NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Samudera

Pendekar Pedang Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?

"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."

Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 : ANTARA HUTANG DAN INFORMASI

"Long Men bukan pulau yang diperintah oleh satu tangan," kata Tuan Li. "Ada Dewan Pelabuhan, tujuh pedagang besar yang bergantian menjadi ketua setiap tiga tahun. Lalu di atas dewan itu ada seorang penguasa yang posisinya tidak berganti, tapi kekuasaan sebenarnya ada di tangan siapa yang paling banyak uangnya di meja dewan itu... Selama sepuluh tahun terakhir, yang paling banyak uangnya di meja itu uniknya bukan orang Long Men."

"Kerajaan Tengkorak Hitam?" kata Haifeng.

"Benar. Tapi mereka tidak menyebut diri mereka sendiri dengan nama itu di sini." Tuan Li menggeser posisi berdirinya. "Dan meski begitu, semua orang tahu siapa mereka. Bahkan pihak berwajib tahu juga. Mereka memilih tidak tahu secara resmi karena lebih aman begitu."

Chen Mo yang berdiri di belakang Haifeng ketara sekali bahwa dia sedang mendengarkan dengan sangat cermat.

"Waktu Saudara Chen Mo menyerahkan budak-budak yang dibebaskan itu ke pos penjaga," lanjut Tuan Li, "pihak berwajib menerimanya dengan sangat sopan. Mereka mencatat semuanya. Mereka sangat ramah." Nada suaranya tidak berubah tapi ada sesuatu di baliknya yang tidak ramah. "Dan dua hari kemudian, sebagian dari budak-budak itu sudah tidak ada lagi di tempat penampungan resmi."

Lantas Haifeng menatap Tuan Li dengan terkejut. "Maksudmu... mereka dikembalikan ke pedagang-pedagang bejat itu?"

"Tidak ada yang bisa membuktikan itu. Tidak ada yang berani mencari buktinya juga." Tuan Li membuka kipasnya dan mengipasi dirinya sendiri dengan gerakan yang lebih lambat dari biasanya. "Yang jelas perlu kau ketahui tentang Long Yuan, Tuan Muda, orang-orang di kota ini sudah mendengar macam-macam cerita. Ada yang bilang Long Yuan kirim utusan untuk berdagang. Ada yang bilang Long Yuan kirim orang untuk menagih hutang lama. Ada juga yang bilang bahwa Long Yuan yang datang ke wilayah ini setahun dua tahun lalu adalah Long Yuan yang berbeda." Matanya menatap Haifeng dengan cara yang sangat blak-blakan untuk ukuran pedagang yang terbiasa menyembunyikan maksudnya. "Yang tidak tahu mana yang asli, termasuk pihak berwajib di sini."

"Tapi kau tahu mana yang asli," kata Haifeng.

"Saya belajar mengenali orang dari caranya berdiri dan caranya makan." Tuan Li menunjuk ke arah Haifeng dengan ujung kipasnya. "Orang yang datang ke sini setahun lalu itu tidak makan dengan cara yang sama seperti Tuan Muda, dan caranya berdiri tidak seperti seseorang yang tumbuh besar di istana."

Meski Haifeng seharusnya terlihat seperti orang yang dibesarkan di istana, pemuda itu saat ini memiliki sesuatu yang lebih penting untuk dipikirkan, meski perlu dipastikan dulu arahnya.

"Tapi bukan itu yang paling penting sekarang," kata Tuan Li. Kipasnya ditutup lagi. "Yang paling penting adalah masalah Saya sendiri yang sudah tidak bisa ditunda-tunda lagi."

Cerita Tuan Li tentang hutangnya tidak terlalu panjang, tapi setiap kalimatnya mengandung bobot yang cukup untuk dipahami tanpa perlu pengulangan.

Tiga tahun lalu, bisnisnya sedang tidak baik. Ada penawaran modal dari pihak yang mengaku pedagang asal kepulauan selatan, dan Tuan Li menerima itu, karena syaratnya terlihat masuk akal. Setahun kemudian dia baru menyadari bahwa pihak yang memberikan modal itu adalah jaringan yang sama dengan yang sekarang semua orang kenal dengan nama Kerajaan Tengkorak Hitam, dan cara mereka menghitung bunga hutang tidak mengikuti aturan perdagangan mana pun yang pernah ada.

"Lusa mereka akan datang lagi untuk menagih," kata Tuan Li tanpa dramatisasi, hanya menyampaikan fakta. "Kali ini bukan soal uang yang mereka minta. Mereka sudah bilang sebelumnya bahwa kalau cicilan ini tidak bisa dibayar, kepala Saya yang jadi jaminannya... Karena itulah, jika Tuan Muda berkenan melunasi hutang Saya ini, sebagai imbalannya Saya akan memberikan semua informasi yang Saya punya."

"Lalu seberapa besar hutang Anda?" kata Haifeng.

Tuan Li menyebutkan angka gila di atas sepuluh ribu koin perak. Adapun Haifeng mendengarnya tanpa mengubah ekspresi, tapi di dalam kepalanya dia menghitung berapa dari sisa koin mereka yang bisa dialokasikan untuk ini.

