NovelToon NovelToon
Kembali Sebelum Penghianatan

Kembali Sebelum Penghianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Reinkarnasi
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Lisa Yang adalah wanita lembut yang percaya pada cinta. Ia menikah dengan pria yang ia cintai sepenuh hati, Arvin Pratama.
Namun pernikahan yang ia kira akan menjadi kebahagiaan justru berubah menjadi neraka.
Suaminya berubah menjadi pria dingin dan kejam. Lebih menyakitkan lagi, sahabatnya sendiri sejak kecil—Clara—ternyata adalah selingkuhan suaminya.
Selama bertahun-tahun Lisa dipermalukan, dimanfaatkan, dan diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Pada akhirnya pengkhianatan itu mencapai puncaknya.
Lisa dibunuh oleh suaminya sendiri bersama sahabatnya demi merebut seluruh warisannya.
Saat napas terakhirnya hilang, Lisa bersumpah dalam hatinya.
"Jika aku diberi kesempatan hidup lagi... aku akan menghancurkan kalian berdua."
Namun keajaiban terjadi.
Lisa membuka mata dan menyadari dirinya kembali ke masa tiga tahun sebelum pernikahannya.
Kali ini Lisa tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama.
Ia akan membalas semua pengkhianatan.
Dan dalam rencananya, ia mulai mendekati se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 : Titik Balik Yang Tidak Terlihat

Langkah Arvin yang keluar dari ruangan Lisa tidak lagi setegas saat ia masuk, karena meskipun amarah masih tersisa, sesuatu yang jauh lebih mengganggu kini mulai mengambil alih pikirannya—keraguan—dan itu adalah sesuatu yang tidak pernah ia biarkan tumbuh sebelumnya, terutama terhadap Lisa, namun sekarang setiap kata yang wanita itu ucapkan terus berputar di kepalanya, menciptakan celah yang semakin sulit ia tutup dengan keyakinan yang dulu begitu kuat.

Di sisi lain pintu, Lisa tetap berdiri diam beberapa detik setelah Arvin pergi, bukan karena ragu, melainkan karena ia sedang memastikan satu hal—bahwa langkah tadi sudah cukup untuk mendorong Arvin ke titik di mana emosinya mulai mengalahkan logikanya, dan dari ekspresi terakhir yang ia lihat, Lisa tahu jawabannya.

“Sudah mulai retak…” gumamnya pelan.

Ia kembali ke mejanya, duduk dengan tenang, lalu membuka laptop dan mulai mengetik sesuatu dengan fokus penuh, bukan sekadar pekerjaan biasa, melainkan langkah berikutnya yang akan mempersempit ruang gerak lawannya tanpa mereka sadari.

Di luar gedung…

Arvin berdiri di dekat mobilnya tanpa langsung masuk, tangannya masih mengepal tanpa ia sadari, dan matanya menatap kosong ke depan seolah mencoba memahami sesuatu yang terus lolos dari jangkauannya.

Ponselnya bergetar.

Ia melihat layar.

Clara Wijaya.

Arvin mengangkat panggilan itu setelah beberapa detik.

“Ya?” jawabnya singkat.

Suara Clara terdengar tenang.

“Kamu sudah bertemu Lisa?” tanyanya.

Arvin menghela napas pelan.

“Sudah,” jawabnya.

Clara langsung menangkap sesuatu dari nada suaranya.

“Dan?” tanyanya lagi.

Arvin terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Dia tidak seperti yang kita kira.”

Clara tersenyum tipis di seberang sana.

“Baru sadar?” katanya.

Arvin mengerutkan kening.

“Kamu tahu sesuatu,” ucapnya.

Clara berjalan perlahan ke arah jendela di ruangannya.

“Aku tahu cukup untuk tidak meremehkannya,” jawabnya.

Arvin menatap ke depan.

“Apa rencanamu?” tanyanya.

Clara tidak langsung menjawab.

Namun ketika ia berbicara lagi…

Nada suaranya berubah.

Lebih dingin.

“Kita tekan dia dari dua arah,” katanya.

Arvin mengernyit.

“Maksudmu?”

Clara menyilangkan tangannya.

“Kamu fokus pada dia secara pribadi,” jelasnya, “aku akan urus sisanya.”

Arvin memahami maksudnya.

Namun tetap ada sesuatu yang mengganjal.

“Dan Devan?” tanyanya.

Clara tersenyum tipis.

“Itu urusanku,” jawabnya.

