NovelToon NovelToon
Romansa Malam Di Jogjakarta

Romansa Malam Di Jogjakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:415
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.

Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Seminggu berlalu. Upaya perubahan terus berjalan, meski dengan langkah yang hati-hati. Sari dan Kirana telah berhasil menyusun aturan baru yang lebih adil, mengurangi transaksi ilegal, dan mulai membangun kepercayaan dengan sebagian pihak berwenang yang jujur. Namun, ketegangan masih terasa di udara—seolah-olah badai besar sedang bersiap datang.

Suatu sore, saat mereka sedang membahas rencana pengembangan sekolah di lembah terlarang, Riko Surya masuk dengan langkah tergesa-gesa. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang jarang terlihat.

"Nona, ada tamu yang datang. Dia tidak mengumumkan nama, tapi dia membawa surat yang ditujukan khusus untukmu."

Sari mengernyitkan dahi, menerima amplop yang diserahkan. Begitu dia membukanya dan membaca isinya, matanya terbelalak kaget. Dia menatap Kirana, lalu berkata dengan suara rendah:

"Surat ini dari Arya Pratama. Dia meminta untuk bertemu—di luar Menara Wijaya, sendirian."

Kirana juga terkejut. Selama ini, Arya hanya dikurung di lantai bawah, jarang berbicara, dan tidak pernah meminta apa pun. "Apakah ini jebakan? Atau mungkin dia dipaksa oleh seseorang?"

"Aku tidak tahu," jawab Sari ragu. "Tapi surat ini tulisan tangannya. Aku mengenalinya. Dan dia menulis bahwa dia memiliki sesuatu yang sangat penting untuk disampaikan—sesuatu yang berkaitan dengan keselamatan kita berdua."

Setelah berdiskusi singkat, mereka memutuskan untuk bertemu—tetapi dengan pengawasan yang ketat. Mereka memilih sebuah kafe kecil yang sepi di pinggiran kota, tempat yang tidak mudah diawasi oleh siapa pun.

 

Di kafe kecil, sore hari.

Arya sudah duduk di sudut yang agak gelap. Dia terlihat lebih kurus dan pucat dari sebelumnya, tapi matanya tampak lebih jernih—tidak lagi penuh kepasrahan seperti biasanya. Saat melihat Sari dan Kirana mendekat, dia mengangguk pelan.

"Terima kasih mau datang," katanya dengan suara parau namun tenang.

"Apa yang kau inginkan?" tanya Sari langsung, tanpa basa-basi. "Dan bagaimana kau bisa mengirim surat ini? Bukankah kau tidak boleh meninggalkan gedung tanpa izin?"

Arya tersenyum pahit. "Kakekmu—Andri—dia mengizinkanku pergi. Dia pikir aku akan membujukmu untuk kembali ke jalan lama. Tapi dia salah. Aku datang untuk memperingatkanmu."

Dia menatap Sari dalam-dalam. "Aku tahu semuanya. Aku tahu apa yang dikatakan Herman tentang masa lalu, tentang dirimu bukan anak kandungku. Aku tahu Andri telah berbohong selama puluhan tahun."

Sari duduk di seberangnya, ragu namun tetap waspada. "Lalu apa yang sebenarnya kau ketahui? Apakah kau juga bagian dari kebohongan ini?"

"Tidak sepenuhnya," jawab Arya cepat. "Awalnya aku tidak tahu. Aku benar-benar percaya kau adalah anakku. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai melihat kejanggalan. Dan beberapa tahun lalu, Herman diam-diam memberitahuku kebenaran—dengan syarat aku tetap berpura-pura tidak tahu, agar Andri tidak mencelakakanmu."

Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih serius:

"Tapi ada hal yang lebih berbahaya yang tidak kalian ketahui. Herman tidak sepenuhnya jujur juga. Dia memang saudara Andri, dan dia memang ingin mengubah sistem ini—tapi dia juga memiliki rencana sendiri. Dia tidak hanya ingin mengatur ulang bisnis, dia ingin mengambil alih kendali sepenuhnya, dan menggunakanmu sebagai alat untuk mendapatkan dukungan dari orang-orang yang setia pada Andri."

Kirana mengerutkan kening. "Mengapa kau berkata begitu? Bukankah dia yang menawarkan jalan damai?"

"Karena dia tahu kalian tidak akan pernah menyerah begitu saja," jawab Arya. "Dia berpura-pura setuju dengan perubahan, berpura-pura menjadi mitra—sambil diam-diam menyusun kekuatan dan mencari kesempatan untuk mengambil alih semuanya tanpa pertumpahan darah yang besar. Dan yang paling penting..."

