NovelToon NovelToon
Darah Di Bukit Manoreh

Darah Di Bukit Manoreh

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Anak Genius
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KERAJAAN JALAPATI

Pulangnya Pangeran Arya Seta dengan bahu turun dan wajah menahan malu. Membuat seluruh masyarakat langsung kasak-kusuk.

"Loh ... Bukannya tadi Senopati Walangsang begitu gagah memimpin perang. Kenapa sekarang malah pulang dengan kepala tertunduk dan dibawa oleh Gusti Pangeran?"

"Iya ... tadi Senopati Walangsang begitu gagah memimpin perang. Lalu kenapa sekarang malah pulang dengan wajah tertunduk?"

"Lalu kemana Senopati Walangsang tadi? Kenapa jadi Gusti Pangeran yang pulang dengan wajah tertunduk.

Bisik-bisik miring terdengar sampai tahta kerajaan Wijaya Ningrat. Senopati Walangsang langsung dihukum pancung saat hendak melarikan diri ke luar kerajaan.

Dua ratus pasukan berhenti di depan gapura istana. Dua penjaga menyilangkan tombak tanda mereka dilarang masuk.

"Atas perintah Gusti Raja. Kalian dihukum selama tiga hari berdiri karena melangkahi titah Gusti Raja!" seru prajurit penjaga.

Dua ratus pasukan saling tatap. Jujur mereka adalah korban keadaan. Mereka hanya bawahan kecil yang tidak berani menolak perintah atasannya.

Terlebih Senopati Walangsang mengancam akan merampas semua upah mereka jika menolak.

Salah satu prajurit ambruk, ia jatuh pingsan. Pria memakai baju zirah kayu itu roboh dengan muntah darah. Rupanya ia terkena luka dalam akibat menyerang petugas perbatasan dan juga menahan serangan sapuan pedang milik Adipati musuh.

"Ki Sopta!" seru beberapa prajurit hendak menolong.

"Jangan ditolong! Siapapun yang bergerak. Akan ditambah hukumannya!" teriak penjaga.

Prajurit-prajurit itu gemetaran, di depan matanya. Mereka melihat tubuh teman, sahabat dan seorang ayah meregang nyawa percuma. Mata mereka memerah menahan bendungan besar di dada.

Mereka sudah tau jika raja mereka tak pernah tanggung-tanggung untuk menghukum yang menurutnya salah. Mereka baru saja membangkang dan menerima perintah selain rajanya.

Kebengisan Raja Wijaya Ningrat memang sudah dikenal seluruh penghuni kerajaan Jalapati. Menghukum tanpa pengadilan.

Di bawah sengat sinar matahari, seratus sembilan puluh sembilan prajurit berdiri menahan malu karena kalah, takut karena tau bersalah dan paling mengerikan adalah takut mati hingga tak bisa berjumpa keluarga yang menunggu di rumah.

Sementara pangeran Arya Seta duduk di atas kudanya. Ia juga sudah pegal, punggung dan bokongnya juga sudah panas. Sementara kudanya sudah mulai lemas karena terlalu lama berada di terik matahari. Bahkan seekor kuda yang sudah dipecut oleh penunggangnya, hewan itu pun kena hukuman.

Kematian Ki Sopta yang mengenaskan di atas tanah kering istana menjadi hantaman mental yang luar biasa bagi seratus sembilan puluh sembilan prajurit lainnya.

Dada mereka sesak, bukan hanya karena hawa panas yang membakar zirah kayu mereka, melainkan karena melihat bagaimana kesetiaan yang buta dibalas dengan kekejaman tanpa batas oleh raja mereka sendiri.

Senopati Walangsang yang tamak sudah menerima ganjarannya di ujung pedang algojo. Tetapi, sisa pasukan yang hanya mengikuti perintah kini harus menanggung beban malu dan ancaman maut yang mengintai setiap detiknya.

Pangeran Arya Seta yang masih tertahan di atas punggung kudanya mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih.

Rasa pegal di punggung dan panas di bokongnya tidak seberapa dibanding rasa perih di hatinya. Keangkuhan masa mudanya runtuh total hari ini.

