Leonel adalah seorang hantu yang bersemayam di dalam patung.
Keberadaannya sudah bertahun-tahun lamanya dan tidak pernah keluar menampakkan wujudnya pada siapa pun.
Sampai suatu hari ada seorang wanita yang mengusik keberadaannya, sehingga dia terpaksa keluar dan menampakkan wujud aslinya, seorang hantu tapi tampan meskipun dengan wajah pucat, dia memang tidak bisa dilihat oleh mata awam kecuali orang itu sama energinya dengan hantu Leo, pasti manusia itu akan melihatnya seperti wanita yang mengusiknya hari itu ternyata sama energinya dengan hantu leo.
jadi siapakah yang bisa melihat leonel.
kalau mau tau ikutin kisahnya ya teman-teman ☺️🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Hantu Leo berhasil mempertemukan Arun dengan Dimas.
Pagi hari pun sudah datang,
Arun yang terbiasa bangun pagi langsung bangun dan menuju kamar mandi dengan jalan kaki yang pincang-pincang,Arun melangkah pelan-pelan berpegangan meja dan ranjang tempat tidurnya,tapi tanpa sadar dia menjatuh kan tutup gelas yang ada dimeja sehingga Dimas yang tidur disofa pojok terbangun.
"Pranggg"""
"Apa sihhh"pagi-pagi sudah berisik?"" Kata Dimas.
"Astaghfirullah kenapa suaranya persis Leo kata-katanya juga."
Arun tertegun dan terdiam,disaat itu Dimas lihat Arun yang berdiri diujung ranjang,dan tinggal selangkah lagi,kekamar mandi,darah nya langsung berdesir.
"Astagaaa kamu mau kemana Mba?"
"Dengan kaki kamu seperti ini bisa-bisanya kamu jalan sendiri?""
Kata Dimas dan langsung menghampiri Arun.
Arun langsung kaget,
"Ohhh saya mau kekamar mandi,?"
"Kenapa gak mita tolong suster!
Kata Dimas dengan tegas.
Arun menjawab dengan sedikit kesal juga,sambil memandang Dimas dengan alis matanya dinaik kan.
"Karena saya masih bisa sendiri Pakkkkkkk?""
"Ya Tuhannnn kenapa aku bisa ketemu orang seperti kamu sih Mbaa?""
"Orang kok keras kepala banget."
Lalu Arun tidak memperdulikan pekataan Dimas,dan dia melangkah perlahan menuju kamar mandi,disaat langkah kakinya yang kedua kali, langsung dengan sigap Dimas menggedong Arun dibawa kekamar mandi,
Arun kaget dan meronta-ronta minta turun.
"Pak Dimas turun kan saya!"
Langsung Dimas memandang Arun dengan tatapan tajam.
"Bisa diam gak!" "Jangan biasakan mulut itu berisik!"
Kata Dimas dengan tegas dan berkharisma.
"Aduuuhh ternyata serem juga orang ini kalau marah."
Kata hati Arun.
Dan akhirnya Arun pun nurut saja sambil memejam kan matanya karena gak nyaman,dengan pandangan Dimas.
Sedang kan Dimas yang melihatnya tersenyum mennyringai,dengan puas karena telah bikin Arun tidak bisa berbuat apa-apa.
Lalu setelah dikamar mandi Arun didudukan dengan pelan-pelan oleh Dimas.
"Mau dibukakan sekalian gak bajunya?"
Langsung Arun melotot kan matanya,dan merasa kesal Ke Dimass.
Dimas melihat Arun seperti itu,sangat puas dalam hatinya,
Pertanyaan Dimas yang sengaja pura-pura bodoh,karena pingin lihat Arun jengkel dan kesal padanya,semua disengaja untuk balas dendam ke Arun,karena apa yang dilakukan Arun padanya tadi malam bikin Dimas kesal juga.
Dimas dengan tenang masih didepan Arun memang dia sengaja.
"Sudah Pak! "Pak Dimas bisa keluar gak!!"
Teriak Arun kesal.
"Bisa gak,gak marah."
Jawab Dimas dengan tenang.
"Iss,orang aneh!"
