NovelToon NovelToon
STILL ME

STILL ME

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.

Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.

Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STILL ME CHAPTER 21: Operasi Kamuflase 45 Detik

​Satu minggu berlalu sejak insiden pembagian rak kulkas.

​Rutinitasku dan Rayan sudah terbentuk menjadi sebuah ekosistem yang sangat efisien: kami saling mengabaikan. Di siang hari, aku menaiki KRL untuk menjadi budak korporat di PT. Bina Tirta, berurusan dengan spreadsheet dan deadline harian. Di malam hari, aku kembali ke lantai empat puluh, membaca buku di Sayap Timur sementara Rayan bekerja di Sayap Barat.

​Penthouse ini tidak terlihat seperti rumah sepasang pengantin baru. Ruangan raksasa ini murni terlihat seperti lobi klinik dokter gigi tingkat atas; bersih, simetris, dan sama sekali tidak ada jejak kehidupan organik yang saling bersinggungan.

​Hingga hari Sabtu sore itu tiba.

​Pukul 15:10. Aku sedang duduk bersila di karpet ruang tengah, memakai kaos oblong pudar bergambar logo band rock tahun 90-an milik Bapakku dan celana training kebesaran. Di depanku, laptop menyala menampilkan laporan data logistik yang kubawa pulang untuk dikerjakan.

​Di seberang ruangan, tepatnya di meja makan marmer, Rayan sedang duduk membaca draf akuisisi perusahaan dengan kacamata baca berbingkai tipis bertengger di hidungnya. Ia mengenakan kaos polo hitam dan celana pendek selutut.

​Kami berada di ruangan yang sama, tapi berjarak sepuluh meter dan dihubungkan oleh keheningan absolut.

​Tiba-tiba, suara intercom di dinding dekat pintu utama berbunyi nyaring. Dua kali. Itu adalah saluran komunikasi darurat dari pos keamanan lobi bawah.

​Rayan mengerutkan kening tanpa mengangkat wajah dari dokumennya. "Nara, tolong angkat."

​Aku menghela napas, berdiri dari karpet, dan menekan tombol hijau pada panel intercom. "Ya, dengan penthouse Adristo."

​"Mohon maaf mengganggu, Nyonya," terdengar suara Kepala Keamanan dari speaker, nadanya sedikit panik. "Bapak Rayan ada? Nyonya Helena baru saja memaksa masuk ke lift VIP pribadi. Beliau bilang ingin memberi kejutan. Lift sedang bergerak naik. Estimasi kedatangan empat puluh lima detik."

​Aku mematung. Otakku berhenti memproses data logistik dan langsung beralih ke mode Defcon 1.

​"Diterima. Terima kasih," balasku cepat, lalu mematikan intercom.

​Aku berbalik menatap Rayan. Pria itu kini sudah menatapku, kacamata bacanya sedikit menurun.

​"Ibumu," kataku, nada suaraku naik setengah oktaf. "Dia ada di lift. Naik ke sini. Empat puluh lima detik lagi pintunya terbuka."

​Mata kelam Rayan sedikit membesar. Dalam hitungan milidetik, CEO yang terbiasa menghadapi fluktuasi saham triliunan rupiah itu akhirnya menunjukkan reaksi manusiawi pertamanya: Panik.

​"Sial," umpat Rayan rendah.

​Ia langsung melompat dari kursinya. "Nara, ruang tengah ini kelihatan seperti dua negara yang sedang perang dingin! Tidak ada jejak kita hidup bersama! Ibu saya itu peka, dia punya radar kebohongan yang lebih akurat dari polygraph!"

​"Tiga puluh lima detik!" seruku, melihat angka digital di panel intercom yang terhubung dengan posisi lift.

​Rayan berlari ke arah karpet tempatku duduk. Ia meraup laptopku, buku catatanku, dan cangkir kopi murahanku dari lantai, lalu meletakkannya secara acak di atas meja marmer, tepat di sebelah tumpukan dokumen akuisisinya.

​"Dua puluh detik!" Aku mulai berlarian mengitari ruang tamu, menendang sepasang sandal jepitku agar bersembunyi di bawah kolong sofa, lalu mengambil bantal sofa yang posisinya terlalu rapi dan melemparnya sembarangan agar terlihat seperti baru ditiduri.

