NovelToon NovelToon
CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Single Mom
Popularitas:31k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.

Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.

Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35

Setibanya di halaman Mansion Bratadikara yang megah dan berdiri kokoh, Tristan mematikan mesin mobilnya. Ia menggenggam kemudi erat-kelat, lalu menghembuskan napasnya pelan demi membuang sisa-sisa rasa gugup di dadanya. Setelah memantapkan hati, ia turun dan melangkah tegap memasuki kediaman masa kecilnya itu.

Saat pintu besar jati itu terbuka, beberapa pelayan berseragam menyambutnya dengan membungkuk hormat, namun atmosfir di dalam ruang utama terasa sangat mencekam dan dingin. Rupanya, Sang Ayah yakni Tuan Surya Bratadikara sudah duduk menunggu kepulangannya di sofa utama, didampingi oleh sang ibu yang duduk tegang di samping suaminya. Tatapan kedua orang tua tersebut menghunus tajam, penuh dengan rasa kecewa serta amarah yang tertahan, siap meledak kapan saja.

"Akhirnya kau pulang juga, Tristan. Papah kira kau sudah lupa kalau kau masih punya keluarga di sini!" tegur Tuan Surya dengan nada menyindir yang teramat ketat.

Dengan raut wajah datar dan santai, Tristan melangkah mendekat lalu mendudukkan diri di kursi sofa tunggal yang berada tepat di hadapan kedua orang tuanya.

"Sudahlah, Pah, jangan marah-marah terus. Apa Papah tidak takut tensi darahnya naik? Mamah juga sama, kalau sudah lansia itu, jangan suka marah-marah," ucap Tristan tenang. Namun, untaian kalimat lugas itu justru terdengar sangat menyinggung dan memancing harga diri kedua orang tuanya.

"Dasar anak kurang ajar! Sikap urakan mu ternyata kembali lagi seperti dulu. Arogan dan tidak punya sopan santun!" bentak Tuan Surya, wajahnya memerah padam.

Tristan menghela napas panjang, menegakkan posisi duduknya untuk menantang tatapan sang ayah. "Pah, Mah... sudah cukup. Selama enam tahun ini Tristan selalu mengikuti semua kemauan dan aturan Papah juga Mamah tanpa membantah. Tristan juga manusia, Tristan ingin menjadi diri Tristan sendiri. Tristan butuh kebebasan, bukannya terus-menerus diatur dan dikekang seperti ini!"

Mendengar pembelaan diri dari putranya, Tuan Surya semakin geram dan merasa kekuasaan nya sebagai kepala keluarga dilangkahi.

"Oh, jadi dengan sikapmu yang membangkang dan arogan seperti ini, kau sengaja ingin menghancurkan perusahaan yang sudah Papah rintis susah payah dari nol, hah?!" tuduh Tuan Surya emosi.

"Pah, hanya karena saham perusahaan turun 10% hari ini saja, Papah memarahi Tristan habis-habisan seperti ini?" sahut Tristan dengan nada meremehkan yang terkontrol. "Tenang saja, perusahaan raksasa sekelas Bratadikara Group tidak akan langsung jatuh bangkrut hanya karena fluktuasi saham turun 10% dalam sehari."

"Kau itu selalu meremehkan segala hal, Tristan!" timpal sang ibu ikut menyalahkan.

"Apakah Papah dan Mamah juga tidak sadar bahwa kalian berdua selama ini selalu meremehkan ku?" potong Tristan, suaranya memberat sarat akan kekecewaan yang dipendam bertahun-tahun. "Aku yang selalu dicap pria arogan dan urakan, selalu menjadi orang pertama yang disalahkan jika perusahaan mengalami masalah. Pah... untuk perusahaan sebesar Bratadikara Group, merupakan hal yang sangat wajar jika sesekali mengalami penurunan nilai akibat sentimen pasar, ditambah persaingan investasi di Jakarta yang semakin ketat. Tristan sedang berusaha keras membangkitkan dan membenahi perusahaan Papah di sini. Papah kan tahu sendiri kalau Tristan baru beberapa hari memimpin Bratadikara Group cabang Jakarta!"

