“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.
Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.
Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.
Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.
Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.
Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Rahasia yang Mulai Retak
Ting tong.
Suara bel rumah berbunyi. Alvian yang sedang duduk di ruang tengah langsung menoleh.
“Aku buka!” serunya cepat, lalu berlari kecil.
Tak lama, ia kembali dengan sebuah kotak di tangan. Wajahnya langsung cerah.
“Umi… ini buat Al?”
Ayza yang sedang di dapur melangkah keluar. Tatapannya jatuh ke kotak itu. Lalu ke label pengirim.
Sekejap… ekspresinya berubah. Tidak drastis. Tidak marah. Tapi cukup… untuk membuat suasana ikut dingin.
“Dari siapa, Mi?” tanya Alvian, masih penasaran.
Ayza tidak langsung menjawab. Ia mengambil kotak itu. Menatap nama yang tertera beberapa detik lebih lama dari seharusnya.
“Ini… dari Om Reza.”
Alvian terdiam.
Binar di wajahnya tidak langsung hilang. Tapi perlahan… berubah jadi ragu. Seolah mengingat sesuatu.
“Yang di minimarket dan sekolah kemarin…?” tanyanya pelan.
Ayza mengangguk. Lalu Ayza mengembalikan kotak itu ke tangan Alvian.
“Kita balikin, ya.”
Nada suaranya tenang. Tidak memaksa. Tapi tidak memberi pilihan lain.
Alvian menatap kotak itu. Lalu ke Ayza beberapa detik. Wajahnya sedikit mengernyit. Mengingat kembali pria itu. Senyumnya. Caranya bicara. Dan perasaan yang muncul saat itu. Tidak nyaman.
Ia mengangguk cepat.
“Iya, Umi.” Jawaban itu tanpa ragu kali ini.
Ayza mengusap pelan kepala anaknya lembut.
“Pinter.”
Ia lalu mengambil kembali kotak itu. Berjalan ke arah meja. Tangannya sudah meraih ponsel. Tanpa banyak kata, ia memesan kurir.
Dan keputusan itu… selesai di situ.
***
Beberapa jam kemudian.
Pintu rumah Rahman terbuka. Seorang kurir berdiri di depan. Membawa kotak yang sama.
“Pak Reza?”
Reza yang membuka pintu mengangguk.
“Iya.”
“Ini paket dikembalikan, Pak. Dari alamat sebelumnya.”
Reza tidak langsung bergerak. Tatapannya turun ke kotak itu. Nama pengirim. Namanya sendiri.
Beberapa detik… ia hanya berdiri. Lalu mengambil paket itu pelan.
“Terima kasih.”
Pintu tertutup.
Reza masuk ke kamarnya, berdiri di balik pintu. Kotak itu masih di tangannya. Tidak dibuka. Tidak langsung. Tatapannya tajam. Tidak lagi santai seperti sebelumnya. Lalu, ia tertawa kecil. Pendek.
“…dikembalikan.”
Satu kata. Hampir seperti mengulang fakta.
Ia berjalan pelan ke meja. Meletakkan kotak itu di sana. Tangannya menyentuh permukaannya sebentar.
“Berarti…” gumamnya pelan, “…masih dijaga dengan ketat.”
Senyumnya muncul. Tipis. Namun kali ini… jelas bukan hangat. Tatapannya berubah. Lebih dalam.
“Gak apa-apa…”
Nada suaranya rendah. Santai. Tapi mengandung sesuatu yang lain.
“Kalau pintu depan ditutup…” Ia berhenti sejenak. “…masih ada cara lain.”
Kotak itu akhirnya dibuka. Namun bukan isinya yang ia perhatikan. Melainkan… sesuatu yang sedang ia rencanakan.
Dan kali ini, ia tidak akan berhenti hanya di luar.
***
Ruang kerja itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Ridho berdiri di depan meja. Beberapa berkas masih terbuka. Namun perhatiannya… tidak benar-benar di sana.
Pintu di ketuk dua kali.
Tapi sebelum Ridho membuka mulut untuk memberi izin, pintu sudah terbuka.
Husain masuk. Langkahnya tenang. Tapi tatapannya… tidak biasa.
“Pak Husain,” sapa Ridho, sedikit terkejut. “Silakan duduk.”
Husain tidak langsung duduk. Ia hanya menatap Ridho.
“Di mana Kaisyaf?” tanyanya langsung. Tanpa pembuka.
Ridho terdiam sejenak.
“Beliau sedang di luar negeri, Pak. Terkait—”
“Cukup.”
Satu kata itu memotong. Tidak keras. Tapi membuat udara langsung berubah.
Husain melangkah mendekat.
“Kamu pikir saya datang ke sini untuk dengar jawaban itu?”
Ridho menelan ludah kecil.
“Pak, saya—”
“Saya sudah tahu.”
Kalimat itu jatuh pelan. Namun cukup… untuk membuat Ridho membeku.
Husain menatapnya lurus.
“Dia di rumah sakit.”
Ridho menelan ludah kasar.
“Sekarang…” lanjut Husain, suaranya lebih rendah, “…saya tanya sekali lagi.”
Ia berhenti sejenak.
“Anak saya sakit apa?”
Tidak ada tekanan berlebihan. Justru itu… yang membuatnya lebih berat.
Ridho diam.
Beberapa detik yang terasa panjang.
“Pak…”
Suaranya akhirnya keluar. Namun tidak sekuat biasanya.
“Saya tidak dalam posisi—”
“Jangan katakan itu.” Husain memotong lagi. Tatapannya tidak goyah. “Saya ayahnya.”
Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk menutup semua alasan.
