Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.
ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.
Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.
tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. kehilangan status
Ruang sidang utama istana terasa lebih dingin dari biasanya. Udara di sana seolah membeku, menahan napas ribuan orang yang hadir. Di tengah ruangan, berdiri Menteri Vane. Namun, dia tidak lagi mengenakan jubah kebesaran dengan lambang keluarga bangsawannya. Dia mengenakan pakaian tahanan berwarna abu-abu kusam, simbol bahwa statusnya sebagai bangsawan telah dicabut secara resmi.
Mahkamah Agung baru saja membacakan vonis akhir.
"Menteri Vane, atas tuduhan pengkhianatan tingkat tinggi, korupsi masif, dan kolusi dengan negara asing, dijatuhi hukuman pembuangan seumur hidup ke Pulau Batu Hitam. Seluruh aset, tanah, dan gelar kebangsawanannya disita oleh Kerajaan Mobelle."
Hening mencekam menyelimuti ruangan. Para menteri dan pejabat istana terbelalak, saling berpandangan dengan wajah pucat. Mereka mengharapkan penjara mewah, atau mungkin pengasingan ringan di vila pedalaman. Tapi Pulau Batu Hitam? Itu adalah tempat kutukan. Sebuah pulau terpencil di ujung selatan benua, dikelilingi arus laut yang ganas, tanahnya hanya terdiri dari batu tajam dan pasir hitam yang tandus. Tidak ada pohon, tidak ada sumber air tawar yang mudah, dan badai menghantamnya sepanjang tahun. Hukuman itu sama dengan hukuman mati perlahan.
Vane gemetar hebat. Lututnya lemas, hampir ambruk. Dia menatap Floren yang duduk di takhta dengan tatapan dingin dan tak tergoyahkan. Ketegasan Ratu barunya ini melampaui segala ekspektasi mereka. Ini bukan sekadar hukuman; ini adalah eksekusi sosial dan fisik.
"Ini... ini tidak adil!" teriak Vane tiba-tiba, suaranya pecah dan melengking, memecah keheningan. Dia meronta saat dua penjaga memegang lengannya. "Aku sudah mengabdi selama bertahun-tahun di istana ini! Aku melayani Ratu terdahulu, Yang Mulia! Aku tidak pernah berkhianat pada darah kerajaan!"
Floren tetap diam, matanya menatap lurus ke depan, tidak menunjukkan belas kasihan sedikit pun.
Vane menyadari bahwa kemarahan tidak mempan. Dia mengubah strateginya. Air mata palsu mulai mengalir di pipinya yang pucat. Dia menundukkan kepalanya, memainkan kartu terakhirnya: keibuan.
"Yang Mulia... tolong, pikirkan baik-baik," isak Vane, suaranya berubah menjadi rengekan yang memilukan. "Jika saya dibuang ke tempat terkutuk itu, siapa yang akan melindungi Julian? Putra saya... Julian sangat lemah. Dia tidak punya insting bertahan hidup. Bagaimana jika di istana ada seseorang yang membullynya? Bagaimana jika mereka mengetahui kalau Julian tidak memiliki pendukung lagi? Dia akan hancur, Yang Mulia! Dia akan dimakan hidup-hidup oleh politik istana yang kejam!"
Dia mengangkat wajah basah air matanya, menatap Floren dengan tatapan memohon.
"Saya memang melakukan kesalahan... saya manusia, Yang Mulia. Setiap manusia berhak melakukan kesalahan dan mereka akan belajar. Tapi jangan hancurkan masa depan anak saya karena dosa ibunya. Kasihanilah Julian."
Beberapa menteri di barisan belakang mulai terlihat goyah. Ada yang bergumam pelan, merasa simpati. Strategi Vane licik: dia mencoba membuat Floren terlihat sebagai tiran yang kejam terhadap seorang ibu yang khawatir, dan sekaligus menyiratkan bahwa Julian—yang kini berada di Harem—adalah korban yang rentan.
Floren akhirnya bergerak. Dia bangkit dari takhtanya, langkah kakinya bergema jelas di lantai marmer. Dia turun satu anak tangga, lalu berhenti, menatap Vane dari ketinggian yang cukup untuk menunjukkan dominasi, namun cukup dekat untuk didengar dengan jelas.
"Aku akan melindungi Julian," kata Floren. Suaranya tenang, datar, dan berwibawa.
Vane tersenyum tipis, merasa menang. "Terima kasih, Yang Mulia. Saya tahu—"
"Diam," potong Floren tajam. "Dengarkan baik-baik. Julian berada di bawah perlindungan langsungku. Julian adalah bagian dari Harem Kerajaan. Dan Harem adalah wilayah di mana saya berkuasa mutlak. Tidak ada seorang pun, termasuk kau, yang boleh menyentuhnya tanpa izin tertulis dariku. Siapa pun yang berani mengganggu Julian, akan menghadapi murka Ratu."
Vane tertegun. Argumen tentang perlindungan itu dipatahkan dengan otoritas absolut Floren atas Harem. Namun, Vane tidak menyerah. Dia ingin menciptakan keributan, ingin membuat Floren terlihat buruk di mata para menteri konservatif yang masih memandang Harem sebagai tempat hiburan belaka.