Ia tidak hanya dipermalukan oleh ksatria tua dari Kali Ireng, tetapi juga harus menyaksikan bagaimana ayahnya sendiri memperlakukan pasukannya seperti binatang buruan yang cacat.

Kuda yang ia tumpangi mulai bergerak gelisah, kehausan, kelelahan dan pastinya terluka akibat ilmu tenaga dalam murni dari Adipati musuh. Tentu hewam itu tidak bisa menahan kesakitan, Arya Seta hendak turun ketika merasakan tunggangannya goyah. Belum sempat ia turun, kuda itu roboh bersama tubuh Arya di atasnya.

Bruk! Arya melompat sebelum tubuh binatang itu benar-benar menghempas tanah yang keras. Kaki kuda itu menendang-nendang, mulutnya keluar busa. Lalu perlahan kuda itu mati.

Arya Seta menatap hewan pemberian salah satu tamu agung dari kerajaan timur. Seekor kuda Sembrani yang gagah dan kuat.

Ia mengepal tangan kuat-kuat, ia menatap pintu gerbang. Menembus batas pandang menatap ayahnya yang duduk bersantai di singgasana emas.

"Kau keterlaluan Ayah!" teriaknya menggunakan segenap ilmu tenaga murninya yang tersisa.

"Aku keterlaluan?" sebuah suara muncul dari dalam istana.

Prabu Wijaya keluar istana, ia duduk di atas tandu yang berlapis emas. Sepuluh pria bertubuh kekar mengangkat tandu itu.

Semua prajurit dan masyarakat yang ada di sana langsung bersimpuh di hadapan raja mereka.

Prabu Wijaya mengetuk tingkat emas di tangannya ke pegangan tandu. Rombongan itu berhenti bergerak, sang raja menatap angkuh orang-orang yang ada di depannya.

"Katakan sekali lagi Arya. Siapa yang keterlaluan?" tanya pria penguasa itu mengulang.

"Ayah yang keterlaluan ... Lihat, kudaku mati karena Ayah!" jawab Arya Seta marah.

"Ki Hardjo Adidoyo. Katakan, apa hukuman bagi para pembangkang. Bergerak tanpa titah dari Raja?" seru Prabu Wijaya.

"Hukum pancung!" jawab pria bernama Ki Hardjo Adidoyo tegas.

"Aku hanya menghukum mereka di bawah terik matahari. Bukankah aku ini terlalu baik?" tanya Prabu Wijaya lagi.

"Gusti Prabu Raja memang yang terbaik!" seru semua orang yang bersujud di tanah.

"Kau datang seakan-akan harus dihormati?" Prabu Wijaya sangat menyayangkan sikap putranya yang arogan.

"Entah siapa sifatmu itu berasal?" dumalnya bingung sendiri.

"Ki Hardjo!" panggilnya pada penasihat istana.

"Daulat Gusti Raja!" sahut pria kepercayaan itu.

"Bawa para prajurit untuk diobati. Kuburkan mayat Ki Sopta secara layak dan beri keluarganya upah!" perintah penguasa itu.

"Terimakasih atas kebaikan Gusti Raja!" seru semua prajurit yang tersisa.

Akhirnya mereka masuk ke area istana. Di tanah lapang dekat panji-panji kerajaan berkibar. Mereka melihat kepala Senopati Walangsang yang terpajang di sebuah bilah pedang panjang.

Aroma anyir darah yang menguap dari kepala Senopati Walangsang membuat seratus sembilan puluh sembilan prajurit yang tersisa tertunduk makin dalam saat melintasi panji-panji kerajaan.

Rasa takut bercampur lega memenuhi dada mereka. Meski didera kelelahan dan luka dalam, setidaknya mereka tidak berakhir di ujung kapak algojo seperti sang senopati yang tamak.

Beberapa abdi dalem bergegas menggotong jasad kaku Ki Sopta untuk diurus secara layak, sesuai dengan titah mendadak dari Prabu Wijaya.

Sementara itu, Arya Seta berdiri mematung di tengah lapangan. Ia menatap nanar ke arah bangkai kuda Sembrani kesayangannya yang mulai mendingin di dekat gapura luar.

Napasnya memburu, sisa tenaga dalamnya bergolak tidak keruan di dalam dada akibat rasa marah, malu, dan tidak berdaya yang bercampur menjadi satu.

