Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.
Tapi dunia berkata lain.
Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.
Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.
Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.
Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Tandatangan kontrak kerja
Seminggu berlalu sejak panggilan rapat internal LYNX Entertainment yang digagas langsung oleh Junho. Pagi itu, suasana di gedung tinggi nan megah milik LYNX tampak lebih sibuk dari biasanya.
Mobil-mobil berhenti bergantian di depan pintu utama, sementara staf lalu-lalang dengan papan agenda, tablet, dan berkas kontrak di tangan mereka. Nama Nala tercatat jelas dalam daftar tamu, meski statusnya masih "calon mitra” yang belum dipublikasikan pada publik.
Nala berdiri di depan pintu kaca besar itu dengan jantung berdebar kencang. Tangan kirinya menggenggam erat tas nya, sementara tangan kanan sibuk menekan layar ponsel. Ia baru saja menerima pesan terakhir dari Davin pagi tadi—pesan penuh doa agar ia kuat menghadapi rapat sendirian. Namun, tanpa Davin di sisinya, ada ruang kosong yang terasa sangat besar.
“Kamu bisa, Nal. Ingat, kamu dipanggil bukan karena keberuntungan semata, tapi karena karya kamu memang layak.”
Kalimat itu berulang-ulang ia putar dalam kepala, mencoba menenangkan gejolak yang mendesak di dada.
Pria itu memang tidak bisa ikut menemani Nala lebih lama di sana, karena dia memang ada urusan mendesak di Indonesia keluarga nya sakit dan dia tidak bisa berbuat banyak.
Sedangkan Nala yang awalnya ingin pulang juga karena sudah hampir seminggu lebih tidak ada panggilan lagi di tahan oleh Davin, dia bilang mungkin dia harus menunggu sampai batas waktu yang di sepakati sebelum nya.
Sesampainya di lantai 12—lantai yang hanya bisa diakses dengan kartu staf internal—Nala langsung disambut oleh seorang staf senior. Pria itu memperkenalkan diri singkat sebagai Direktur Kreatif bagian produksi musik, ditemani oleh dua asisten. Mereka menyapa ramah, namun tetap menyelipkan nada profesional yang membuat Nala sadar: ini bukan sekadar jamuan basa-basi.
Ruang rapat tempat ia diarahkan luas, dindingnya dihiasi poster-poster besar dari album-album SOLIX yang telah mendunia. Di tengah meja oval panjang itu sudah disiapkan beberapa dokumen, dan di ujung ruangan berdiri seorang staf hukum dengan wajah serius, seolah hendak memastikan tidak ada detail yang terlewat.
Nala menarik napas panjang, lalu duduk di kursi yang telah disediakan. Baru beberapa menit ia mencoba menenangkan diri, pintu kembali terbuka—dan langkah berat beberapa orang terdengar memasuki ruangan. Yang pertama muncul adalah Manajer Han, sosok berpengalaman yang aura otoritasnya terasa hanya dengan sekali tatap.
“Miss Nala?” suara Manajer Han terdengar tegas namun netral.
“Ya. saya,” jawab Nala dengan sedikit membungkuk, menjaga sopan santun.
Tak lama, pintu kembali terbuka, dan kali ini langkah-langkah lain menyusul. Suara samar riuh kecil membuat Nala spontan menoleh. Hampir ia terlonjak kaget: seluruh member SOLIX ikut hadir.
Tidak semua, tapi cukup untuk membuat ruangan itu mendadak lebih hangat sekaligus menegangkan. Mereka tidak duduk di kursi rapat utama, melainkan di bagian samping, seakan hanya ingin menjadi saksi dari proses ini.
Salah satu dari mereka tersenyum tipis, entah karena sungguh ramah atau sekadar menggoda situasi. Yang lain tampak serius, mengamati Nala seakan sedang menilai seseorang yang akan masuk ke lingkaran terdalam mereka.
Junho sendiri datang terakhir. Wajahnya tetap tenang, khas seorang idol berpengalaman, namun sorot matanya tidak bisa menutupi antusiasme yang ia rasakan. Ia menatap sekilas ke arah Nala, seolah memberi isyarat diam-diam: “Tenang, kamu di sini karena pantas.”