​"Ke sini!" perintah Rayan tajam.

​Ia menarik remot TV, menyalakan layar raksasa itu, dan menekan sembarang tombol di aplikasi Netflix. Sebuah film komedi romantis murahan langsung terputar dengan volume sedang.

​"Sepuluh detik! Rayan, bajuku!" Aku menunduk menatap kaos oblong butut bapakku yang berlubang kecil di bagian pundak. Ini bukan pakaian Nyonya Adristo yang sedang bersantai di akhir pekan, ini pakaian gembel yang tersesat di apartemen mewah.

​Rayan tidak membuang waktu untuk berdebat. Ia menarik lenganku secara paksa, menjatuhkanku ke atas sofa letter-L tepat di tengah ruangan. Ia lalu mengambil selimut cashmere mahal yang biasanya terlipat estetis di sandaran sofa, dan melemparnya menutupi seluruh tubuh bagian atasku.

​"Pakai itu. Alasan AC terlalu dingin," desisnya.

​Lima detik. Empat. Tiga.

​Rayan langsung menjatuhkan dirinya di sebelahku. Posisinya sangat mepet. Bahu kirinya menempel rapat dengan bahu kananku. Ia meletakkan sebelah lengannya di sandaran sofa tepat di belakang leherku.

​TING.

​Pintu lift terbuka tepat ke dalam penthouse.

​Helena Adristo melangkah masuk dengan senyum mengembang luar biasa lebar. Ia mengenakan gaun siang bermotif floral elegan, tas Chanel menggantung di sikunya, dan dua orang ajudan di belakangnya membawa beberapa kantong belanjaan dari butik desainer dan kotak makanan premium.

​"Kejutan akhir pekaaaan!" seru Helena ceria.

​Rayan menoleh dengan gerakan dramatis yang sangat buruk. "Ma? Kenapa tidak telepon dulu?"

​Aku menampakkan kepalaku dari balik selimut cashmere, mencoba menyunggingkan senyum hangat yang mungkin lebih terlihat seperti ringisan orang sakit gigi. "I... Ibu. Selamat sore."

​Helena menghentikan langkahnya di tengah ruangan. Ajudannya meletakkan barang-barang di kitchen island lalu segera menunduk mundur ke dalam lift dan menghilang.

​Mata teduh Helena kini menyapu ruang tamu. Ia menatap layar TV yang sedang menampilkan adegan sepasang kekasih sedang berciuman di bawah hujan buatan, lalu menatap dokumen kerjaku dan Rayan yang menumpuk jadi satu di meja makan, dan terakhir... matanya mengunci posisi kami berdua di atas sofa.

​"Kalian ini... sedang menonton film romantis, tapi postur tubuh kalian kaku sekali seperti sedang menunggu giliran sidang tilang di pengadilan," komentar Helena, melipat kedua tangannya di dada. Matanya memicing penuh selidik.

​Jantungku berpacu di angka 130 BPM. (Dia tahu. Insting keibuannya tahu bahwa kami memalsukan ini semua).

​"Kami... baru saja selesai membahas grafik pengeluaran, Ma. Otak kami masih mode bekerja," Rayan beralasan, sebuah kebohongan korporat yang sangat payah.

​Helena menghela napas panjang, berjalan mendekati sofa. Ia menggelengkan kepalanya.

​"Rayan, Ibu tahu kamu itu manusia kaku yang menikahi pekerjaanmu. Tapi kalian ini kan baru seminggu menikah!" omel Helena. Ia berdiri berkacak pinggang tepat di depan kami. "Ibu perhatikan dari pas makan malam di rumah utama tempo hari, kalian berdua tidak ada manis-manisnya sama sekali. Kalian berinteraksi seperti rekan kerja."

​Aku menelan ludah. Keringat dingin mulai merembes di punggungku. Kalau Helena curiga, dia bisa melaporkan ini ke Nenek Ratih. Kontrak satu miliar itu bisa dibatalkan secara sepihak dengan tuduhan penipuan, dan aku harus mengembalikan lima ratus juta yang setengahnya sudah kuberikan pada Ibuku.

