Ah, sialan!
Liga berusaha tetap terlihat biasa saja walau kenyataannya perasaannya sangat gugup sekarang. "Aku hanya mengunjunginya saja dan tidak melakukan apapun. Tapi di--"
"Mengunjungi?" Mafia menyela, menatap Liga cukup intens, membuat ucapan Liga terhenti dan berganti anggukan.
"Iya. Aku hanya ingin mengunjunginya saja. Tap--"
"Sejak kapan kamu suka mengujungi tahanan?" sela Mafia lagi yang tanpa diketahui berhasil membuat jantung Liga berdebar kencang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
"Kasim, ada apa?"
Mafia baru saja sampai, mendengar suara teriakan Kasim yang sangat kencang. Mafia mendekat dan menatap wajah Kasim yang terlihat pias.
"Tuan, Nona Vair, dia terperosok ke dalam tebing itu," menunjuk tebing yang hanya berjarak lima langkah dari tempat mereka berdiri. Karena lampu yang temaram, mungkin membuat orang yang belum tahu tempat ini tidak tahu jika di pinggir jalan yang mereka lalui ada tebing curam, bawahnya penuh bebatuan dan juga sungai.
Mafia menatap tebing setinggi seratus meter yang curam itu. Wajahnya datar tanpa ekspresi, bibirnya terkatup rapat, kedua tangannya mengepal kencang. Dunia seolah berhenti berputar mendengar Vair yang terperosok ke dalam tebing itu. Seratus meter itu sangat tinggi, apa mungkin Vair bisa selamat?
"Apa yang kamu lakukan sampai sampai dia terperosok hah?!" Mafia mencengkram pakaian Kasim, pria mana yang tidak marah jika wanita pujaan hatinya di percayakan pada orang lain keselamatannya, tapi orang yang di berikan tugas tidak menjalankan perintah dengan baik.
"A-ampun tuan. Tadi nona Vair tiba tiba mengejar kunang kunang, saya belum selesai ngomong dia sudah terperosok duluan,"
"Kamu nggak bisa di andalkan...!" Mafia melepas cengkramannya dengan kasar. "Pergi dari rumah ku dan kamu bukan lagi anak buah ku, pergi...!" Mafia mengusir Kasim tanpa memikirkan perasaan Kasim yang juga merasa bersalah atas kecelakaan nona Vair.
Kasim menggeleng kuat, dia berlutut dan memegang kedua kaki tuan Mafia. "Jangan tuan, tolong jangan buang saya. Biarkan saya menebus kesalahan saya. Selama bertahun tahun saya mengikuti tuan, tuan adalah orang baik, penolong saya dan keluarga saya,"
"Apa yang mau kamu lakuin Kasim?! Vair jatuh ke jurang dengan kedalaman seratus meter, itu bukan kedalaman yang main main. Apa kamu mikir sama keadaan Vair sekarang hah?! Kamu mikir sampai sana, nggak?!" bagai terlepas dari raganya, Mafia merasa tubuhnya limbung, dia tidak lagi punya tenaga untuk membayangkan nasib Vair di bawah sana.
"Vaiiiiirrrrr......!!!"
"Kembalilaaaaahhh......!!"
"Kasim, cepat beritahu Haru, bibik, dan semua anak buah mu...!" Mafia menangis, dia melupakan kata kata laki laki sejati tidak boleh menangis. Dia juga tidak malu menangis di depan Kasim. Yang dia pikirkan kini adalah keselamatan dan nasib Vair.
"Baik tuan,"
Dengan perasaan bersalah yang begitu besar, Kasim berjalan tergesa menuju rumah besar yang bertahun tahun menjadi tempatnya bekerja. Dia memang tidak menyukai sikap tuan Mafia yang semena mena, tapi selama dia bersama tuannya, dia tahu sisi lain dari sikap tuannya yang tidak orang lain tahu.
Dengan napas yang mulai terengah, Kasim berjalan memasuki halaman rumah besar tuan Mafia. Dia bertemu Haru yang masih berjaga dengan gagah dan berwibawa selayaknya prajurit di depan pintu utama rumah besar.
"Kasim, di mana Nona Vair?" Melihat Kasim yang pulang sendirian Haru sedikit khawatir, takut terjadi sesuatu dengan nona barunya itu.
Rasanya, Kasim tak lagi berdaya untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Kasim yakin jika Haru tahu, pasti dia juga akan menyalahkannya walau sebenarnya itu bukan seratus persen kesalahannya. Tapi gimana lagi? mau tidak mau Kasim harus memberitahu sesuai perintah tuan Mafia bukan?