Deg!

Untaian kalimat yang keluar dari bibir Tristan seketika menghantam kesadaran Tuan Surya. Apa yang dikatakan putranya memang ada benarnya. Sebelum Tristan mengambil alih kepemimpinan, laporan keuangan dan sistem manajemen di kantor cabang Jakarta memang sangat kacau balau akibat ulah direksi lama, dan Tristan sebenarnya sedang merombak total struktur itu agar bersih dari korupsi.

Tuan Surya seketika terdiam. Amarahnya perlahan mereda, digantikan oleh pemikiran logis sebagai seorang pengusaha senior.

Melihat sang ayah mulai melunak, Tristan segera menyambung kalimatnya dengan penuh penekanan. "Kali ini, tolong percayakan penuh perusahaan Bratadikara Group cabang Jakarta kepadaku, Pah. Aku berjanji, dalam waktu dua bulan ini, saham perusahaan kita akan meroket kembali dan tidak akan mengalami penurunan memalukan seperti hari ini."

Tuan Surya menatap lekat mata tajam putranya, mencari kesungguhan di sana. Setelah beberapa saat hening, ia akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Papah pegang ucapanmu. Papah tunggu semua bukti dari janjimu itu dalam dua bulan."

Merasa urusan bisnis sudah selesai, kini giliran sang ibu yang membuka suara untuk membahas agenda pribadi yang sudah mereka rancang bersama keluarga besar lainnya.

"Tristan, masalah kantor sudah beres. Tapi besok, kau harus menemui Bella setelah jam kerjamu selesai. Luangkan waktumu untuk menemuinya, karena sebentar lagi acara pertunangan kalian berdua akan segera diumumkan ke publik!" ujar sang ibu dengan senyum menuntut.

Mendengar nama wanita ular itu disebut, kilat kemarahan seketika terpancar dari sepasang netranya Tristan. Tanpa ragu, ia langsung beranjak berdiri dari kursi sofa tunggalnya, menatap kedua orang tuanya dengan tatapan dingin yang sarat akan penolakan mutlak.

"Aku tidak akan pernah sudi bertunangan dengan wanita ular sepertinya. Sampai kapan pun, batalkan niat kalian, karena pernikahan itu tidak akan pernah terjadi!" tegas Tristan lantang, lalu membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan ruang tamu tanpa memperdulikan teriakan syok dari ibunya.

Tristan terus melangkah lebar membelakangi kedua orang tuanya yang masih syok di ruang tamu. Sambil berjalan menuju pintu keluar, ia perlahan mengangkat tangannya dan mengusap dadanya yang terasa bergemuruh hebat.

‘Sabar, Tristan... Tahan emosimu. Ini belum saatnya kau menceritakan soal Ananda dan Elvano kepada Papah dan Mamah,’ ucap Tristan menenangkan diri di dalam hati.

Di belakangnya, suara Nyonya Mutia terus saja memanggil-manggil namanya dengan nada melengking, namun Tristan sama sekali tidak menghiraukannya. Ia melangkah keluar dari pintu utama, masuk ke dalam mobilnya, dan memilih untuk langsung pulang ke apartemen pribadinya. Di sana, ia tahu suasananya akan jauh lebih tenang dan bebas dari segala aturan serta tekanan yang mencekik leher.

Sementara itu, di ruang tamu Mansion Bratadikara, Tuan Surya menghela napas panjang melihat kepergian putranya. Ia menoleh ke arah sang istri yang masih tampak meradang.

"Mah, sudahlah... Biarkan Tristan fokus dulu dengan urusan perusahaan. Jangan terlalu memaksanya untuk buru-buru bertunangan dengan Bella," ujar Tuan Surya menenangkan.

