Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Aktivitas kampus begitu hidup, suara riuh para mahasiswa dan siswi yang datang silih berganti diiringi tawa receh mereka dalam bersenda gurau si selingi canda.
Terasa begitu kontras pada tiga orang yang tanpa mereka sadari seperti saling terikat dalam.satu ikatan takdir yang kelewat rumit.
Syahira berjalan di area koridor seperti biasanya sambil memeluk kitab yang dibawanya. Tapi hampir saja dirinya terjatuh karena pikirannya sedang tidak fokus, wajah Bilal selalu saja terlintas di ingatannya semakin berusaha untuk mengalihkan pikirannya itu.
Bayangan itu malah semakin jelas dan itu membuatnya tidak suka. "Ya Alloh bisa bisanya kenapa gue sampe.naksir Abah gue sendiri, enggak enggak boleh" batinnya.
Ia langsung memejamkan matanya, tangan satunya memegang dinding agar tidak hampir terjatuh lagi karena saking pusingnya. Syahira pun langsung menghela nafasnya lebih dulu. tanpa menoleh ke belakang.
Sedangkan di depan kelas sebelum para mahasiswa masuk, Bilal berdiri di depan kelas lebih awal tidak seperti biasanya. Ia memegang kitab, lalu berjalan duduk.ke arah mejanya dan menaruh kitab itu di meja kembudian membuka tiap.lembarnya tapi tidak sampai dibaca.
Ia mengusap wajahnya kasar, baru kali.ini ia kalah dari pertahanannya. Berkali kali ia istighfar saat wajah Syahira terlintas dalam ingatannya, rahangnya mengeras tiba tiba. Ia sadar ia tahu batas apalagi paham akan hukum, ia juga mengerti dosa.
Tapi memahami ternyata belum tentu juga bisa menghindari jika apa yang ia alami ada didepan matanya sendiri. hal itulah yang membuat Bilal takut sampai detik ini.
"Ya Allah, jangan biarkan aku jatuh sejauh ini, lindungin aku ya Allah bagaimana aku harus bisa mengontrol diri" ucap Bilal sambil mencengkram kertas yang sedikit kusut saat ia kepal begitu erat malah hampir robek.
Derapan langkah sudah terdengar, ia pun langsung bersiap dan merapikan dirinya dengan menghela nafas sejenak dan berdiri tegak seperti biasanya.
Sementara di area parkir, Kaizan bersandar di motornya hal.kebiasan rutin yang dia lakukan sebelum masuk kelas. Tapi tatapannya itu masyallah bikin orang merinding dibuatnya. Itu kalau sudah kenal dengan Kaizan. Sudah pasti mode di amati dan endingnya ditebak habis sama Kaizan.
Hal.itu yang terjadi saat ini, mengamati dari jauh melihat dua orang yang memiliki perasaan yang sama dan berjalan berpisah arah. Padahal perasaan itu tidak boleh ada antara keduanya, Bilal dan Syahira. Yang seharusnya bukan urusannya juga sih.
Dia jadi ngereog sendiri, risih sendiri dibuatnya. "fix ini buka kebetulan lagi sih"
"Tapi ngapain juga ya gue repot repot mikirin mereka, mau ngapain dan gue harus ngapain coba ah elah pusing gue jadinya" celetuk Kaizan yang mencak mencak sendiri dalam batinnya yang terus berkelakar, kepusingan sendiri sama insting yang kuat yang ia miliki.
"Kenapa sih gue harus punya kelebihan. Kayak gini, bikin ribet aja" dibalik rahangnya yang mengeras, tak lama ia menghela napas panjang, dan mengusap tengkuknya sendiri.
"Gue bakal ngapain ya setelah ini?" dan untuk kali ini ia merasa ragu, karena biasanya dia cuma sebatas jadi pengamat, penebak atau sebagai penusuk realita orang lain tanpa peduli dampaknya. Dan kali ini beda, karena yang Kaizan lihat bukanlah drama biasa menurutnya.
Karena sekali ia bertindak salah sedikit saja dalam melangkah, bisa jadi akan menghancurkan semuanya. Dan bisa jadi akan menghancurkan banyak hal, dan hal itulah Kaizan tidak ingin sampai kejadian yang tidak dia inginkan sama sekali.
Dan entah kenapa dia benar benar perduli sampai segitunya. "Ribet banget sih ya Alloh" desahnya Kaizan frustasi dibuatnya.
Di dalam kelas Syahira sudah duduk ditempatnya, membuka kitab dan menghafalkan seperti biasa tapi lagi lagi ia tutup lagi.
Terlihat sekali sedang banyak pikiran dan merasa tidak tenang, di kaca mata Calysta sahabatnya yang saat ini melirik ke arahnya.
"Lo belom balik nominal ya Ra?" celetuk Calysta.
