NovelToon NovelToon
Cara Hidup Di Masa Kiamat

Cara Hidup Di Masa Kiamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Hari Kiamat / Sistem
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: Lloomi

Saat langit retak dan hukum purba kembali berkuasa, manusia jatuh ke dasar rantai makanan. Di tengah keputusasaan itu, Rifana bangkit dengan luka yang tak kunjung sembuh dan ingatan yang perlahan terasa asing.

​Di dunia di mana para Superhuman mulai membangun tatanan baru di atas reruntuhan, Rifana hanyalah anomali yang membawa aroma maut ke mana pun ia melangkah. Dia tidak memiliki kekuatan yang memukau, hanya kemampuan adaptasi yang gila dan perasaan bahwa dirinya bukan lagi manusia yang sama.

​Berapa lama dia bisa bertahan di dunia yang tak lagi mengenali keberadaannya? Dan apa yang sebenarnya mengawasi dari balik fajar yang tak kunjung tiba?

Jadwal Up : 18.30 WIB
6-7 Ch/minggu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lloomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergi ke Kota (4)

'Ini!' Rifana tercerahkan, sebuah ide terbesit di kepalanya dengan cepat. Dia memposisikan tubuhnya sekali lagi saat makhluk itu menerjang tanpa arah.

Dengan hati-hati dia mengelak, melepaskan makhluk itu dari posisinya saat ini.

Makhluk mutan itu meraung dengan keji, emosinya meledak-ledak setelah mangsanya menghindari serangannya.

Rrahh!

Mulutnya ditarik terbuka, mencapai sudut mengerikan dengan pemandangan memuakkan susunan gigi tajam berdarah memenuhinya.

Mulutnya masih menyisakan jejak, gigi putihnya dibasuh dengan darah kental yang menempel pada daging yang tersangkut di selanya.

Rifana bersiap pergi, ia melesat dengan kecepatan penuh.

'Lebih baik kabur, daripada gua mati' Tujuannya mudah, dia hanya harus bersembunyi dan memastikan segalanya tenang, atau mungkin ada ide bagus lainnya.

Rifana tak membuang banyak waktu untuk berpikir lagi, langkahnya tetap dituju pada barisan gedung di ujung jalan, meski tak begitu memperhatikan ini pertama kalinya dia melihat lingkungan menjadi sekacau ini.

Aroma terbakar menyusupi hidungnya, matanya melirik menyaksikan segalanya.

Gedung-gedung telah dibakar hingga menghitam, asap masih mengepul di beberapa tempat bersamaan dengan kendaraan-kendaraan bermotor yang terlantar di jalanan.

Beberapa mobil nampaknya telah meledak dan terbakar sebelumnya, menyisakan rongsok besi gelap yang mengeluarkan bau memuakkan yang bercampur dengan darah.

Situasi di seluruh tempat sepertinya tak jauh berbeda 'Mungkin di kota bakalan makin buruk' Rifana memasuki salah satu bangunan yang telah dibakar habis.

Langkah pertamanya dipijakkan, abu bertebaran di udara memasuki paru-parunya setiap nafas diambil, dada Rifana sesak, paru-parunya mengembang dan mengempis setiap detiknya setiap tarikan yang diambilnya membawa rasa terbakar di dadanya.

Wajahnya pucat, Rifana menghiraukan semua itu dan terus masuk.

Makhluk memalingkan kepalanya, telinganya bergerak-gerak dengan fokus sampai berhenti.

Tatapan kosongnya menyapu segalanya, dan mulai berlari dengan gila.

Setiap langkah yang diambil Rifana, telah diketahui olehnya, dengan cepat makhluk itu menyusul Rifana.

Tempat itu kosong, sepertinya Rifana ceroboh sejenak dan tak menyadari.

Meski makhluk itu tak dapat melewati pintu, hal yang sama tak akan terjadi lagi. Bangunan tua yang sudah lapuk itu diperparah dengan kebakaran telah jatuh menjadi lebih dari kata buruk.

Itu bencana!

Makhluk itu menabrakkan dirinya ke pintu, merobohkannya dengan mudah, tak sampai disitu, apa yang makhluk itu lakukan telah menciptakan reaksi berantai yang gila.

Tabrakan keras menggetarkan seluruh gedung, fondasinya mulai goyah dalam sekejap mata, bagiannya runtuh satu persatu.

"Sialan!" Kecerobohannya tak dapat diterima, semuanya sudah terlambat saat Rifana menyadarinya. Gedung itu perlahan runtuh ke bawah, ditarik gravitasi bumi untuk kembali kepadanya.

