NovelToon NovelToon
Apa Yang Salah

Apa Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28

Malam itu Shinta hanya duduk diam di tepi ranjang sambil memeluk lututnya. Lampu kamar sengaja dimatikan, menyisakan cahaya redup dari lampu jalan yang masuk melalui celah gorden. Namun suasana tenang itu justru membuat pikirannya semakin berisik.

Ucapan Andika terus terngiang di kepalanya.

Tentang alasan pria itu bekerja tanpa henti. Tentang ketakutan Andika kehilangan orang yang disayanginya hanya karena tidak memiliki uang. Tentang ayahnya yang tidak mampu menyelamatkan ibunya dulu.

Shinta memejamkan mata pelan.

Dadanya terasa sesak.

Selama ini dia hanya sibuk memikirkan dirinya sendiri. Sibuk merasa kesepian. Sibuk merasa diabaikan. Sibuk marah karena Andika terlalu fokus bekerja sampai sering membatalkan janji atau pulang larut malam.

Namun dia tidak pernah benar-benar mencoba memahami alasan di balik semua itu.

Shinta mengusap wajahnya kasar.

“Kenapa aku baru sadar sekarang...” bisiknya lirih.

Pikirannya kembali mengingat pertama kali bertemu ayah Andika beberapa tahun lalu.

Saat itu pria tua itu tampak jauh lebih kurus. Wajahnya pucat dan matanya kosong seperti orang yang kehilangan arah hidup. Bahkan ketika Andika mengenalkannya, ayahnya hanya tersenyum tipis sambil berkata pelan.

“Jangan bosan sama Andika ya, Nak. Anak itu keras kepala.”

Kala itu Shinta hanya tertawa kecil.

Namun seiring waktu semuanya berubah.

Ayah Andika perlahan kembali bersemangat menjalani hidup. Beliau mulai sering memasak saat Shinta datang. Kadang memaksa Shinta membawa pulang makanan terlalu banyak sampai Andika mengomel karena kulkas kosnya penuh.

Bahkan pria itu kembali mengajar di sekolah swasta setelah lama berhenti.

“Kalau sudah punya menantu nanti, saya harus sehat,” katanya waktu itu sambil tertawa kecil.

Shinta menunduk mengingat semua itu.

Dadanya semakin terasa nyeri.

Beliau bahkan merenovasi rumahnya sedikit demi sedikit. Mengganti kamar lama Andika. Mengecat ulang dapur. Membuat taman kecil di depan rumah karena Shinta pernah bilang suka bunga melati.

Semua dilakukan dengan semangat seolah benar-benar percaya Shinta akan menjadi bagian dari keluarga mereka.

Namun sekarang semuanya hancur.

Karena dirinya.

Shinta menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Air matanya jatuh perlahan.

“Aku egois...”

Dia baru sadar selama ini Andika juga memikul beban yang besar. Pria itu bukan hanya bekerja demi dirinya sendiri. Andika bekerja karena trauma kehilangan ibunya. Karena takut mengalami penyesalan yang sama seperti ayahnya.

Sedangkan dirinya hanya terus menuntut.

Shinta menghela napas panjang sambil menatap langit-langit kamar.

Untuk pertama kalinya sejak mereka putus, dia tidak lagi memikirkan tentang rasa sakitnya sendiri.

Dia justru memikirkan Andika.

Dan ayahnya.

Malam itu Shinta hampir tidak tidur sama sekali.

---

Keesokan paginya suasana kantor marketing sudah mulai ramai. Beberapa pegawai sibuk menyalakan komputer sementara yang lain mengobrol santai sebelum mulai bekerja.

Shinta datang lebih awal dari biasanya.

Wajahnya terlihat lelah karena kurang tidur, namun dia berusaha tampak biasa saja.

“Pagi, Shin,” sapa Mita.

“Pagi.”

“Kamu sakit?”

“Tidak. Cuma kurang tidur.”

Mita mengangguk lalu kembali ke mejanya.