"Masih mau berdiri di sana seperti patung pemujaan, Arya?" suara dingin Prabu Wijaya Ningrat memecah keheningan dari atas tandu emasnya.

Sang Prabu turun dengan perlahan, langkah kakinya begitu mantap dan berwibawa. Setiap ketukan tongkat emasnya di atas lantai batu pelataran seolah mengirimkan gelombang tekanan batin yang memaksa orang-orang di sekitarnya untuk menahan napas.

"Pulang dari medan laga dengan kekalahan adalah aib. Tetapi pulang dengan merengek karena seekor kuda yang mati... kau benar-benar membuatku mempertanyakan darah siapa yang mengalir di tubuhmu," desis Prabu Wijaya, menatap putranya dengan pandangan merendahkan.

Arya Seta menggertakkan gigi, tangannya mengepal begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih.

"Aku tidak merengek karena kuda ini, Ayahanda! Aku marah karena kau membiarkan Senopati Walangsang mempermainkan pasukan kita! Jika saja telik sandi kita tidak terlambat memberi laporan tentang pergerakan Adipati Sengko—"

"Cukup!" potong Prabu Wijaya dengan suara yang tidak keras, namun mengandung getaran tenaga dalam yang membuat telinga Arya Seta mendengung hebat.

"Arya ... Pengetahuanmu tentang pasukan Kerajaan Kali Ireng itu salah. Apa lagi mengenal Adipati Sengko!" geleng Prabu Wijaya pelan.

"Bahkan untuk memundurkan sepuluh pasukan penjaganya. Ayah belum mampu sampai sekarang!" bisiknya menatap sang putra dengan pandangan kecewa.

Sementara di balik bukit, Sengko, Buksa dan Jalak Rawut berhadapan dengan seorang gadis. Ia Srikandi.

Mata Srikandi menatap tiga pria hebat di depannya. Ketiganya baru saja melepaskan tikus yang sudah dalam perangkat.

"Kenapa Paman membiarkan musuh pergi?" tanyanya lirih.

"Kandi ..," Buksa hendak menyela, tetapi ....

"Jangan panggil aku Kandi!" seru sang gadis marah.

"Jaga bicaramu Nduk!" tegur Jalak Rawut, suara pria itu menggetarkan tembok yang dibangun Srikandi di hatinya.

"Aku kecewa ...."

"Kau tak berhak kecewa, karena kau bukan pendekar!" seru Buksa mulai terpancing emosi melihat keponakannya itu keras kepala.

"Dengan sikapmu seperti itu ... Aku yakin ayahmu pasti sangat kecewa padamu!" seru Buksa mulai marah.

Bersambung.

Hadeh ... Sri ... Mangga lungguha kanthi anteng lan rungokna panjelasan wong tuwamu!

Next?

1
Anita Barus
Srikandi geram PD paman nya yg melepas para tikus tsbt kerna dia blm sem0at membalaska😍n kematian ayah nya
vania larasati
lanjutt
vania larasati
lanjut
Deyuni12
ada gtu perang d bikin prank 😄,hanya ada d cerita othor yg seru ini sh 😊😊😊

lanjut
vania larasati
lanjut
Benny Badaruddin
keren 👍👍👍👍
Benny Badaruddin
keadilan untuk ayahmu pasti terbalas
Benny Badaruddin
semangat 💪
Benny Badaruddin
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Deyuni12
🥺🥺🥺🥺🥺
Srikandi
Anita Barus
raja saja merasa sakit dada nya sedih campur aduk melihat Srikandi berlinang air mata dan langsung pergi meninggal kan raja begitu saja
Anita Barus
waduh siapa yg menenteng mayat tersbt dan siapa pula makhluk yg menyerupai babi itu tambah penasaran lanjut
Anita Barus
🤣🤣🤣 Baginda mengancam akan membuang bibi Srikandi ke selatan menyusul suaminya .makanya dia takut .
vania larasati
lanjutt
Deyuni12
lanjut
Deyuni12
galak banget nh si Rukmi,sleper juga nh
Deyuni12
nyari kesempatan Mulu nh Rukmi
Anita Barus
penasaran lanjut
Anita Barus
serem juga KLO sampai sda acara menjulatin darah gitu gitu
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!