Jasmine, menikah dengan Aksa adalah mimpi buruk yang ingin ia kubur dalam-dalam. Sebagai anak yatim piatu yang miskin, Jasmine hanya dianggap sampah dan pembantu gratisan oleh keluarga Aksa yang terpandang. Puncaknya, sebuah fitnah kejam membuatnya terusir dari rumah megah itu tanpa membawa sepeser pun uang.
Tiga tahun berlalu, Jasmine bertahan hidup sebagai Professional Housekeeper di sebuah agen elit. Tugas terbarunya adalah mengurus sebuah penthouse mewah milik klien misterius yang sangat menuntut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Aksa tersentak bangun dengan napas memburu. Keringat dingin membasahi keningnya setelah mimpi buruk. Aksa mengerang pelan, mengusap wajahnya dengan kasar.
Tanpa menyalakan lampu kamar, Aksa melangkah gontai keluar. Ia langsung pergi ke dapur menuangkan air es ke dalam gelas dengan tangan yang sedikit gemetar, meminumnya hingga tandas seolah ingin membasuh rasa takut yang menyumbat tenggorokannya.
Setelah rasa dingin itu sedikit menenangkannya, mata Aksa tertuju pada sebuah lorong kecil menuju kamar asisten rumah tangga.
Aksa berjalan menuju meja laci di dekat pintu masuk, mengambil sebuah gantungan kunci kecil. Dengan langkah perlahan, ia mendekati pintu kamar Jasmine. Ia memasukkan kunci cadangan ke dalam lubangnya, memutarnya dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara klik yang keras.
Pintu terbuka sedikit. Cahaya remang dari koridor masuk ke dalam ruangan yang sederhana itu. Aksa melangkah masuk, matanya langsung tertuju pada sosok yang meringkuk di bawah selimut tipis.
Jasmine tertidur pulas, napasnya teratur dan tenang. Aksa berdiri di sisi tempat tidur, menatap wajah Jasmine yang tampak damai dalam tidurnya.
Aksa menyingkap selimut tipis itu perlahan, lalu ikut naik ke atas ranjang kecil milik Jasmine. Kasur itu berderit pelan saat menopang beban tubuh besarnya, namun Aksa tidak peduli. Ia hanya butuh merasakan detak jantung Jasmine untuk mengusir sisa-sisa mimpi buruk masa kecilnya yang menyesakkan.
Pergerakan di sampingnya membuat Jasmine terusik. Ia mengerjap, menyesuaikan penglihatannya dalam remang cahaya.
"Tuan... kenapa Anda di sini?" suara Jasmine serak karena kantuk, ia mencoba bangkit dan menjauh.
Tanpa membiarkannya menjauh, Aksa langsung menarik Jasmine ke dalam pelukan erat. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jasmine.
"Aku tidak bisa tidur," gumam Aksa dengan suara parau yang bergetar.
"Jangan bergerak, Jasmine. Malam ini saja aku tidur di sini."
Aksa tidak menjawab dengan kata-kata, ia justru semakin menenggelamkan wajahnya, seolah Jasmine adalah satu-satunya obat penenang bagi jiwanya yang sedang kacau.
Sinar matahari pagi mulai meninggi. Jasmine mengerjap, matanya terasa berat, namun saat kesadarannya pulih sepenuhnya, ia langsung tersentak. Ia melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul enam pagi.
"Astaga..." desis Jasmine panik. Ia segera mencoba bangkit, namun sebuah lengan kokoh yang melingkar di pinggangnya menahan gerakannya.
"Pagi," gumam sebuah suara berat dan serak khas bangun tidur dari arah belakangnya.
"Tuan... lepaskan. Saya sudah terlambat! Saya harus segera ke dapur menyiapkan sarapan untuk Anda. Ini sudah jam enam!"
Jasmine berontak pelan, mencoba melepaskan diri. Namun, alih-alih melepaskan, Aksa justru menarik bahu Jasmine pelan, membalikkan tubuh wanita itu hingga mereka kini berada dalam posisi bertatapan sangat dekat di atas ranjang sempit tersebut.