Dia menunduk sejenak, lalu menatap keduanya dengan tatapan yang penuh kekhawatiran:

"...Andri dan Herman sebenarnya telah bekerja sama diam-diam selama ini. Perselisihan mereka hanyalah sandiwara. Mereka ingin melihat apakah kalian cukup kuat dan cerdas—atau apakah kalian bisa dimanipulasi. Dan sekarang, setelah kalian membuat kesepakatan, mereka berdua berencana untuk menyingkirkan kalian berdua secara perlahan, dan mengambil alih kekuasaan sepenuhnya dengan cara yang terlihat sah."

Kata-kata itu membuat suasana menjadi hening. Sari dan Kirana saling berpandangan, mencoba memproses informasi yang mengejutkan ini.

"Kau punya bukti?" tanya Sari akhirnya, suaranya tegang.

Arya mengeluarkan sebuah memori kecil dari saku bajunya. "Ini berisi rekaman percakapan mereka beberapa hari lalu. Aku berhasil merekamnya saat mereka bertemu secara rahasia. Di dalamnya, mereka membicarakan rencana mereka—bagaimana mereka akan membuat kalian terlibat dalam masalah hukum, kemudian 'menyelamatkan' situasi dan mengambil alih kepemimpinan dengan dukungan orang banyak."

Dia menyerahkan memori itu, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lembut:

"Aku tahu aku tidak berhak meminta kepercayaanmu. Aku telah menjadi lemah, aku telah membiarkan diriku dikendalikan selama bertahun-tahun. Tapi aku tidak mau melihatmu—atau gadis ini—menjadi korban seperti aku. Aku tidak mau kebohongan ini terus berlanjut selamanya."

Sari memegang memori itu dengan erat, matanya menatap Arya dengan campuran perasaan—marah, ragu, namun juga sedikit harapan. "Mengapa kau berani melakukan ini? Apa yang akan kau dapatkan?"

"Ketenangan hati," jawab Arya jujur. "Selama ini aku hidup dalam penyesalan. Aku membiarkan istriku menderita, aku membiarkan diriku diinjak-injak, dan aku tidak berani berbuat apa-apa. Sekarang, setidaknya aku bisa melakukan satu hal yang benar. Aku tidak meminta maaf, dan aku tidak memaafkan diriku sendiri. Tapi aku ingin kalian tahu kebenaran, agar kalian bisa membuat pilihan yang tepat."

 

Di tempat lain, di sebuah ruangan tersembunyi.

Andri Andalan dan Herman Wijaya duduk berhadapan, menonton rekaman dari kamera pengintai yang tersembunyi di kafe tempat pertemuan berlangsung. Wajah Herman terlihat tenang, sementara Andri terlihat kesal.

"Jadi dia akhirnya berani bicara," gumam Andri. "Aku pikir dia akan tetap diam selamanya."

"Tidak apa-apa," jawab Herman santai. "Ini justru mempercepat rencana kita. Kalau mereka mendengarnya, mereka akan curiga. Dan kecurigaan itu akan membuat mereka membuat kesalahan. Dan saat mereka bergerak, kita akan punya alasan untuk bertindak."

Dia tersenyum dingin. "Biarkan mereka berpikir mereka memiliki bukti. Biarkan mereka berpikir mereka tahu kebenaran. Kita akan memutarbalikkan semuanya. Kita akan membuat Arya terlihat sebagai orang yang mencoba memecah belah, dan kita akan terlihat sebagai pihak yang berusaha menjaga ketertiban."

"Dan apa yang akan terjadi pada mereka?" tanya Andri.

"Mereka masih muda dan cerdas," jawab Herman. "Kalau mereka mau tunduk dan menjadi bagian dari rencana kita, mereka bisa hidup dengan aman dan memiliki posisi yang terhormat. Kalau tidak..."

Dia mengangkat bahu.

"...mereka akan menjadi korban perubahan yang tak terhindarkan. Seperti yang sering terjadi di dunia ini."

 

Kembali ke Menara Wijaya, malam itu.

Sari dan Kirana memutar rekaman yang diberikan Arya. Suara Andri dan Herman terdengar jelas, membicarakan rencana mereka—meski dengan kata-kata yang samar, namun cukup jelas untuk menunjukkan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.

"Jadi semuanya adalah sandiwara," gumam Sari dengan suara dingin. "Perselisihan mereka, ancaman dari Kelompok Bayangan Hitam, tawaran untuk bekerja sama... semuanya dibuat untuk memanipulasi kita."