​Aku akan dipenjara. Logikaku sudah membuat simulasi rute pelarian dari gedung ini.

​"Ma, kami ini orang dewasa yang tidak perlu memamerkan kemesraan murahan"

​"Jangan-jangan..." Helena memotong ucapan Rayan, matanya menyipit berbahaya. "Pernikahan ini cuma kedok? Jangan-jangan kamu menyewa Nara hanya supaya Ibu dan Nenek berhenti mengatur kencan buta untukmu, ya?!"

​Skakmat. Tembakan Helena tepat mengenai jantung kebohongan kami.

​Udara di penthouse itu seolah tersedot habis. Rayan mematung di sebelahku. Aku menghentikan napasku. Wanita ini benar-benar tidak bisa diremehkan.

​"Ma, itu tuduhan yang sangat absurd," balas Rayan, suaranya sedikit meninggi untuk menutupi kepanikan absolutnya.

​"Kalau begitu buktikan," tantang Helena seketika. Senyum penuh kemenangan dan sedikit kenakalan muncul di bibirnya. "Ibu belum pernah melihat kalian bersentuhan layaknya sepasang suami istri normal. Ayo. Cium istrimu sekarang, di depan Ibu."

​Sistem saraf motorku langsung mengalami malfungsi total.

​Cium? Apa-apaan ini?! Ini tidak ada di dalam binder hitam! Ini melanggar Pasal 8 secara fundamental!

​Aku perlahan menoleh ke arah Rayan. Aku mengirimkan sebuah tatapan membunuh tingkat tinggi yang secara telepati meneriakkan: 'Kalau kau berani menyentuhku, aku akan memukul lehermu dengan remote TV ini dan loncat dari lantai empat puluh sekarang juga.'

​Rayan menatap mataku. Pria itu membaca ancamanku dengan sangat jelas. Namun, ia juga membaca bahaya dari ibunya yang sedang berdiri menunggu pembuktian. Jika ia mundur sekarang, tamat sudah. Segala rencananya untuk menjauhkan kendali Nenek Ratih akan hancur lebur malam ini juga.

​Rahang Rayan menegang. Otak CEO-nya telah mengambil keputusan yang paling menguntungkan (dan paling berbahaya).

​Rayan membalas tatapan membunuhku dengan tatapan peringatan yang mengisyaratkan: 'Force Majeure. Protokol Darurat. Maaf.'

​Sebelum aku sempat membuka mulut untuk protes, tangan kanan Rayan yang sejak tadi berada di sandaran sofa tiba-tiba bergerak turun, merengkuh belakang leherku dengan mantap. Tangannya yang besar dan hangat menelusup ke balik rambutku.

​Sementara tangan kirinya meraih pinggangku, menarik tubuhku secara paksa hingga menempel sepenuhnya ke arahnya. Selimut cashmere yang menutupi kaos bututku jatuh ke karpet.

​Mataku membelalak ngeri. "Rayan" bisikku tertahan, mencoba menahan dadanya dengan kedua telapak tanganku.

​"Sayang, ikuti saja alurnya," potong Rayan dengan suara bariton yang sengaja dibuat lembut, namun di telingaku terdengar seperti instruksi komandan militer sebelum mengeksekusi tawanan.

​Ia menoleh ke arah ibunya dengan senyum paksa yang dipoles sempurna. "Kalau ini yang Mama mau."

​Lalu, pria itu menundukkan wajahnya.

​Bibirnya menabrak bibirku.

​Duniaku mendadak kehilangan suara. Televisi yang sedang memutar film romantis itu seolah di-mute.

​Ini bukan ciuman yang lambat, romantis, atau penuh gairah seperti di film-film. Ini adalah ciuman efisien yang dilakukan dengan presisi matematis untuk menyelamatkan aset bernilai miliaran. Tekanan bibirnya mantap, sedikit kasar karena terburu-buru, namun aroma mint dan kopi hitam dari napasnya menyergap seluruh indra penciumanku.

​Jantungku yang tadinya berdetak kencang karena panik, kini mengalami short-circuit yang sangat parah. Tangan Rayan di tengkukku menahan kepalaku agar tidak mundur, sementara pinggangku terkunci dalam dekapannya.