"Tapi, Pah! Mamah ini tidak enak dengan keluarga Bagaskara!" sahut Nyonya Mutia dengan nada kesal. "Sudah berapa kali rencana perjodohan ini tertunda dan gagal hanya karena Tristan selalu beralasan bahwa ia sudah mencintai wanita lain? Mamah itu takut, Pah... Takut jika wanita yang dicintainya itu ternyata tidak setara dengan keluarga kita. Apalagi masalah bibit, bebet, dan bobotnya. Mamah takut Tristan terjebak dengan wanita miskin yang tidak berkelas!"

Tuan Surya menggelengkan kepalanya pelan, menyandarkan punggungnya di sofa. "Mah, sudahlah... Untuk masalah hati, Papah tidak mau ikut campur terlalu dalam. Biarkan Tristan menentukan pilihannya sendiri. Lagipula, untuk apa mencari menantu yang sekadar setara dengan kita di atas kertas? Yang terpenting adalah wanita itu bisa mencintai putra kita dengan tulus."

"Tidak bisa seperti itu, Pah! Ini juga soal citra dan nama baik keluarga Bratadikara yang..."

"Sudah!" potong Tuan Surya dengan nada tegas, membuat Nyonya Mutia seketika bungkam. "Kau jangan terlalu banyak mengatur putra kita. Hanya Tristan satu-satunya harapan kita untuk meneruskan takhta perusahaan ini. Jangan terlalu mengekangnya lagi, Mah!"

Nyonya Mutia mendengus kesal. Ia melipat kedua tangannya di dada sambil menunjukkan wajah cemberutnya yang masam, merasa tidak puas karena suaminya tidak membela egonya.

*

*

Setibanya di apartemen mewah miliknya, Tristan langsung merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang tempat tidur tanpa berniat mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Ia memejamkan kedua matanya yang terasa berat. Namun, begitu kelopak matanya tertutup, bayangan momen manis siang tadi bersama Ananda dan Elvano langsung berputar kembali di benaknya, mengikis habis sisa-sisa stres akibat perdebatan dengan orang tuanya.

Sebuah senyuman hangat terukir di bibir tampannya.

"Sepertinya... apa yang dikatakan oleh Ananda tadi ada benarnya," gumam Tristan lirih pada kesunyian kamar. "Aku harus menunggu waktu yang tepat untuk memberitahukan tentang dirinya dan Elvano kepada Papah dan Mamah. Ditambah lagi, saat ini keadaan internal perusahaan di kantor Jakarta juga masih cukup kacau. Aku harus membenahinya dulu."

Keesokan harinya, fajar baru saja menyingsing. Di dalam kamar rumah kontrakannya, Ananda baru saja selesai mengenakan pakaian formal kerjanya. Ia berdiri di depan meja rias, menatap pantulan dirinya di cermin sambil memulas riasan tipis yang natural namun segar di wajahnya.

Berbeda dari hari-hari biasanya di mana ia selalu tampil cuek, kali ini Ananda sengaja ingin berpenampilan secantik dan menarik mungkin di hadapan Tristan. Hatinya sejak bangun tidur tadi terasa sangat berbunga-bunga karena ia tahu, mulai hari ini dan seterusnya, setiap hari ia akan bertemu dengan pria yang selalu dicintainya itu dengan status hubungan yang sudah jelas. Tinggal selangkah lagi, ia akan resmi menjadi istri dari cinta pertamanya.

Dag... dig... dug...

"Kenapa jantungku mendadak berdebar-debar sangat kencang seperti ini, sih?" batin Ananda malu-malu sambil mengusap dadanya sendiri yang berdegup cepat.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu depan membuyarkan lamunan Ananda. Di luar kamar, Elvano yang mendengar ketukan itu langsung berlari riang menuju ruang tamu untuk membuka pintu, sementara Bu Mila masih tampak sibuk menyiapkan sarapan pagi di dapur.

Begitu daun pintu kayu itu terbuka, Elvano seketika melongo dengan mata bulat yang berbinar bahagia. Sosok yang berdiri di depan pintu tidak lain adalah sang ayah.

"Papah...!" teriak Elvano riang. Bocah kecil itu langsung berhambur ke depan dan memeluk erat pinggangnya Tristan.

