Maemunah, gadis lajang berumur 25 thn yang belum bisa dewasa sedikit pun. Sifatnya sangat bebas dan suka bergaul dengan remaja yang bukan seumurannya. Gadis ini tidak suka bekerja dan hanya senang bermain, padahal teman" seumurannya banyak yang sudah sukses berkerja dan menikah. Putri babe Rojali dan Nyak Markoneng ini kerap kali menjadi biang kerok dan terkenal dengan kenakalannya. Sifat ini sudah ia miliki sedari kecil senang membuat onar dan membuat pusing kedua orang tuanya. Tak tahu entah cara apa lagi agar Mae beranjak dewasa, kedua orang tuanya memutuskan mencari seorang lelaki untuknya. Mae jelas menolak keras hal ini. Ia tak mau menikah dan berpacaran karena tak mau ribet. Itu melelahkan baginya, menjalani kehidupan seperti yang diinginkan barulah menyenangkan menurutnya. Akankah ada lelaki yang bisa merubah sikap buruknya itu? Berhasilkah orang tuanya mencari lelaki yang cocok dengannya? Temukan jawabannya lewat cerita novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jindael, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Malam hari sebelumnya.
Catalina yang sudah sampai rumah dan bersiap untuk istirahat, mendadak ponselnya berdering tanda ada yang memanggilnya. Tampak tak ada nama di nomor tersebut. Ia terdiam sebentar untuk berpikir tentang siapa yang memanggilnya. Karena ponselnya terus berbunyi, Catalina akhirnya memutuskan untuk mengangkatnya.
"Halo, dengan siapa ini ya?"
"Cat, ini aku Ara. Ara Yumara, teman kamu masa kamu lupa," balas langsung orang tersebut.
Catalina berpikir kembali dan langsung mengingatnya. "Ya ampun Ara, yang pernah satu kelas dulu kan?"
Ara sangat senang karena Catalina berhasil mengingatnya. "Iya kita pernah sekelas dulu bareng Prince. Gimana kabarmu?"
"Aku baik, kamu sendiri?" Catalina bertanya balik.
"Tentu saja aku baik Cat, ku kemarin liat kamu di kantor ku kira itu bukan dirimu," jawabnya.
"Kamu kerja di tempat Prince bekerja?" tanya Catalina padanya.
"Ya, aku yang selama ini membantunya dalam hal mendesain. Ku bekerja sebagai kepala bagian desain sekarang," jawabnya lagi.
"Wah hebat kamu Ra. Btw kamu dapet nomor ku darimana?" Catalina penasaran.
"Dari FB mu, sorry ya," jawabnya sedikit tak enak hati.
"Oh tak apa Ara. Uhuk uhuk!" Catalina kembali batuk karena sepertinya demam mulai menyerang ke tubuhnya.
"Kamu sedang sakit Cat?" tanya Ara khawatir.
"Hmm sepertinya masuk angin," jawabnya.
"Oh cepat sembuh ya. Oh ya Cat, bagiamana kabarmu dengan Prince. Apakah kamu masih menyukainya?" Ara mulai penasaran mengenai hal itu.
"Tentu saja, tapi sepertinya Prince sudah mempunyai seseorang," jawabnya dengan nada pelan di akhir.
"Siapa?" tanya Ara penasaran.
"Kamu juga pasti akan tahu nanti, kebetulan dia bekerja bersama Prince juga sekarang," jawabnya sedikit memberikan kode.
"Oh iya kah?" Ara sedikit terkejut.
Catalina mengangguk. "Hmm. Kalo begitu sudah dulu ya ku ingin istirahat," pamitnya.
"Ok Cat, selamat malam dan cepat sembuh," ucap Ara padanya.
"Iya, terima kasih."
Percakapan dari keduanya selesai. Ara Yumara yang di ketahui teman Catalina dan Prince sewaktu sekolah dulu mulai penasaran dengan sosok wanita yang di sukai oleh teman laki-lakinya itu. Ia sudah mengetahui cukup lama tentang Catalina yang menyukai Prince. Gadis ini lah yang dulu membantunya untuk terus dekat dan mendukung Catalina dalam mengejar cintanya pada Prince. Setelah mendengar bahwa Prince sudah mempunyai seseorang yang di sukainya, Ara menjadi merasa kasihan pada Catalina dan mencoba berusaha untuk membantunya kembali.
