Kira berasal dari masa depan tiba tiba terlempar ke zaman kerajaan. Yang berawal dari tidak punya apa apa, sampai memiliki semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizzzz......, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Selama tiga tahun pernikahan mereka, Mahendra telah beberapa kali mengisyaratkan agar Kira dan Wulan berpisah, dan dia akan memberikan sejumlah uang sebagai kompensasi. Namun, Kira tidak pernah setuju.
"Saudara Wahyudi benar-benar lugas. Kalau begitu, aku akan langsung berterus terang!"
"Budi adalah paman sepupu jauh Keluarga Silali. Perbuatannya memang telah melampaui batas dan menyinggung Saudara Wahyudi. Jadi aku ingin mewakilinya untuk meminta maaf. Aku harap Saudara Wahyudi bisa memberinya kesempatan, dengan mempertimbangkan reputasi baik Keluarga Silali. Keluarga Silali akan sangat berterima kasih kepada Saudara Wahyudi." kata Mahendra sambil menunjuk ke arah Budi.
"Haha!" Budi mendengus sambil menatap Kira dengan bangga.
Keluarga Silali adalah pedagang garam terbesar dan juga keluarga kaya terkuat di Kabupaten Uwal. Bahkan para pejabat kabupaten sekalipun harus menyegani mereka. Apakah seorang murid sekolah rendah sepertinya berani berurusan dengan Keluarga Silali?
Jamal segera memberi isyarat kepada Kira dengan harapan agar Kira menyetujuinya. Keluarga Silali adalah pedagang garam terbesar di Kabupaten Uwal. Mereka tidak hanya kaya, tetapi juga memiliki kekuasaan yang besar.
Di sepanjang jalan dari Kota Pusat Pemerintahan ke Kabupaten Uwal, banyak perampok gunung yang sangat meresahkan. Selama ini, sudah banyak rombongan pedagang yang dirampok.
Namun, Keluarga Silali tidak pernah mengalami masalah selama perjalanan. Semua pejabat kabupaten, kepala distrik, atau petugas kabupaten yang baru menjabat, pasti akan mengunjungi Keluarga Silali.
Bisa dibilang, tanpa dukungan dari Keluarga Silali, para pejabat kabupaten akan mengalami kesulitan yang bertubi-tubi. Bagi Keluarga Silali, menghancurkan seorang pejabat kecil sama mudahnya dengan membalikkan telapak tangan.
Seandainya saja sedari awal mereka mengetahui bahwa Budi memiliki hubungan dengan Keluarga Silali di kabupaten, pasti tidak akan ada yang ingin terlibat dalam kasus ini.
Kira memicingkan matanya sambil berkata,
"Bagaimana kalau aku tidak menyetujuinya?"
Mahendra tersenyum ringan,
"Kalau begitu, kamu tinggal pergi ke pengadilan daerah saja. Aku bertaruh, suratmu tidak akan sampai ke hadapan pemimpin kabupaten. Tentu saja, kamu juga bisa menabuh gendang di depan pengadilan. Tapi, aku tidak yakin apakah Saudara Wahyudi sanggup menahan 40 kali pukulan itu."
Mendengar ancamannya, Kira memicingkan mata dan berkata,
"Budi menjebak ku untuk menggadaikan Wulan, rumah, dan tanahku. Selain itu, dia juga memaksa aku menjual diri sebagai budak. Pasti kamu yang ada di balik semua ini, kan?"
Jangankan status Budi yang hanya merupakan paman sepupu. Bahkan kalaupun Budi adalah paman kandungnya, Keluarga Silali juga tidak akan mengutus Mahendra untuk menangani masalah ini secara langsung.
Sebagai pewaris Keluarga Silali dan seorang sarjana yang berprestasi, Mahendra masih harus bekerja sebagai pejabat di masa depan. Jadi, sudah pasti dia tidak boleh terlibat dalam skandal apa pun. Keluarga Silali tidak akan membela seorang pejabat kecil yang terlibat dengan perampokan.