​Sentuhan ini terlalu nyata untuk sebuah kepalsuan. Ada suhu panas yang menjalar dari titik pertemuan bibir kami, menyengat hingga ke ujung jari kakiku. Akal sehatku meneriakkan pasal-pasal pelanggaran kontrak, tapi tubuhku mengkhianatiku dengan membeku total, menerima invasi tersebut tanpa perlawanan berarti.

​Tiga detik. Empat detik.

​Itu adalah durasi yang cukup lama untuk meyakinkan seorang ibu, tapi terasa seperti satu abad di dalam kalkulasi batinku.

​Rayan akhirnya menarik wajahnya menjauh. Ia melepaskan cengkeramannya di tengkuk dan pinggangku secara perlahan, menyisakan jarak aman.

​Dada Rayan terlihat naik turun lebih cepat dari biasanya. Ia berdeham pelan, menutupi kecanggungan yang tiba-tiba mengkristal di antara kami, lalu menoleh ke arah ibunya.

​"Puas, Ma?" tanya Rayan dengan suara yang sedikit lebih serak.

​Aku masih duduk mematung. Mataku menatap lurus ke arah layar TV, tidak berani berkedip. Jari-jariku mencengkeram lututku sendiri kuat-kuat. (Itu tadi bukan ciuman. Itu tadi adalah resusitasi jantung paru (RJP) versi korporat. Ya, itu adalah prosedur medis penyelamatan nyawa. Jangan dipikirkan, Nara.)

​Helena tertawa puas. Wajahnya berseri-seri seolah ia baru saja memenangkan lotre. Segala kecurigaannya menguap tak berbekas.

​"Nah, begitu dong! Buktikan kalau Ibu salah duga," seru Helena gembira, melangkah ke arah kitchen island untuk membongkar belanjaannya. "Ibu tahu kok kalian berdua pasti saling mencintai, hanya saja Rayan ini kan memang kaku dari lahir. Makanya, Nara, kamu harus lebih agresif sedikit memancingnya."

​Aku menelan ludah yang terasa seperti menelan kerikil tajam. "Baik... Ibu. Akan saya catat."

​"Bagus," Helena mengangguk, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berlogo undangan eksklusif. "Karena itulah Ibu datang ke sini. Ibu mau mengantarkan ini langsung untukmu, Nara."

​Helena berjalan kembali ke arahku, menyodorkan kotak itu. Aku menerimanya dengan tangan yang secara memalukan masih sedikit gemetar akibat shock barusan.

​"Apa ini, Bu?"

​"Minggu depan, ada acara Charity High Tea tahunan dari yayasan sosialita yang dipimpin oleh Nenek Ratih," jelas Helena, nadanya kini berubah menjadi serius dan bersemangat. "Ini acara paling bergengsi di kalender keluarga kita. Semua kolega bisnis, istri-istri menteri, dan kerabat jauh akan hadir. Termasuk Tante Sonia dan komplotannya."

​Aku menatap undangan mewah berhuruf emas itu. Firasat logisku mendadak membunyikan alarm peringatan yang lebih keras dari sebelumnya.

​"Dan acara ini..." Helena menepuk pelan pundakku. "Khusus untuk perempuan. Para suami dan laki-laki tidak diizinkan masuk. Jadi, Rayan tidak bisa ikut mendampingimu. Ini adalah panggung solomu, Nara. Kesempatanmu untuk membuktikan pada mereka semua siapa Nyonya Rayan Adristo yang sebenarnya."

​Aku menatap Helena, lalu menatap undangan di tanganku.

​Khusus perempuan. Tidak ada Rayan.

​Artinya, aku akan dilempar ke dalam lubang ular berbisa paling berbisa di ibu kota ini, tanpa tameng pelindung miliardarku. Jika di meja makan kemarin Tante Sonia hanya menggunakan taktik alergi makanan tingkat amatir, maka di acara ini, mereka pasti sudah menyiapkan meriam berisi penghinaan kelas atas untuk menghancurkan mentalku.

​"Khusus perempuan?" Rayan menyela, keningnya berkerut tajam. "Ma, Nara belum siap dilepas sendirian di acara komite Nenek. Sonia dan teman-temannya akan memangsanya."