“Kalau sesuatu terjadi…” lanjutnya, lebih pelan, “…dan saya tidak tahu apa-apa…” Ia berhenti. “…apa kamu siap menanggung itu?”
Ridho terdiam. Tangannya di samping tubuh… perlahan mengepal.
“Ini bukan soal perintah dia lagi,” lanjut Husain. “Ini soal tanggung jawab.”
Ruangan mendadak sunyi. Dan kali ini… Ridho terlihat benar-benar tertekan. Bukan karena dimarahi. Tapi karena… ia tahu ini salah.
Ia menarik napas dalam. Lalu—
“…beliau dirawat di luar negeri, Pak.”
Husain tidak bergerak. Tidak terkejut. Ia sudah menduga.
“Penyakitnya?”
Pertanyaan itu lebih pelan. Namun lebih berat.
Ridho menunduk sejenak.
Satu detik. Dua detik. Lalu akhirnya—
“Paru-paru, Pak.” Suaranya turun. “…stadium akhir.”
Ruangan itu… seperti kehilangan suara.
“Dokter… sudah menyampaikan…” lanjut Ridho, pelan, “...kemungkinannya tidak lama lagi.”
Kalimat itu hampir tidak terdengar. Namun cukup… untuk menghancurkan.
Husain tidak langsung bereaksi. Ia hanya berdiri.
Diam.
Tatapannya kosong sejenak. Seolah… mencerna sesuatu yang tidak ingin ia pahami.
Anaknya.
Yang selama ini ia pikir hanya sibuk bekerja… ternyata sedang bertarung… sendirian.
Rahangnya mengeras. Napasnya tertahan. Bahkan ia tidak tahu… sejak kapan ia kehilangan kabar tentang anaknya sendiri.
Ia selalu berpikir… semuanya baik-baik saja.
Selalu mengira… diamnya Kaisyaf adalah tanda kekuatan. Padahal, itu mungkin hanya cara… agar tidak terlihat rapuh.
Jemarinya mengepal perlahan. Bukan karena marah. Tapi karena… terlambat.
“…bodoh.”
Satu kata itu keluar pelan. Tidak marah. Lebih seperti… sakit.
Ridho menunduk.
“Maaf, Pak…” Suaranya rendah. “Ini keinginan beliau.”
Husain tidak menoleh.
Ridho melanjutkan, lebih pelan.
“Saya sudah berulang kali membujuk beliau… untuk memberi tahu keluarga." Ia sedikit menunduk. "Tapi beliau menolak.”
Ia menarik napas.
“Beliau bilang…” lanjutnya, “…tidak ingin membuat keluarga sedih.”
Kalimat itu menggantung. Dan justru itu… yang membuatnya terasa lebih menyakitkan.
Husain tertawa kecil. Namun tidak ada humor di sana.
“Tidak ingin membuat kami sedih…?” ulangnya lirih. Ia menggeleng pelan. “Dia pikir… kami akan lebih baik kalau tidak tahu?”
Tatapannya menajam.
“Dia pikir… kehilangan tanpa persiapan itu tidak menyakitkan?”
Ridho diam. Tidak ada jawaban. Dan memang… tidak ada yang bisa membenarkan itu.
Husain akhirnya menyandarkan tangannya ke meja. Kali ini… tubuhnya terlihat sedikit goyah. Namun ia tidak jatuh. Ia hanya… menahan.
“Sejak kapan?” tanyanya pelan.
Ridho menelan napas.
“Beberapa waktu lalu, Pak.”
Husain mengangguk kecil. Lalu menghela napas panjang. Lebih berat dari sebelumnya.
“Ayza tahu?”
Pertanyaan itu tiba-tiba. Singkat. Tapi langsung.
Ridho sedikit terdiam. Lalu menggeleng pelan.
“Belum, Pak.”
Satu jawaban. Namun cukup… untuk membuat sesuatu di wajah Husain berubah. Bukan kaget. Lebih ke… memastikan.
Ia mengangguk kecil. Seolah satu per satu potongan mulai tersusun. Berarti… selama ini mereka semua… sama-sama tidak tahu.
Lalu—
...🔸🔸🔸...
..."Tidak semua yang disembunyikan bertujuan melindungi,...
...kadang justru perlahan menghancurkan."...
..."Kebenaran tidak selalu datang dengan suara keras,...
...kadang cukup satu celah… untuk merobohkan semuanya."...
..."Yang paling menyakitkan bukan kehilangan,...
...tapi tidak diberi kesempatan untuk bersiap."...
..."Ada batas yang tidak boleh dilewati,...
...dan ada kebenaran yang tidak bisa terus disembunyikan."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Nara yang menerima panggilan telepon dari Husain ke ponsel Kaisyaf. Ia mengaku sebagai sekretaris Kaisyaf.
Husain merasa ada sesuatu yang disembunyikan dalam rumah tangga Kaisyaf dan Ayza.
lagian kalau tdk bersama Kai apa dia mau balikan sama kamu, lelaki bodoh yg hanya mikir egonya sendiri ..
riwayat paru² Kai satu tahun itu sdh termasuk lama berkembang dengan keadaan dia yg sempat koma dulu, q jg pernah jaga pasien paru² cepet banget perkembangannya hingga tdk bisa bertahan lama sudah koid diannya
Bagi Kslian, ysng belum membaca, Kisah Ayza dan Ksisyaf Season 1, silakan baca juga ya 🙏🙏🙏😁 Soalnya ini Season 2 😁😁😁 Judulnya "Wa'Alaikumsalam Mantan Imam" itu Season 1 ya... Khusus bagi yang belum membaca Season 1 nya, ya... 🙏🙏🙏😁