Dita, siswi kelas 12 SMA, harus menerima nasib pahit ketika ayahnya yang terlilit hutang dan terbaring sakit memaksanya menikah dengan Arjuna, seorang polisi duda beranak satu.
Pernikahan itu dijadikan tebusan atas kecelakaan yang melibatkan Arjuna dan membuat ayah Dita kritis.
Meski tak sepenuhnya bersalah, Arjuna menyetujui pernikahan tersebut demi menebus rasa bersalahnya. Di tengah perbedaan usia dan penolakan putri Arjuna terhadap ibu sambungnya yang masih belia, Dita dan Arjuna harus menghadapi ujian besar untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
Apakah cinta diantara mereka akan tumbuh, atau pernikahan itu berakhir dengan perpisahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepolosan Siena yang membuat malu
Keheningan yang manis di dalam kamar itu mendadak pecah saat sebuah ketukan keras menghantam pintu.
Tok!
Tok!
Tok!
"Mas Juna! Mbak Dita! Turun woy! Makan malam sudah siap, jangan asyik pacaran terus di kamar!" teriak Bulan dari balik pintu dengan nada suara yang sangat menjengkelkan.
Pelukan hangat itu terlepas seketika. Dita terlonjak kaget dan buru-buru merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, sementara Arjuna berdehem keras, berusaha memulihkan wibawanya yang baru saja mencair. Wajah keduanya memerah padam.
"I... iya, Bulan! Sebentar lagi kami turun!" sahut Arjuna dengan suara yang sedikit serak.
Dengan langkah canggung, mereka berdua keluar dari kamar dan menuruni anak tangga menuju ruang makan. Namun, pemandangan di meja makan sama sekali tidak terduga. Pak Pras, Bu Kinan, dan Bulan tampak sedang tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perut mereka. Di tengah-tengah mereka, Siena duduk tegak dengan wajah bangga, rupanya baru saja selesai menceritakan sesuatu yang sangat lucu bagi mereka.
Begitu sosok Arjuna dan Dita muncul di ambang pintu ruang makan, tawa itu mendadak mereda, berganti dengan tatapan-tatapan jahil yang menusuk. Pak Pras mencoba menutupi senyumnya dengan serbet, sementara Bu Kinan menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan tawa.
"Wah, wah...wah.... akhirnya pahlawan kita datang juga," celetuk Bulan sambil menyangga dagu, matanya melirik nakal ke arah bibir Dita yang masih sedikit bengkak.
Dita dan Arjuna saling lirik, merasa ada yang tidak beres. "Kenapa kalian semua menatap kami seperti itu?" tanya Arjuna ketus, mencoba menutupi kegugupannya.
Bulan meledakkan tawanya lagi. "Aduh, Mas Juna... ternyata Mas itu buas juga ya kalau lagi jatuh cinta? Tadi Siena cerita panjang lebar kalau di dalam mobil tadi Mas Juna sudah 'makan' bibirnya Mbak Dita sampai digigit, iya kan?"
Deg!
Wajah Dita seketika terasa seperti disiram air panas. Ia ingin sekali rasanya menghilang dari muka bumi saat itu juga. Ternyata kepolosan Siena benar-benar menjadi senjata makan tuan bagi mereka.
"Ayah kan tadi lapar, makanya gigit Tante Dita!" timpal Siena dengan wajah tanpa dosa, lalu ia tertawa terbahak-bahak mengikuti tantenya.
Pak Pras akhirnya tidak bisa menahan tawa lagi. "Juna, Juna... kalau mau mesra-mesraan ya jangan di depan anak kecil, sampai digigit begitu lagi. Kasihan istrimu, bibirnya sampai merah begitu."
Arjuna benar-benar kehilangan kata-kata. Ia hanya bisa berdiri mematung dengan wajah yang lebih merah dari kepiting rebus, sementara tangannya secara refleks menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"S... Siena... itu bukan begitu maksudnya..." rintih Arjuna pasrah, namun suaranya tenggelam dalam riuh tawa satu keluarga yang malam itu resmi menjadikan "insiden gigitan" sebagai bahan lelucon abadi di meja makan keluarga Diningrat.
*
*
Makan malam yang terasa seperti sidang interogasi penuh tawa itu akhirnya usai. Begitu meletakkan sendok, Dita langsung berpamitan dengan suara mencicit dan lari terburu-buru menuju kamar. Ia segera menyusup ke balik selimut, menutupi seluruh wajahnya yang masih terasa panas terbakar karena malu. Rasanya ia ingin menghapus ingatan semua orang tentang "insiden gigitan" itu.
Di lantai bawah, suasana berangsur tenang. Bulan sudah beranjak ke kamar Siena, berniat menemani keponakannya itu bermain sebelum suaminya yang baru pulang dari dinas luar negeri menjemputnya. Kini, tinggal Arjuna yang duduk bersantai di ruang keluarga bersama Pak Pras dan Bu Kinan.
Arjuna berdehem, mencoba mengalihkan topik pembicaraan dari bibir Dita ke hal yang lebih serius. "Yah, Bu... sebenarnya ada yang ingin Juna sampaikan. Dita punya keinginan untuk melanjutkan kuliah lagi di UPH. Juna berencana mengizinkannya."
Pak Pras meletakkan cangkir tehnya, lalu mengangguk mantap. "Bagus itu. Pendidikan itu investasi nomor satu. Selagi dia masih muda dan punya semangat, Ayah dan ibumu pasti mendukung penuh."
Bu Kinan tersenyum setuju, namun sedetik kemudian raut wajahnya berubah menjadi penuh selidik yang jenaka. "Tapi, Juna... ada satu syarat dari ku dan juga Ibumu yang tidak boleh ditawar."
