NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Murni / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:54k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.

Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.

Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.

Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.

Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.

Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Satu Kata yang Salah Tempat

Begitu mengenali mobil itu, seketika wajah Alvian berubah cerah.

“Kakek! Nenek!”

Ia langsung berlari kecil begitu pintu mobil terbuka.

Husain turun lebih dulu. Disusul Fatima di sisi lain. Wajah mereka seperti biasa. Tenang. Hangat.

Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang menunjukkan… bahwa sesuatu sedang tidak baik-baik saja.

“Alvian…” suara Fatima langsung melembut. Tangannya terbuka menyambut.

Alvian memeluknya erat.

“Kangen!” serunya polos.

Husain tersenyum lebar. Mengusap kepala cucunya.

“Sudah tambah besar,” gumamnya ringan.

Ayza masih berdiri di tempatnya. Belum melangkah mendekat. Tatapannya tertahan pada dua orang itu.

Orang tua suaminya. Orang yang… tidak tahu apa-apa.

“Assalamu’alaikum, Nak.”

Suara Husain akhirnya sampai padanya.

Ayza tersadar. Sedikit tersentak. Lalu melangkah mendekat.

“Wa’alaikumsalam…”

Suaranya tetap lembut. Tertata. Seperti biasa. Namun jemarinya… tanpa sadar saling mengunci.

Fatima menatapnya. Lebih lama dari biasanya.

“Capek?” tanyanya pelan. “Kamu kayak kurang tidur.”

Ayza tersenyum tipis.

“Enggak kok, Bun.” Jawaban yang ringan. Terlalu ringan.

Husain mengangguk. Tidak curiga.

“Mana Kaisyaf?” tanyanya santai. “Ayah tadi coba hubungi, tapi gak diangkat.”

Pertanyaan itu… jatuh tepat di tengah suasana yang masih terlihat tenang.

Namun bagi Ayza, itu seperti sesuatu yang langsung menekan dadanya.

Untuk satu detik… ia tidak menjawab. Hanya diam.

Sementara di depannya, dua orang tua itu menunggu dengan ekspresi biasa.

Tanpa tahu… bahwa jawaban sederhana itu… tidak lagi sederhana.

Dan hari ini, Ayza benar-benar menyadari… bahwa bukan hanya dirinya yang belum tahu kebenaran.

"Ayza?" panggil Fatima karena Ayza terdiam.

Ayza tersentak pelan saat namanya dipanggil.

“Iya, Bun?”

Fatima menatapnya lebih dalam dari biasanya. “Kamu baik-baik saja?”

Pertanyaan itu sederhana. Tapi entah kenapa… terasa seperti sedang menguji.

Ayza mengangguk kecil. “Baik, Bun.”

Namun sebelum suasana kembali netral—

“Umi pasti kangen Abi,” celetuk Alvian polos. “Aku juga.”

Kalimat itu membuat Husain dan Fatima langsung menoleh.

Sekarang… bukan hanya Ayza yang diam.

“Ayo masuk, Yah, Bun,” ucap Ayza akhirnya. Cepat. Seolah ingin memindahkan suasana.

 

Ruang tengah terasa hangat seperti biasa. Namun hari ini… ada sesuatu yang berbeda.

Alvian sudah duduk di atas karpet bulu, sibuk membuka oleh-oleh. Wajahnya kembali ceria.

Sementara itu, Ayza masuk ke dapur. Menyiapkan teh. Gerakannya rapi. Terbiasa. Terlalu terbiasa… untuk seseorang yang sedang tidak baik-baik saja. Ia kembali dengan nampan di tangan. Dua cangkir teh dan dua toples berisi cemilan di atasnya.

“Minum dulu, Yah, Bun…”

Namun sebelum cangkir itu benar-benar menyentuh meja—

“Memangnya Kaisyaf ke mana?”

Pertanyaan Husain membuat tangannya berhenti sepersekian detik di udara. Sangat singkat. Tapi cukup terlihat… bagi yang memerhatikan.

Ayza menurunkan cangkir itu pelan.

