NovelToon NovelToon
Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Romansa Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:344
Nilai: 5
Nama Author: Nayla Zidan

Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22: Pesisir yang Berbisik

...Chapter 22: Pesisir yang Berbisik...

​Sinar matahari pagi yang memantul di hamparan salju terasa menusuk mata saat aku membantu Thomas menuangkan solar traktor yang sudah kusaring ke dalam tangki Little Bird. Mesin helikopter ini terbatuk sejenak, mengeluarkan asap hitam tipis, sebelum akhirnya menderu stabil. Bau bahan bakar yang menyengat adalah aroma parfum paling mewah di dunia yang sudah runtuh ini.

​"Hati-hati di luar sana, Zidan," kata Thomas sambil menjabat tanganku erat. Anak laki-lakinya melambaikan tangan pada Kurumi yang sudah duduk di kabin.

​"Gunakan barikade lumbung ini dengan bijak, Thomas. Dan jangan pernah buka pintu untuk siapa pun yang tidak bisa bicara dengan logis," pesanku singkat.

​Aku melompat ke kursi pilot. Kurumi menatapku dengan binar mata yang berbeda dari kemarin. Ada ketenangan yang lebih dalam di sana, seolah genggaman tangan semalam telah menyegel sebuah kesepakatan yang lebih kuat dari sekadar kontrak survival.

​"Siap, Partner?" tanyaku sambil mengenakan headset.

​"Siap, Zidan. Ayo kita lihat laut," jawabnya dengan senyum tipis.

​Helikopter terangkat perlahan, meninggalkan desa kecil itu di belakang. Kami terbang rendah, mengikuti kontur sungai yang membeku menuju arah timur laut. Pemandangan di bawah mulai berubah; pegunungan salju yang tajam perlahan melandai menjadi perbukitan pinus, dan di kejauhan, garis biru cakrawala mulai terlihat. Laut.

​Namun, ketenangan itu terusik saat aku melihat bayangan besar di permukaan salju di bawah kami.

​"Zidan, itu apa?!" Kurumi menunjuk ke arah hutan pinus di bawah.

​Aku memiringkan helikopter untuk melihat lebih jelas. Jantungku berdegup kencang. Ribuan—bukan, puluhan ribu zombi sedang bergerak dalam formasi yang sangat teratur. Mereka tidak berjalan acak; mereka membentuk kolom-kolom panjang seperti pasukan infantri yang sedang melakukan mobilisasi besar-besaran menuju pesisir.

​Dan di tengah-tengah mereka, ada beberapa sosok berjubah compang-camping seperti si Pemimpin di Puncak Frost. Mereka berdiri di atas kendaraan-kendaraan militer curian yang ditarik oleh puluhan zombi Tanker.

​"Mereka melakukan migrasi," gumamku, suaraku terdengar serak di interkom. "Mereka tidak hanya menyerang satu titik. Mereka sedang mengepung seluruh wilayah pesisir."

​"Tapi kenapa pesisir? Bukannya mereka benci air?" tanya Kurumi panik.

​"Logikanya, pesisir adalah tempat pengungsian terakhir manusia. Pelabuhan, kapal-kapal besar, sumber makanan dari laut. Jika mereka menghancurkan pesisir, tidak ada lagi tempat bagi manusia untuk lari," analisaku. Virus ini benar-benar memiliki kecerdasan kolektif yang menakutkan.

​Aku menambah kecepatan helikopter, mencoba mendahului lautan mayat hidup itu. Kami harus sampai di kota pelabuhan utama—Kota Saint Mary—sebelum pasukan itu tiba.

​Satu jam kemudian, bau garam laut mulai tercium melalui ventilasi kabin. Kota Saint Mary terlihat di depan mata. Kota itu tampak jauh lebih utuh daripada Sektor 4. Tembok-tembok pertahanan tinggi telah dibangun mengelilingi area pelabuhan, dan aku bisa melihat beberapa kapal perang serta kapal kargo bersandar di dermaga.