$Salam kenal Bu Ara!" Mae menunduk menyapanya.
Ara yang terus memandangi Mae segera tersadar dan langsung tersenyum kaku padanya.
"Ada apa ya mencari saya?" tanya Ara langsung.
"Begini, saya di utus oleh Pak Prince agar Anda membantunya dalam membuat desain produk yang akan di kenalkan beberapa hari ke depan. Ini adalah keterangan mengenai desain yang di inginkan Pak Prince," jelas Mae sambil menunjukkan dokumen yang di bawanya.
Ara melihat isi dokumen tersebut. "Oh ok, nanti akan ku kirimkan lewat email. Lagipula ini tugasku yang selalu membantunya," ucapnya.
Mae mengangguk-angguk. "Baik Bu Ara, terima kasih. Saya permisi dulu!" pamitnya.
"Ya silahkan!" Ara mengangguk mempersilahkan.
Saat kembali Mae berfikir aneh tentang sikap Bu Ara yang dingin dan terlihat tak suka padanya. "Mukanya tuh orang nyeremin juga ya? Entahlah tugas gue dah selesai, tinggal tunggu email masuk saja darinya."
Mae memilih berjalan kembali menuju kantor kerjanya. Ketika sampai, ia langsung membantu yang lainnya lagi menyiapkan acara. Satu jam bekerja akhirnya dekorasi panggung sudah siap dan tata letaknya juga sudah pas. Kini hanya tinggal menunggu desain produk saja untuk tambahan presentasi bosnya nanti.
"Dor!!" Mendadak seorang datang mengejutkan Mae yang tengah duduk.
Mae menoleh. "Prince, lu ngagetin aja!"
Prince terkekeh. "Hehe. Gimana sudah selesai semua?"
"Lu liat aja sendiri!" suruh Mae padanya sambil memandangi dekorasi yang sudah siap.
"Ya bagus." Prince mengangguk-angguk puas setelah melihat sendiri hasilnya. "Oh ya Ara bersedia untuk membantu membuat desain produk baru kan?" tanyanya menoleh ke Mae.
"Hmm, dia bilang akan kirimkan lewat email nanti," jawabnya.
"Oh baiklah, ku akan menunggunya. Aku kembali dulu!" Pamit Prince padanya.
"Ok!" jawab Mae mengangguk.
Setelah kepergian Prince akhirnya Mae teringat akan sesuatu yang ia lupakan tadi.
"Ah iya gue lupa kasih tau Bu Ara untuk ngirim ke Email-nya siapa," celetuknya menyesal.
$Tapi dia kan temen si Princes pasti bakal langsung ngirim langsung ya kan?" pikirnya lagi.
"Ah masa bodo, mending gue cari makan. Laper juga," putusnya memilih bangkit dan pergi.
......................
Detik-detik hari pengenalan produk baru semakin dekat. Mae sedang memiliki masalah sekarang. Pasalnya ia telah lupa untuk memeriksa email serta mengecek desain dari Ara sudah di kirimkan atau belum. Ia selama ini berpikir jika desain tersebut akan dikirimkan langsung pada bosnya.
Mae memilih bersantai kembali pada akhirnya. Namun beberapa menit kemudian, Prince datang memanggil untuk masuk ke ruangannya.
"Ada apa memanggilku?" tanya Mae setelah tiba.
"Bisa kamu berikan desain yang ku minta? kata Ara, dia sudah mengirimkannya lewat email kamu kemarin," tagih Prince padanya.
Mae terkejut mendengarnya. "Ha? Gue belum dapet email apapun darinya Prince. Bukannya dia langsung kirim ke lu ya?" tanyanya balik.
"Ku juga tak dapat email apapun darinya," jawab Prince. "Kamu tak berbohong kan E?"
"Mana ada gue bohong Princes, noh lu liat sendiri." Mae memberikan ponselnya untuk di cek oleh Prince.
"Tak ada kan?" Mae bertanya setelah Prince selesai mengecek.
"Bentar aku panggilkan Ara ke sini!" ujarnya.
"Oke!" Mae setuju.
Prince akhirnya memanggil Ara, temannya lewat telepon dan menyuruhnya untuk datang ke kantor bagian pemasaran. Beberapa menit kemudian yang mereka tunggu datang. Ara dengan santai dan anggun berjalan masuk ke ruangan Prince.