Gumam Arun.Dimas Yang mendengar itu terlihat bahagia karena bisa balas dendam ke Arun.
Tapi dibalik semua itu hati kecil Dimas,berkata,
"Ternyata kamu lucu juga sebenarnya kalau marah."hehehe"
Sambil berlalu meninggalkan kamar mandi.
Setelah itu dia kembali ke sofa dan ambil perlengkapan mandinya,dan langsung mandi dikamar mandi yang berbeda, selesai ganti baju,dia mau pergi keluar untuk cari makanan,sebelum dia keluar kamar,Dimas pesan ke Suster untuk jaga Arun yang sedang ada dikamar mandi.
Sementara itu dirumah majikan Arun,Bu Rina sudah pulang,dan berencana nengok Arun bersama Siti.
"Sittt,sudah siap?" "Sudah Bu."
Jawab Siti.
"Ya sudah ayok?"
Kata Bu Rina.
Bu Rina dan Siti akhirnya pergi kerumah sakit.
Tak berapa lama sampai juga dirumah sakit lalu menuju kamar yang ditempati Arun.
"Runnn?"" Kata Bu Rina sapa Arun.
"Ibuu,maafin Arunn,Arun belum bisa bekerja.
"Iya Ibu ngerti Runn."
Lalu Dimas yang sudah kembali,dari beli makanan,dia gak jadi masuk,hanya berdiri dipintu karena ingin mendengar percakapan Antara Arun dan Bosnya.
"Runn kira-kira Arun istirahat sampai kapan?"
Tanya Bu Rina ke Arun.
"Belum tau Bu,memang kenapa Bu?""
"Begini Arun kalau Arun istirahat terlalu lama,Ibu juga kerepotan nanti,soalnya dua hari lagi,nonik datang kasian Siti sendirian?""
Dimas yang mendengar didepan pintu tiba-tiba merasa kesal dan jengkel dengan sikap Bosnya Arun.
"Gila,Bos macam apa dia ini,tau Arun masih sakit,sudah nyuruh kerja."
Kata hati Dimas.
"Ya sudah Bu,gini saja saya dua hari lagi sudah kerja Bu?"
"Siapa yang memperbolehkan kamu dua hari lagi sudah kerja Mba,?"
"Memang kaki kamu sudah sembuh total dalam dua hari lagi!" Dengan tegas Dimas berkata sama Arun.
Langsung semua terdiam diruangan itu.
"Maaf Bapak ini siapa ya?" Tanya Bu Rina ke Dimas.
"Oh ya Bu kenal kan saya yang bertanggung jawab atas kecelakaannya Mba Arun."
"Nama saya Dimas."
Kata Dimas sambil menatap tajam Bu Rina.
Arun yang melihat itu langsung was-was dalam hatinya.
Dan dia langsung meyakinkan Dimas kalau dia sudah bisa bekerja, supaya tidak berdebat sama Bu Rina, karena sekarang Arun paham karakter Dimas yang nekat orangnya.
"Iya Pak Dimas,saya sudah bisa bekerja kok,dalam dua hari.""
"Astagaaa ni wanita bodoh atau gimana sih,dibantui kok malah bilang seperti itu,ada yang gak beres ni kayaknya."
Dalam hati Dimas.
"Ya sudah begini saja Mba karena saya dan Mba Arun gak bisa mutuskan permasalahan ini?" "Jadi saya akan pangil Dokter saja,untuk minta konfirmasi tentang keadaan kaki Mba Arun."
Kata Dimas lagi sambil minta tolong Suster panggilkan Dokter untuk periksa kaki Arun.
Batin Arun. "Waduh,ni orang bagaimana sih kalau panggil Dokter pasti aku di larang lah, kan memang kaki ku gak akan sembuh kalau dua hari saja."
Hanya beberapa menit akhirnya Dokter pun datang,
"Ada apa ini Pak Dimas?"
Begini Dok,Mba Arun ini merasa kakinya dalam dua hari sudah sembuh,dan akan kembali bekerja apakah memang bisa?""
Dokter langsung saja kaget.