​"Lihat! Masih ada kehidupan di sana!" Kurumi berseru girang.

​Aku tidak langsung senang. Logikaku memperingatkan: tempat yang terlihat terlalu aman biasanya memiliki harga yang sangat mahal untuk dibayar.

​Aku mengarahkan helikopter menuju landasan heli di atas menara pengawas pelabuhan. Begitu kami mendekat, beberapa moncong senapan mesin otomatis di menara itu berputar, mengunci posisi kami.

​"Helikopter tidak dikenal, identifikasi diri kalian atau kami tembak jatuh!" sebuah suara keras terdengar melalui frekuensi radio darurat.

​"Ini Zidan dan Kurumi, penyintas dari wilayah Utara. Kami membawa informasi penting tentang pergerakan massa zombi skala besar menuju kota ini! Jangan menembak, kami hanya butuh pendaratan!" teriakku di radio.

​Ada jeda cukup lama sebelum suara itu menjawab kembali. "Diizinkan mendarat di Platform B. Jangan melakukan gerakan provokatif."

​Begitu roda helikopter menyentuh landasan, sekumpulan tentara dengan seragam yang berbeda dari Markas Omega—mereka menggunakan emblem 'Garda Pesisir'—langsung mengepung kami. Mereka tidak sekadar menyita senjata; mereka membawa alat pemindai biometrik dan termal.

​"Keluar dengan tangan di atas!"

​Aku dan Kurumi turun. Seorang pria paruh baya dengan pakaian necis namun rapi melangkah maju. Dia tidak terlihat seperti tentara, melainkan seorang politisi.

​"Saya Walikota Henderson. Selamat datang di Saint Mary, benteng terakhir peradaban," katanya dengan senyum yang terlalu sempurna untuk ukuran kiamat. "Informasi apa yang kalian bawa?"

​Aku menjelaskan tentang migrasi ribuan zombi terorganisir yang sedang menuju ke sini. Wajah Henderson sedikit berubah, namun dia tetap tenang.

​"Kami sudah mengetahuinya lewat satelit cuaca yang masih berfungsi sebagian. Tapi terima kasih atas konfirmasinya. Sekarang, mari kita bicara soal biaya menginap kalian," katanya, matanya beralih ke helikopter Little Bird kami.

​"Biaya menginap?" Kurumi bertanya bingung.

​"Di Saint Mary, segalanya adalah bisnis, Nona. Perlindungan, makanan, oksigen yang kalian hirup. Helikopter ini... saya rasa cukup untuk membayar biaya masuk kalian dan hak untuk tinggal di zona aman selama satu bulan," Henderson berkata dengan nada yang sangat sopan namun memuakkan.

​Aku menatapnya tajam. Logikaku langsung bekerja: pria ini adalah tipe parasit yang memanfaatkan kiamat untuk membangun kerajaan kecilnya sendiri. Dia tidak peduli pada kemanusiaan; dia peduli pada aset.

​"Helikopter ini adalah tiket keluar kami jika kota ini jatuh, Walikota," kataku dingin. "Aku tidak akan memberikannya padamu hanya untuk sebuah kamar tidur."

​"Oh, Zidan... kamu tidak mengerti," Henderson mendekat, suaranya merendah. "Di kota ini, jika kamu tidak punya aset untuk diberikan, kamu akan ditempatkan di 'Zona Luar'. Di luar tembok. Di tempat di mana ribuan zombi yang kamu ceritakan tadi akan tiba dalam dua hari ke depan."

​Kurumi mencengkeram lenganku, tubuhnya gemetar.

​Aku melihat ke sekeliling. Tentara-tentara ini lebih menyerupai tentara bayaran daripada pelindung rakyat. Jika aku melawan sekarang, Kurumi akan dalam bahaya.

​"Ambil helikopternya," kataku akhirnya, membuat Kurumi terkesiap. "Tapi aku ingin akses ke gudang logistik dan informasi tentang kapal kargo yang siap berangkat ke pulau seberang."

