INSPIRASI DARI BULAN RAMADHAN.
Seorang gus bernama Ali Mahendra adalah putra kiyai kharismatik yang dipersiapkan menjadi penerus pesantren—jatuh cinta pada Nayla Malika seorang gadis yang terjebak dalam dunia Mafia karena masa lalunya yang rumit antara ibunya wanita Indonesia dan sang ayah pria Arab Saudi.
Sang Kiyai yang tahu jika Putra tunggalnya mencintai Nayla, berusaha mencarikan calon istri yang baik---anak dari Kiyai di pesantren lain.
Ning Syifa Maulida seorang anak Kiayai yang akan di nikahkan oleh Gus Ali.
Mampukah Ali dan Nayla bersama dalam perbedaan dunia sosial dan lingkungan. Atau Bagaimana Ali mengatasi masalah ini agar tak kehilangan Nayla
Cinta mereka bukan hanya tentang dua hati, tapi tentang dua dunia yang saling bertolak belakang: sajadah dan senjata, doa dan darah, dzikir dan dendam semuanya menjadi satu dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Pagi mendatang menunjukkan pukul 10.07.
Cahaya matahari menembus celah di gudang itu, tepat Nayla sudah tertidur di lantai gudang.
Nayla terduduk dengan kepala yang berdenyut nyeri sementara Gani masih tertidur.
Gani tergeletak di sofa hitam, aroma sisa asap ganja semalam masih terasa di udara, aroma getir yang bercampur alkohol menyeruak.
"Eh Gani bangun!" ujar Nayla menggoyang-goyangkan tubuh Gani.
Gani masih dengan tidurnya, Nayla yang jengkel berusaha menarik Gani untuk bangun.
"Gani HP ama lu 'kan?" ucap Nayla berusaha membangunkan Gani.
Nayla hanya memutar bola matanya jengah, dirinya tak menyangka jika Gani bisa tertidur seperti ini.
"Busset nih anak!" dengus Nayla.
Nayla yang sudah kesal dengan Gani, segera merogoh kantung celana Gani.
Pikir Nayla, bisa menemukan ponsel jadul yang Hannah Ayodia titipkan pada mereka.
"Busset nih, Genderuwo malah tidur!" ucap Nayla berusaha mencari ponsel di saku Gani.
Nayla masih meraba, Gani tertidur sambil meracau tak jelas.
"Ibu aku minta maaf," racau Gani memeluk kaki Nayla.
Nayla menepisnya.
"Apaan sih lo Gan, lo kira gua boneka main peluk-peluk kaki gua!" ungkap Nayla.
Nayla mengerang pelan, kepalanya masih seperti di pukul dari dalam.
"Akhirnya ketemu," ucap Nayla menemukan ponsel di saku Gani.
Tenggorokannya kering, matanya berat.
Saat berusaha menghubungi Hanna, lengan kanan Nayla terangkat tampak kontras karena terlihat tato.
"Brengsek nih bocah, hama!" umpat Nayla berusaha menelepon Hanna.
Nayla menelepon Hanna, tapi sialnya sinyal tak ada.
Lalu Nayla berusaha keluar hanya demi menghubungi Hanna, kenapa mobil rubicon belum di kirim.
"Kenapa panggilan tak terhubung ya," pikir Nayla.
Tanpa sadar di luar ada beberapa pasang mata yang mengawasi para mafia itu, para warga yang sudah kesal dengan kehadiran para mafia itu memilih diam.
Diam karena tak punya kuasa.
Apalagi sekarang sudah ada pihak kepolisian yang siap melancarkan tugasnya, karena mereka akan membebaskan cengkraman desa ini dari geng keihn.
"Hallo target disini, Nayla Malika tadi di luar," ucap seorang intel sambil memegang walkie-talkie.
Sementara Nayla juga kesal mencari sinyal, dan saat dapat sinyal malah panggilan itu tak aktif.
Sungguh sial, hari yang sial.
Sebelum masuk gudang Nayla menanyakan kepada penjaga, "eh Bram lo ada hp nggak?" tanya Nayla.
"Ada Non," ucapnya.
"Minta tolong telepon pedro dong," pinta Nayla yang berusaha menelepon Aditya.
Tangan Nayla membelakangi rambutnya, kepalanya sangat sakit karena memikirkan bagaimana nasib mereka.
Firasatnya mengatakan ada suatu hal yang terjadi.
"Panggilan belum aktif non," ujar Bram.
Bram pria mengenakan singlet hitam dengan tubuh penuh tato.
"Ah A*jing banget!" kata Nayla.
Nayla yang kesal kembali masuk gudang, dan melihat Gani baru bangun dengan kepala berdenyut nyeri.
"Eh udah bangun lo?!" tanya Nayla menatap Gani.
"Iya kak," jawab Gani dengan pandangan limbung.