"Haru, maafkan aku, nona Vair jatuh terperosok ke dalam jurang,"
"APA...?!" bagaikan terkena sengatan petir, Haru benar benar terkejut mendengar berita baru ini. "Gimana bisa, Kasim? Kamu apakan dia hah? Bukannya kamu temani dia kan?"
Kasim menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Semoga saja Haru percaya padanya. Setelah memberitahu Haru, Kasim menuju ke dalam rumah yang sudah pasti menuju kamar bibik. Kasim mengetuk sedikit kencang pintu kamar bibik agar bibik cepat mendengar, semoga saja bibik belum tidur.
"Ada apa Kasim?" Bibik keluar kamar sambil mengucek kedua matanya. Wajah ngantuknya tercetak jelas.
"Maafkan aku mengganggu waktu istirahat bibik. Tuan Mafia memerintahkan ku untuk memberitahu bibik kalau nona Vair tertimpa musibah,"
"Musibah apa Kasim?!" bangun tidur, tapi terbangun karena paksaan, tentu saja mendengar kabar tidak baik ini membuat Bibik terkejut bukan main.
Kasim lagi lagi harus menceritakan kejadian tadi dari awal sampai akhir tanpa ada yang dia tutup tutupi ataupun dia lebih lebihkan. Bahkan Kasim juga menceritakan bahwa tuan Mafia sudah tidak lagi memperkerjakannya. Bibik turut prihatin, tapi bibik tidak bisa berbuat banyak selain meminta Kasim untuk bersabar. Bibik yakin tuan Mafia pasti akan berubah pikiran karena bibik tahu tuan Mafia mempunyai sisi yang lain di balik kekejamannya.
Mereka berdua pergi dari sana dan menghampiri Haru. Di luar rumah ternyata Haru sudah tidak lagi sendiri tapi sudah bersama banyak anak buah mereka.
"Ayo kita cari nona Vair, semoga saja beliau bisa kita temukan dan masih bisa terselamatkan," ucap Haru, kemudian mereka semua bersama sama menuju tebing yang lokasinya sedikit jauh dari area rumah besar tuan Mafia.
Begitu mereka sampai di sana, Kasim kebingungan karena tuan Mafia sudah tidak ada di sana, entah perginya kemana tuan Mafia, membuat Kasim semakin cemas dan khawatir, panik juga tidak bisa terelakan.
"Kasim, di mana tuan Mafia? Kata mu beliau ada di sini, lalu mana?" Haru menatap Kasim tajam, dia juga sama cemasnya memikirkan nasib tuannya. Ternyata kekejaman yang tuan Mafia lakukan padanya tetap saja membuat Haru menyayanginya. Biar bagaimanapun tuan selalu baik padanya.
"Aku nggak tahu. Beliau tadi ada di sini...,!" Kasim meninggikan suaranya dia merasa terpojok karena semua orang menyalahkannya. "Kenapa kalian semua menyalahkan aku? Apa kalian nggak memikirkan perasaan aku?!" Kasim menatap nyalang semua orang.
"Sudah sudah!" Bibik menengahi Kasim dan Haru yang terlihat seperti ingin bertengkar.
"Mungkin tuan Mafia mencari nona ke dalam jurang sana. Ayo, kita semua berpencar mencari keberadaan nona Vair dan tuan Mafia, boleh berdua atau bertiga, asal jangan sendirian, mengerti...!!" Bibik mengintruksi.
"Mengerti...!"
Mereka semua serempak menjalankan tugas masing masing dengan tertib.
Dan di tempat lain, gema suara Mafia terdengar di kegelapan malam. Suara yang biasanya lantang kini mendadak menghilang, menyisakan suara lirih, rapuh, dan tidak semangat sama sekali.
"Vair, di mana kamu? Ini aku, Mafia..." badannya yang kekar mulai terasa menggigil. Tapi sama sekali tidak Mafia hiraukan. Yang dia ingin sekarang hanyalah menemukan wanita yang di sukainya dalam keadaan baik baik saja.
"Vaiiirrr..."
"Kita baru saja bertemu setelah beberapa tahun. Kenapa kamu kembali meninggalkan aku? Apa kamu begitu senang mempermainkan perasaan aku hah?"
Emosi, kesedihan, cemas, dan ke khawatiran berbaur menjadi satu. Saat ini adalah titik terendah Mafia. Dia sedang berada di posisi buruk seburuk buruknya.
"Vaiiiirrr, huhuhuuuu....."