Shinta menarik napas pelan sambil merapikan beberapa dokumen penjualan di tangannya. Hari itu dia harus menyerahkan laporan langsung ke ruangan Pak Radit.

Biasanya dia hanya datang sebentar lalu pergi.

Namun kali ini ada hal lain yang ingin dia lakukan.

Dia ingin meminta pendapat.

Karena semakin dipikirkan sendiri, kepalanya justru semakin kacau.

Beberapa pegawai memang sering curhat kepada Pak Radit. Meski terlihat santai dan suka bercanda, pria itu cukup bijaksana dalam menghadapi masalah anak buahnya.

Setelah memastikan dokumen lengkap, Shinta akhirnya berjalan menuju ruangan kepala divisi itu.

Tok.

“Masuk.”

Shinta membuka pintu perlahan.

Terlihat Pak Radit sedang duduk santai sambil menikmati kopi dan membaca berita di tablet.

“Pagi, Pak.”

“Pagi, Shinta.” Pak Radit langsung tersenyum kecil. “Ada laporan masuk atau ada yang mau pinjam uang?”

Shinta tertawa tipis.

“Laporan penjualan, Pak.”

“Nah, syukurlah. Kalau pinjam uang saya langsung pura-pura rapat.”

Shinta menyerahkan map dokumen itu ke meja.

Pak Radit menerimanya sambil membuka halaman demi halaman dengan santai.

“Bagus. Target bulan ini lumayan naik.”

“Syukurlah, Pak.”

Setelah itu suasana menjadi hening beberapa detik.

Shinta tampak ragu-ragu.

Pak Radit yang menyadarinya langsung melirik.

“Kamu mau ngomong sesuatu?”

Shinta menggigit bibir pelan sebelum akhirnya memberanikan diri duduk di kursi depan meja.

“Saya... mau minta saran sedikit, Pak.”

Pak Radit langsung menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Nah, akhirnya.” Ia terkekeh kecil. “Biasanya kalau anak marketing masuk dengan wajah serius begini cuma ada dua kemungkinan. Putus cinta atau target sales turun.”

Shinta tertawa canggung.

“Bukan saya sebenarnya, Pak.”

“Oh?” Pak Radit mengangguk pelan sambil menahan senyum. “Teman?”

“Iya.”

“Teman yang wajah dan namanya mirip kamu?”

Shinta langsung salah tingkah.

“Pak...”

Pak Radit tertawa kecil.

“Sudah, santai saja. Mau cerita apa?”

Shinta menarik napas panjang lebih dulu.

“Teman saya putus sama mantannya,” katanya pelan. “Awalnya dia merasa mantannya terlalu sibuk kerja. Jarang punya waktu. Bahkan belum pernah ngajak serius soal masa depan.”

Pak Radit mendengarkan tanpa memotong.

“Karena capek terus merasa sendirian, akhirnya teman saya minta putus.”

“Hm.”

“Tapi sekarang dia baru sadar kalau mantannya sebenarnya kerja keras buat masa depan mereka juga.”

Pak Radit diam sambil memperhatikan wajah Shinta.

“Teman saya juga baru tahu kalau mantannya punya alasan tertentu sampai terlalu fokus kerja.”

“Alasan apa?”

Shinta menunduk.

“Dia tidak mau mengulang penyesalan keluarganya.”

Pak Radit tampak berpikir sejenak.

“Lalu sekarang?”

“Teman saya menyesal.” Suara Shinta mulai mengecil. “Apalagi ayah mantannya sangat baik sama dia. Bahkan sudah menganggap dia seperti keluarga sendiri.”

Ruangan itu kembali hening.

Pak Radit perlahan meletakkan tablet di mejanya.

“Cerita kamu mirip sinetron jam tujuh malam.”

Shinta refleks menatapnya.

Pak Radit tertawa kecil.

“Bedanya sinetron biasanya tokohnya langsung kecelakaan habis putus. Untung kalian masih cuma galau.”

Shinta tidak bisa menahan senyum tipisnya.

Namun setelah itu wajahnya kembali murung.