Satu-satunya kemungkinan adalah kedua orang ini berkomplot, jadi Mahendra takut bahwa Budi akan membocorkan rahasianya ketika dipenjara nantinya. Maka dari itu, Mahendra berusaha untuk menyelamatkan Budi. Satu-satunya orang yang mungkin memengaruhi Mahendra melakukan ini karena terobsesi terhadap Wulan, yang merupakan teman masa kecilnya.
Budi terkejut melihat Kira. Sejak kapan pecundang ini menjadi begitu hebat? Dia bahkan mampu membaca isi hati orang.
Padahal, Budi tidak pernah mengatakan apa pun mengenai hal ini. Namun, Kira malah mampu menebak hampir keseluruhan kejadian ini hanya dengan melihat kemunculan Mahendra.
"Kamu jadi semakin pintar sekarang!
Mahendra juga terkejut mendengar penuturan Kira. Sontak, wajahnya menjadi murung,
"Petani kampungan sepertimu tidak pantas bersanding dengan Wulan. Kalau bukan karena peristiwa Keluarga Silali di masa lalu, kamu bahkan tidak akan punya kesempatan untuk mendekatinya. Aku dan Wulan adalah teman masa kecil, seharusnya dia menjadi milikku. Aku akan memberimu satu kesempatan lagi. Ambil uangnya, lalu tinggalkan Wulan. Kalau nggak, kamu akan menghadapi bencana yang lebih besar di masa depan!"
Jamal terkejut. Dia tidak menyangka ada rencana seperti ini di balik masalah ini.
Budi tersenyum sinis. Jika bukan karena ada dukungan dari Tuan Mahendra, dia juga tidak akan berani menyusun rencana seperti ini terhadap seorang cendekiawan.
Danu, Doddy, dan Tony mengepalkan tangan mereka sambil menatap marah pada Mahendra.
"Bencana yang lebih besar"
Kira mengangkat alisnya dan menyipitkan matanya,
"Apakah ini cukup besar?"
Lalu melayangkan sebuah tinju ke wajah Mahendra beberapa kali.
Bugh! Bugh!
Mahendra terhuyung mundur, setengah wajahnya memerah dan mulutnya berdarah. Jamal dan Budi terdiam.
Tidak ada yang menyangka bahwa Kira berani memukul Tuan Muda Keluarga Silali di depan umum.
"Berani-beraninya kamu memukul ku!" teriak Mahendra dengan tatapan marah.
Kedua pelayan Mahendra buru-buru menghampirinya. Sebelum mereka mendekat, Doddy telah menyerbu kedua pelayan itu.
Kira berkata dengan ekspresi dingin,
"Kamu bukan hanya mengincar istri ku, tapi juga bahkan mau menghancurkan ku. Memukulmu saja sudah termasuk hukuman ringan."
"Bagus sekali!" Mahendra menyeka darah di sudut bibirnya.
"Aku akan membalas pukulan ini 100 kali lipat padamu! Di kabupaten ini, belum ada orang yang berani mengusik orang-orang Keluarga Silali."
Kira hanya tersenyum sinis dan menjawab,
"Sekarang sudah ada!"
Kira melanjutkan dengan nada dingin,
"Bukan hanya memukulmu, kalau aku mau menghabisi mu sekarang juga bukan hal yang sulit."
Mahendra tertawa sinis dan berkata,
"Kamu hanya lulusan sekolah rendah, aku adalah sarjana. Kamu hanya orang kampungan, sedangkan aku adalah pewaris tunggal dari Keluarga Silali. Tingkat pendidikan dan status sosial kita sangat jauh berbeda. Atas dasar apa kamu mau menghancurkan ku?"
"Atas dasar perbuatan busuk mu ini!"