“Abi ke luar kota, Yah.” Nada suaranya tenang. Terlatih.

“Sudah lama?” tanya Fatima lagi.

“Baru beberapa hari,” jawab Ayza singkat.

Ia merapikan posisi nampan. Tangannya terlihat sibuk… padahal tidak perlu.

“Abi sekarang suka pulang malam,” sahut Alvian lagi, tanpa beban. “Kadang aku gak ketemu Abi, meskipun Abi pulang.”

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan polos—

“Sekarang malah makin jarang pulang.”

Kali ini… ruangan benar-benar terasa-- sunyi.

Husain dan Fatima saling pandang sejenak. Lalu… perlahan, tatapan mereka kembali ke Ayza.

Lebih tajam. Lebih mencari.

“Kalian baik-baik saja, 'kan?” tanya Fatima pelan.

Ayza mengangguk.

“Iya, Bun.”

Jawaban itu keluar tanpa jeda. Namun justru karena itu… terasa seperti sesuatu yang sudah disiapkan.

Fatima tidak langsung percaya.

“Jadi karena itu… kalian sudah lama tidak ke rumah?”

Kalimat itu tidak tinggi. Tidak menekan. Namun cukup… untuk membuat Ayza tidak punya banyak ruang lagi untuk menghindar.

Fatima masih menatap Ayza. Tatapannya lembut… tapi terlalu lama untuk sekadar perhatian biasa.

“Ayza…” suaranya pelan, “…kamu yakin baik-baik saja?”

Ayza tersenyum tipis. Terlalu cepat.

“Iya, Bun.”

Jawaban itu ringan. Tapi tidak benar-benar menenangkan.

Fatima tidak langsung membalas. Hanya mengangguk kecil… meski jelas belum puas.

Di sampingnya, Husain sejak tadi diam. Namun tatapannya tidak lepas dari Ayza.

Mengamati. Menilai. Dan itu… lebih menekan daripada pertanyaan apa pun.

Beberapa detik hening.

Lalu—

Husain meraih ponselnya.

“Yah?” panggil Fatima pelan.

Namun Husain tidak menjawab. Jarinya sudah menekan satu nama.

Kaisyaf.

Ayza yang melihat itu… seketika menegang. Napasnya tertahan.

Panggilan tersambung.

Satu kali.

Dua kali.

Lebih lama dari biasanya. Dan setiap detik yang berlalu… terasa semakin berat.

 

Sementara itu di tempat yang jauh dari Ayza.

Ponsel di atas meja bergetar.

Nara yang sedang mengecek catatan medis menoleh. Nama di layar membuatnya diam.

Ayah.

Ia melirik ke arah ranjang. Kaisyaf akhirnya terlelap. Napasnya masih belum stabil. Wajahnya pucat. Sisa kelelahan jelas terlihat.

Ponsel itu terus bergetar.

Nara ragu.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu ia mengangkat.

“…halo?”

Suaranya langsung berubah. Profesional. Terukur.

“Selamat siang, Pak. Saya sekretaris Pak Kaisyaf.”

 

Di rumah Ayza.

Husain sedikit mengernyit.

“Sekretaris?” ulangnya.

“Iya, Pak,” jawab Nara tenang. “Bapak sedang istirahat. Tadi ada meeting panjang.”

Jawaban itu rapi. Terlalu rapi.

Husain belum sempat bicara lagi—

Pintu kamar rawat tiba-tiba terbuka. Seorang perawat masuk tergesa.

“Doctor —” ucapnya cepat. “Patient in room 312 is critical—”

Nara langsung menoleh. Wajahnya berubah. Namun terlambat. Kalimat itu… sudah terdengar jelas.

 

Di rumah Ayza.

Husain terdiam.

Tatapannya yang semula biasa… perlahan berubah. Tidak drastis. Tapi cukup untuk membuat sesuatu terasa berbeda.

“Critical…?” ulangnya dalam hati.

Fatima menoleh, mengernyit melihat perubahan itu.