​Henderson tertawa kecil. "Kesepakatan yang bagus. Kamu punya otak yang encer, Nak. Sersan, bawa mereka ke akomodasi Zona Dalam. Berikan mereka kartu ransum kelas B."

​Kami dibawa menuruni menara. Kota Saint Mary di dalam tembok tampak sangat kontras. Ada pasar barter, lampu-lampu jalan yang menyala, bahkan beberapa kafe darurat. Orang-orang kaya dan berpengaruh tampak hidup nyaman, sementara di kejauhan, di balik tembok beton, aku bisa mendengar suara ribuan orang yang berteriak meminta masuk.

​"Zidan, kenapa kamu berikan helikopternya?" bisik Kurumi saat kami sudah berada di kamar apartemen kecil yang diberikan pada kami.

​"Karena helikopter itu akan menjadi sasaran utama jika terjadi kerusuhan," jawabku sambil memeriksa setiap sudut kamar mencari alat penyadap. "Dan logikanya, Henderson tidak akan bisa menerbangkannya jika semua zombi itu datang serempak. Dia hanya mengumpulkan mainan."

​Aku duduk di tepi tempat tidur, menarik Kurumi untuk duduk di sampingku. Aku melihat tangannya yang gemetar.

​"Dengar, Kurumi. Kota ini adalah jebakan. Tembok ini memang tinggi, tapi mereka tidak tahu apa yang sedang menuju ke sini. Si Pemimpin itu... dia tidak akan berhenti sebelum tembok ini runtuh," kataku pelan. "Kita di sini hanya untuk mencuri kapal. Begitu massa zombi itu sampai dan kekacauan terjadi, kita akan menuju dermaga."

​Kurumi menatapku, matanya mulai berkaca-kaca. "Kamu selalu punya rencana, ya? Tapi... apa kita akan terus lari seperti ini?"

​Aku memegang wajahnya dengan kedua tanganku, sebuah gerakan yang jauh lebih lembut dari biasanya. "Kita lari sampai kita menemukan tempat di mana logika tidak lagi digunakan untuk menipu orang lain, tapi untuk membangun sesuatu yang nyata. Sampai saat itu, jangan lepaskan tanganku."

​Kurumi mengangguk, lalu dia memelukku erat. Di tengah kemewahan palsu Kota Saint Mary, aku merasa jauh lebih waspada daripada saat di tengah badai salju. Karena di sini, musuhnya bukan hanya mayat hidup, tapi juga keserakahan manusia yang masih bernapas.

​Malam itu, aku berdiri di balkon, menatap ke arah laut yang gelap. Di kejauhan, aku bisa melihat kilatan cahaya merah di ufuk barat. Pasukan si Pemimpin sudah dekat. Dan aku tahu, Saint Mary tidak akan bertahan lama.

​Logikaku berkata: badai yang sebenarnya baru saja akan dimulai.

Catatan Penulis:

Chapter 23 menutup kehancuran Saint Mary. Zidan dan Kurumi kini berada di udara, menuju laut lepas tanpa arah yang pasti. Dengan Si Pemimpin yang terus mengawasi, ke mana mereka akan pergi selanjutnya? Kapal kargo atau pulau terpencil? Jangan lupa Like dan Komentar kalian! Target 25 bab untuk volume 1 segera tercapai!

1
Nadja 🎀
waah kyk anime saja! kereen!
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
Garuda Bayang
mayan lah yaaaa kurang pake gambar ajaaa
Zidanmahiru
apanya kak yg dipisah?
Zidanmahiru: judul nya kah?kalau iya ga sengaja ke pisah
total 2 replies
Kaelits
kok ini dipisah kak?
Zidanmahiru: oh iya ,itu emang sengaja aja
total 1 replies
Kaelits
keren! semangat, kak! btw ada nama karakter yang sama di novelku
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!