Manajer Han membuka rapat dengan suara formal. Ia menjelaskan bahwa pertemuan hari itu adalah tindak lanjut dari hasil seleksi pribadi Junho, dan bahwa kontrak yang ditawarkan bukanlah hal sepele. Ada klausul-klausul ketat, terutama tentang kerahasiaan internal, keamanan data musik, serta larangan keras membocorkan detail apapun pada pihak luar.
“Baik, sebelum kita masuk ke pembahasan utama, izinkan saya menjelaskan beberapa ketentuan mendasar yang harus Ibu pahami terlebih dahulu,” ujar Manajer Han, suaranya stabil dan tegas, membuat suasana ruangan seketika terasa lebih formal.
Semua orang di sana terlihat cukup Fasih berbahasa Inggris untuk memastikan Nala tidak kebingungan jika ada yang berbicara bahasa Korea.
Dia menatap sekilas ke arah staf hukum di sebelahnya, memberi isyarat untuk melanjutkan. Pria berjas abu tua itu berdiri, membuka map hitam berlogo LYNX Entertainment, dan mulai berbicara dengan nada hati-hati namun penuh wibawa.
“Sesuai dengan standar kebijakan perusahaan, setiap kolaborator eksternal yang bekerja dengan tim kreatif—terutama tim produksi musik SOLIX—wajib menandatangani Non-Disclosure Agreement atau perjanjian kerahasiaan. Artinya, setiap ide, draf lirik, rekaman mentah, atau bahkan percakapan internal dalam ruang produksi dianggap sebagai rahasia perusahaan. Saya dengar Anda sudah menandatangani nya di pertemuan sebelumnya nya,” Ia menatap langsung ke arah Nala, ekspresinya tidak bermaksud menekan, namun tetap menunjukkan ketegasan hukum.
"Iya," jawab Nala pelan sebelum mereka akhirnya melanjutkan.
“Pelanggaran sekecil apapun—termasuk membocorkan ide lewat media sosial atau membicarakan dengan pihak ketiga tanpa izin tertulis—dapat berimplikasi hukum yang cukup berat, bahkan pembatalan kontrak secara sepihak,” lanjut nya, Nala mengangguk pelan, tangannya meremas ujung rok, mencoba menyembunyikan gugupnya.
Lalu staf hukum wanita yang duduk di sisi kanan menimpali dengan penjelasan tambahan, nadanya lebih lembut namun tetap profesional.
“Selain itu, seluruh karya yang Ibu hasilkan dalam periode kerja sama ini akan dianggap sebagai hak cipta bersama. Artinya, nama Ibu tetap tercantum dalam kredit penulisan, namun hak distribusi, promosi, serta kepemilikan master file sepenuhnya berada di bawah LYNX Entertainment,” ujar nya yang membuat manajer Han melanjutkan, kali ini dengan nada sedikit lebih tenang.
“Kami tidak ingin membuat suasana terasa kaku, tapi kami perlu menegaskan bahwa lingkungan kerja kami—terutama di bawah proyek internasional seperti SOLIX—berjalan dengan sistem yang sangat terstruktur. Termasuk waktu kerja, batas akses area, dan interaksi dengan artis.” Ia menatap ke arah beberapa member SOLIX yang duduk di sisi ruangan.
“Kami memahami bahwa interaksi mungkin tak terhindarkan, namun di sini berlaku etika profesional yang ketat. Tidak diperkenankan ada pertemuan pribadi di luar jam kerja dengan alasan apapun, komunikasi pribadi melalui perangkat non-perusahaan, atau pertukaran dokumen tanpa persetujuan staf administrasi. Semua staf juga di larang berbicara atau membicarakan hal selain yang berhubungan dengan pekerjaan,” Nada suaranya kini lebih berat, seolah menekankan bahwa setiap kata punya bobot.
Salah satu staf administrasi kemudian membuka berkas tablet di depannya dan menambahkan:
“Kami juga perlu menyampaikan bahwa selama periode kerja sama, pihak LYNX berhak melakukan pemantauan terbatas pada komunikasi internal dan log aktivitas kerja untuk kepentingan keamanan data proyek. Tentu, semua dilakukan sesuai hukum privasi yang berlaku,” ujar nya yang membuat Nala mengangguk sekali lagi, kali ini lebih kaku.