"Ada apa Prince? Ada yang salah kah?" tanyanya langsung.
"Apa kamu sudah kirimkan desain yang ku minta pada sekertaris ku?" Prince juga langsung bertanya.
"Ya sudah, ku kirimkan kemarin malam," jawab Ara mengangguk sambil sedikit melirik ke arah Mae.
"Bu Ara, tapi saya tak menerima email apapun dari Anda," sela Mae memberitahu.
"Ha? Apa maksudmu Bu Mae? Saya benar-benar sudah mengirimkannya kemarin. Ini buktinya." Ara segera memperlihatkan tanda bukti jika ia telah mengirimkan pesan email pada Mae dan Prince.
Prince dan Mae saling pandang dan menjadi bingung karena ada bukti jika Ara telah mengirimkannya ke Mae.
"Bu Ara, bisakah Anda kirim ulang kembali saja?" pinta Mae pada akhirnya.
"Kirim ulang katamu? Mae mengangguk. Hee buat desain itu tak mudah ya setelah ku selesai membuat ku langsung kirimkan ke email mu," ucap Ara dengan nada sedikit kesal.
"Jadi Anda tak mempunyai cadangannya?" tanya Mae memastikan.
"Tidak lah, ku juga lupa soal itu," jawabnya sinis.
"Jadi gimana ini, E? Besok sudah hari perkenalan produk kita tapi desain malah hilang begitu saja." Prince bertanya solusi pada sekretarisnya secara itu tugas yang ia berikan padanya.
Mae hanya terdiam karena merasa bersalah. Bisa di liat dari wajah Prince jika lelaki tersebut kecewa padanya.
"Ara, bisakah kamu membuatnya lagi?" Aku mohon! bujuk Prince memintanya.
"Sorry Prince bukannya tak mau membantu tapi pekerjaanku juga menumpuk di sini, ku tak bisa membuatnya dalam waktu dekat ini itu akan sulit. Jadi mengerti lah!" Ucap Ara yang menolaknya.
"Oke baiklah!" Prince menunduk sedih dan langsung kehilangan semangatnya.
Tak lama setelahnya, Ara keluar dengan sedikit senyuman di bibirnya. Ia cukup puas karena Prince terlihat begitu frustasi karena sekretarisnya yang tak becus dalam bertugas. Pasalnya sebelum itu, ia sudah melakukan sesuatu pada email Mae agar tak bisa menerima pesan apapun darinya walau ia sudah mengirimkannya. Ia melakukan itu demi membantu teman yang tak lain adalah Catalina. Ia ingin teman dekatnya di waktu sekolah dulu mendapatkan keinginannya, karena dengan begitu Catalina pasti akan memanfaatkan keadaan tersebut untuk membantu Prince.
Setelah kepergian Ara, Mae mencoba meminta maaf pada Prince.
"Prince, gue benar-benar minta maaf."
"Minta maaf E? Itu tak bisa mengembalikan keadaan. Kita harus berbuat apa besok? Bagaimana aku akan menjelaskan tentang perkenalan produk kita besok jika desainnya saja hilang," jawab Prince membuat Mae semakin merasa bersalah.
"Prince, gue juga sebenarnya lupa tak mengecek akun email ku. Maaf!" tutur Mae lagi.
Prince terkejut dan langsung menatap tajam kearahnya. "Apa?"
Terdengar pelan kata "Maaf" dari mulut Mae.
Prince tersentak. "Setelah ku pikir memang sepertinya ini salah mu E. Kenapa kamu bisa lalai tak mengecek email dan memastikan jika desainnya sudah terkirim padamu ha?" marahnya.
"Sorry Prince gue benar-benar lupa tentang itu," ucap Mae lagi.
"Sudahlah, sebaiknya kamu keluar saja! Aku ingin sendiri!" usir Prince padanya sambil memegangi kepalanya.
"Baiklah & maaf!"
Mae keluar dengan berwajah sedih. Kedua teman kantornya sedikit saling berbisik ketika melihat ekspresi Mae yang menundukkan kepalanya dan berjalan lesu ke meja kerjanya.
BERSAMBUNG
ngakak terus sama kelakuan Mae😂