Kira lanjut mencibir,
"Percaya atau tidak, aku akan mencari sekelompok orang untuk menuliskan semua perbuatan jahat mu menjadi sebuah skenario dan mementaskannya di semua tempat. Setiap kali membuat pertunjukan, aku akan memberi mereka 5.000 rupiah. Dalam waktu 3 bulan, reputasi mu akan hancur dan kualifikasi mu untuk ujian pasti akan dihapus. Kamu tidak akan pernah bisa mengikuti ujian lagi."
"Kamu...berani-beraninya!"
Dengan tubuh gemetaran, Mahendra berkata,
"Memangnya orang kampungan sepertimu sanggup membayar mereka 5.000 rupiah?"
Kira menyipitkan matanya.
"Aku masih punya cara yang lebih hemat. Setiap hari aku akan menulis lebih dari 10 pengumuman. Dalam 3 bulan, aku akan menulis 900 pengumuman. Aku akan menempel 400 lembar di kabupaten, dan 500 lembar di provinsi."
"Apa menurutmu cara seperti ini akan memiliki efek penyebaran yang lebih baik dari pada melakukan pertunjukan di atas panggung?"
Jamal dan Budi terkesiap mendengar ucapan Kira. Cara ini memang sangat kejam.
Bahkan orang yang paling berbakat sekalipun, jika reputasinya sudah tercemar, mereka akan kehilangan kualifikasi untuk mengikuti ujian kepegawaian.
Dalam waktu sesingkat ini, Kira bisa menemukan 2 cara untuk mencelakakan orang. Sebenarnya selicik apa pikiran orang ini? Kenapa dulu dia tidak terlihat seperti orang yang selicik ini?
Mahendra menyipitkan matanya untuk menyembunyikan kemarahannya.
"Aku tidak akan mengganggu Wulan, juga tidak akan mengurus Budi lagi. Mulai sekarang, kita tidak saling mengganggu lagi!"
Kira menjawab dengan ekspresi datar,
"Semoga kamu menepati janjimu!"
Mahendra berjalan mendekati Budi dan menatapnya dengan beringas,
"Jaga mulutmu di pengadilan nanti. Kalau tidak, kamu bahkan tidak akan punya kesempatan jadi tahanan!"
Bruk!
Usai mendengar ancaman ini, Budi hanya bisa terkapar lemas di samping kereta. Dia telah sepenuhnya putus asa.
Dalam sekejap, situasi berbalik. Jamal dan yang lainnya melihat Kira dengan tatapan ngeri.
Kira menepuk pundak Budi, lalu berkata,
"Ayo kita bicara dulu."
Budi segera bangkit,
"Tuan Kira, aku menyerah padamu, aku takut padamu. Lepaskan aku, aku akan memberimu 200.000 rupiah. Tidak, 300.000 rupiah! Aku akan melakukan apa pun yang kamu perintahkan. Aku akan menjadi pesuruh mu!"
Kira menggelengkan kepala dan menjawab,
"Aku tidak butuh pesuruh!"
Kemudian melanjutkan,
"Setelah sampai di pengadilan nanti, kamu suruh Liam dan Teja untuk jangan lagi mengungkit masalah Gandi mencuri di rumahku."
Semua orang di atas kereta mendengarnya dengan jelas. Kira berusaha melindungi Gandi. Dengan begitu, Liam dan Teja tidak akan masuk penjara.
Budi menggertakkan giginya,
"Kamu rela melepaskan pencuri itu, tapi tidak bersedia membebaskan aku. Kenapa aku harus bekerja sama denganmu? Kalaupun aku dihukum menjadi tahanan kerja paksa, aku akan membawa mereka bersama ku!"
Raut wajah Gandi, Liam, dan Teja tampak seolah-olah mau menerkamnya.
Kira tertawa sinis,
"Kalau begitu, kamu lihat saja sendiri bagaimana mereka akan menghadapi mu setelah berada di dalam penjara nanti!"