"Tak perlu, Diamlah di sini," ucap Aksa santai. Tangannya yang bebas meraih ponsel di atas nakas kecil di samping tempat tidur.
"Nanti pesan online saja. Aku sedang malas makan masakan rumah, dan aku ingin sarapan berdua denganmu tanpa gangguan siapa pun."
Jasmine tertegun, menatap Aksa yang kini sibuk menggulir layar ponselnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih mengunci pinggang Jasmine dengan posesif.
"Tapi Tuan..."
"Panggil namaku, atau aku akan memesan seluruh menu di restoran itu."
Aksa kemudian mematikan layar ponselnya dan kembali fokus pada wajah Jasmine. Dengan gerakan lembut, Aksa menyingkirkan anak rambut Jasmine yang berantakan di keningnya, menyelipkannya ke belakang telinga dengan tatapan yang sangat dalam.
"Cantik," gumam Aksa.
"Hah?"
Aksa menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun. Ia mengusap pipi Jasmine dengan ibu jarinya, merasakan kelembutan kulit wanita itu.
"Kamu makin cantik, Jasmine. Bahkan dengan wajah baru bangun tidur seperti ini," lanjut Aksa
" berhentilah berkata omong kosong."
Mata Aksa menatap bibir Jasmine sejenak sebelum kembali menatap matanya dengan penuh permohonan.
"Jasmine..." bisik Aksa rendah, suaranya parau karena menahan gairah.
"Boleh aku cium?"
......................
Di kediaman mewah keluarga Adiguna, suasana tidak kalah mencekam. Ayah Clarissa, Danu Adiguna, berdiri dengan napas memburu, wajahnya merah padam menatap putri tunggalnya yang tersungkur di lantai marmer ruang kerja.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Clarissa, membuat sudut bibirnya berdarah.
"Dasar anak tidak berguna!" bentak Danu, suaranya menggelegar hingga ke seluruh penjuru rumah.
"Kau tahu berapa banyak saham yang anjlok pagi ini karena berita pembatalan kerja sama dari Mahendra Group?! Kau satu-satunya harapanku untuk mengikat Aksa, tapi kau malah membiarkannya lepas!"
Clarissa terisak, memegangi pipinya yang terasa panas dan berdenyut. Tubuhnya gemetar hebat, ia mencoba merangkak mundur namun punggungnya tertabrak kaki meja kayu yang keras.
"Aku lagi berusaha, Pah..." rintih Clarissa dengan suara serak di sela tangisnya.
"Aku sudah melakukan segalanya! Aku sudah mengikuti rencana Tante Sonia, tapi Aksa... Aksa berubah! Dia lebih memilih pelayan rendahan itu daripada aku!"
"Berusaha?!" Danu menarik kerah baju Clarissa, memaksanya berdiri meski kaki wanita itu lemas.
"Berusahamu itu sampah! Jika dalam tiga hari kau tidak bisa menyeret Aksa kembali ke jalur pertunangan ini, jangan harap kau bisa menginjakkan kaki di rumah ini lagi. Kau akan jatuh miskin, Clarissa! Kau mau jadi gembel ."
Danu mengempaskan tubuh Clarissa kembali ke lantai dengan kasar. "Cari cara! Gunakan otakmu yang bodoh itu! Kalau perlu, lenyapkan siapa pun yang menghalangi jalanmu!"
Clarissa hanya bisa meringkuk, menangis sesenggukan di lantai yang dingin. Rasa sakit di fisiknya tidak sebanding dengan rasa benci yang kini membakar dadanya. Di sela isakannya, matanya berkilat penuh dendam.
"Ini semua karena Jasmine..." desis Clarissa pelan, kukunya mencengkeram lantai marmer hingga memutih.
"Kalau bukan karena dia, Papa tidak akan memukulku. Aku akan memastikan wanita itu membayar setiap tetes air mataku hari ini."
tuh singanya muaraaah😄😄😄
Suka Ceritax Seruuuuu....