Tristan yang memang sudah merindukan putra kecilnya sejak semalam langsung terkekeh hangat. Ia membungkuk, lalu mengangkat tubuh mungil Elvano ke dalam gendongan lengannya yang kokoh.

"Apa kabar kamu hari ini, Jagoan?" tanya Tristan dengan suaranya yang lembut.

"Kabarku selalu baik, Papah!" jawab Elvano ceria, lalu mencium kedua belah pipi Tristan bergantian dengan gemas.

Sementara itu, di dalam kamar, Ananda yang mendengar suara cempreng anaknya memanggil kata 'Papah' langsung tersentak. Ia buru-buru merapikan sisa pakaiannya dan keluar dari dalam kamar dengan langkah tergesa-gesa.

Langkah kaki Ananda seketika terhenti di ambang pintu ruang tamu. Ia melongo dengan mata membelalak tak percaya melihat pemandangan di hadapannya. Tristan sudah berdiri gagah di dalam rumah kontrakannya sepagi ini, lengkap dengan setelan jas kerjanya yang rapi dan wangi parfum maskulin yang langsung memenuhi ruangan.

"Tristan... Kau... kenapa sepagi ini sudah ada di sini?!" tanya Ananda terbata-bata karena terkejut.

Tristan menoleh ke arah Ananda, matanya sempat tak berkedip menatap penampilan Ananda yang terlihat jauh lebih cantik dan anggun hari ini. Ia menaikkan sebelah alisnya, lalu melambaikan tangannya dengan santai seraya mengulas senyuman manis yang begitu menawan ke arah wanita yang dicintainya itu.

"Pagi, Sayang..." sapa Tristan dengan nada menggoda.

Bersambung...

1
Nar Sih
hahaha kasihan kmu vin ,lihat merka ciuman jdi ternoda deh😂😂
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
Nar Sih
gak ush dgr kta orang nanda ,anggap aja angin lalu
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 😊
total 1 replies
Teh Euis Tea
kasian Kevin layu sebelum berkembang ya vin, udah sm aku aj ya 🤭🤭🤭🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: oalah, blatung nangka... pecicilan ya kak si Kevin 😂😂😂
total 3 replies
Nar Sih
pasti sdh gk sbr ingin ketemu terus dgn putra mu juga pujaan hti mu ya tristan☺️
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali kak🤭
total 1 replies
Nar Sih
kini satu maaf sdh kau dpt tristan dri ibu mila tinggal langkah selanjut nya💪
Nar Sih
gak usah dgr kata orang nanda ,yg penting diri kita
Nar Sih
alhamdulilah sdh terungkap semua☺️
Lilis Ilham
ahirnya tercapai juga cinta pertama😍😍😍
Lilis Ilham
aku ada disini tuan Tristan😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Euis Tea
tetangga kepo, tukang ngerumpi ga ada kerjaan bgt
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: berarti gk dimana-mana ya kak, malah sekarang sudah trend bapak-bapak ikut jadi tukang gosip juga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
Ilfa Yarni
hahahaha terciduk kalian kasian kevin patah hati sebelum berkembang hahaha
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr 😘😘😘
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lanjut besok ya kak 😉
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh mulai dah pada julid, bilang aj iri sm Nanda ya ibu ibu
Teh Euis Tea
Nanda mirip ayu Ting Ting klu LG meluk Tristan 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: oalah, kok bisa 😊
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh lagi lagi si Bella biang keroknya, enaknya di gantung x ya biar kapok
Teh Euis Tea
ada rahasia apa si dre? jd penasaran ini
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya kak gpp, ikh selow aja sama aku mah 😉😊
total 3 replies
Nar Sih
semoga dgn kejujuran dan terbongkar nya mslh ini nanda bisa memaaf kan semua
Nar Sih
mkin pensaran dgn rahasia yg kau simpan andre
Nar Sih
semoga ini pertemuan yg akan membawa ananda dan putra nya bahagia
Dartihuti
Ciieee...yang udah dapat sama" buka diri aaa ...lega,ttp ti ati cr bukti gimana busuknya si Bello😄🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!