"Yang Mulia..." Vane menaikkan alisnya, nada suaranya berubah menjadi sindiran halus yang terselubung keprihatinan. "Anda memiliki lebih dari 200 pria tampan di Harem Anda. Pria-pria muda, penuh gairah, dan kompetitif. Bagaimana bisa Anda menjamin keselamatan putra saya yang 'lemah' di antara mereka? Apakah Anda benar-benar mampu mengawasi ratusan pria itu? Atau... apakah Anda berniat mengabaikan pria-pria di Harem Anda demi melindungi satu anak laki-laki yang tidak berguna?"
Sindiran itu sengaja dilontarkan keras-keras. Vane tahu beberapa menteri di ruangan itu memiliki putra atau keponakan yang juga masuk ke dalam Harem sebagai cara untuk menjaga koneksi dengan Ratu. Dengan mempertanyakan kemampuan Floren mengelola Harem, Vane secara tidak langsung menyerang kompetensi Floren dan menyiratkan bahwa Julian mungkin akan menjadi korban dari "permainan kotor" di dalam Harem karena kurangnya perhatian Ratu.
Beberapa menteri mulai bisik-bisik. Tatapan mereka bergeser antara Floren dan Vane. Ketegangan meningkat.
Tapi Floren tidak marah. Dia tidak bahkan tersenyum. Dia hanya menatap Vane dengan tatapan yang begitu dingin hingga suhu ruangan sepertinya turun beberapa derajat.
"Haremku," kata Floren pelan, namun suaranya bergema hingga ke sudut ruangan terjauh, "adalah urusanku. Aturannya ditentukan olehku. Keamanan di dalamnya dijaga oleh standarku. Siapa pun yang berani ikut campur, mengkritik, atau mencampuri urusan Haremku tanpa perintah langsung... akan dianggap sebagai penghinaan terhadap Mahkota."
Dia memindai ruangan dengan tatapan elang.
"Apakah ada yang ingin menambahkan?"
Semua menteri yang awalnya bisik-bisik langsung diam seribu bahasa. Tenggorokan mereka tercekat. Mereka semua tidak akan pernah lupa bagaimana cara Floren menguasai tahta saat ini. Mereka ingat malam kudeta itu. Ingat lorong-lorong istana yang dibanjiri darah. Ingat mayat-mayat pengawal pemberontak yang ditumpuk di halaman. Ingat mata Floren yang merah karena amarah sihir saat dia menghabisi saudara-saudaranya sendiri yang menghalangi jalan.
Lautan darah dan mayat itu tidak pernah bisa mereka lupakan. Itu adalah mimpi buruk yang menghantui tidur mereka. Floren bukan Ratu yang bisa dipermainkan dengan intrik verbal murah. Dia adalah Ratu yang dibangun di atas fondasi kekuatan brutal dan keadilan yang tak kenal ampun.
Melihat ketakutan kolektif itu, Vane menyadari kegagalannya. Wajahnya yang pucat semakin memutih. Dia kehilangan segalanya: kekuasaan, harta, status, dan bahkan kemampuan untuk memanipulasi melalui anaknya.
"Bawa dia pergi," perintah Floren pada penjaga.
Lima prajurit elit maju, mencengkeram Vane dengan kasar.
"Tidak! Ini tidak adil!" Vane berteriak lagi, kali ini dengan keputusasaan murni. Kakinya diseret menjauh dari takhta. "Floren! Kau monster! Kau membunuh saudaramu sendiri demi tahta! Kau akan mati dalam kesepian! Tidak ada yang akan mencintaimu! Kau akan mati sendirian di istana dingin ini, dikelilingi oleh hantu-hantu korbanmu!"
Teriakan Vane menggema di lorong-lorong istana saat dia diseret keluar menuju gerbang penjara, menunggu kapal yang akan membawanya ke neraka hidup di Pulau Batu Hitam.
Di dalam ruang sidang, hening total kembali terjadi. Tidak ada seorang menteri pun yang berani berbicara. Tidak ada yang berani menarik napas terlalu keras. Mereka menunduk, menghindari kontak mata dengan Floren, takut menjadi target berikutnya.
Floren duduk kembali di takhtanya, wajahnya kembali menjadi topeng es yang tak terbaca. Dia tahu kata-kata Vane tentang kesepian itu bertujuan menyakitinya. Dan memang, itu menusuk. Tapi Floren menerima kesepian itu sebagai harga dari kedamaian rakyatnya dan kestabilan.
Sidang dibubarkan tanpa kata penutup. Para menteri keluar satu per satu dengan langkah gontai, meninggalkan Floren sendirian di aula yang luas.
"huh, tidak di masa depan atau masalah lalu. Kenapa semua orang sangat suka main kotor," gumam Floren merasa pusing.
ternyata menjadi ratu tidak semudah yang dia bayangkan ketika membaca novel, menjadi ratu sangat berat! Dan Floren sendiri hampir menyerah.