Jihan Fahira memergoki suaminya selingkuh dengan sahabatnya. saat dia kembali dari rumah sakit. Saat itu suami dan sahabatnya sedang melakukan hubungan yang tidak pantas di dalam sebuah villa.
Saat itu Jihan tewas di tangan suami dan sahabatnya sendiri. Namun keajaiban muncul dalam hidupnya. Dia di beri kesempatan kedua. Jihan kembali hidup ke enam tahun yang lalu.
Kesempatan kedua untuk membalas dendam dan mengubah kembali takdir tragis yang akan terjadi di masa depan.
Mampukah Jihan membalas dendam dan mengubah takdir tragis yang akan menimpanya ?
Follow Ig: Hans_Sejin13.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Regina kembali ke ruang tengah dengan wajah yang terlihat sangat kesal. Dia langsung duduk di sofa sambil membuang napas kasar menahan amarah yang meluap.
Hendrick yang melihat Regina keluar dari kamar Jihan langsung menatapnya. Wajah Regina terlihat cemberut dan matanya terlihat berkaca kaca seolah habis menangis.
"Regina Kamu kenapa cemberut gitu...?" Tanya Hendrick menatap wajah Regina dengan rasa penasaran. "Kamu bertengkar sama Jihan...?"
"Tidak kak! Aku tidak apa apa ya seperti itulah Jihan Aku sudah biasa dengan sikapnya" Jawab Regina dengan pelan dan suara yang terdengar sedih.
Regina memutar balikkan keadaan seolah olah Jihan yang sudah bersikap kasar terhadapnya. Wajahnya yang tampak polos dan tidak berdosa membuat Hendrick merasa iba saat melihatnya.
"Kenapa! kamu dimarahi Jihan...?" Hendrick kembali bertanya dengan nada yang mulai terdengar kesal.
"Tidak kak! Kak Hendrick jangan marah sama Jihan" Ujar Regina sambil memegang tangan Hendrick yang terlihat mulai tidak senang saat itu.
Tak!
Tak..!
Tak...!
Suara langkah kaki terdengar mendekati mereka.
Tampak Jihan yang sudah mengganti pakaiannya menghampiri mereka dan duduk di sofa dengan wajah yang datar.
"Jihan Kamu ngomong apa sama Regina hingga dia sedih seperti itu...?" Tanya Hendrick dengan suara yang sedikit tinggi menahan emosi yang mulai naik.
"Kak! Sudah Itu karena aku yang salah" Ujar Regina wajahnya sedikit memelas dan matanya mulai berkaca kaca seolah-olah menahan tangis.
Jihan akhirnya mengerti mengapa di kehidupan sebelumnya dirinya selalu salah dimata Hendrick.
Dan mengapa dirinya begitu bodoh untuk tidak menyadarinya. Itu semua karena dia mencintai Hendrick sementara Regina adalah satu satunya teman yang dia miliki. Rasa takut kehilangan seseorang yang berharga itulah yang membuat dirinya mudah ditipu dan diperdaya oleh mereka berdua.
"Aku ingin tahu sejak kapan kalian berdua selingkuh di belakangku?" Ujar Jihan dalam hati bertanya tanya kapan mereka berdua mulai mengkhianatinya.
"Jihan Jihan Kenapa kamu diam saja!" Bentak Hendrick yang melihat Jihan melamun tanpa menjawab pertanyaan dirinya
"I-ia... Ada apa...?" Ujar Jihan sedikit terkejut mendengar bentakan Hendrick
"Kamu dengar gak tadi aku ngomong apa!" Bentak Hendrick lagi dengan nada yang semakin tinggi.
"Maaf! Aku sedang pusing... Sekarang kalian berdua pergi saja!" Usir Jihan secara langsung tanpa bertele tele suaranya terdengar dingin dan tegas.
"Apa! Kamu mengusirku...?" Ujar Hendrick dengan suara yang sedikit meninggi terkejut mendengar ucapan Jihan
Wajah Jihan sudah tidak bisa lagi menyembunyikan rasa tidak suka dengan kehadiran mereka berdua di rumahnya.
Dia menatap mereka berdua dengan tatapan tajam yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.
"Jihan Kamu kenapa...? Kenapa tiba tiba kamu mengusir aku dan kak Hendrick...!" Ujar Regina yang terdengar tidak percaya.
Saat itu Regina merasa aneh terhadap sikap Jihan yang berubah drastis. Dia tidak mengerti mengapa Jihan tiba tiba mengusir mereka dari rumahnya.
"Sayang... Sebaiknya kamu antar Regina pulang kerumahnya sekarang" Ujar Jihan meminta agar Hendrick mengantar Regina pulang kerumahnya suaranya terdengar dingin dan sedikit lebih lesu namun tegas.