“Menurut Bapak... masih bisa diperbaiki tidak?”

Pak Radit tidak langsung menjawab.

Pria itu justru menatap jendela beberapa saat sebelum akhirnya bicara pelan.

“Memperbaiki hubungan itu tidak mudah, Shinta.”

Shinta sedikit terdiam mendengar namanya disebut langsung. Namun dia sadar Pak Radit memang sudah tahu sejak awal.

“Kalau sudah banyak salah paham, kecewa, dan luka...” lanjut Pak Radit, “biasanya orang mulai menyimpan rasa marah di dalam hati. Itu yang paling susah dihilangkan.”

Shinta menunduk pelan.

“Kadang memulai hubungan baru dengan orang lain justru terasa lebih mudah.”

Ucapan itu membuat dada Shinta terasa tidak nyaman.

“Jadi... sudah tidak ada harapan?”

Pak Radit melipat tangan di dada.

“Saya tidak bilang begitu.”

“Lalu?”

“Yang penting, mantan teman kamu itu tahu tidak kesalahannya?”

Shinta mengangguk perlahan.

“Tahu.”

“Dan teman kamu tahu kesalahannya juga?”

Shinta kembali mengangguk.

“Nah.” Pak Radit tersenyum kecil. “Itu berarti masih lebih baik dibanding hubungan yang hancur karena dua-duanya merasa paling benar.”

Shinta terdiam memperhatikan pria itu.

Pak Radit melanjutkan dengan nada santai.

“Kalau mau memperbaiki hubungan, jangan langsung berpikir balikan.”

“Maksudnya?”

“Mulai saja dari hal paling sederhana.”

“Seperti apa?”

“Jadi teman dulu.”

Shinta tampak bingung.

Pak Radit tersenyum tipis.

“Hubungan mereka rusak karena luka dan kecewa. Jadi jangan langsung memaksa semuanya kembali seperti dulu. Luka orang tidak sembuh dalam satu malam hanya karena kita menyesal.”

Kalimat itu membuat Shinta perlahan terdiam.

“Teman kamu harus belajar memperbaiki kesalahannya sedikit demi sedikit,” lanjut Pak Radit. “Buktikan kalau dia benar-benar berubah. Temani mantannya tanpa banyak tuntutan.”

Shinta mendengarkan dengan serius.

“Kalau mantannya masih punya rasa, lama-lama hati itu bisa terbuka lagi.”

“Tapi kalau dia sudah membenci teman saya?”

Pak Radit tertawa kecil.

“Kalau benar-benar benci, biasanya orang sudah malas peduli.”

Shinta langsung teringat Andika semalam.

Pria itu masih memikirkan dirinya. Masih melindunginya di depan ayahnya. Bahkan masih berusaha menjaga perasaannya meski mereka sudah putus.

Dadanya terasa hangat sekaligus nyeri.

Pak Radit lalu menunjuknya dengan pulpen.

“Tapi satu hal penting.”

“Apa, Pak?”

“Jangan memperbaiki hubungan cuma karena tidak enak sama keluarganya.”

Shinta sedikit terkejut.

“Kalau memang masih sayang, perjuangkan. Tapi kalau cuma kasihan, nanti malah menyakiti semuanya lebih parah.”

Shinta terdiam lama.

Lalu perlahan dia mengangguk.

“Iya, Pak.”

Pak Radit kembali bersandar santai di kursinya.

“Sudah lega?”

“Lumayan.”

“Nah, bagus.” Ia tersenyum kecil. “Sekarang kembali kerja. Sales kita belum cukup buat membiayai drama percintaan kalian.”

Untuk pertama kalinya pagi itu Shinta tertawa lebih lepas.

Meski hatinya masih berat, setidaknya sekarang pikirannya sedikit lebih jelas.

Mungkin semuanya memang tidak bisa langsung kembali seperti dulu.

Namun jika masih ada kesempatan untuk memperbaiki, dia ingin mencobanya perlahan.

Dimulai dari hal yang paling sederhana.

Menjadi teman Andika lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!