"Sebagai imbalannya," lanjut Tuan Li, "Saya bersumpah akan memberikan semua yang Saya tahu tentang perairan antara sini dan timur jauh. Termasuk apa yang pernah didengar tentang Pulau Xuanyuan dari orang-orang yang sudah berlayar lebih lama dari siapa pun di pelabuhan ini. Atau Tuan muda mau sesuatu yang lain? Penginapan? gadis-gadis muda? Apapun itu."

Chen Mo melangkah satu langkah ke depan. "Informasi dari seseorang yang sudah terlilit jaringan tidak bisa dipercaya begitu saja." Suaranya datar luar biasa dan membuat siapapun menggigil mendengarnya. "Mereka bisa saja menyuruhmu memberi informasi yang salah."

"S-saudara Chen Mo memang ada benarnya," kata Tuan Li tanpa tersinggung. "Saya tidak bisa membuktikan apa-apa kecuali bahwa Saya tidak ingin mati lusa."

Haifeng berpikir keras selama beberapa waktu.

"Haifeng." Suara Samudera masuk langsung kala itu. "Tidak semua orang yang meminta tolong adalah jebakan. Tapi tidak semua orang yang jujur tentang kelemahan mereka juga layak dipercaya sepenuhnya. Yang bisa kau lakukan adalah memisahkan dua hal itu. Bantu orangnya tanpa mempercayakan semuanya pada informasinya."

Haifeng menatap Tuan Li satu kali lagi. Pedagang itu berdiri di sana dengan kipas di tangannya dan ekspresi seseorang yang sudah menyiapkan dirinya untuk jawaban apa pun.

"Aku akan menemui para penagih itu," kata Haifeng.

Tuan Li sampai memejamkan matanya sebentar. Kemudian kedua lututnya menyentuh tanah dengan lega. "Terima kasih, Tuan Muda. Sungguh... terima kasih."

"Jangan berterima kasih dulu." Haifeng mengangkat tangannya. "Aku juga punya pertanyaan lebih lanjut. Soal pemerintahan di sini. Siapa yang benar-benar memegang kendali di Long Men?"

Tuan Li berdiri kembali dan mulai menjelaskan struktur Dewan Pelabuhan dengan lebih detail, nama-nama yang berpengaruh, dan di mana keputusan yang sebenarnya dibuat. Penjelasannya panjang dan Haifeng mendengarkan tanpa memotong.

Hingga tepat di tengah kalimat Tuan Li tentang ketua dewan yang sekarang, sesuatu bergerak di langit di atas mereka.

Haifeng langsung mendongak.

Benda itu bergerak dari arah laut, besar dan perlahan, seperti awan yang memutuskan untuk memiliki bentuk dan tujuan. Itu adalah balon raksasa yang permukaannya berwarna tembaga dan hitam bergantian, ditenagai oleh mesin yang mengeluarkan suara bak kincir angin dan asap putih tipis dari bagian bawahnya. Sedangkan di sisinya ada bilik tertutup yang cukup besar untuk menampung beberapa orang, dengan jendela-jendela dari bahan yang tidak terlihat seperti kaca biasa.

Seluruh dermaga yang tadinya penuh suara mendadak hanya mengeluarkan satu suara, yaitu suara orang-orang yang mendongak dan berhenti melakukan apa pun yang sedang mereka lakukan.

Balon itu pun bergerak di atas kota dengan sangat lambat, melintas di atas kepala mereka pada ketinggian yang cukup rendah untuk membuat orang merasa perlu menundukkan kepala meskipun tidak ada gunanya, dan berhenti di atas sebuah bangunan di puncak bukit, bagian utara pulau itu. Bangunan yang dari pelataran dermaga terlihat seperti istana yang tidak terlalu besar tapi memiliki menara-menara di setiap sudutnya, dengan tembok yang membedakan dirinya dari bangunan-bangunan di sekitarnya.

Balon itu menurunkan tali-tali tambatnya dan perlahan merapat ke menara tertinggi.

Haifeng menurunkan pandangannya ke Tuan Li. "Siapa yang baru saja tiba?"

Tuan Li menatap ke arah bukit dengan ekspresi yang mengandung sesuatu yang sulit diidentifikasi, campuran antara segan dan sesuatu yang lebih kompleks dari itu.

"Namanya Zhao Mirei," kata Tuan Li. "Dialah Penguasa Long Men, Tuan Muda. Penguasa yang paling tahu cara bertahan di antara semua kepentingan yang saling bertabrakan di pulau ini." Kipasnya terbuka satu kali. "Beliau baru kembali dari perjalanan yang sudah berlangsung tiga bulan, dan biasanya, kalau Zhao Mirei kembali, ada sesuatu yang akan berubah di Long Men."

Haifeng menatap menara tempat balon itu bertambat. "Aku ingin bertemu dengannya.”

1
Ilham Akbar
Mantap thor, apalagi kalo cerita ini sampai finish💪👍
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Ilham Akbar
Mampus lu,, dasar betina rakus🤭
DanaBrekker: /Smirk/
total 1 replies
GFR31
top 👍
DanaBrekker: terima kasih. sangat disarankan juga buat ikutin kisah Ji Zhen di novelku yang berjudul Lahirnya Kultivator Naga Keabadian 🙏
total 1 replies
DanaBrekker
Selamat datang di karya baru author semoga kalian suka.. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini. Bisa terus kasih dukungan demi kelanjutan karya-karya author, dan kalau tidak suka jangan dipaksa 🤭🙏🤣
DanaBrekker: semoga cocok 🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!