Kalimat itu singkat.

Namun jelas.

Dan untuk pertama kalinya…

Arvin mulai benar-benar masuk ke dalam permainan yang sama.

Di tempat lain…

Luna Priscilla duduk di dalam mobilnya dengan ekspresi yang lebih serius dari biasanya, ponselnya masih terbuka menampilkan percakapan terakhir dengan Devan, dan untuk pertama kalinya ia merasa tidak sepenuhnya mengendalikan situasi seperti yang biasa ia lakukan.

Ia menatap layar itu beberapa detik.

Lalu tersenyum tipis.

“Kalau kamu pikir aku hanya akan mengikuti…” gumamnya.

Matanya berkilat.

“Kamu salah.”

Ia mulai mengetik pesan.

Namun bukan untuk Clara.

Melainkan…

Lisa.

> Sepertinya kita punya musuh yang sama.

Pesan itu terkirim.

Dan Luna bersandar santai sambil menunggu balasan, seolah ia baru saja melempar koin ke udara tanpa benar-benar peduli sisi mana yang akan jatuh, selama ia tetap berada di posisi yang menguntungkan.

Di dalam kantor…

Lisa sedang membaca laporan di layar laptopnya ketika ponselnya bergetar, dan saat ia melihat nama yang muncul, matanya menyipit sedikit.

Luna Priscilla.

Ia membuka pesan itu perlahan.

Membaca.

Dan dalam hitungan detik…

Ia sudah memahami maksud di baliknya.

Lisa tersenyum tipis.

Bukan karena terkejut.

Melainkan karena…

Ini sesuai dengan prediksinya.

Ia mengetik balasan tanpa ragu.

> Musuh yang sama atau tujuan yang sama?

Pesan terkirim.

Tidak lama kemudian, balasan datang.

> Tergantung dari sudut pandang.

Lisa menyandarkan tubuhnya.

Matanya tajam.

> Aku tidak suka sudut pandang yang tidak jelas.

Balasan Luna datang lagi.

> Kalau begitu kita buat jelas. Aku tidak ingin kalah.

Lisa menatap layar beberapa detik lebih lama.

Lalu mengetik satu kalimat.

> Kalau begitu pastikan kamu tidak berada di jalanku.

Ia menekan kirim.

Dan percakapan itu berhenti di sana.

Namun cukup.

Lebih dari cukup.

Di tempat lain…

Devan Alexander berdiri di ruangannya ketika ponselnya bergetar, dan saat ia membaca pesan dari sumbernya, ekspresinya tidak berubah, namun sorot matanya menjadi lebih tajam.

> Luna menghubungi Lisa.

Devan tersenyum tipis.

“Cepat juga…” gumamnya.

Ia tidak terlihat khawatir.

Justru sebaliknya.

Semakin banyak orang mulai bergerak sendiri…

Semakin cepat semuanya akan terbuka.

Ia berjalan menuju jendela.

Menatap ke luar.

Dan berkata pelan…

“Sekarang kita lihat… siapa yang benar-benar bisa bertahan.”

Kembali ke kantor…

Lisa berdiri di depan jendela dengan ponsel di tangannya, percakapan dengan Luna masih terbuka di layar, namun pikirannya sudah melangkah lebih jauh, karena bagi Lisa, setiap pergerakan yang terlihat sekarang hanyalah permukaan dari sesuatu yang jauh lebih dalam, dan semakin mereka mencoba mengubah arah permainan, semakin jelas pola mereka terbaca.

Ia menutup layar ponselnya perlahan.

Matanya kembali fokus.

“Semua mulai keluar dari bayangan…” katanya pelan.

Tangannya menyentuh kaca dingin di depannya.

“Bagus.”

Senyum tipis muncul di bibirnya.

“Sekarang aku tidak perlu mencari lagi…”

Ia menatap ke kejauhan.

Sorot matanya berubah menjadi lebih dingin.

“Karena kalian semua sudah datang sendiri.”

Dan tanpa mereka sadari…

Mereka sudah melewati satu titik penting.

Titik di mana permainan tidak lagi bisa dihentikan.

Titik di mana semua pilihan yang mereka ambil…

Akan membawa mereka ke satu arah yang sama.

Kehancuran.

Dan Lisa…

Sudah berdiri tepat di tengahnya.

Menunggu.

Siapa yang akan jatuh lebih dulu. 🔥

1
Su Darno
blm ada ending nya msh penasaran thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!