"Apaan sih Cal?"
"Jangan bokis deh Ra, gue tau elo gimana."
Deg. Syahira menggenggam ujung kitabnya sedikit lebih kuat. "Aku, cuma lagi berusaha buat jadi lebih baik aja Cal." sahut Syahira tapi ekspresinya nampak sedikit kikuk jelas sekali ia tidak bisa membohongi temannya itu. Tapi Calysta cukup tau saja dia hanya mengangkat bahunya,..terserah.
"Yaudah serah elu deh Ra, tapi kalo elo mau kapan ceritanya gue siap dengerin,..ya siapa tau gitu gue minimal bisa bantu kasih saran." sahut Calysta santai dan Syahira terdiam namun tak lama mengangguk.
Pintu kelas terbuka lebar, Bilal masuk dengan tenang dan jiwa yang,..ah sudah lah namanya juga orang lagi puber ke dua yang pubernya itu ketahan karena mereka yang sedang merasakannya berusaha untuk menolak rasa yang tidak boleh ada.
Suasana kelas berubah seketika, semua kembali ke posisi masing masing. Syahira yang lagi menunduk tidak berani untuk melihat apalagi menatapnya meskipun hanya sekedar memastikan kalo dia,..
Ya meskipun namanya mata, hati dan tindakannya sedang berperang meski hati menolak tapi mata mereka tak bisa terkontrol sempat keduanya secara tidak sengaja yang awalnya berusaha menghindar tapi mata tidak bisa kompak, malah pengennya ke arahnya terus. Walhasil kedua netra mereka pun sempat bertemu para akhirnya.
Dan setelah tersadar kalau dibiarkan lama, maka akan membahayakan pada keduanya. Akhirnya mereka pun sama sama memalingkan wajahnya dengan secepat kilat.
Deg.
Dibangku belakang Kaizan masuk dengan santainya, duduk seperti biasa dengan bersandar di kursi. Tapi matanya, enggak ada santai sama sekali dan ia langsung reflek memperhatikan bagai mana body language mereka yang terlihat dari kacamatanya.
"Parah ikh.." gumamnya tanpa suara. Ia menyandarkan kepalanya, menatap langit langit sebentar "kalau kayak gini,..tinggal nunggu meledak doang ini mah."
Diluar kampus, yang jauh dari semua kerumitan dan keriwehan perihal hafalan itu. Feryal berdiri didepan kaca, menatap dirinya sendiri. Helmnya masih ada di tangan, dengan rambut pendeknya yang sedikit berantakan tapi kali.ini seperti ada yang berbeda.
Mengingat semalam, saat balapan dan entah kenapa mulai seperti tidak asing lagi dimatanya sekarang.
ia menghela napas pelan, seraya meletakkan helmnya di meja. ponselnya tak lama bergetar beberapa kali.
Kaizan Altaz, nama yang tertera di layar ponselnya saat ini, Feryal menatapnya beberapa detik, sebelum akhirnya tersenyum "kok dia jadi sering ya,..aneh"
Kembali ke kelas yang sedang melakukan rutinitas seperti biasa, setidaknya suasana masih nampak normal. Para mahasiswa dan siswi masih membuka lembar demi lembar surah yang mereka baca dan mereka hafalkan.
Tapi tidak untuk mereka yang sedang menahan diri dari gejolak rasa yang seharusnya tidak mereka rasakan dan itu sangatlah mode bahaya untuk keduanya.
"Perhatikan makhorijul hurufnya, jangan sampai tertukar Fa bukan pa, Za bukan Ja, Sya bukan sa,..Fahimtum?" ucap Bilal sambil menunjuk pada salah satu baris ayat.
"Fahimna ustadz"
"Alhamdulillah, kholas lanjutkan."
Beberapa mahasiswa mengangguk dan langsung dengan cepat mencatatnya dan yang lainnya hanya mengikuti saja.
Dibangku tengah, Syahira menunduk dan bibirnya pun ikut bergerak, akan tetapi pikirannya tidak sepenuhnya disana.
Saat dirinya ingin fokus matanya lagi lagi selalu ingin melihat ke arah bang dos yang masih berdiri menjelaskan, berkali kali ia harus berhenti membaca sambil sesekali ia menarik napasnya pelan tapi pasti .
"Fokus Ra,..fokus" batinnya menekan dirinya sendiri.
Tangannya menggenggam ujung kitab sampai sedikit kusut.
Sedangkan Kaizan lagi lagi matanya masih saja kepo akut dengan tangannya menopang dagu, tapi matanya menatap tajam ke arah dua orang itu.
"Ini mereka enggak bisa dibiarin,.udah keliatan jelas banget ya Alloh, bisa bahaya,..tapi gue harus gimana" gumam Kaizan depresot sendiri menghadapi instingnya ini.