Kirana mengangguk pelan, wajahnya serius. "Ini masuk akal. Banyak hal yang terasa terlalu mudah atau terlalu sempurna. Mereka tahu kita tidak akan mudah tunduk, jadi mereka membuat situasi di mana kita memilih jalan yang mereka inginkan."

Dia menatap Sari. "Tapi sekarang kita tahu. Kita punya waktu untuk bersiap. Kita tidak harus terjebak dalam rencana mereka."

Sari berdiri dan berjalan menuju jendela, menatap kota yang mulai gelap. "Aku merasa bodoh. Aku pikir aku akhirnya menemukan kebenaran, aku pikir aku akhirnya bisa membangun sesuatu yang lebih baik. Tapi ternyata aku masih dimainkan seperti boneka."

Dia berbalik dan menatap Kirana dengan tatapan yang penuh tekad:

"Tapi mereka salah mengira satu hal. Aku tidak lagi sendirian. Dan kita tidak akan membiarkan mereka mengatur hidup kita seperti ini."

Kirana tersenyum tipis. "Jadi apa rencanamu? Kita tidak bisa melawan mereka secara terbuka—mereka memiliki lebih banyak orang, lebih banyak kekuasaan, dan lebih banyak pengaruh."

"Kita tidak perlu melawan dengan kekerasan," jawab Sari. "Mereka ingin terlihat sebagai pihak yang benar, yang membawa ketertiban. Jadi kita akan bermain sesuai aturan mereka—tapi dengan cara kita sendiri. Kita akan mengumpulkan bukti yang lebih lengkap, kita akan mencari orang-orang yang bisa dipercaya, dan kita akan membongkar kebohongan mereka secara terbuka. Kita akan menunjukkan kepada semua orang siapa mereka sebenarnya."

Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih lembut namun tegas:

"Dan terima kasih. Terima kasih karena tidak pergi, meski kau tahu semua ini dari awal. Terima kasih karena tetap berdiri di sampingku."

Kirana mengangguk. "Ingat? Kita membuat kesepakatan. Kita akan berusaha membuat ini menjadi lebih baik, apa pun yang terjadi. Dan sekarang, kita tahu musuh yang sebenarnya. Kita bisa merencanakan langkah selanjutnya dengan lebih hati-hati."

 

Di kejauhan, malam semakin larut.

Di tempat yang berbeda, Andri dan Herman menunggu. Mereka yakin bahwa kecurigaan akan memicu reaksi yang bisa mereka manfaatkan. Mereka tidak tahu bahwa justru dengan membuka sedikit kebenaran, mereka telah memberikan kesempatan bagi dua gadis muda untuk membangun kekuatan yang tidak mereka duga—kekuatan yang berasal dari kepercayaan satu sama lain dan keinginan untuk melakukan hal yang benar.

Permainan telah berubah lagi. Sekarang, bukan lagi tentang siapa yang memiliki kekuasaan paling besar, tapi tentang siapa yang mampu membuka mata orang banyak terhadap kebenaran, dan siapa yang mampu bertahan saat semua topeng akhirnya dilepaskan.

 

🔍🎭 TOPENG AKHIRNYA MULAI DILEPAS!

1. Kebohongan di Balik Segalanya:

Ternyata perselisihan antara Andri dan Herman hanyalah sandiwara. Mereka bekerja sama untuk memanipulasi situasi dan menguasai sepenuhnya, dengan Sari dan Kirana sebagai bagian dari rencana mereka.

2. Sekutu yang Tak Terduga:

Arya Pratama, yang selama ini dianggap lemah dan tidak berdaya, akhirnya berani mengambil langkah untuk memperbaiki kesalahannya. Dia memberikan informasi penting yang bisa mengubah jalannya peristiwa.

3. Persatuan yang Semakin Kuat:

Meskipun kenyataan pahit terungkap, hal ini justru memperkuat hubungan antara Sari dan Kirana. Mereka sekarang memiliki tujuan yang jelas: membongkar kebohongan dan membangun sesuatu yang benar-benar adil.

4. Apa Selanjutnya?

Di Bab 36, mereka akan mulai menyusun rencana balasan. Mereka harus bergerak diam-diam, mencari dukungan dari pihak yang bisa dipercaya, dan mengumpulkan bukti yang cukup kuat untuk membongkar rencana Andri dan Herman. Dan pada akhirnya, mereka harus menghadapi kedua pria tua itu secara langsung—dalam pertemuan yang akan menentukan nasib seluruh kota.

Ingin lanjut melihat bagaimana mereka menyusun strategi dan menghadapi musuh yang sebenarnya? 🛡️📜⚔️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!