Dia memang sudah menyangka jika semua aturan ini akan berlaku, sejak awal pertemuan pun dia sudah di haruskan menadatangani NDA, yang padahal waktu itu dia belum tentu resmi bekerja di sana.
“Apakah... saya diperbolehkan tetap menulis proyek pribadi saya selama masa kerja sama ini? Di negara saya, saya juga memiliki project sendiri. Kebetulan salah satu novel saya sedang dalam proses akan di filmkan, dan saya tidak mungkin berhenti menulis pribadi hanya karena bekerja di sini?” tanyanya hati-hati. Pertanyaan itu membuat beberapa kepala menoleh. Manajer Han sempat menatap staf hukum sebelum menjawab dengan hati-hati.
“Selama proyek pribadi itu tidak bersinggungan dengan kegiatan komersial LYNX atau mengandung unsur yang berkaitan dengan artis kami, maka diperbolehkan. Namun, setiap naskah yang Ibu tulis wajib melalui pemeriksaan etik sebelum dipublikasikan,” ujar nya yang akhirnya membuat Junho yang sejak tadi hanya diam, akhirnya bersuara.
“Manajer Han, mungkin aku bisa menambahkan sedikit?” ujarnya sopan. Semua menoleh. Nada Junho tetap profesional, tapi sorot matanya lembut ketika melihat Nala.
“Miss Nala bukan hanya penulis biasa. Ia sudah memiliki rekam jejak dan reputasi yang baik di negaranya. Aku percaya, apa pun yang ia hasilkan tidak akan menodai nama LYNX—malah bisa memperkaya warna tim kreatif kita,” Ucapan itu membuat ruangan sedikit mencair, walau hanya sebentar.
Beberapa staf tersenyum tipis, tapi Manajer Han tetap menjaga formalitas.
“Kami sangat menghargai rekomendasi Anda, Junho-ssi. Namun aturan tetap berlaku untuk semua pihak, termasuk mereka yang direkomendasikan langsung oleh artis utama. Tolong mengerti untuk kali ini,” ujar Nya yang membuat Junho menunduk sedikit.
“Tentu. Aku hanya ingin memastikan beliau merasa diterima,” ujar nya yang membuat suasana hening sesaat. Hanya bunyi pendingin ruangan yang terdengar.
Nala menunduk, menatap berkas di depannya—kontrak tebal dengan cap resmi LYNX di sudut kanan atas. Jantungnya berdetak cepat, bukan karena takut, melainkan karena ia sadar, di hadapannya kini ada sebuah pintu besar.
Pintu yang bisa mengubah seluruh arah hidupnya.
“Jika Anda setuju, anda akan resmi menjadi bagian dari tim penulisan lirik internal kami. Konsekuensinya, Anda harus mematuhi seluruh aturan hukum yang terikat dalam dokumen ini. Pelanggaran sekecil apapun dapat berujung pada tuntutan serius. Inti dari semua ini adalah privasi dan etika, jika Anda mampu berjalan di tengah dengan seimbang semuanya akan baik baik saja,” ucap staf hukum dengan nada datar.
Nala menelan ludah. Tangannya sempat gemetar ketika menerima dokumen itu, tapi ia segera mengingat kembali pesan Davin. Ia membolak-balik halaman, membaca dengan hati-hati. Sesekali, tatapannya bertemu dengan Junho yang terlihat tenang, seolah memberi kekuatan dalam diam.
Setelah melewati proses penjelasan panjang, Nala akhirnya mengambil pena. Dengan satu tarikan napas dalam, ia menandatangani lembar demi lembar kontrak yang menandai awal babak baru hidupnya.
Suasana ruangan berubah. Beberapa member SOLIX yang duduk di samping mulai bertepuk tangan kecil, ada yang tersenyum menyungging, ada pula yang menggoda Junho dengan tatapan penuh arti.
“Selamat datang di keluarga besar kami, Miss Nala,” ucap Manajer Han akhirnya, nada resminya perlahan melunak.
Wajah nya yang tadi terlihat datar dan penuh wibawa kini sedikit tersenyum hangat layaknya seorang pria yang baru saja menyambut keluarga barunya.
Nala menunduk hormat, senyum tipis merekah meski jantungnya masih berdetak tak terkendali. Ia sadar, sejak saat itu kehidupannya tak lagi sama.