“Yah…?” panggilnya pelan.

Husain tidak langsung menjawab. Ia hanya menggeleng tipis. Terlalu tipis untuk dianggap penjelasan.

Di sampingnya, Ayza berdiri diam. Ia tidak tahu pasti apa yang terjadi di ujung telepon tadi. Tapi entah kenapa… ada firasat buruk yang perlahan merambat.

“…maaf, Pak. Itu bukan—” suara Nara terdengar, berusaha menutup.

Namun Husain sudah lebih dulu memotong.

“Di mana Kaisyaf sekarang?”

Nada suaranya rendah. Tenang. Tapi kali ini… tidak memberi ruang untuk jawaban yang dibuat-buat.

Nara terdiam.

Beberapa detik yang terasa lebih lama dari seharusnya.

“…Pak—” ia mencoba lagi, tapi kali ini tidak meyakinkan seperti tadi.

Husain tidak mengulang pertanyaannya.

Ia hanya menunggu. Dan justru itu… yang membuat tekanan terasa lebih kuat.

“Excuse me—” ucap perawat tadi. Suaranya mendesak.

Tanpa berkata apa-apa, Nara mengakhiri panggilan itu. Lalu ia berbalik. Mengikuti perawat dengan langkah cepat, seolah panggilan tadi… bukan lagi prioritas.

 

Kembali di ruang tamu—

Husain menutup telepon perlahan. Tidak ada ekspresi berlebihan. Tidak ada kepanikan. Justru itu… yang membuatnya terasa lebih berat

Fatima menatapnya.

“Siapa tadi?” tanyanya.

Husain menghela napas pelan. Lalu menoleh.

“Orang kantor,” jawabnya singkat.

Jawaban yang terdengar wajar. Terlalu wajar.

Fatima mengangguk kecil. Tidak curiga.

Namun berbeda dengan Ayza. Ia tidak bertanya. Tapi matanya… sempat menangkap sesuatu.

Dan itu cukup untuk membuat dadanya kembali terasa tidak tenang.

Husain menyandarkan punggungnya. Tatapannya lurus ke depan.

Namun pikirannya… tidak lagi di ruangan itu. Potongan-potongan kecil mulai tersusun.

Telepon yang lama baru diangkat.

Suara asing.

Kata yang tidak seharusnya terdengar.

“Critical.”

Rahangnya mengeras sedikit.

Dan kali ini… sesuatu yang selama ini ia anggap biasa… mulai terasa tidak masuk akal.

Ia melirik sekilas ke arah Ayza. Hanya sebentar. Namun cukup untuk memastikan satu hal.

Ada sesuatu yang disembunyikan. Dan kali ini… ia tidak akan tinggal diam.

 

...🔸🔸🔸...

..."Kadang bukan kebohongan yang menghancurkan, tapi satu kata yang terdengar di waktu yang salah."...

..."Kebenaran tidak selalu muncul dengan suara keras, kadang ia hanya terselip, lalu mengubah segalanya."...

..."Yang disembunyikan dengan rapi, justru paling mudah runtuh saat tak sengaja terbuka."...

..."Ada hal yang bisa kita tutupi dari dunia… tapi tidak dari orang yang benar-benar memerhatikan."...

