . bonus menantu konglo lagi ......
istri darmayanty
sehat sehat ya gita n si kembar
santi
👍
Iccha Risa
berat ya kehamilannya, sabar nikmatnya pasti bertambah.. kuatlah calon bapak, semoga melewati apapun
keadaanny Gita
Rahmawati
kayaknya si kembar mau keluar lebih cepet nih, neng Gita yg kuat ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!