Begitu rapat usai, staf mulai beres-beres dokumen dan perlahan meninggalkan ruangan. Nala masih duduk di kursinya, mencoba menenangkan diri setelah proses panjang tadi.
Ia pikir semuanya akan selesai dengan tanda tangan kontrak barusan. Namun ternyata beberapa kursi di sisi ruangan belum kosong. Beberapa member SOLIX tetap duduk santai; bahkan ada yang sudah melepas jas formalnya dan berganti ke hoodie nyaman, seolah ruang rapat ini hanyalah ruang keluarga mereka sendiri.
Nala menegang. Ia tidak pernah menyangka akan benar-benar duduk sedekat ini dengan para idol yang selama ini hanya ia lihat di layar kaca. Tatapannya sempat berpindah-pindah, takut bertemu pandang. Mereka pasti dingin, profesional, menjaga jarak… begitu pikirnya.
Namun semua bayangan itu runtuh hanya dalam hitungan detik.
“Akhirnya orang baru kita datang juga,” ucap salah satu member dengan logat jenaka, sambil menepuk meja seperti menyambut rekan lama. Jihwan berbicara dalam bahasa Inggris yang terbata-bata, tetapi ekspresinya penuh antusias.
“Aigoo… aku kira Junho bercanda waktu bilang mau rekrut ‘penulis asing’. Ternyata jinjja serius ya. Wah, sekarang aku benar-benar melihat dia secara nyata di sini,” ujar Hoseung dalam bahasa Korea, nada suaranya terdengar kagum sekaligus geli.
Beberapa member langsung tertawa yang membuat suasana ruangan yang sebelumnya kaku berubah riuh dalam sekejap. Ada yang sibuk membuka snack dari tasnya, ada yang merebut botol minum temannya sambil bercanda, bahkan satu orang tanpa malu-malu sudah tiduran di kursi panjang, seolah rapat resmi barusan tidak pernah ada.
Nala terdiam, tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Dalam hati ia berkata,
"Jadi… ini wajah asli mereka di balik layar? Sama saja bobroknya seperti manusia biasa…"
Pikiran itu membuat sudut bibirnya hampir terangkat menahan tawa. Junho yang sejak tadi duduk agak jauh hanya tersenyum kecil, jelas menikmati bagaimana Nala tampak kebingungan di tengah kericuhan itu.
Salah satu member—yang paling cerewet—mencondongkan badan ke arah Nala dengan rasa penasaran yang nyaris tidak disembunyikan.
“Heyy, kamu… kenapa diam saja? Bicaralah. Kami ingin tahu lebih banyak tentangmu. Selama ini kami cuma dengar cerita dari Junho hyung saja,” ujarnya cepat dalam bahasa Korea. Ia lalu menoleh pada Junho dengan tatapan penuh harap. “Hyung, tolong terjemahkan.”
Junho menatap Nala sejenak sebelum berkata dengan santai.
“Kiyoon ingin berkenalan denganmu.”
Kalimat itu membuat semua member langsung menoleh ke arahnya, Kiyoon mengerutkan kening.
“Hyung… kamu tidak menerjemahkan semua ucapanku?” tanyanya curiga. Ia merasa kalimat Junho dalam bahasa Inggris jauh lebih pendek dibandingkan dengan apa yang tadi ia katakan panjang lebar.
“Aku menerjemahkan,” jawab Junho santai.
“Kenapa pendek sekali?” tanya Kiyoon lagi, semakin bingung namun Junho hanya mengangkat bahu ringan.
“Kalau bahasa Korea diterjemahkan ke bahasa Inggris memang sering jadi lebih pendek. Bahasanya dipadatkan.”
Wajahnya tetap tenang tanpa celah, padahal di dalam hati ia hampir tertawa melihat maknae-nya itu benar-benar berpikir keras. Yoohan yang sejak tadi duduk diam akhirnya menghela napas pelan.
“Kau dibodohi dia, Kiyoon-ah. Junho cuma bilang kalau kamu ingin berkenalan dengannya,” ucap nya yang membuat suasana beberapa detik hening.
“Tunggu, jinjja?!” seru Kiyoon.
Semua member langsung pecah tertawa, Jihwan bahkan sampai terjatuh dari kursinya karena terlalu keras tertawa dan mungkin karena kebiasaan nya memang seperti itu.
“Aigoo! Hyung!” rengeknya sambil memegangi perut.