Bruak! Puing-puingnya terjatuh ke tanah dengan keras, Rifana dengan sisa adrenalinnya mencoba menghindari itu namun tak sepenuhnya berhasil.

Jauh di belakang Rifana, makhluk itu telah masuk ke gedung, namun nasibnya tak jauh berbeda. Kebutaannya adalah tantangan terberat makhluk itu, dan kini dia tak bisa apapun.

Runtuhnya gedung membuat semua suara berpadu menciptakan harmoni kehancuran yang tak terelakkan, pendengarannya tak lagi membantu, ditambah debu pasir dan abu yang bercampur dengan udara terus memasuki hidungnya.

Makhluk ini telah dilemahkan sepenuhnya, hingga gedung itu tak lagi sabar. Dengan potongan besar, jatuh tepat di atas kepala makhluk mutan itu.

Menguburnya dalam puing yang berdebu dan berabu.

Kondisi Rifana jauh dari kata baik, kecepatannya kurang untuk berpindah ke tempat yang aman. Akhirnya dia gagal menghindar dan tertimpa runtuhan di ambang batas keamanan.

'Eugh.. ' Sebagian tubuhnya terjebak di puing-puing, menghilangkan sepenuhnya menghilangkan mobilitas Rifana, dia mengutuk tanpa daya 'Sialan' semuanya kacau.

Siapa yang akan menyangka kalau bangunan ini akan runtuh dalam sekali tabrak? Rifana tak menebak hasil ini, rencananya hanyalah bersembunyi di sudut dan menciptakan keheningan penuh di sekitarnya.

Dengan begitu makhluk itu tak akan memiliki pilihan selain pergi karena kehilangan mangsa.

Namun sekarang semuanya hancur, hati Rifana sedikit tersayat memikirkannya, tanpa sadar menciptakan mekanisme lain dalam pikirannya untuk mencegah kegagalan di masa depan.

Entah karena naluri atau insting, dia akan menghabiskan waktu lebih lama untuk berpikir di masa depan.

Dan sekarang, bersimbah cahaya retakan yang menggoda, dua sosok terjebak dalam reruntuhan gedung.

. . .

Di sebuah kafe hancur di kota, pendaran cahaya merembes masuk menerangi interior kacau di dalamnya. Adam membuka matanya setelah periode waktu yang tak diketahui, tubuhnya terasa segar kembali.

Aktivitas di luar telah berkurang drastis, raungan serta rintihan yang tak diketahui telah berkurang sepenuhnya dibandingkan sebelumnya.

Adam membangunkan adiknya yang masih tertidur lelap "Woi kebo, cepet bangun, kita berangkat lagi!" Adam mengguncang tubuhnya, mata Ziva berkedut ia memejamkan matanya sebelum membukanya dengan lemah.

Adam sudah menggenggam segelas air yang diambilnya dari persediaan kafe saat Ziva terbangun, hal pertama yang dilihat Ziva saat bangun adalah gelas penuh yang hampir disiramkan kearahnya.

"Gua bangun, gua bangun" Ziva menyingkir ke samping saat Adam meminum air di gelasnya "Baguslah, gua haus, hampir aja gua buang-buang sumber daya cuma buat bangunin lu" Ia meneguk air itu ke tenggorokannya.

Mereka harus pergi ke mall itu sekarang, Adam merapikan barang mereka saat Ziva menggantikan Rifana menyiapkan makanan.

Kaleng dan botol minum dibuka, entah berapa lama waktu telah berlalu sejak mereka beristirahat, kduanya tak mengetahui pasti.

Namun setidaknya, beberapa jam harusnya telah terlewati jika tubuh mereka beristirahat dengan durasi yang sama seperti sebelum kiamat.

Keduanya mengambil suapan, dan makan dengan perlahan, mereka tak dikejar apapun saat ini. Jadi tak perlu terburu-buru, sesekali mereka saling menatap dan melihat ke luar.

Melalui wajah mereka, siapapun dapat menebak dengan mudah apa yang dipikirkannya.

Ziva bahkan tampak lebih khawatir dibandingkan dengan Adam, meski dia tak melihatnya secara langsung, Adam telah memberitahunya apa yang terjadi.

Dia terus memikirkan hal itu sejak tadi, lagipula Rifana dalam pelarian dari makhluk mutan ganas besar yang memiliki kuku gila.

Bagaimana dia bisa tenang, dan pada akhirnya.

Mereka makan bersama dalam hening, meski sesuatu terasa kurang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!