Nayla hanya menghela napas, "gua udah bangunin lo dari tadi!" marah Nayla.
"Nih coba lo telepon Hanna, kagak jelas nih perempuan!" ungkap Nayla yang marah-marah.
Nayla kembali duduk di sofa dan menunggu Gani yang bertindak, Nayla hanya menghela napas menyandarkan punggung di sofa.
Matanya menatap langit-langit, tangannya membelakangi rambutnya yang panjang.
"Kagak ada sinyal anjir di dalem," ucap Gani.
"Ya lo keluar Gani...," suara Nayla lirih memberitahu Gani.
Gani akhirnya keluar sementara Nayla, memejamkan matanya tak sadar semalam apa yang dia katakan.
"Anjirrlah kalo sampai bener aparat kemari, sebelum rubicon dateng jemput gua atau Gani."
"Hanna gua bakal tandain!" lanjut Nayla.
Nayla yang sedang duduk tiba-tiba mendengar suara gaduh dari luar, Gani masuk ke dalam memberikan Nayla senjata.
"Deh kenapa cokk?" tanya Nayla mengerutkan keningnya.
"Udah jangan banyak tanya, bawel lo!" kata Gani menyerahkan senjata dan amunisi kepada Nayla.
Nayla segera memegangnya, dan mata gadis itu heran lantaran para pasukan Mafia yang menjaga di luar juga masuk.
"Eh ada apaan ini? Bram kenapa?" tanya Nayla mengerutkan keningnya.
"Para aparat menyerang kita Signora!" ujar Bram.
Mendengar penuturan Bram.
Tangan Nayla dengan sigap, menenteng senjata dengan gagah selayaknya Srikandi.
"Dih Aparat sialan!" ucap Nayla memegang senjatanya.
Setelahnya bunyi suara tembakan menjadi tak terhindarkan, dua orang Mafia sudah limbung.
Tiba-tiba bunyi suara pintu di dobrak kasar, di sana sudah ada aparat mengenakan pakaian lengkap.
"Pras!" teriak Nayla.
Nayla melihat rekannya tertembak dan kehilangan nyawa.
Mereka tak mengenakan persiapan atau rompi anti peluru, posisi mereka belum siap dan belum mengenakan apapun.
Mereka hanya memegang senjata seadanya, dan melawan aparat bersenjata lengkap.
Tanpa sengaja lengan Nayla juga terkena tembakan.
"Kak Nay!" teriak Gani.
Gani membawa Nayla ke belakang sofa dan menembak kepala polisi yang menembak Nayla.
"Tahan Nay," teriak Gani berusaha mencari apapun untuk menyeka luka Nayla.
Gani segera menyeka luka Nayla, Aparat berusaha meratakan para Mafia yang tersisa.
"Ayo angkat tangan, kalian sudah terkepung!" teriaknya.
Para Mafia terus menyerang sampai titik darah penghabisan, sementara Nayla juga mau menyerang.
Namun, seorang pria dari kejauhan mau menembak Nayla dengan peluru dari obat bius.
Tapi yang kena malah Gani, peluru itu mengenai pundaknya
Efek obat bius itu membuat Gani jatuh dan mengantuk, bukan mati.
"Gani!" teriak Nayla membantu pria yang sudah seperti adik baginya.
"Uhuk...uhukk," Nayla terbatuk-batuk berusaha melihat siapa yang menyerang Gani.
Nayla melihat, ini ternyata obat bius.
"Assalamualaikum Nayla," ujar seseorang lalu menembakan ke punggung Nayla.
Berdarah tapi tak berbahaya.
Nayla menatap pria itu sekilas sebelum jatuh pingsan, pria berwajah Arab dengan jambang tipis.
Fahad.
Para polisi segera merapikan jasad para Mafia, dan membawanya dengan kantong mayat.
Sementara Nayla sudah di bopong oleh Fahad keluar dari gudang.
Fahad membopong tubuh Nayla, lalu melihat ayahnya menunggu agak jauh dari area gudang yang sudah di garisi---garis polisi.
Khaled----ayah biologis Nayla dan ayah Fahad tengah mengenakan gamis dan kuffiyeh.
"Baba," ujar Fahad.
Nayla tak sadar diri, setelah di tembakan peluru berisi obat bius mengenai punggungnya.
Mata Khaled langsung menatap, lengan Nayla yang ada gambar tato.
"Astagfirullah," ucap Khaled secara spontan menatap tato di lengan putrinya.
"Sudahlah Baba, bawa masuk Nayla. Aku keberatan!" ungkap Fahad.
Nayla segera di taruh di belakang mobil, untuk menuju helikopter yang sudah di sewa Khaled.
Khaled sengaja menyewa helikopter, agar cepat sampai rumah.
Efek obat bius itu delapan jam lebih, dan Khaled memprediksi jika obat bius itu habis maka Nayla pasti akan memberontak---tidak mau kembali.
*
*
*
*