Interaksi itu membuat Nala semakin bingung karena ia tidak mengerti bahasa Korea sama sekali. Namun melihat ekspresi mereka yang jelas sedang saling mengolok, ia berusaha tetap tersenyum sopan meskipun situasinya terasa sangat tidak biasa.
“Tapi sebenarnya… bukankah kita sudah terkenal? Jadi tidak perlu berkenalan juga tidak masalah,” ujar Jinwoo tiba-tiba dengan nada percaya diri khas dirinya, Hoseung langsung menoleh.
“Hyung, bukankah itu terlalu percaya diri?” tanyanya.
Jihwan yang baru saja berhenti tertawa kembali terbahak-bahak, Junho menatap Nala yang terlihat semakin kebingungan melihat interaksi mereka, lalu berkata dengan nada lebih tenang.
“Begitulah keluarga kami, bahkan di belakang layar.” Ucapan itu membuat semua member menoleh ke arahnya, penasaran dengan apa yang sebenarnya ia katakan pada Nala.
Sementara Nala hanya mengangguk sedikit canggung.
“Itu… terlihat sama sekali tidak dibuat-buat,” jawabnya jujur.
Junho mengangguk kecil.
“Kami sudah lama bersama. Jadi rasanya memang seperti keluarga sendiri. Arasseo? Jadi maklumi saja kalau mereka sering tertawa… atau menertawakan hal-hal aneh,” ucap nya yang membuat Nala mengangguk lagi, masih dengan senyum kaku.
Sementara itu, Jihwan yang sejak tadi masih terkikik akhirnya mendekat ke arah Nala dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya berbinar seperti anak kecil yang menemukan mainan baru.
Ia mulai bicara sangat cepat dalam bahasa Korea, dengan ekspresi dramatis khas idol variety show—tangan bergerak ke sana kemari, alis naik turun, seolah setiap kalimatnya adalah pengumuman penting.
“Kalau begitu, Nala-ssi, apakah kamu menulis lirik seperti menulis novel? Atau kamu… menulis tentang cinta Junho-hyung juga?” tanya nya yang membuat Junho langsung memotong dengan cepat dalam bahasa Inggris.
“He asked if your writing style is different between songs and novels. (Dia bertanya apakah gaya penulisan kamu berbeda antara lagu dan novel.)” ucap Junho sembari menatap Nala, namun sebelum Nala sempat menjawab Jihwan sudah lebih dulu menyela.
“Lho! Aku tidak bilang begitu!” protes Jihwan spontan dalam bahasa Korea, disambut tawa satu ruangan. Yoohan menatap Junho datar.
“Kau potong bagian terakhirnya, kan?” tanya nya yang membuat Junho menatap kosong ke depan.
“Itu tidak penting.” jawab nya.
“Dia potong!” teriak Kiyoon dengan polosnya, membuat Hoseung sampai menjatuhkan botol airnya karena tertawa terlalu keras.
"Umm… what’s happening? (Ada apa?)” Nala hanya menatap bingung.
Junho menatapnya sambil menghela napas kecil, wajahnya seperti orang yang sudah terbiasa menjadi penerjemah penuh waktu untuk sekumpulan anak SMP hiperaktif.
“They’re... just being themselves. Ignore half of what they say. (Mereka... hanya menjadi diri mereka sendiri. Abaikan sebagian besar dari apa yang mereka katakan,)” ujar nya yang membuat Nala terdiam sebentar sebelum mengangguk ragu
“Oh,” jawab Nala singkat, masih berusaha memahami dinamika aneh itu. Namun ketika ia berusaha menenangkan diri, Jinwoo malah menyandarkan dagunya di tangan dan bertanya dengan nada sok misterius.
“So, Nala-ssi... do you know who’s the most handsome in SOLIX? (Jadi, Nala-ssi... tahukah kamu siapa yang paling tampan di SOLIX?)” tanya nya sembari membaca teks bahasa Inggris hasil terjemahan di ponsel nya, Nala mengerjap, bingung.
“Uh... I—I’m not sure I should answer that. (Eh... aku—aku tidak yakin apakah aku harus menjawab itu)” Ujar nya yang membuat Junho melirik Jinwoo tajam.