"Sekarang aku sedang tidak ingin diganggu! Aku mohon sekarang kalian berdua segera keluar...! Keluar sekarang juga...!" Ujar Jihan berteriak lagi keras dia tidak bisa lagi menahan rasa jijik saat melihat keduanya.
Bayangan pengkhianat mereka berdua selalu terlintas di benaknya. Wajahnya memerah karena rasa marah yang membara saat mengingat peristiwa tragis yang pernah menimpa dirinya.
"Ji-Jihan Kamu kenapa...?" Ujar Hendrick yang mulai merasa cemas melihat perubahan sikap Jihan.
"Jihan! Ada apa ini...?" Ujar Regina dengan wajah yang terlihat bingung dan sedikit takut.
Mereka berdua kemudian ditarik paksa oleh Jihan keluar dari dalam rumahnya. Jihan kemudian mendorong mereka berdua keluar dan langsung menutup pintu dengan sangat marah.
BRAK!
Suara pintu yang tertutup dengan sangat kencang terdengar memecah keheningan malam.
Di luar rumah Regina dan Hendrick tampak kebingungan dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Jihan. Sikap Jihan malam ini tampak sangat berbeda dari biasanya yang lemah lembut dan penurut.
"Regina! Kenapa dengan Jihan...?" Tanya Hendrick yang terlihat bingung dan masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Regina menggelengkan kepalanya. "Aku juga tidak tahu kak Kenapa Jihan seperti itu... Ini pertama kali aku melihatnya bersikap seperti itu...!" Jawab Regina, yang terdengar sedih dan bingung.
"Bagaimana dengan kita sekarang kak...?!" Ujar Regina bertanya kepada Hendrick dengan wajah yang terlihat cemas.
"Ya sudah! Sekarang aku antar kamu pulang saja" Ujar Hendrick dengan wajah yang masih penuh dengan tanda tanya.
Mereka kemudian masuk ke dalam mobil Hendrick yang terparkir di depan rumah Jihan dan pergi saat itu juga.
Di balik pintu yang tertutup rapat Jihan duduk termenung di lantai. Tubuhnya masih bergetar menahan emosi yang bercampur aduk. Matanya berkaca kaca dan akhirnya menangis tersedu sedu di balik pintu itu.
"Hiks! Hiks! Ayah Apa yang harus aku lakukan sekarang...? Aku tidak tahu lagi harus bagaimana...?!" Tangisan Jihan pecah saat itu juga dia merasa sangat rapuh dan sendirian saat ini.
"Hendrick... Aku masih bisa memaafkan dirimu, jika kamu berselingkuh dengan orang lain... Hiks...! Hiks...!"
"Namun kamu justru berselingkuh dengan Regina Sahabatku sendiri"
Air mata mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. Jihan menangis tersedu sedu seolah semua rasa sakit yang ditahannya selama ini akhirnya meledak keluar.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan ayah...? Hiks... Hiks... Sekarang di dunia ini tidak ada lagi orang yang bisa aku percaya... Hiks... Hiks..."
Di dalam lubuk hatinya yang terdalam Jihan yang masih mencintai Hendrick, dan tidak mampu membalas dendam. Namun rasa sakit yang ada di dalam hatinya sudah tidak bisa lagi diobati oleh apapun.
"Mengapa mereka berdua begitu jahat kepadaku...? Regina Kamu sudah seperti belahan jiwaku... Aku selalu memberikan apa yang kamu inginkan... Tapi kenapa kamu menusukku dari belakang...? Hiks... Hiks...!"
Jihan kemudian mengusap air mata yang terus mengalir di wajahnya dengan kasar.
Walaupun sebenarnya dirinya tidak ingin membalas dendam, namun saat mengingat perselingkuhan mereka tekadnya untuk membalas dendam semakin lama semakin besar.
"Andai saja orang jahat itu tidak mengulangi kejahatan mereka, aku mungkin memaafkan mereka... Namun orang jahat itu justru mengulangi kejahatannya, dan bahkan lebih jahat lagi"
Jihan kemudian berdiri dengan kaki yang masih terasa lemas dan kembali ke dalam kamarnya. Saat itu Jihan memandang foto dirinya dan mendiang ayahnya yang tergeletak di atas meja.
"Ayah Aku berjanji kali ini aku tidak akan membalas perbuatan mereka... Aku tidak akan menyia nyiakan kesempatan kedua ini... Aku akan bahagia seperti yang kamu inginkan ayah..." Ujar Jihan sambil memeluk foto mendiang ayahnya dengan erat seolah mencari kekuatan dari sana.
Di malam yang sunyi itu Jihan membulatkan tekadnya. Dia tidak akan menyia nyiakan kesempatan dan keajaiban yang ada dalam hidupnya. Untuk mengubah takdirnya yang dulu penuh dengan penderitaan dan akan hidup bahagia seperti permintaan mendiang ayahnya.
❅
❅
❅
𝐵ℯ𝓇𝓈𝒶𝓂𝒷𝓊𝓃ℊ...ღ