"Loh,ya gak mungkin Mba,kaki Mba Arun ini parah lo,belum tentu sebulan saja Mba bisa jalan normal apa lagi dua hari yang bener Mba?"
Kata dokter bilang ke Arun.
"Mba saya kasih tau ya sekarang,,, bagaimana kaki Mba sebenernya Suster bisa minta tolong ambil kan hasil tes Rontgen Mba Arun?"
"Baik Dok,langsung Suster mengambil kan hasil tes Rontgen Arun.
Dan dokter pun menjelas kan dengan detail semua yang terjadi pada kaki Arun.
Setelah selesai menjelaskan dan memeriksa luka Arun dokter pun kembali memeriksa pasien yang lain.
"Sudah kan Mba Arun paham jadi tolong hargai tanggung jawab saya ke Mba Arun."
"Tapi Pak,kan saya harus kerja juga?"
Kata Arun.
"Begini saja Bu,biar Mba Arun sembuh total kalau ingin kerja lagi,kalau Ibu perlu banget pembantu lagi mending Ibu cari lagi saja pengganti Mba Arun." Kata Dimas dengan tenangnya menyarankan Bu Rina cari pembatu lagi.
"Ohhh,baik Pak kalau begitu?" Bu Rina terlihat tersinggung dengan perkataan Dimas.
"Ya sudah Arun mulai hari ini Arun gak kerja lagi di Ibu ya?" Bu Rina dengan kecewa dan terlihat marah, pergi meninggal kan rumah sakit.
Sedangkan Dimas terlihat puas dengan hasil pembahasan tentang masalah kerja Arun.
Tapi Dimas tidak tau dampak yang Dimas tadi lakukan akan membuat Arun bingung dan sedih.
"Sekarang Pak Dimas sudah puas dengan semua yang Bapak lakukan kesaya?"
Dengan meneteskan air mata Arun marah pada Dimas.
"Bapak tau dengan Bapak bilang seperti itu,ke pada Bu Rina Bapak telah,bikin saya susah!""
"Lo kok bisa,kan harusnya Mba berterimakasih pada saya,Mba sudah bisa lepas dari majikan seperti itu!"
Jawab Dimas juga kesal.
"Ini aneh malah nyalahin saya?"
Kata Dimas lagi dengan kesal terhadap Arun yang gak menghargai dia.
"Pak,kalau semua orang pemikiranya seperti Bapak permasalahan hanya dilihat dari luar saja semua mudah Pak,tapi gak semua orang terlihat punya masalah segampang pemikiran Pak Dimas?""
"Saya bekerja di Bu Rina jarang libur karena saya terikat pinjaman uang,untuk saya masuk rumah sakit dulu karena oprasi,pijaman saya gak dikit Pak, banyak!"makanya meskipun saya sakit saya tetap terus bekerja supaya bisa bayar pinjaman saya dikit demi sedikit."
"Belum lagi gaji saya gak pernah dinaik kan,jadi saya slalu bisa bayar cuman sedikit,dan belum keluarga saya yang taunya uang saja sama saya."
"sekarang saya sudah dipecat dan pasti saya harus tetap bayar ke Bu Rina sekarang apa yang harus saya lakukan jawab Pak,jawabbbbb!!"""
"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiiiiiii""
Arun menangis pilu dengan keadaanya.
Dan Dimas hanya bisa diam dan terbesit rasa penyesalan dihatinya bukan penyesalan soal uang atau apapun tapi penyesalan kenapa tidak ditanyakan ke Arun tentang permasalahan atau persoalan dia.
Dalam keadaan fikiran kacau, lalu Dimas keluar dan menelepon sekertaris nya,
"Halo Putra,tolong cari tau dan selidiki awal mula Mba Arun kerja di Bu Rina dan pinjamannya ke Bu Rina berapa semua,langsung lunasi semuanya dan ambil barang-barang Mba Arun jangan sampai ada yang ketinggalan,dan ambil semua sekarang juga."
"Baik Pak Dimas."
Siang pun menuju sore Arun masih dengan tangisannya dengan rintihan pilu karena persoalan hidupnya.
Sampai tangisan itu tak terdengar lagi karena kelelahan dan Arun pun tertidur dalam tangisan.