​"Nara bukan gadis lemah, Rayan. Ibu melihatnya mematahkan argumen Sonia kemarin. Ibu percaya padanya," bela Helena mantap. Ia menatapku penuh harap. "Kamu bisa kan, Nara?"

​Aku menarik napas panjang. Mengembalikan otakku yang sempat konslet akibat ciuman paksa tadi ke mode rasional. Aku menatap undangan itu, lalu mengangkat daguku.

​"Tentu, Ibu. Saya akan hadir," jawabku mantap.

​Helena tersenyum cerah, mengusap kepalaku, lalu pamit pergi karena masih ada urusan butik yang harus diurusnya.

​Begitu pintu lift tertutup dan membawa Helena turun, keheningan yang luar biasa tebal dan canggung langsung mencekik udara di ruang tamu penthouse ini.

​Aku tidak menoleh ke arah Rayan. Rayan juga tidak menoleh ke arahku.

​Aku menggosok bibirku dengan punggung tanganku sebuah gerakan refleks yang setengah mati kusesali karena pasti menyinggung egonya lalu aku berdiri dari sofa.

​"Itu tadi tidak ada di kontrak," kataku dingin, menatap lurus ke arah jendela kaca. "Pasal delapan."

​Terdengar suara Rayan berdiri dari sofa. Ia merapikan kaos polonya.

​"Pasal tiga. Pihak Kedua wajib mendukung skenario publik untuk menjaga kerahasiaan," balas Rayan, menggunakan nada CEO-nya untuk menutupi fakta bahwa suaranya tidak setegas biasanya. "Itu tadi adalah Force Majeure. Keadaan kahar. Kalau saya tidak melakukannya, Ibu akan mengaudit latar belakangmu dan penyamaran ini tamat."

​"Saya harap kejadian darurat seperti ini memiliki kuota terbatas dalam periode enam bulan ke depan," timpalku tajam.

​Aku membalikkan badan, akhirnya menatapnya. Rayan tampak sedikit salah tingkah sebuah pemandangan langka tapi ia dengan cepat memutar topik untuk menghindari pembahasan soal ciuman itu lebih lanjut.

​"Lupakan soal itu," potong Rayan cepat. Ia menunjuk ke arah undangan di tanganku. "Fokus pada masalah utamamu sekarang. Tante Sonia dan geng arisan Nenek Ratih akan mengulitimu hidup-hidup minggu depan. Kamu tidak punya saya untuk memotong kalimat mereka."

​Aku mendengus sinis. "Saya tidak butuh pengawal untuk menghadapi ibu-ibu kurang kerjaan, Rayan. Mereka bisa memakai tas miliaran rupiah, tapi argumen mereka tetap saja berputar pada harga diri dan status sosial. Logika dasar."

​Rayan menyipitkan matanya, seolah tertantang melihat kesombonganku.

​"Kita lihat seberapa jauh logikamu bertahan melawan manipulasi sosial," kata Rayan, berjalan menuju meja marmer untuk merapikan kembali tumpukan dokumen kerjanya. "Bawa laptopmu ke sini setelah makan malam. Saya akan memberikan data intelijen lengkap mengenai siapa saja yang akan hadir, skandal rahasia mereka, dan kelemahan finansial suami mereka."

​Aku mengangkat sebelah alisku. "Bapak Rayan Adristo menawarkan bantuan secara sukarela?"

​"Saya menolak istri saya dipermalukan di depan publik," jawabnya tanpa menoleh, nada angkuhnya kembali. "Kita harus menyusun strategi. Anggap saja ini meeting pemegang saham."

​Aku menatap punggungnya yang tegap, lalu menyentuh bibirku sendiri secara tidak sadar.

​Meeting pemegang saham. Benar. Kami hanya dua rekan bisnis yang sedang menyusun strategi perang. Tidak lebih.

​"Siapkan presentasinya, Pak," balasku pelan. "Saya mandi dulu."

​Aku melangkah menjauh menuju Sayap Timur, menyadari bahwa detak jantungku belum juga kembali normal, dan agenda High Tea minggu depan akan menjadi pertarungan paling menguras otak dalam hidupku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!