Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
"Apa maksudmu?"
Dokter Pri berdiri menatap Rania tak percaya. Wanita itu tertegun, menghela napas kemudian. Ia mendongak, mematri pandangan pada kedua manik sahabat lamanya itu.
"Kau percaya takdir reinkarnasi?" tanyanya dengan suara lirih dan keraguan yang sangat di hatinya.
Ragu bahwa orang lain akan percaya ia hanyalah jiwa yang tak tenang dan menempati tubuh orang lain. Semua itu hanyalah hal mustahil di dunia modern ini. Seberapa keras pun ia menjelaskan, orang-orang dengan logika yang kuat tidak akan mempercayainya, kecuali mengalami sendiri.
Rania menghela napas dalam, membuang pandangan dari manik sahabatnya yang berkilat penuh keraguan.
"Aku yakin siapapun tidak akan percaya akan hal itu. Tapi, aku benar-benar mengalaminya." Ia kembali menoleh kepada dokter Pri yang masih mematung di tempatnya.
Dokter laki-laki itu menelisik kedua manik sayu Rania, tidak ada kebohongan di sana. Matanya memancarkan kejujuran yang dalam. Apa yang dikatakannya adalah kebenaran, tapi logika dokter Pri menolak itu.
"Rania sudah mati di laboratorium uji coba di kota Anggrek. Tubuh ini bukan milik Rania, tapi milik Sania yang mati di tangan keluarganya sendiri. Mungkin Tuhan memberiku kesempatan untuk bertemu dengan anakku dan mengubah takdir jahatnya di masa depan. Kau akan percaya atau tidak, aku tidak akan memaksamu untuk percaya," ungkap Rania tersenyum di akhir kalimat.
Dokter Pri terkesima beberapa saat, kemudian berpaling sembari menahan napas yang tiba-tiba terasa sesak. Rania mati? Bukankah dia hidup dengan baik setelah mereka lulus dari sekolah menengah itu?
Ia kembali menatap Rania yang masih tersenyum kepadanya. Senyum yang menyiratkan derita sekaligus dendam mendalam. Entah apa yang telah dilalui sahabatnya itu.
"Aku ingin percaya, tapi bagaimana seseorang bisa kembali setelah kematian? Mungkin kau hanya melakukan operasi peremajaan kulit saja, atau kau sedang lupa ingatan. Bukankah kau hidup dengan baik setelah kita lulus sekolah? Bagaimana kau bisa mati dan kembali dengan tubuh yang berbeda?" cecar dokter Pri menuntaskan rasa penasarannya.
Rania tersenyum, ia menggenggam tangan laki-laki itu yang berkeringat. Rasa tak percayanya itu jelas terlihat.
"Setelah lulus itu aku memutuskan untuk masuk ke militer dan menjadi agen rahasia. Aku bertemu dengan Hadrian dan menikah dengannya. Kehidupan kami sangat bahagia, aku memutuskan keluar dari militer dan fokus menjadi ibu rumah tangga. Kau ingat Shakira?" Rania menatap dokter Pri lagi.
Laki-laki yang memakai seragam putih kebanggaannya itu menganggukkan kepala. Tentu saja dia ingat siapa dan bagaimana sosok Shakira itu.
"Tentu saja aku ingat. Dia mengaku sebagai teman, tapi selalu merasa iri dan cemburu kepadamu. Bodohnya kau tetap percaya kepadanya dan mau memberikan apapun yang dia minta. Apakah dia masih orang yang sama?" ujar dokter Pri seraya menarik kursi dan kembali duduk lebih dekat dengan Rania.
Wanita itu menghela napas panjang, mengingat semua kejadian yang dialaminya di kehidupan lalu.
"Dia tetaplah dirinya. Kau benar. Memang aku yang bodoh. Dengan mudah memberikan apapun yang dia inginkan. Sampai saat aku melahirkan, dalam keadaan lemah dia datang menemuiku di meja operasi ...." Rania menjeda, menarik napas dalam-dalam.
Membayangkan betapa kejam sahabatnya itu. Dokter Pri mendengarkan dengan saksama, tidak menyela sama sekali. Hati dan pikirannya sedang bergelut untuk percaya pada apa yang diceritakan oleh Rania. Takdir reinkarnasi dan kehidupan kedua setelah kematian.
Kau memang bodoh, Rania. Hanya karena dia pernah menolongmu kau merasa harus membalas budi seumur hidupmu. Bagaimanapun, Shakira hanya memanfaatkan dirimu saja. Berulang kali aku sudah mengingatkan, tapi kau justru membelanya. Sudah berapa rupiah kau keluarkan untuknya di saat dia mendapat masalah karena hutang-hutangnya.
"Sekarang aku sudah tahu semuanya. Dia mengatakan semuanya di saat itu. Pada hari kematian ku. Aku mati di tangannya dengan sangat mengenaskan."
Rania mengepalkan tangannya kuat-kuat, emosi melonjak di dalam dirinya. Meledak menjadi dendam kesumat yang berakar dalam.
Dokter Pri menggenggam tangan Rania, meremasnya lembut. Seperti yang dulu sering ia lakukan saat sahabatnya itu dilanda kesedihan.
"Bisa kau ceritakan kepadaku bagaimana dia melakukannya?" pintanya dengan kilatan amarah yang bergejolak di dalam dada.
"Dia ...."
Kepala pelayan jga mau" nya sich jdi kesetnya si kere itu..
😄😄