"Apa itu, Bu?" tanya Arjuna was-was.
Pak Pras menimpali dengan nada bicara yang tegas namun sarat harapan. "Misi untuk memberikan Ayahmu cucu laki-laki tidak boleh ditunda ya, Juna? Ayah ingin secepatnya menimang cucu lagi darimu dan Dita. Rumah ini akan lebih ramai kalau ada jagoan kecil di sini."
Glek!
Arjuna spontan menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa sangat kering. Ia teringat reaksi Dita pagi tadi yang sampai histeris dan menggigit tangannya hanya karena dicium saat mengantuk.
'Dicium bibirnya saja dia sudah histeris seperti itu, apalagi kalau sampai di unboxing! Bisa pingsan mungkin dia,' gumam Arjuna dalam hati dengan dahi yang sedikit berkeringat.
"Gimana, Juna? Kok malah bengong?" desak Bu Kinan sambil menyenggol lengan putranya.
Arjuna hanya bisa memaksakan sebuah senyum kaku. Ia ingin sekali jujur bahwa hubungannya dengan Dita bahkan belum menyentuh tahap hubungan intim, namun harga dirinya sebagai laki-laki yang sudah menyandang status duda selama lima tahun lamanya terasa dipertaruhkan. Ia tidak ingin dianggap "lemah" atau tidak berdaya di depan istrinya yang masih sangat muda itu.
"I... iya, Yah... Bu... Juna usahakan secepatnya," jawab Arjuna singkat, suaranya terdengar agak dipaksakan.
Di balik ketenangannya, Arjuna sebenarnya mulai didera pergulatan batin. Sebagai pria dewasa yang normal, ia tentu memiliki hasrat untuk memiliki Dita seutuhnya. Namun, ia sadar bahwa Dita masih butuh waktu untuk benar-benar membuka hatinya. Ia harus bersabar, meski tuntutan dari orang tuanya mulai terasa seperti kejaran deadline operasi di kepolisian.
"Ya sudah, kalau begitu Ayah dan Ibumu masuk kamar dulu. Kamu juga sana, susul istrimu. Jangan biarkan dia tidur sendirian terus," goda Pak Pras sambil menepuk bahu Arjuna sebelum beranjak pergi.
Arjuna hanya bisa menghela napas panjang, menatap tangga menuju kamarnya dengan perasaan campur aduk antara gugup, gemas, dan rindu yang mulai menyiksa.
Arjuna melangkah pelan menaiki anak tangga, rasa lelah yang menghimpit bahunya seolah menuntut untuk segera diistirahatkan. Setelah perdebatan batin soal "cucu laki-laki" dengan orang tuanya, ia hanya ingin merebahkan dirinya. Perlahan, ia membuka pintu kamar, berharap tidak membangunkan istri kecilnya.
Namun, pemandangan di atas ranjang justru membuat Arjuna terpaku sejenak. Dita, yang biasanya tampil anggun dan jaim, kini tertidur dalam posisi yang sangat jauh dari kata estetik. Istrinya itu meringkuk miring dengan mulut sedikit menganga, dan yang paling mengejutkan adalah suara dengkuran halus yang keluar secara ritmis dari sela bibirnya.
"Astaga, Dita... ternyata kalau tidur begini aslinya," bisik Arjuna sambil menahan senyum geli. Rasa gemas tiba-tiba mengalahkan rasa lelahnya.
Arjuna memutuskan untuk tidak lagi tidur di sofa. Dengan gerakan sangat hati-hati, ia merebahkan tubuh kekarnya di sisi tempat tidur yang kosong, tepat di samping Dita. Keberaniannya memuncak, ia meraih kepala Dita dengan lembut dan menempatkannya di atas dadanya yang bidang.
Dita, yang masih terbuai mimpi, merasa sangat nyaman. Dalam alam bawah sadarnya, ia seolah sedang memeluk boneka Pikachu raksasa yang hangat dan empuk. Secara refleks, tangan kanan Dita mulai meraba dan mengusap dada Arjuna, seolah sedang mencari posisi ternyaman untuk mendekap "boneka" tersebut.
Sentuhan tangan Dita yang halus itu mulai membuat napas Arjuna memberat. Namun, puncaknya adalah ketika kaki kanan Dita mulai bergerak naik dan menindih kaki kanan Arjuna, hingga tanpa sengaja lutut dan pahanya menyenggol area sensitif suaminya.
Deg!
Seketika, seluruh aliran darah Arjuna seolah tersedot ke satu titik. Sensasi panas dingin menjalar ke seluruh sarafnya. "Benda pusaka" miliknya langsung mengalami tegangan tinggi, bereaksi keras terhadap sentuhan yang sama sekali tidak disengaja namun sangat mematikan itu.
Arjuna memejamkan mata rapat-rapat, giginya bergemelutuk menahan gejolak yang meledak-ledak di dalam dirinya. Hasratnya sudah berada di ubun-ubun, menuntut dilepaskan, namun ia tahu ia tidak boleh gegabah. Ia berada dalam posisi yang sangat menyiksa, ingin menjauh tapi tak rela melepas dekapan, ingin maju tapi takut melukai kepercayaan Dita.
"Aaarrkkkhhh, dasar sial!" umpat Arjuna tertahan di dalam tenggorokan.
Sekujur tubuh sang perwira itu kini dibanjiri keringat dingin. Ia mencoba mengatur napasnya yang memburu, berulang kali mengucapkan doa di dalam hati agar bisa menahan diri. Sementara itu, Dita justru semakin erat memeluknya dan mendengkur halus dengan nyaman, sama sekali tidak menyadari bahwa suaminya sedang bertarung nyawa melawan nafsunya sendiri di tengah sunyi nya malam yang ia anggap kelam 😂😂
Bersambung...