“He’s asking for validation, don’t give him one (Dia meminta pengakuan, jangan berikan padanya)” ujar nya yang membuat semua member langsung ribut lagi.
“Yah! Kenapa kau potong lagi terjemahan ku!” seru Jinwoo tidak terima tapi Junho malah mengangkat bahu santai.
“Aku hanya menyelamatkanmu dari rasa malu publik, hyung,” balas Junho datar tanpa menoleh.
Suasana benar-benar pecah. Jihwan tertawa sampai memukul meja, Hoseung pura-pura meniru gaya Junho bicara, sementara Kiyoon sibuk menulis sesuatu di notepad-nya: “Junho hyung manipulates translation again”. Nala menatap mereka dengan ekspresi antara bingung dan kagum.
“Are they always like this? (Apakah mereka selalu seperti ini?)” bisiknya pada Junho.
“Almost every hour (Hampir setiap jam,)” jawab Junho singkat.
“Even during serious meetings? (Bahkan saat rapat serius?)” tanya nya yang membuat Junho menatap jauh, lalu menjawab dengan nada getir bercanda.
“Especially during serious meetings (Terutama saat pertemuan serius.)” jawab nya yang membuat Nala tak tahan lagi—ia tertawa kecil, kali ini benar-benar merasa lega untuk pertama kalinya sejak pagi.
Semua ketegangan menguap begitu saja, digantikan oleh kehangatan yang aneh tapi menyenangkan. Melihat tawa kecil itu, para member langsung bersorak meskipun tidak bisa memahami sepenuhnya percakapan.
“Hah! Dia tertawa!” ujar Taeyang.
“Junho berhasil membuat orang asing tertawa! Catat hari bersejarah ini!” sahut Kiyoon semangat, namun Yoohan menatap Junho datar.
“Aku lebih yakin dia tertawa karena kebingungan,” nada nya terdengar mengejek Junho yang terlihat terlalu antusias sejak tadi pagi.
“Diam, Yoohan-ah, jangan rusak momen!” ujar Jinwoo yang membuat Junho hanya menatap ke arah mereka sambil menggeleng pelan, lalu berbisik ke Nala,
“Selamat datang di LYNX, dan… bersiaplah. Mereka akan jadi keluargamu mulai sekarang—versi yang ribut, tidak bisa diam, dan suka bertanya hal-hal tidak penting,” ujar nya dalam bahasa Inggris yang akan Nala menatapnya, senyum tipis terbit di wajahnya.
“Kalau begitu… semoga aku cepat belajar bahasanya sebelum aku gila,” ujar Nala pelan yang membuat Junho terkekeh pelan.
“Percayalah, bahkan setelah sepuluh tahun pun, aku masih gila karenanya,” ujar nya yang membuat Nala mengangguk canggung, dia bingung namun juga senang karena di tengah tawa yang tak berkesudahan itu, untuk pertama kalinya sejak ia datang ke Seoul, Nala merasa sedikit lebih… diterima.
Di tengah semua kegaduhan itu tiba-tiba manajer Han dan beberapa staff kembali masuk ke sana, dan berkata.
"Nala-ssi, bisa ikut dengan kamu sekarang? Kamu akan tujukan ruangan mu dan jelaskan bagaimana cara kerjanya," ujar nya yang nada nya jauh berbeda daripada sebelumnya.
Entah kenapa nada bicara pria itu yang tadi nya kaku dan terkesan menyeramkan kini terdengar lembut dan hangat, sejak awal datang dia memang sudah di beritahukan jika semuanya selesai, dia tidak akan langsung bekerja tapi mulai bekerja besok pada hari senin nya, jadi hari ini dia hanya perlu memahami bagaimana sistem kerja nya saja.
"Baik," jawab Nala sembari bangkit.
Dia membereskan beberapa barang yang dia bawa juga salinan kontrak yang tadi dia tandatangani juga, dia membungkuk sedikit pada semua member SOLIX sebelum akhirnya keluar mengikuti langkah manajer Han dan juga para staff itu.
"Kau terlihat sangat bahagia Hyung, bahkan raut wajah mu lebih bahagia daripada saat pertama kalinya kita mendapatkan Daesang," ujar Jihwan yang tak di tanggapi apapun oleh Junho, tapi dalam hatinya dia benar-benar merasa bahagia dan entah kenapa dia tak tahu apa penyebabnya.