Karena tak kunjung hamil, Sekar Arunika- wanita muda berusia 25 tahun, harus mendapati kenyataan pahit suaminya menikah lagi. karena tidak ingin di madu, Sekar memilih mundur dan merantau.
namun sepertinya Tuhan masih belum ingin membuatnya tenang. karena saat sudah bahagia, Sekar justru di pertemukan kembali dengan orang-orang yang menyakitinya.
bagaimana langkah selanjutnya yang akan di ambil Sekar? memaafkan atau memilih menyimpan dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhevy Yuliana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Sementara itu di tempat lain terlihat semua orang tengah tersenyum bahagia. dihadapan mereka semua saat ini tersusun makanan-makanan mewah yang baru saja dihidangkan.
" Rangga kau sudah datang? " Bu Risty langsung beranjak dari tempat duduk dan menghampiri putranya saat melihat sosok Rangga di sana.
tak lama kedua Kakak perempuannya pun juga ikut menghampiri.
" Bagaimana kabarmu Rangga? " tanya Gendis kakak pertama Seraya menatap sang adik bungsu dengan tatapan penuh Kerinduan.
" aku baik-baik aja mbak," sahut Rangga tersenyum ramah, "Mbak sendiri gimana kabarnya? usaha butiknya lancar kan? " Rangga balik bertanya.
Gendis mengangguk dengan senyuman cerah, " semua baik-baik aja dek, usaha Mbak juga sudah stabil. " sahut Gendis.
Tiba-tiba Ayu datang dengan memasang raut wajah kesalnya.
" loh Mbak Ayu kenapa wajahnya kayak kesal gitu? " Rangga bertanya dengan raut wajah kebingungan.
"huh, Gimana Mbak nggak kesal? ini semua gara-gara istri kamu! " tuding Ayu dengan raut wajah galak.
"hah? gara-gara istriku? Memangnya ada apa? " Rangga bertanya dengan raut wajah kebingungan.
"huh, kamu tahu, Tadi dia datang ke sini rantang yang berisi sayur lodeh sama telur ceplok, bayangin aja, masa istri seorang Rangga datang ke rumah Ibu mertuanya cuman bawa makanan begituan, mana tadi ibu-ibu pada ngeliatin dan pada mencibir lagi, " sungut Ayu.
" Astaga kenapa istri kamu begitu?! dia ingin mempermalukan keluarga kita atau gimana?! " tanya Gendis dengan tetapan terbelalak.
Karena memang dia tidak tahu tentang insiden tadi siang karena memang belum datang dari kota seberang.
Sementara Rangga sudah tersulut emosi dengan tangan terkepal kuat. " nanti aku akan coba ngomong sama dia, "
" sudah jangan diteruskan lebih baik kita masuk nggak baik ngomong di depan pintu seperti ini, " Bu Risty mencoba untuk menengahi.
Tak lama semua orang masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke ruang makan karena memang hari sudah mulai gelap.
" Kenapa semuanya diam katanya mau makan sekarang? " Rangga menatap bingung ke arah anggota keluarganya yang lain saat mereka semua tidak kunjung mengambil piring.
" tunggu sebentar! " cegah Bu Risty, membuat ketiga anaknya merasa bingung.
" Kenapa Bu? " tanya Ayu dengan raut wajah semakin kebingungan.
****
berbeda dengan suasana hangat yang tercipta di rumah Bu Risty, di rumah sederhana yang ditempati oleh Sekar tampak sepi karena memang hanya dia dan suaminya yang tinggal di sana.
Di tambah lagi, mereka belum dikaruniai anak jadi suasana sepi Semakin menjadi.
Dengan menghela nafas dan gerakan perlahan, Sekar mulai menyendokkan nasi beserta sayur dan lauknya kemudian makan seorang diri.
Kesepian? jelas Sekar merasa kesepian karena walaupun mereka sudah menikah lima tahun, tapi sikap Rangga masih Acuh Tak Acuh terhadapnya.
Padahal Sekar sudah berusaha menjadi sosok istri yang baik untuk suaminya tapi sepertinya laki-laki itu masih belum bisa menggerakkan hati nurani sampai sekarang.
Tanpa terasa air mata segar tampak jatuh dan itu langsung diusap oleh si pemilik.
" kamu harus kuat anggap aja ini ujian rumah tangga kalian, " bisik Sekar pada dirinya sendiri mencoba untuk menguatkan.
Tak lama, ponselnya berdering dan menampilkan nama sang ibu di sana.
Cepat-cepat Sekar berlari menuju wastafel untuk membersihkan wajah agar tidak terlihat sembab.
Bukannya tidak ingin mengadu, hanya saja Sekar tidak ingin terjadi keributan antara orang tua dan keluarga suaminya.
Maka dari itu, Sekar memilih untuk memendam semuanya.