..."Ketika satu orang mulai curiga, kebohongan tak lagi punya tempat untuk bersembunyi."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Yunita Sophi
Kaisyaf ayo semangat untuk sembuh ach... aq kesal sama si Reza so hebat merasa dia paling di butuhkan Ayza...
Yunita Sophi
semoga Kaisyaf mendapat keajaiban bisa sembuh... agar si Reza yg jantungan... kak Nana titip Kaisyaf yah biar bisa sembuh kembali..🙏🏻
Gadis misterius
Itu yg dimaksd kaysaf ayza klu kau ditinggalkan tiada yg menjaga pasti reza dtng dngn seribu kelicikan untuk meraihmu kaysaf masih hidup aza'dia nekat ingin mengambil keuntungan dlm kesempitan...ech gk ikhlas bngts reza bermimpi kembil ke ayza pkoknya sebelum kaysaf meninggal harus disatukan dngn fahri biar mudarr tuh buaya cap kodok muaakk awak lama2
Anitha Ramto
percaya diri sekali kau Reza..
Kaisyaf insyAlloh sembuh atas izin-NYA
Hanima
Lanjut Zaaa 👍
mery harwati
Zaaaahhhrrraa noh mantan suamimu keukeuh mau mencuri Ayza, klo kau sakit selama di penjara tanpa dijenguk & dilindungi Reza, balas tuh kelakuan Reza padamu Zahra, ini saat pembalasan bwt Reza darimu Zahra 💪💃
asih
walaupun Ada sedikit celah untuk masuk kalau Reza orang yg pintar DIA tidak Akan masuk mengambil celah itu Karna DIA Masih status istri orang tak layak utk di perjuangkan,apalagi berkata Hal yg tak baik pada Anak kecil,kalau mau masuk nunggu lah waktu yg tepat Sampai benar² waktu itu Ada utkmu gitu loh
Karna Dari dulu Reza bodoh Maka Sampai saat ini pun masaih bodoh selalu ambil keputusan dengan ego dan ambisinya


kak Nana jangan Sampai Reza ma àyza rujuk q g setuju 🤣🤣 lebih baik àyza ma fahri Aja atau DIA tetep menJadi Janda ..
Wardi's
ini salah satu alasan kenapa kaisyaf harus merahasiakan sakitnya.., krn akan ada orang yg merasa ada celah...
Zahbid Inonk
reza ini 😡😡😡 matiin ja lh thor gedek banget dasar manusia laknat
LibraGirls
😤😤😤😤😤😤😤😤😤😤😤😤😤 rezza jadi penganti si Zahra kyk emg bagus kali mereka berdu aja
Diana Dwiari
eh eh eh....apa maksudnya bisa dipercepat....awas saja ya klo bertindak kriminal....akan hancur kamu
mery harwati
Berharap saat Reza mencelakai Kaysaf, penolongnya adalah Zahra yang balas dendam pada Reza😀 akan semakin menarik bila Zahra menyesali perbuatan jahatnya & bertobat + melawan balik pada Reza 😛💪
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Up lagi Kak 🙏🙏🙏😁
Fadillah Ahmad
Soal Rava, kan dia bisa tinggal sama Nenek-nya dulu di rumah 😂😂😂🙏
Fadillah Ahmad
Ya, kenapa nggk minta gantikan saja Sama Elvara sih Nara? Elvara dan Adrian kan juga dokter, gimana sih kamu ini 😁😁😁 Aku yakin deh, Raska nggk akan marah, kalu kamu minta istri-nya untuk gantian sif sama kamu. Karena Raska juga kerja, jadi tentara 😁😁😁 jadi nggk akan selalu ada di rumah 😂😂😂🙏
Gadis misterius
Hehhh reza coba kepalamu goyangka2n siapa otaknya bisa encer apa yg ingin kau percepat klu kau sm melakukan itu dijamin ayza akan membencimu smpai akhir hayat dan tiada maaf untuk laki2 biadap sepertimu....jngn lengah fahri jg kaysaf tuh dajjalnya sdh tau klu kaysaf sakit jngn biarkan seujung kukupun reza berbuat aneh2 wlaupun kaysaf mau meninggoy biarkan dngn sendirinya....semoga reza tdk tau klu kaysaf memilih fahri jd pengganti
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁
sum mia
kenapa bacanya aku telat banyak , aku sekarang kerja lagi thor , jadi rasanya kurang ada waktu untuk mengejarnya . 🙏🙏🙏

lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
🌠Naπa Kiarra🍁: Gak apa-apa, Kak 🤗
total 1 replies
Marsiyah Minardi
Jahat banget kamu Reza moga suatu saat kamu kena batunya
Oma Gavin
reza ngarep banget padahal semua sudah dipersiapkan kaisyaf dan bukan reza kandidat nya 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!